HomeSantri MenulisMengambil Resiko Terendah

Mengambil Resiko Terendah

0 0 likes 493 views share

Waktu terus berputar dan tak mengenal kata kompromi. Manusia yang beruntung adalah mereka yang pandai memanfaatkan waktu dengan baik dan benar. Mereka yang tahu kapan dan apa yang harus mereka lakukan. Karena hidup ini adalah pilihan. Tentunya hanya orang yang dapat memillh dengan tepat saja yang benar-benar sukses menjalani kehidupannya. Tak takut dan tak ragu untuk memutuskan problem yang dihadapi.

Menentukan pilihan bukanlah perkara mudah. Pilihan yang tepat takkan pernah terwujud tanpa keahlian mengukur dan menimbang konsekuensi dan segala resikonya. Sebab, resiko akan selalu ada di setiap gerak langkah manusia. Tak ada satu pun dari mereka yang akan tebebas dari resiko terhadap apa yang mereka pilih. Mereka yang tak pernah menyadarinya akan merugi. Sebaliknya, mereka yang memahami dan mengerti keniscayaan ini merupakan manusia pilihan.

Menentukan pilihan bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai hal yang biasa dan lumrah. Tak perlu mesti begini atau harus begitu. Menganggap mudah semua yang terjadi pada dirinya. Mungkin mereka juga ada benarnya, toh pilihan itu juga akan jatuh, meski dia tak pernah memilihnya. Namun, hal itu juga berarti membiarkan dirinya untuk menerima yang bukan pilihannya sendiri. Karena pada dasarnya, saat dia tak mau memilih, itulah pilihannya. Memilih untuk tidak memilih. Membiarkan dunia yang menentukan gerak langkahnya.

“Bekerjalah dengan cerdas,” demikian orang bijak mengatakan. Artinya, kecerdasan dan kemampuan dalam memilih sesuatu memiliki korelasi penting. Setiap pilihan harus dilandasi pertimbangan matang agar hasil yang diperoleh sesuai yang diharapkan. Mereka yang bekerja dengan hanya mengandalkan kekuatan flsik, tanpa melibatkan kecerdasan otak, maka hasil yang diperoleh nyaris mustahil sesuai yang mereka harapkan.

Berbicara soal pilihan, teringat cerita tiga ekor ikan yang memberikan pelajaran berharga. Alkisah, hiduplah tiga ekor ikan yang sama-sama ingin menikmati indahnya laut yang diterangi rembulan. Ikan pertama naik ke permukaan laut dan bersandar di semak bebatuan. Pilihan lokasi ini bukan tanpa pertimbangan. Jika tiba-tiba muncul nelayan yang ingin menangkap ikan, sulit bagi nelayan tersebut untuk menangkapnya karena tertutup batu karang.

Tak mau kalah dengan ikan pertama, ikan yang kedua juga naik ke permukaan laut, namun dengan pilihan lokasi berbeda. Ia tidak ikut bersembunyi di balik bebatuan layaknya ikan yang pertama. Ia memilih berada di tengah laut yang lebih luas untuk menikmati indahnya malam. Pertimbangan ikan kedua ini, andai saja ada nelayan yang datang, maka ia akan berlari secepat mungkin untuk menghindarinya. Ia menikmati indahnya rembulan sambil tetap waspada kalau-kalau ada bahaya yang mendekatinya.

Sedangkan ikan yang ketiga merasa gengsi jika tak dapat menikmati indahnya rembulan dari permukaan laut. Sebagaimana kedua temannya, ikan ketiga ini juga naik ke permukaan laut dan memilih lokasi sebagaimana pilihan ikan kedua, di tengah laut. Hanya saja, ia tak mempunyai persiapan layaknya ikan kedua yang selalu waspada akan bahaya yang bisa datang sewaktu-waktu. Ikan ketiga ini sejatinya sadar betul akan bahaya yang mengintai setiap waktu. Namun, karakternya yang memang selalu menganggap gampang segala persoalan, ia cenderung kurang waspada.

Setelah sekian lama mereka menikmati temaram indah sang bulan, apa yang mereka khawatirkan akhirnya terjadi juga. Si ikan pertama, karena tempatnya yang sulit dijangkau oleh nelayan, ia tenang-tenang saja. Seandainya pun nelayan mendekat, toh ia dengan mudah bersembunyi di balik batu-batu karang. Sementara si ikan kedua, langsung berenang secepat kilat begitu melihat ada nelayan yang datang. Lokasi yang memudahkannya melarikan diri dari sergapan maut si nelayan.

Berbeda dengan kedua temannya, nasib naas menimpa si ikan ketiga. Sifat ceroboh dan tidak waspada menjadikan ikan ketiga ini terjerat jaring sang nelayan. Ia hanya bergerak tak berdaya di tengah lilitan jaring sang nelayan dan pasrah akan nasib buruk yang menimpanya. Beberapa waktu kemudian, ia tak lagi menggerakkan tubuhnya. Kesedihan mendalam membuatnya malas menggerakkan tubuhnya.

Melihat ikan yang terjerat di jaringnya tak bergerak, sang nelayan menyangka ikan itu sudah mati. Dengan ceroboh sang nelayan melepas ikan tersebut tanpa menyadari akibatnya. Sementara si ikan yang merasa mendapat peluang untuk menyelamatkan diri, tanpa pikir panjang langsung berenang secepat ia mampu. Akhirnya, ia lolos dari jeratan maut yang sudah di depan mata.

Dari cerita tersebut, banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik. Orang yang sangat hati-hati dalam menentukan pilihan, ia akan dengan tenang menghadapi masalah. Karena dia telah mengambil (merencanakan) langkah ke dua, ke tiga, atau bahkan lebih, sebelum langkah pertama dijalankan. Dengan persiapan sematang ini, maka sedikit sekali kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Karena itu, sebelum menentukan pilihan, perlu kiranya terlebih dahulu kita memilah dan milih resiko terkecil dari setiap tindakan yang kita lakukan. Seperti ikan pertama, ia sangat berhati-hati dalam menetukan pilihannya. Ia tak mau mengambil resiko terlalu besar hanya untuk menikmati keindahan malam itu. Ikan kedua juga termasuk pandai dalam menghitung dan mengukur resiko yang bakal ia hadapi. Sehingga tak kaget lagi ketika ia menghadapi kenyataan yang ada.

Yang terbilang ceroboh hanya ikan ketiga, ia hanya berpikir untuk bersenang-senang saja tanpa menimbang kemungkinan yang sangat memilukan akan terjadi. Padahal semua itu bisa berakibat fatal pada kelangsungan hidupnya. Bisa kita bayangkan, seandainya ia tidak lolos dari nelayan itu, seandainya nelayan itu lebih hati-hati memegang buruannya, maka kemungkinan utamanya ia akan menjadi santapan sang nelayan. Berarti pula cerita kehidupannya sudah berakhir.

Tapi di balik kecerobohannya itu, tentunya juga banyak memberi ia pelajaran akan pentingnya kehati-hatian. Bila saja resikonya bukan kematian, tentunya akan lebih baik dari pada hanya berdiam diri tak melakukan apa-apa. Sebab, berdiam diri takkan pernah melahirkan pengalaman yang membawa dia untuk memahami hidup.

Akhirnya, tak perlu disimpulkan, tentu jelas mana yang terbaik, hanya perlu sedikit direnungkan lagi. Jika kita memilih seperti ikan pertama, yang pasti tak akan menemui tantangan yang membuat hidup ini lebih bersemangat. Ikan kedua, maka tentunya juga membahayakan, mengingat ancaman dan kemungkinan akan terjadi mengerikan. Ikan ketiga lebih mengerikan. Bahaya di belakangnya lebih nyata. Dan mungkin masih ada satu lagi ikan yang tak mau menikmati kehidupan. Mungkin kematian malah lebih baik baginya. Mana yang harus dipilih? Up to you!

 

Penulis: Dedy Abd. Ghony