Tag Archives: Kiai

Mencari Ilmu: Menuju Surga

Ilmu sangat penting. Saking pentingnya, orang yang berilmu ibarat tidak perlu lagi mencari apapun. Sebab orang yang berilmu sudah mendapatkan sesuatu yang sangat sempurna. Itulah sekelumit pesan yang coba disampaikan KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, dalam acara takhtiman Alquran Ponpes Al-Baqoroh sekaligus peringatan isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad SAW kemarin (20/04), di Aula Al-Muktamar.

Beliau membahasakan orang yang memperoleh ilmu dengan bahasa “man nâla haddzin wâfir”, atau orang yang telah memperoleh bagian yang sempurna.

“Barang siapa yang mencari ilmu, maka orang tersebut mendapatkan bagian yang sempurna, tidak ada yang diatas iltu.” Ungkap beliau.

Tentu saja, lebih lanjut beliau juga mengingatkan, “sebab para nabi tidak meninggalkan harta warisan dirham ataupun dinar. Tapi meninggalkan warisan berupa ilmu.” Maka pantas saja, jika para ulama dan pemilik ilmu disebut sebagai warasatul anbiya’, atau generasi pewaris para nabi.

Mencari ilmu menjadi hal yang mutlak, dan diwajibkan bagi siapapaun. Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW, “Tholabul ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin.” Mencari ilmu sangat diwajibkan untuk seluruh umat muslim. Itu juga yang coba ditekankan KH. Abdullah Kafabihi Mahrus kemarin. “Sehingga Rasulillah diperintahkan oleh Allah ‘Waqul rabbi zidnî ‘ilmâ’ (dan katakanlah Muhammad, wahai tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku). Ini (perintah Allah –Red) padahal tingkatannya (untuk) nabi.” Tutur Kiai Kafa.

Mengenai salah satu keutamaan ilmu, beliau mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “man salaka thorîqon yaltamisu bihî ‘ilmâ, sahhalallâhu thorîqon ilal jannah. Kalau orang mencari ilmu,  oleh Allah dimudahkan menuju surga.”

Terakhir, beliau berpesan “Ilmu adalah merupakan hal yang penting sekali, untuk menuju perubahan-perubahan, menuju kemuliaan-kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ilmu, walaupun orang itu nasabnya rendah bisa mulia.”

Semoga kita bisa dijadikan sebagai ahli ilmu, dan bisa mengamalkan ilmu yang kita dapatkan,  amîn…

Lautan Nahdliyin Mengetuk Pintu Langit

LirboyoNet, Sidoarjo — Istighotsah adalah cara terbaik bagi umat Islam untuk berperan dalam menciptakan suasana negara yang damai dan tentram. Para kiai, santri, dan unsur masyarakat Islam lainnya wajib meyakini kekuatan muslim tertinggi: al-du’â silâhul mukmin. Doa adalah senjata masyarakat Islam yang paling ampuh. Maka sudah barang tentu muslim menggunakannya di setiap hajat peperangan apapun, termasuk dalam memerangi kekuatan-kekuatan musuh dâkhiliyyah dan khârijiyyah, musuh dari dalam tubuh, juga supremasi kekuatan di luar kelompok masyarakat Islam dan negara.

KH. Hasan Mutawakkil Alallah, ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, menegaskan ini di sela-sela acara Istighotsah Kubro Hari Lahir ke-94 Nahdlatul Ulama di Sidoarjo, Ahad pagi (09/04). Beliau menilai, doa bersama adalah kesempatan terbaik bagi umat Islam, terutama nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama), untuk memperlihatkan dukungan yang besar bagi keselamatan dan kedamaian bangsa. “Kita beristighotsah untuk menunjukkan bahwa inilah cara Islam mewujudkan kedamaian bangsa. Bukan dengan cara-cara yang anarkis dan keras,” tutur beliau yang juga alumnus pondok pesantren Lirboyo ini. Istighotsah ini juga menunjukkan kepada dunia luar bahwa Islam dalam segala aspeknya, baik ketika berada dalam kondisi nyaman maupun sedang berada dalam tekanan berat seperti akhir-akhir ini, selalu mengedepankan cara berpikir dan cara bertindak yang adem dan menyejukkan.

“Pagi ini, kita berhasil menunjukkan kepada bangsa Indonesia, bahwa nahdliyin berada di garda terdepan untuk turut menyejahterakan bangsa. Di sini, bukan hanya ratusan ribu nahdliyin berada di tengah-tengah Gelora Delta Sidoarjo. Tapi Gelora Delta lah yang berada di tengah lautan nahdliyin,” ungkap beliau diikuti gemuruh sorak sorai peserta istighotsah.

Menilik foto yang beredar di beberapa media, dari acara yang bertemakan “Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurulloh” ini memang terlihat jamaah istighotsah dengan pakaian serba putih menyemut, ‘mengepung’ stadion kebanggaan warga Sidoarjo. Itupun, ungkap KH. Hasan Mutawakkil, masih hanya sebagian kecil dari warga nahdliyin Jawa Timur secara keseluruhan. Karena berbagai lapisan organisasi Nahdlatul Ulama yang berada dalam naungan PWNU, baik PC (pengurus cabang), MWC (majelis wakil cabang), hingga ranting NU memohon maaf karena tidak bisa mengikuti istighotsah bersama ini. “Para jamaah kami banyak yang tidak bisa berangkat. Mereka telah kehabisan armada kendaraan. Sudah tidak ada perusahaan bis maupun p.o. kendaraan lain yang mampu mengantarkan mereka. Seluruhnya telah habis.” Memang, dari pantauan redaksi LirboyoNet, banyak PAC maupun MWC yang gagal berangkat karena kesulitan mencari armada. Dari MWC Pandaan, Pasuruan saja, mereka membutuhkan sembilan bus untuk mengangkut jamaah mereka. Dari satu pesantren di Mojosari, Mojokerto saja, sudah membutuhkan banyak sekali kendaraan untuk mengantarkan tujuh ratus santrinya.

Bagaimana dengan Lirboyo? Tidak kurang dari tujuh ratus santri mengisi penuh enam bus dan tujuh truk tentara. Mereka ‘hanya’ terdiri dari sebagian siswa tingkat Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Itupun tidak semuanya. “Setiap angkatan, setidaknya mendapat jatah 240 kursi,” tutur Ade Harits, siswa yang juga menjadi salah satu panitia pemberangkatan.

[ads script=”2″ align=”right”]

Sebelum istighotsah dibaca beramai-ramai, terlebih dahulu dibacakan maklumat PWNU Jawa Timur oleh KH. M. Anwar Iskandar, salah satu wakil Rois Syuriah PWNU Jatim. Salah satunya adalah “Menjaga negara dari hal-hal yang merusak tatanan adalah wajib, karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harta terbesar bangsa dan negara ini.” Bagaimana tidak, menjaga kedaulatan negara adalah salah satu bentuk ikhtiar umat Islam yang paling penting untuk menjaga kontinuitas dalam menabur kebaikan dan nilai-nilai Islam di bumi, terutama bumi Nusantara. Umat Islam Indonesia berkewajiban untuk menghindarkan negara dari pudarnya rasa kepercayaan penghuninya terhadap semua unsur negara dan pemerintahannya.

Setiap masyarakat Islam Indonesia hendaknya memaklumi ini. Karena menyebarkan Islam yang damai, teduh, mengayomi, adalah perwujudan dari Islam yang “rahmatan lil alamin”. “Salah satu ikhtiar besar Islam (untuk mewujudkan kondisi itu) adalah hifdz al-daulah, menjaga kedaulatan NKRI. Keutuhan dan persatuan Indonesia adalah tanggungjawab setiap warga NU,” tegas Gus Anwar, yang juga satu almamater dengan KH. Hasan Mutawakkil Alallah.

Turut hadir Rois ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ma’ruf Amin. Dalam amanat yang beliau sampaikan, tugas nahdliyin adalah menjaga bangsa, umat dan negara dari berbagai masalah. “Kita hari ini hadir untuk mengetuk pintu langit. Memohon berkah pada sang Kuasa untuk menyelamatkan bangsa ini dari gangguan-gangguan yang tersebar dari dalam dan luar (tubuh negara dan agama).”

Beberapa hari sebelum hadir di Sidoarjo, beliau bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Beliau memberitahukan bahwa PWNU Jawa Timur akan melaksanakan hajat kubro demi keutuhan negara. “Presiden terharu, dan memang inilah yang harus dilakukan oleh umat Islam. Harus mendukung negara melalui upaya-upaya batiniah,” tutur beliau. Kemerdekaan adalah rahmat, dan mempertahankannya adalah bentuk dari merawat rahmat itu.

Hari itu, tutur beliau, menjadi saksi bahwa kiai adalah sosok yang sangat besar perannya dalam menyelamatkan negara. “Kiai tidak hanya sibuk mencetak santri dan kiai mumpuni, tetapi juga berdoa secara konsisten demi keselamatan bangsa.” Para kiai dan ulama selalu hadir dalam upaya-upaya kebangsaan, dengan mengharap perolehan rahmat dari sang Cahaya di atas Cahaya.

Tidak jauh-jauh, salah satu buktinya adalah apa yang dilakukan pesantren Lirboyo. Beberapa bulan terakhir ini, para santri, terutama kelas Tiga Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, terus dikerahkan untuk membaca aurad-aurad (bacaan wirid) tertentu setiap harinya. “Kami mendapat instruksi ini dari beliau KH. M. Anwar Manshur langsung. Beberapa bulan terakhir ini, setiap malam selepas sekolah kami membaca hizib nawawi dan hizib nashar. Beliau benar-benar mengharap santri untuk ikut ikhtiar dalam mendinginkan situasi negara dengan senjata kami, yakni doa,” tukas Anas Lauhil Mahfudz, salah satu pengurus kelas Tiga Aliyah.

Mari bersama mewujudkan Indonesia yang damai dan berdaulat, dengan terus berupaya dari segala aspek yang kita bisa. Karena dengan ikhtiar yang simultan dari berbagai lapisan masyarakat, sesuai apa yang ditekankan Rois ‘Am PBNU, sekecil apapun amal jika disatukan dengan rahmat Allah, dengan doa yang terus dipanjatkan, akan menjadi besar. Senjata ini akan melipatgandakan impact dan pengaruh ikhtiar lahiriah kita, sehingga bisa berguna bagi kemaslahatan nusa dan bangsa.][

Seminar Pengajuan KH. Subkhi sebagai Pahlawan Nasional

Telah ditemukan beberapa data baru yang menunjukkan bahwa pengaruh dan peranan perjuangan KH. Subkhi Parakan tidak hanya sebatas dalam skup kedaerahan, melainkan skupnya sudah level nasional. Sebab itu, ulama yang dikenal dengan sebutan Kiai Bambu Runcing ini layak mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Salah satu syarat yang diberikan kementerian sosial bisa diterimanya seorang tokoh menjadi pahlawan nasional adalah adanya pengakuan bahwa kiprah pengabdian atau dampak peranannya adalah berskala nasional.

Demikian disampaikan H Anashom, Dosen UIN Walisongo Semarang saat menjadi salah satu pembicara dalam Sarasehan bertajuk “Perjuangan Santri untuk Negeri, Pengajuan KH. Subkhi sebagai Pahlawan Nasional” di Pendopo Pengayoman Kabupaten Temanggung, Jumat (21/10).

“Salah satu dari data terbaru tersebut adalah dalam salah satu bukunya almarhum cendekiawan muslim Nur Kholis Madjid bercerita bahwa ayahnya dahulu pada masa perang revolusi sering bepergian beberpa hari lamanya meninggalkan rumahnya di Jombang. Pulang-pulang ternyata membawa oleh-oleh sejumlah senjata tradisional seperti ketapel dan bambu runcing sebagai modal perjuangan melawan penjajah kala itu. Ternyata bapaknya Nur Kholis Majid perginya ke Parakan Temanggung,” tutur Anashom.

Data lainnya, lanjut Anashom, pengakuan dari sastrawan Ajib Rasyidi juga pernah memberikan kesaksian dalam salah satu tulisannya bahwa pada zaman perang revolusi banyak orang-orang dari daerahnya yaitu Majalengaka Jawa Barat yang pergi ke Parakan untuk mencari doa.

Dalam sarasehan yang merupakan salah satu dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2016 yang dihelat PCNU Temanggung ini, Anashom mengimbau supaya PCNU Temanggung membentuk tim untuk menggali lebih dalam tentang kiprah dan peranan KH. Subkhi terutama dari nara sumber atau saksi dari luar daerah demi berhasilnya upaya pengusulan gelar pahlawan nasional tersebut.

“Siapa saja yang mendengar cerita dari informan tentang peranan KH. Subkhi supaya dicatat.Yang dibutuhkan adalah kesaksian dan pengakuan dari banyak orang lintas daerah walaupun hanya cerita-cerita kecil, pengakuan bahwa seseorang pernah pergi untuk sowan ke Mbah subkhi itu sudah cukup,” ujar Ketua PCNU Kota semarang itu.][

Penulis, M. Haromain, alumni Lirboyo angkatan 2010 asal Temanggung, Jawa Tengah

KH. Abdul Karim: Sosoknya Yang Pendiam

Banyak saksi sejarah alumni-alumni sepuh yang pernah nyantri di Ponpes Lirboyo di era masa sugeng KH. Abdul Karim menuturkan kesan-kesannya tentang beliau. Menurut para alumni-alumni sepuh, memang KH. Abdul Karim adalah sosok yang sangat pendiam. Beliau jarang dawuh dan jarang sekali berkomentar apapun. Menegur santripun tidak dilakukan secara langsung, sesuai cerita yang sering dituturkan oleh KH. M. Abdul Aziz Manshur, beliau menegur seorang santri yang sering keluar malam cukup dengan menempelkan sebuah tulisan dibawah beduk. Beliau menulis, “Kulo mboten remen santri ingkang remen miyos”. Kurang lebih bila diterjemahkan, “Saya tidak suka santri yang senang keluar malam.” Dan terbukti cara tersebut efektif.

Prof. Dr. KH. Rofi’i, seorang alumni sepuh yang menjadi guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menuturkan bahwa sosok beliau, KH. Abdul Karim memang sangat pendiam. “Boleh dikata, hidup beliau itu hanya untuk dzikrullah dan ngaji. Selama dua puluh empat jam hidup beliau itu kalau tidak ngaji ya hanya ‘Allah.. Alhamdulillah… Alhamdulillah..’ (Untuk berdzikir. Red). Tidak pernah bicara yang lainnya.” Hal tersebut juga dibuktikan dari pengalaman para tamu-tamu yang sowan hendak menemui beliau, “Jadi misalnya sekarang ada tamu, lalu pingin ketemu. Setelah diterima ya ndak pernah diajak ngomong apa-apa. Beliau hanya ‘Alhamdulillah.. Alhamdulillah… Alhamdulillah…’(Berdzikir. Red). Yang bertanya paling-paling justru santri yang mendampingi beliau pada saat menerima tamu.”. Keterangan yang senada juga diungkapkan oleh KH. Sama’il dari Tulungagung, seorang alumni sepuh yang sempat menangi KH. Abdul Karim selama sembilan tahun. Sebagai catatan, KH. Sama’il mulai mondok di Ponpes Lirboyo sekitar tahun 1945 M. Menurut beliau, KH. Abdul Karim ketika mengaji jarang memberikan keterangan. Hanya cukup dimaknai saja. Pernah beliau ketika sowan kepada KH. Abdul Karim waktu itu, setelah beliau matur , KH. Abdul Karim hanya menjawab seperlunya. “Kiai, saya baru pulang dari rumah, KH. Abdul Karim hanya menaggapi dengan Nggeh lalu kembali diam” kenang beliau.

Di hari haul KH. Abdul Karim ini, semoga kita selalu mendapat percikan berkah dari beliau. Amin….[]

HIMASAL Yaman Gelar Khataman Qur’an

LirboyoNet, Yaman – Tarim, Hadhromaut, Yaman (09/12/2015). Mahasiswa Indonesia, Yaman, Tanzani, Somalia, China, Thailand, Malaysia, menggelar Khatamann Qur’an dan Tahlil bersama atas wafatnya KH. M. Abdul Aziz Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyi’in, Paculgowang, Jombang, adik KH. Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Acara yang dipelopori oleh HIMASAL (Himpunan Alumni dan Santri Lirboyo) Cabang Yaman ini bertempat di Aula gedung Fakultas Syari’ah Wal Qonun Universitas Al-Ahgaff Tarim, Hadhromaut, Yaman.

Acara yang dipimpin oleh salah satu dzurriyah Pondok Pesantren MIS, Sarang, Rembang, sekaligus alumni Pondok Lirboyo, Imam Rahmatullah ini turut dihadiri Habib Umar Asseggaf, sebagai ketua Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI), dan juga ketua Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Yaman, M. Tohirin Shodiq.

Gus Imam Rahmatullah menyampaikan, bahwa dunia pesantren merasa sangat kehilangan dengan meningggalnya kiai yang tawaduk, penuh keteduhan, dan tekun memperjuangkan dunia pesantren.

“Kami para santri khususnya dan seluruh dunia pesantren merasa sangat kehilangan atas wafatnya kiai yang karismatik, tawaduk dan getol memperjuangkan dunia pesantren dengan segenap kemampuan beliau,” tutur Gus Imam Rahmatullah.

Mantan ketua Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) periode 2014/2015 ini juga menyatakan bahwasannya kiprah KH. Abdul Aziz Manshur dalam dunia politik bukan karena hasrat untuk menjadi politikus, melainkan atas sebab ingin memperjuangkan cita-cita pesantren.

“Beliau terjun ke ranah politik itu merupakan bentuk pengorbanan beliau untuk memperjuangkan dunia pesantren, bukan karena hasrat duniawi ingin menjadi politikus,” ujar Gus Imam Rahmatullah.

Ketua HIMASAL Yaman, Gus Zadit Taqwa menyampaikan, akan di laksanakan salat ghaib pada tiga titik di Kota Tarim, Hadhromaut, Yaman, pada hari Jum’at (11/12/2015) yaitu pada masjid Jami’ Tarim (tempat salat Jum’at Habib Salim Asyathiry), masjid Raudhoh (tempat salat Jum’at Habib Umar bin Khafidz bin Syekh Abu Bakar) dan masjid Jami’ Aidid.

“Insyaallah kami akan mengkonfirmasi masalah salat ghoib pada takmir di masjid Jami’, masjid Raudhoh, serta masjid Aidid,” terang Gus Zadit Taqwa selaku ketua HIMASAL Yaman.

Agenda Khataman Qur’an di tutup dengan shalat ghoib berjama’ah yang dipimpin langsung oleh ketua HIMASAL Yaman dan dilanjutkan dengan beramah tamah.

(H. R. Badrul/Mohammad Ziq)