Tag Archives: mahasantri

Kenapa Mahasantri Harus Tampil Di Dunia Digitalisasi?

“Memang sedikit tabu ketika kita berbicara tentang dunia digitalisasi di dunia pesantren,” ucap Yatimul Ainun, S.sos.I. selaku pembicara acara siang tersebut membuka materinya di hadapan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. “Tapi anggapan itu sudah kuno, kini sudah saatnya kaum sarungan (santri) menguasai dunia digital. Sudah bukan waktunya lagi kita selalu dicibir, selalu di olok-olok dan selalu di habisi di dunia maya, karena kita dinilai gaptek

Beliau melanjutkan, “Berbicara soal ketahanan informasi Nasional. Saat ini diakui atau pun tidak, penghuni negeri yang kita cintai ini dalam tanda kutip sedang menderita sakit, karena sedang sakit maka harus didatangkan obat, supaya mendapatkan ketahanan. Sebenarnya jenis penyakitnya terlihat seperti baru datang secara digitalisasi. Akan tetapi pada subtansinya ini penyakit lama yang sekarang sudah menjadi akut di negeri kita ini yaitu hoax.

“Kenapa penyakit ini harus segera ditangani dan diobati? Karena akan berdampak berubahnya pola pikir kita dan masyarakat secara umum.

“Maka dari itu bahaya derasnya banjir informasi saat ini sudah tidak terpusat lagi pada media mainstream (arus utama) seperti media online, media cetak, televisi, radio dan media mainstream lainya. Akan tetapi saat ini rujukan seseorang yaitu sesuatu yang pertama kali diunggah di media sosial, dan itu langsung dianggap benar.

“Apalagi ketika kita berbicara soal pesantren, berbicara soal Nahdlatul Ulama secara umum, kini memiliki tantanganya yang cukup besar. Maka kita sebagai warga Nahdlatul Ulama kini bukan hanya harus menguasainahwu dan shorof, bukan hanya menguasai mantiq dan balaghoh. Akan tetapi juga harus menguasai jejak digital kita, menguasai teknologi sesuai perkembangan globalisasi dan menjadi sangat penting untuk saat ini.

“Nah, karena kondisi sekarang yang demikian ini maka terbangunlah era post truth (membangun hoaks dan kebohongan dengan terus menerus sehingga akhirnya dipercayai). Rekam jejak kita sudah menumpuk di Google karena hampir semua yang kita butuhkan lalu keluar jawabanya.” Tutur beliau.

“Dan tragisnya pula, mereka yang memproduksi hoax dibesarkan oleh kita, bukan dibesarkan oleh mereka sendiri. Kenapa demikian? Karena yang suka vidio-vidio mereka adalah kita. Setiap mereka posting sesuatu kita langsung like dan share.

“Akan tetapi publik juga kurang menemukan rekam jejak yang positif. Kenapa? Karena mayoritas yang diunggah dan disukai oleh publik adalah hal-hal yang negatif. Publik post truth suka dengan sensasional dan emosional. Dan tidak jarang NU selalu tampil untuk menjadi pendingin dan pereda pada isu yang sensasional dan emosional.

“Maka kita harus ketemu konsepnya yaitu satu berita negatif harus dilawan seribu berita positif.”

Karena saat ini hanya tiga sosok pemuda yang mampu bertahan, yakni pemuda yang kreatif, inovatif, dan yang terakhir yaitu sosok pemuda yang produktif. Sosok-sosok inilah yang dibutuhkan di era milineal seperti sekarang ini. Karena di era post truth orang tidak mencari kebenaran, tetapi mencari afirmasi, konfirmasi, dan dukungan terhadap keyakinan yang dimilikinya.(TB)

Ketika Mahasantri Lirboyo Mengajar Santri Papua

LirboyoNet, Bogor-Program Wajib Khidmah Pondok Pesantren Lirboyo terus berlanjut hingga saat ini. Program yang menjadi salah satu syarat  Mahasantri sebelum di Wisuda. Dan untuk pada  tahun ini adalah tahun kedua Ma’had Aly Lirboyo mengirimkan Mahasantri Semester 7-8 menjadi guru bantu di Pondok Pesantren Daarur Rasul.

“Pondok Pesantren Daarur Rasul berdiri pada tahun 2004. Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren ini bermula dari seorang Kyai asal Bogor yang bernama KH. Ahmad Baihaqi yang tak lain adalah salah satu murid KH. Ma’sum Jauhari yang merupakan salah satu Masyayikh Lirboyo yang biasa di kenal dengan sebutan Gus Maksum. KH. Ahmad Baihaqi  telah melakukan dakwah sejak 1994 di Pulau Papua. Dari dakwahnya tersebut  tidak sedikit orang tua yang ingin anaknya mengenyam pendidikan agama Islam secara mendalam, hingga akhirnya beliau membawa anak-anak  dari papua tersebut ke Tanah Jawa untuk diajarkan agama Islam dan Pendidikan umum.”  Terang Abdurrohim Mahasantri Asal Brebes.

“Pondok pesantren yang semua santrinya orang papua ini, mempunyai kegiatan-kegiatan yang tak jauh berbeda dengan pesantren yang ada di indonesia pada umumnya. kegiatan dimulai dengan bangun pagi pukul 04:00 kemudian membaca wiridan sambil nunggu waktu shalat  subuh. Setelah shalat subuh membaca wirid wirdu latif sampai waktu duha, kemudian sarapan pagi.”  Terang Syarif Hidayatullah Mahasantri asal Sragen.

“Tepat Pukul 07:00  semua santri diwajibkan untuk mengikuti sekolah umum. Semua kegiatan pondok selesai sampai pukul 22:00, para santri di persilahkan untuk tidur sampai pukul 04:00.” Timpal Mahbub Mahasantri asal Cianjur.

“ Dan salah satu yang menarik  dari Pondok Pesantren Daarur Rasul selain semua santrinya berasal dari papua, pondok pesantren ini juga tidak memungut  biaya sama sekali.”  Terang Mahbub.

Semoga semua delegasi guru bantu yang disana bisa bermanfaat dan dimudahkan segala urusanya. (TB)

Musyawarah Kerja DEMA AMALI Jatim

LirboyoNet, Kediri—Mahad Aly adalah perguruan tinggi keagamaan Islam yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama Islam berbasis kitab kuning yang diselenggarakan oleh pondok pesantren. Kitab kuning yang dimaksud adalah kitab keislaman berbahasa Arab yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren. Adapun tujuan Mahad Aly adalah menciptakan lulusan yang ahli dalam bidang ilmu agama Islam, dan mengembangkan ilmu agama Islam berbasis kitab kuning.

Dewan Mahasantri Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (Dema Amali) wilayah Jawa Timur I mengadakan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) pertama yang berlangsung di Ma’had Aly Lirboyo Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur, Kamis-Jumat (14-15/3).

Dema Amali merupakan organisasi kemahasantrian di bawah naungan Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (Amali) yang dibentuk tim panitia 9 dan diresmikan pada bulan lalu pada Kongres I Ma’had Aly Indonesia di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang Jawa Timur.

Acara tersebut dihadiri delegasi dari beberapa Ma’had Aly yang berada di wilayah Jawa Timur diantaranya; MA Lirboyo, MA at-Termasi, MA Hasyim Asy’ari, MA Darul Ihya Lilulumuddin, MA al-Zamachsary, dan MA al-Fitrah.

Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut guna membahas susunan pengurus DEMA AMALI wilayah Jawa Timur dan juga program-program kerja yang tujuannya adalah untuk menjalin silaturohim antar Ma’had aly dan mensosialisaikan Ma’had Aly kepada masyarakat umum melalui media sosial, kajian-kajian, dan menerbitkan kumpulan karya ilmiah.

Ratusan Mahasantri Lirboyo Berbaiat Memajukan NU

Lirboyonet, Kediri – Sebanyak 435 dari 449 Mahasantri Ma’had Ali Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, telah dibai’at sebagai Kader Penggerak Nahdlatul Ulama, Senin (16/4) malam.

Mereka telah dididik selama 3 hari dengan disiplin ketat dan penempaan komitmen yang tinggi untuk berkhidmat ‘nderek kyai’ menghidupkan dan menggerakkan Jamiyyah Nahdlatul Ulama.

Pondok Pesantren (PP) Lirboyo Kediri kembali mencatatkan sejarah emas bagi perjalanan NU. Di samping telah menjadi tempat penyelenggaraan Muktamar ke-30 NU yang monumental, PP Lirboyo telah mewajibkan Mahasantri Ma’had Ali untuk mengikuti PKPNU sebagai syarat kelulusan mereka.

KH Athoillah Anwar Mansur, mewakili sambutan Pengasuh PP Lirboyo dalam upacara Bai’at menjelaskan, PKPNU bagi Mahasantri Ma’had Ali telah menjadi keputusan pengasuh PP Lirboyo.

“Kalau sebelumnya, para masyayikh, dzurriyah, pengurus dan pengajar di PP Lirboyo telah dididik sebagai kader penggerak NU, maka saat ini Santri Akhir Ma’had Ali kita wajibkan dididik sebagai kader penggerak NU sebelum mereka mengabdi dan kembali ke keluarga masing-masing,” katanya.

Gus Atho panggilan akrab KH Athoillah Anwar Mansur juga menegaskan, hal itu merupakan instrumen untuk membangun komitmen santri dalam berjuang di NU.

“Supaya mereka tetap istiqomah untuk berjuang nderek kiai melayani umat melalui Jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” tambahnya.

Sementara itu KH Abdul Mun’im DZ sebagai inspektur upacara bai’at kader menjelaskan, langkah besar telah diambil oleh PP Lirboyo Kediri dalam menjaga Islam Aswaja dan kesatuan NKRI melalui wadah Nahdlatul Ulama.

“Apa yang telah dilakukan oleh PP Lirboyo Kediri dengan mendidik santri akhir sebagai kader penggerak NU merupakan keputusan besar, cerdas dan strategis. Masa depan NU akan lebih baik, karena kekuatan penopang utama telah terkonsolidasi”, katanya dalam amanat inspektur upacara.

Ia berharap sejumlah pondok pesantren yang berada di lingkungan NU yang lain dapat mencontoh terhadap langkah PP Lirboyo ini.

“Bila pondok pesantren di lingkungan NU mengambil langkah yang sama seperti PP Lirboyo Kediri, kita yakin masa kejayaan NU akan terwujud di abad ke-2 dari kelahiran Jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” tambah Kiai Mun’im DZ meyakinkan Nahdliyyin.

Sebelumnya, KH Anwar Mansur Ketua Majelis Pengasuh PP Lirboyo Kediri mengingatkan kepada mahasantri (peserta PKPNU), bahwa NU adalah nikmat terbesar yang tidak dimiliki oleh negara Islam lain di dunia.

“Aswaja di NKRI dibuatkan wadahnya, sehingga ajaran Islam Aswaja terjaga dan terlindungi. Bahkan, bisa dikembangkan untuk memajukan kehidupan umat. Berbeda dengan Negara Islam timur tengah atau lainnya, Aswaja tidak terlindungi, bahkan bisa dijadikan penyulut konflik dan peperangan antar kelompok hingga antar bangsa,” kiai yang juga Rais PWNU Jawa Timur itu. (Syamsul Arifin/Muiz)

 

Sumber : nuonline