HomeAngkringKenapa Mahasantri Harus Tampil Di Dunia Digitalisasi?

Kenapa Mahasantri Harus Tampil Di Dunia Digitalisasi?

Angkring 0 1 likes 299 views share

“Memang sedikit tabu ketika kita berbicara tentang dunia digitalisasi di dunia pesantren,” ucap Yatimul Ainun, S.sos.I. selaku pembicara acara siang tersebut membuka materinya di hadapan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. “Tapi anggapan itu sudah kuno, kini sudah saatnya kaum sarungan (santri) menguasai dunia digital. Sudah bukan waktunya lagi kita selalu dicibir, selalu di olok-olok dan selalu di habisi di dunia maya, karena kita dinilai gaptek

Beliau melanjutkan, “Berbicara soal ketahanan informasi Nasional. Saat ini diakui atau pun tidak, penghuni negeri yang kita cintai ini dalam tanda kutip sedang menderita sakit, karena sedang sakit maka harus didatangkan obat, supaya mendapatkan ketahanan. Sebenarnya jenis penyakitnya terlihat seperti baru datang secara digitalisasi. Akan tetapi pada subtansinya ini penyakit lama yang sekarang sudah menjadi akut di negeri kita ini yaitu hoax.

“Kenapa penyakit ini harus segera ditangani dan diobati? Karena akan berdampak berubahnya pola pikir kita dan masyarakat secara umum.

“Maka dari itu bahaya derasnya banjir informasi saat ini sudah tidak terpusat lagi pada media mainstream (arus utama) seperti media online, media cetak, televisi, radio dan media mainstream lainya. Akan tetapi saat ini rujukan seseorang yaitu sesuatu yang pertama kali diunggah di media sosial, dan itu langsung dianggap benar.

“Apalagi ketika kita berbicara soal pesantren, berbicara soal Nahdlatul Ulama secara umum, kini memiliki tantanganya yang cukup besar. Maka kita sebagai warga Nahdlatul Ulama kini bukan hanya harus menguasainahwu dan shorof, bukan hanya menguasai mantiq dan balaghoh. Akan tetapi juga harus menguasai jejak digital kita, menguasai teknologi sesuai perkembangan globalisasi dan menjadi sangat penting untuk saat ini.

“Nah, karena kondisi sekarang yang demikian ini maka terbangunlah era post truth (membangun hoaks dan kebohongan dengan terus menerus sehingga akhirnya dipercayai). Rekam jejak kita sudah menumpuk di Google karena hampir semua yang kita butuhkan lalu keluar jawabanya.” Tutur beliau.

“Dan tragisnya pula, mereka yang memproduksi hoax dibesarkan oleh kita, bukan dibesarkan oleh mereka sendiri. Kenapa demikian? Karena yang suka vidio-vidio mereka adalah kita. Setiap mereka posting sesuatu kita langsung like dan share.

“Akan tetapi publik juga kurang menemukan rekam jejak yang positif. Kenapa? Karena mayoritas yang diunggah dan disukai oleh publik adalah hal-hal yang negatif. Publik post truth suka dengan sensasional dan emosional. Dan tidak jarang NU selalu tampil untuk menjadi pendingin dan pereda pada isu yang sensasional dan emosional.

“Maka kita harus ketemu konsepnya yaitu satu berita negatif harus dilawan seribu berita positif.”

Karena saat ini hanya tiga sosok pemuda yang mampu bertahan, yakni pemuda yang kreatif, inovatif, dan yang terakhir yaitu sosok pemuda yang produktif. Sosok-sosok inilah yang dibutuhkan di era milineal seperti sekarang ini. Karena di era post truth orang tidak mencari kebenaran, tetapi mencari afirmasi, konfirmasi, dan dukungan terhadap keyakinan yang dimilikinya.(TB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.