Tag Archives: rahasia

Rahasia Ayat Keempat Surat Al-Fatihah

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4

“(Allah) pemilik hari pembalasan”

Dalam ilmu qiro’ah sab’ah terdapat perbedaan dalam membaca ayat ini. Imam Ashim dan imam Ali al-Kisa’I membaca panjang huruf mim lafadz malik. Sebaliknya, para imam qiroah yang lain membaca pendek huruf mim lafadz malik. Dalam ilmu qiro’ah sab’ah, terdapat hikmah yang sangat agung dalam perbedaan cara baca. Karena, selalu ada makna khusus yang dibawa oleh setiap cara baca yang menjadikan al-Qur’an kaya akan perbendaharaan makna.

Qiro’ah yang membaca panjang huruf mim lafadz malik (terbaca Maalik) membawa makna memiliki karena lafadz maalik adalah bentuk isim fa’il dari asal kata milk (ملك) yang bermakna kepemilikan. Sedangkan, qiro’ah yang membaca pendek huruf mim lafadz malik (terbaca Malik) membawa makna merajai/menguasai karena lafadz malik adalah sifat musyabbihat dari asal kata mulk (ملك) yang bermakna kerajaan.

Singkronasi

Ketika kita padukan dua cara baca ini, maka kita akan menemukan makna bahwa Allah lah yang memiliki hari pembalasan dan Allah lah yang mengatur seluruh urusan pada hari pembalasan. Makna ayat ini membawa pesan peringatan agar hamba-Nya ikhlas beribadah kepada-Nya. Karena kelak mereka akan menemui balasan perbuatan mereka pada hari pembalasan.

Dalam ayat ini, “Mengapa Al-Qur’an datang dengan dua cara baca?”

Dengan dua makna inilah, sifat keagungan Allah terlihat jelas di hadapan pembaca Al-Qur’an. Karena hanya Allah lah yang memiliki hari pembalasan sebagaimana dalam ayat al-Qur’an

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (19

“Pada hari (ketika) seseorang tidak memiliki (pertolongan) bagi orang lain. Dan segala urusan pada hari itu adalah milik Allah” (Qs. Al-Infithar : 19)

Dan hanya Allah lah yang mengatur segala perkara yang terjadi pada hari pembalasan, di mana seluruhnya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya sebagaimana dalam ayat al-Qur’an

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ( 16

“Pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman) “Siapakah yang merajai hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan” (Qs. Ghafir : 16)

Seandainya hanya memakai satu cara baca dalam lafadz malik tentu pembaca akan kurang dalam memahami ayat.

Terlindunginya Makna

Ketika hanya memakai makna “Memiliki hari pembalasan” mungkin saja pembaca akan berfikir “Apakah Allah yang memiliki hari pembalasan mampu menghukum hambanya di hari tersebut?”. Karena ada beberapa sekte di luar aliran Aswaja yang tidak mengakui surga dan neraka sebagai balasan yang nyata. Bahkan, sebagian dari mereka menyatakan surga dan neraka bersifat ilusi bukan sebuah balasan yang nyata / hakiki. Sehingga mereka tidak benar-benar mengimani bahwa Allah adalah dzat yang mengatur jalannya hari pembalasan. Misalnya, pembaca dari kalangan sekte Murji’ah akan menyatakan “Allah hanya memiliki hari pembalasan dan Allah tidak mungkin menghukum hamba-Nya pada hari pembalasan karena setiap yang beriman pasti masuk surga tanpa hisab”.

Ketika hanya memakai makna “Merajai hari pembalasan” mungkin saja pembaca akan berfikir “Apakah Allah yang merajai dan mengatur di hari pembalasan adalah pemilik hari tersebut?”. Tentu, pembaca dari kalangan penganut aliran trinitas (agama yang mengakui tiga tuhan) akan berfikir “Esensi yang mengatur sebuah perkara bisa jadi tidak memiliki perkara tersebut, karena bisa jadi ada satu tuhan yang mengatur jalannya hari pembalasan dan ada satu tuhan lain yang memiliki hari pembalasan”.

Kesimpulan

Secara logika, dapat kita sederhanakan bahwa  makna “memiliki” dan “menguasai” adalah dua peran yang berbeda. Misalnya, seorang raja bisa dikategorikan “memiliki” sebuah negara berbasis kerajaan, akan tetapi yang memiliki peran “menguasai” jalannya hukum di negara tersebut adalah perdana menteri.

Selain kedua cara baca di atas, juga beberapa cara baca lain yang bermacam-macam. Misalnya, imam Laits bin Sa’ad yang membaca Malikii Yaumid Diin (ملكي يوم الدين), imam Abu Hanifah yang membaca Malaka Yaumad Diin (ملك يوم الدين) dan masih banyak lagi. Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Itqan mencatat ada 13 cara baca dalam ayat ini.

Kemudian, dalam ayat ini lafadz ad-Din bermakna pembalasan yang masih satu akar kata dengan lafadz Ad-Dain yang bermakna hutang. Karena sebagaimana hutang yang harus dilunasi maka setiap amal perbuatan juga akan dilunasi balasannya di hari pembalasan. Sebagaimana sebuah sya’ir

ولم يبق سوى العدوا     #   ن دناهم كما دانوا

“Dan tidak tersisa kecuali permusuhan, kami membalas sesuai dengan perbuatan mereka”

Kemudian, dalam ayat ini sifat kepemilikan dan menguasai dihubungkan (idhofah) dengan hari pembalasan sebagai waktu dijalankannya pembalasan Allah. Dalam ilmu tata bahasa Arab, hal ini menyimpan faedah ittisa’ (perluasan makna) karena pada dasarnya makna yang dimaksud adalah Allah menguasai dan memiliki seluruh perkara yang ada pada hari pembalasan. Hal ini sebagaimana ungkapan bangsa Arab dalam mensifati seorang pencuri barang berharga “Wahai orang yang mencuri malamnya penghuni rumah”.

Penulis: Muhammad Tholhah Al-Fayyad

Alumni Ponpes Lirboyo Kediri, sedang Menempuh Jenjang S1 Jurusan Ushuluddin di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Baca juga:
ISLAM AGAMA YANG AKOMODATIF DENGAN BUDAYA

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# RAHASIA DI BALIK AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH
# RAHASIA DI BALIK AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH

Rahasia Wudu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”(QS. al-Maidah: 6)

Salah satu kegiatan bersuci yang sering dilakukan umat islam setiap hari adalah wudu. Wudu adalah mensucikan diri dari hadas kecil. Begitu banyak dari rangkaian ritual ibadah yang mensyaratkan adanya wudu, seperti ibadah salat, tawaf, dan lain sebagainya. Sehingga, ibadah-ibadah tersebut akan sia-sia tanpa adanya wudu.

Melihat begitu pentingnya wudu, tentu terdapat sebuah hikmah yang tersirat di dalamnya. Lebih dari itu, hikmah-hikmah wudu sudah dapat ditemukan sebelum melakukannya. Setelah membaca basmalah, kesunahan pertama yang dianjurkan adalah mencuci kedua telapak tangan, dilanjutkan dengan berkumur dan menghirup air melalui hidung.

Dalam kitabnya yang berjudul Nihayah al-Muhtaj, Imam ar-Ramli telah menjelaskan hikmah dari ketiga kesunahan sebelum wudu tersebut. Dengan mencuci telapak tangan sebelum wudu, seseorang dapat lebih menjaga kebersihan, karena tidak dapat dipungkiri tangan adalah anggota tubuh yang paling aktif dalam seluruh aktifitas yang dilakukannya. Setelah dapat memastikan telapak tangan bersih, dilanjutkan dengan berkumur dan menghirup air melalui hidung. Tujuannya adalah untuk mengetahui sifat kemurnian air tidak berubah, baik dari segi warna, rasa, maupun baunya.[1] Dalam keterangan lain disebutkan, berkumur berguna untuk membersihkan mulut dari bau tak sedap dan sisa-sisa makanan. Sementara menghirup air melalui hidung berguna untuk membersihkan debu-debu di dalamnya yang rentan mengganggu kesehatan.

Dalam praktek wudu sendiri, ada beberapa anggota tubuh tertentu yang mesti dibasuh atau diusap, baik sebagian ataupun seluruhnya. Pemilihan beberapa anggota tubuh secara khusus tersebut bukan berarti tanpa alasan. Akan tetapi pasti terdapat hikmah di dalamnya.

Secara rinci, Syekh Ali Ahmad al-jarjawi telah menjelaskannya dalam kitab Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu. Pertama, membasuh wajah berguna untuk menghilangkan bekas debu dan keringat di wajah. Apalagi wajah merupakan bagian tubuh paling mulia yang pertamakali dipandang saat berhadap-hadapan dengan lawan bicara. Kedua, membasuh kedua tangan hingga batas siku berguna untuk membersihakan kotoran menempel di anggota tersebut. Karena pada umumnya, anggota lengan tersebut sering terbuka saat beraktifitas. Ketiga, mengusap sebagian kepala dikarenakan bagian anggota tersebut menjadi tempat keluarnya keringat dari pori-pori. Keempat, mengusap telinga berguna untuk membersihkan debu-debu yang mengotorinya. Kelima, membasuh kaki sampai batas mata kaki berguna untuk menghilangkan kotoran dan menghilangkan bau tak sedap. Apalagi anggota ini sangat rentan dengan kotoran.[2] []waAllahu a’lam

 

________________________

[1] Nihayah al-Muhtaj, (Beirut: Darul Fikr, 2009) vol. 1 h. 219-220

[2] Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, (Beirut: Darul Fikr, 2009) vol. 1 h. 64

Mengungkap Rahasia Hari Tasyriq

Setelah melewati malam takbir, salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban, umat Islam akan menapaki apa yang disebut dengan hari Tasriq. Yang menurut bahasa, istilah hari Tasyriq berasal dari literatur Arab “Syaraqa” yang berarti terbit. Adapun menurut istilah, hari Tasyriq adalah tiga hari yang terhitung setelah hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah dalam kalender Islam.

Sesuai sejarahnya, ada dua pendapat yang menjadi asal-usul serta alasan mengapa hari-hari tersebut dinamakan hari Tasyriq. Pertama, dinamakan Tasyriq karena pada zaman dahulu umat Islam mengawetkan daging kurban dengan cara menjemurnya untuk dijadikan semacam dendeng pada hari-hari tersebut. Kedua, karena ibadah kurban tidak dilakukan kecuali setelah terbitnya matahari.[1]

Hari Tasyriq memiliki berbagai keutamaan, hukum, serta amaliah yang berbeda dengan hari-hari besar yang lain. Diantaranya:

Keutamaan Hari Tasyriq

Di dalam al-Qur’an, Allah swt. telah berfirman:

وَاذْكُرُ اللهَ فِيْ أَيَّامٍ مَعْدُوْدَاتٍ

“Dan ingatlah kepada Allah dalam beberapa hari yang ditentukan,” (QS. Al-Baqarah: 203)

Menurut sahabat Ibnu Umar ra. dan pendapat mayoritas ulama, yang dimaksud “hari-hari yang ditentukan” dalam ayat tersebut adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu hari Tasyriq. Dari ayat tersebut, secara tersirat Allah swt. mengisyaratkan keutamaan kepada hari Tasyriq dengan menjadikannya sebagai waktu yang istimewa untuk berdzikir mengingat-Nya. Sehingga sudah sepatutnya Allah Swt memerintahkan kepada umat Islam untuk memperbanyak melakukan dzikir di hari-hari tersebut. Dan salah satu implementasi nyata dari perintah dzikir tersebut adalah kesunnahan membaca Takbir Muqayyad[2] yang diawali sejak salat subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai salat ashar di hari Tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah).

Dilarang Berpuasa di Hari Tasyriq

Hukum berpuasa di hari Tasyriq menurut pendapat paling shahih di kalangan ulama Madzhab Syafi’i adalah haram.[3] Sesuai sabda Rasulullah saw.:

أَيَّامُ التَّشْرِيْكِ أّيَّامُ أّكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ

“Hari tasyriq adalah hari makan dan minum, dan mengingat Allah.” (HR. Muslim)[4]

Allah swt. mensyariatkan terhadap umat Islam untuk menjadikan hari Tasyriq sebagai hari makan dan minum karena hari-hari tersebut masih satu rangkaian dengan hari raya Idul Adha. Hari Tasyriq sebagai hari makan dan minum memiliki pesan tersirat sebagai upaya syariat dalam membantu mereka untuk semakin giat dalam beribadah mengingat Allah Swt. Karena bentuk syukur paling sempurna atas nikmat yang diberikan adalah dengan semakin giat melakukan ibadah.

Memperbanyak Doa di Hari Tasyriq

Hari Tasyriq merupakan momentum istimewa untuk melaksanakan dzikir. Ibadah berdzikir memiliki kaitan yang sangat erat dengan doa. Karena bagaimanapun, doa merupakan salah satu bentuk mengingat (dzikir) dan upaya pendekatan (taqarrub)seorang hamba kepada Tuhannya. Maka dari itu, para ulama salaf sangat menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa selama hari Tasyriq.

Ziyad Al-Jasshas meriwayatkan dari Abu Kinanah Al-Qurasyi bahwa beliau pernah mendengar salah sahabat Rasulullah Saw, yakni Abu Musa al-‘Asyari berkata dalam khutbahnya ketika salat Idul Adha, “Setelah hari raya ada tiga hari, dimana Allah menyebutnya dengan istilah ‘hari-hari yang ditentukan’. Dan doa pada hari-hari itu tidak akan ditolak. Dengan demikian, perbesarlah harapan kalian”.[5] [] waAllahu a’lam

 

____________________________

[1] Lisan Al-‘Arab, juz 10 hal 173.

[2] Takbir Muqayyad secara bacaan sama persis dengan bacaan Takbir Mursal yang dibaca pada malam hari raya. Dinamakan Muqayyad karena masih terikat dengan waktu, yakni setiap selesai shalat selama 5 hari terhitung sejak hari Arafah sampai hari Tasyriq terakhir (9-13 Dzulhijjah). Lihat dalam Al-Hawi Al-Kabir, juz 2 hal 498.

[3] Kifayah Al-Akhyar, juz 1 hal 209.

[4] Shahih Muslim, juz 2 hal 800.

[5] Lathaif Al-Ma’arif, hal 506.