HomeAngkringMengungkap Rahasia Hari Tasyriq

Mengungkap Rahasia Hari Tasyriq

0 3 likes 81 views share

Setelah melewati malam takbir, salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban, umat Islam akan menapaki apa yang disebut dengan hari Tasriq. Yang menurut bahasa, istilah hari Tasyriq berasal dari literatur Arab “Syaraqa” yang berarti terbit. Adapun menurut istilah, hari Tasyriq adalah tiga hari yang terhitung setelah hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah dalam kalender Islam.

Sesuai sejarahnya, ada dua pendapat yang menjadi asal-usul serta alasan mengapa hari-hari tersebut dinamakan hari Tasyriq. Pertama, dinamakan Tasyriq karena pada zaman dahulu umat Islam mengawetkan daging kurban dengan cara menjemurnya untuk dijadikan semacam dendeng pada hari-hari tersebut. Kedua, karena ibadah kurban tidak dilakukan kecuali setelah terbitnya matahari.[1]

Hari Tasyriq memiliki berbagai keutamaan, hukum, serta amaliah yang berbeda dengan hari-hari besar yang lain. Diantaranya:

Keutamaan Hari Tasyriq

Di dalam al-Qur’an, Allah swt. telah berfirman:

وَاذْكُرُ اللهَ فِيْ أَيَّامٍ مَعْدُوْدَاتٍ

“Dan ingatlah kepada Allah dalam beberapa hari yang ditentukan,” (QS. Al-Baqarah: 203)

Menurut sahabat Ibnu Umar ra. dan pendapat mayoritas ulama, yang dimaksud “hari-hari yang ditentukan” dalam ayat tersebut adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu hari Tasyriq. Dari ayat tersebut, secara tersirat Allah swt. mengisyaratkan keutamaan kepada hari Tasyriq dengan menjadikannya sebagai waktu yang istimewa untuk berdzikir mengingat-Nya. Sehingga sudah sepatutnya Allah Swt memerintahkan kepada umat Islam untuk memperbanyak melakukan dzikir di hari-hari tersebut. Dan salah satu implementasi nyata dari perintah dzikir tersebut adalah kesunnahan membaca Takbir Muqayyad[2] yang diawali sejak salat subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai salat ashar di hari Tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah).

Dilarang Berpuasa di Hari Tasyriq

Hukum berpuasa di hari Tasyriq menurut pendapat paling shahih di kalangan ulama Madzhab Syafi’i adalah haram.[3] Sesuai sabda Rasulullah saw.:

أَيَّامُ التَّشْرِيْكِ أّيَّامُ أّكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ

“Hari tasyriq adalah hari makan dan minum, dan mengingat Allah.” (HR. Muslim)[4]

Allah swt. mensyariatkan terhadap umat Islam untuk menjadikan hari Tasyriq sebagai hari makan dan minum karena hari-hari tersebut masih satu rangkaian dengan hari raya Idul Adha. Hari Tasyriq sebagai hari makan dan minum memiliki pesan tersirat sebagai upaya syariat dalam membantu mereka untuk semakin giat dalam beribadah mengingat Allah Swt. Karena bentuk syukur paling sempurna atas nikmat yang diberikan adalah dengan semakin giat melakukan ibadah.

Memperbanyak Doa di Hari Tasyriq

Hari Tasyriq merupakan momentum istimewa untuk melaksanakan dzikir. Ibadah berdzikir memiliki kaitan yang sangat erat dengan doa. Karena bagaimanapun, doa merupakan salah satu bentuk mengingat (dzikir) dan upaya pendekatan (taqarrub)seorang hamba kepada Tuhannya. Maka dari itu, para ulama salaf sangat menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa selama hari Tasyriq.

Ziyad Al-Jasshas meriwayatkan dari Abu Kinanah Al-Qurasyi bahwa beliau pernah mendengar salah sahabat Rasulullah Saw, yakni Abu Musa al-‘Asyari berkata dalam khutbahnya ketika salat Idul Adha, “Setelah hari raya ada tiga hari, dimana Allah menyebutnya dengan istilah ‘hari-hari yang ditentukan’. Dan doa pada hari-hari itu tidak akan ditolak. Dengan demikian, perbesarlah harapan kalian”.[5] [] waAllahu a’lam

 

____________________________

[1] Lisan Al-‘Arab, juz 10 hal 173.

[2] Takbir Muqayyad secara bacaan sama persis dengan bacaan Takbir Mursal yang dibaca pada malam hari raya. Dinamakan Muqayyad karena masih terikat dengan waktu, yakni setiap selesai shalat selama 5 hari terhitung sejak hari Arafah sampai hari Tasyriq terakhir (9-13 Dzulhijjah). Lihat dalam Al-Hawi Al-Kabir, juz 2 hal 498.

[3] Kifayah Al-Akhyar, juz 1 hal 209.

[4] Shahih Muslim, juz 2 hal 800.

[5] Lathaif Al-Ma’arif, hal 506.