Tag Archives: Santri Lirboyo

Agar Delapan Puluh Tahun Dosa Kita Diampuni

Manusia tak lepas dari kesalahan. Dosa dan berbagai macam kekeliruan adalah niscaya. Adagium nyata bahwa selain nabi, tak ada insan yang suci memang sudah terbukti. Namun ampunan Allah SWT. juga maha luas dan tak berkesudahan, asalkan nafas masih senantiasa bersambung, maka tak perlu cemas pintu taubat tidak terbuka. Karena kapanpun dan di manapun, Allah SWT akan senantiasa melapangkan pintu maaf-Nya. Faqultus taghfiru rabbakum innahu Kana ghaffara.

Lebih-lebih kita adalah umat yang istimewa. Umat Nabi Muhammad Saw, nabi akhir zaman. Nabi pilihan, dan sayyid bagi para anak cucu Nabi Adam As. Allah SWT memberikan begitu banyak keringanan kepada umat Nabi Muhammad Saw, salah satunya dalam masalah taubat. Dahulu umat Nabi Musa As, kaum Bani Israil yang membuat kesalahan dan hendak bertaubat harus menebus kesalahannya dengan hal yang amat berat, dikisahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 54, bahwa konsekuensi yang harus ditebus jika taubat mereka ingin diterima Allah SWT akibat dosa menyekutukan-Nya adalah dengan bunuh diri.

 وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ

 أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Maka sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT, yang tidak lagi mewajibkan hal tersebut dalam syariat Nabi Muhammad Saw. Diantara kemurahan yang Allah SWT berikan kepada umat Nabi Muhammad Saw adalah dihapusnya dosa selama delapan puluh tahun dengan wasilah bacaan selawat kita kepada Baginda Nabi pada hari Jumat.

 مَنْ صَلىَّ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكَ قَالَ: قُوْلُوْا اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ، وَتَعْقِدُ وَاحِدَةً.

“Barangsiapa yang membaca selawat kepadaku pada hari Jumat delapan puluh kali maka Allah akan mengampuni dosanya selama delapan puluh tahun.” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Ya Rasulullah, bagaimana cara membaca selawat kepadamu?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Katakan:

 اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ

“Ya Allah, limpahkanlah selawat-Mu kepada Muhammad, hamba, Nabi dan Rasul-Mu, seorang Nabi yang ummi”, dan kamu hitung satu kali”. (HR ad-Darquthni)

 Dalam redaksi lain juga disebut,

 (من صلى علي في يوم الجمعة مائة مرة غفرت له ذنوب ثمانين سنة)

 “Barang siapa yang membaca selawat kepadaku pada hari Jumat sebanyak seratus kali, maka dosanya selama delapan puluh tahun diampuni.”

Maka sepatutnya kita meluapkan rasa syukur kita dengan memanfaatkan kemurahan yang telah Allah SWT berikan. Bacaan selawat yang ringan ternyata memiliki nilai luar biasa tinggi jika Istiqomah kita amalkan. Sungguh beruntung kita ditakdirkan menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad Saw.()

Penulis : M. Khoirul wafa (Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo.)

Periodesasi Ijtihad

Secara bahasa ijtihad adalah ungkapan bagi pengerahan daya kemampuan untuk menghasilkan sebuah hal yang dituju. Sedangkan secara istilah, ijtihad diartikan sebagai upaya mencurahkan kemampuan untuk mendapatkan hukum syara’ yang bersifat dugaan[1].

Ijtihad di Era Nabi

Terjadi kontroversi diantara para ulama mengenai apakah nabi juga melakukan aktifitas ijlihad. Menurut mayoritas ulama ushul, beliau boleh berijtihad ,dan hal ini pernah terjadi. Banyak sekali argumentasi yang diajukan pendapat ini, seperti firman allah: fa’tabiru ya ulil albab. Dalam ayat tesebut, yang dimaksud kata itibar adalah ijtihad dan qiyas. Ayat tersebut mengisntruksikan pada orang-orang yang memiliki akal sempurna untuk beri’tibar (berijtihad) termasuk diantaranya Nabi Muhammad saw, bahkan beliaulah yang lebih layak menerima perintah tersebut, sebab kapasitasnya sebagai orang yang paling sempurna akalnya[2]. Dan juga banyak hadits yang menggambarkan praktek ijtihad nabi, seperti ketika nabi ditanya sahabat umar mengenai dirinya yang telah menyentuh istrinya di siang hari padahal ia sedang berpuasa, kemudian beliau menjawab: bagimana pendapatmu jika saat puasa engkau berkumur?, dalam menjawab pertanyaan tersebut, nabi menganalogikan hukum mencium istri saat puasa dengan hukum berkumur saat puasa, dan ketika pertanyaan tersebut diajukan, nabi tidak menunggu turunya wahyu, dan memang saat itu wahyu tidak turun, sehingga jawaban tadi murni dari hasil ijtihad beliau.

Sedangkan mayoritas ahli kalam, dan mayoritas mu’tazilah dan asya’iroh berpendapat nabi tidak- boleh melakukan aktifitas ijtihad, sebab itu akan menyalahi firman allah: wama yanthiqu ‘anil hawa, yang menjelaskan bahwa semua kebijakan hukum nabi bersumber dari wahyu, bukan ijtihad, dan pendapal ini juga berargumentasi, bahwa semua tindakan nabi dipantau oleh Allah yang senantiasa menurunkan wahyunya ketika nabi dihadapkan sebuah persoalan, sementara hasil ijtihad hanya bersifat asumtif, dan wahyu bersifat pasti, sehingga nabi tidak perlu berijtihad, sebab hal yang pasti (qoth’i) harus didahulukan daripada hal yang masih sebatas dugaan (dhanni).

Ijtihad Sahabat di Masa Nabi

Sebelum wilayah kekuasan Islam meluas ke hampir seluruh jazirah Arab, semua persoalan yang terjadi masih dimungkinkan terpantau dan di tangani langsung oleh nabi, sehingga saat itu para sahabat tidak ada yang melakukan aktifitas ijtihad, kalaupun ada keputusan final tetap diserahkan nabi. Namun, setelah terjadi wilayah kekuasaan Islam yang hampir meliputi seluruh jazirah arab seperti Syam dan Yaman, tidak mungkin semua persoalan yang terjadi dimintakan langsung jawabanya kepada nabi,sehingga, nabi dirasa perlu mendelegasikan beberapa sahabatnya untuk menjadi hakim (qodhi) yang menangani persoalan yang terjadi di beberapa wilayah kekuasan islam, hal inilah yang membuka ruang bagi mereka untuk berijtihad, oleh karna itu mayoritas ulama berpendapat bahwa para sahabat di masa nabi boleh melakukan ijtihad, sebagaimana (diceritakan hadits Mu’adz bin Jabal yang masyhur itu, yaitu ketika nabi mengirimnya dan Abu Musa al-Asyari ke Yaman untuk dijadikan qodhi, ketika itu nabi bertanya: dengan apa kalian berdua memutuskan hukum? Mereka menjawab: dengan kitab Allah, jika disana tidak ditemukan jawabanya maka kami memutuskan dengan sunnah rasul, jika masih tidak ada maka kami kan menyamakan sebuah permasalahan dengan permasalahan yang serupa, kemudian kita ambil yang paling mendekati benar, kemudian nabi berkata: kalian berdua benar[3]). Jelas, dalam hadis tersebut nabi memberikan legalitas pada sahabatnya untuk berijtihad.

Ijtihad di Era Sahabat

Meski tradisi ijtihad para sahabat sudah dimulai sejak zaman nabi, yaiyu ketika mereka didelegasikan untuk menjadi qadhi, namun peran ijtihad mereka waktu itu belum terlalu signifikan, mengingat belum banyak persoalan yang terjadi ketika itu, disamping itu kehadiran nabi ditengah-tengah mereka membuat terjadi hukumnya langsung bisa dipertanyakan kepada beliau- wafatnya nabi pintu kreatifitas ‘ijtihad para sahabat lebih luas. Namun tidak semua sahabat melakukan iilihad, mereka yang mampu dan mengerti tentang nasikh mansukh,’am khas dan perangkat ijitihad yang lain yang berijtihad. Seperi kebijakan sahabat Abu Bakar untuk memerangi kelompok yang tidak mau membayar zakat, padahal dalam Alquran maupun hadits tidak ada instruksi tegas untuk memerangi mereka.

Ijtihad di Era Tabi’in

Corak ijtihad pada era tabi’in sangat beragam, ada kalangan yang bercorak rasional (ahli ra’yi) yang kebanyakan berdomisili di daerah Irak, ada kalangan yang bercorak literal (ahli hadits) yang banyak berdomisili di Hijaz. Karakter ijtihad kelompok rasionalis sangat berhati-hati dalam menggunakan hadits, mereka tidak menerima hadits kecuali jika memenuhi syarat-syarat yang ketat dan sulit terpenuhi, sehingga dalam berijtihad mereka lebih mengedepankan nalar dengan banyak menggunakan qiyas. Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya, karakter ijtihad mereka sangat tersinpirasi dengan corak ijtihad Ibnu Mas’ud yang kerap menggunakan nalar dalam berijtihad, dimana Ibnu Mas’ud menjadi guru mereka di Irak, dan juga minimnya stok hadis yang mereka miliki , sementara persoalan yang muncul semakin beragam disebabkan kondisi Irak yang sudah terkontaminasi budaya Persia, Romawi dan Yunani, sehingga hal ini mendesak mereka untuk menggunakan nalar[4]. Sedangkan kolompok literalis terkenal memiliki komitmen terhadap hadits, mereka dalam menerima sebuah hadis tidak memberikan syarat-syarat yang ketat, bahkan hadis ahad dan dhoif sekalipun mereka jadikan tendensi hukum dan didahulukan daripada qiyas.

Ijtihad di Era Madzhab

Di era ini kemerdekaan berpendapat dan semangat ijtihad semakin membara, hingga akhirnya muncul banyak madzhab-madzhab fikih, seperti Abu Hanifah, Malik Bin Anas, Sufyan Tsauri, Auza’i, Syafi’i, Ahmad Bin Hanbal dan lain-lain yang memiliki corak ijtihad sendiri-sendiri.

 

[1] Dr. Wahbah Zuhaili, Ushul Fiqh Islami. Hal. 320

[2]Ibid. Hal 331.

[3] Ibid. Hal 340.

[4] Ahmad Amin, Fajrul Islam. Hal 241.

 

Penulis: Ust. Muhammad Hasan, aktifis Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo.

Konferwil NU Jatim: Meneguhkan NU Sebagai Payung Bangsa

LirboyoNet, Kediri–  (28/07/18) Pembukaan agenda Konferwil PWNU Jatim yang dilaksanakan di aula Muktamar PP. Lirboyo berjalan begitu Khidmat dan meriah. Sebelum manual acara dimulai panitia mengajak para hadirin untuk berdiri bersama-sama melantunkan Indonesia Raya dan Syair Hubbul Wathon.

Dalam sambutannya, KH. Hasan Mutawakkil Alallah selaku ketua tanfidziah PWNU Jatim menyampaiakan bahwa agenda lima tahunan yang bertajuk “meneguhkan kembali NU Sebagai Payung Bangsa” memiliki tujuan agar warga NU senantiasa menjadi warga yang berbangsa dan bernegara dengan baik. “Saya yakin, kita yakin, bahwa keberadaan bangsa Indonesia yang multikultur, multi etnis, multi keyakinan, merupakan anugrah Allah, yang diberikan kepada bangsa ini, yang harus kita jaga, dan pelihara bersama-sama.” Ungkap beliau. “Oleh karenanya, dengan istikamah, (dengan) sikap NU semacam ini, secara global ini, maka NU akan menjadi payung yang teduh untuk bangsa ini, payung yang teduh untuk kader bangsa ini, payung untuk semua elemen bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.”

Beliau juga menekankan bahwa pentingnya menjunjung tinggi Haibah (wibawa) para ulama dan NU, “Karena jika tidak maka yang dikhawatirkan bukan hanya nasib NU tapi juga keutuhan NKRI ini.” Pungkas beliau.

KH. M. Anwar Iskandar juga menekankan, mengenai tiga tugas pokok kita sebagai warga NU. “Paling tidak ada tiga hal penting yang menjadi amanah dari umat dan bangsa ini untuk NU. Nomer satu adalah bagaimana mempertahankan, memperjuangkan, dan melestarikan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah an nahdiyah di bumi nusantara ini. Tutur beliau. “Tugas kedua, bagaimana menyelamatkan negara kesatuan Republik Indonesia ini.” tugas kedua ini, menurut beliau sangat sejalan dengan tema konferwil malam tadi. “Yang ketiga, bagaimana organisasi NU ini kita jadikan alat untuk mejaga kesejahteraan umat nahdhiyyin. Bagaimana umat ini sejahtera dalam ekonomi, kesehatan, keilmuan.” Tutup beliau.

Nampak hadir dalam Acara tersebut, segenap pengasuh PP Lirboyo, ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siraj beserta Sekjend PBNU H. Helmi faisal Zaini, juga segenap pengurus NU se-Jatim. Acara berakhir sekitar pukul 23.00 WIB setelah dibuka langsung oleh ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siraj. Agenda-agenda akan berlangsung mulai pagi ini hingga nanti sore.[iw]

 

 

Surat Ketetapan Ma’had Aly MHM

PEMBERITAHUAN RESMI MHM
Nomor : 55/Asn/MHM/L/II/2018

Bismillahirromanirrohim,

Dengan memohon rahmat dan hidayah Alloh SWT. Kami segenap Pimpinan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) Lirboyo memberitahukan kepada Santri, Alumni, Wali Murid dan Simpatisan Pondok Pesantren Lirboyo bahwa :

1. Berdasarkan petunjuk dan restu dari Masyayikh dan Badan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo;
2. Memperhatikan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia tentang pendirian Ma’had Aly Lirboyo dan Satuan Pendidikan Mu’adalah (Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah).

Maka Segenap Pimpinan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien menetapkan jenjang pendidikan sebagai berikut :

1. 6 tahun Satuan Pendidikan Mu’adalah Madrasah Ibtidaiyah (setara MI/SD);
2. 3 tahun Satuan Pendidikan Mu’adalah Madrasah Tsanawiyah (setara MTs/SMP);
3. 3 tahun Satuan Pendidikan Mu’adalah Madrasah Aliyah (setara MA/SMA);
4. 4 tahun Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula (setara S1), dengan Progam Pendidikan ‘Fiqh dan Ushul Fiqh’, Takhassus ‘Fiqh Kebangsaan’.

Jenjang Pendidikan tersebut di atas tanpa mengubah sedikitpun nilai-nilai pendidikan salaf yang telah menjadi ciri khas pendidikan Pondok Pesantren Lirboyo.

Ketetapan ini berlaku semenjak diresmikan dalam Sidang Paripurna Kuartal II & III MHM pada tanggal 23 Jumadal Ula 1439 H./ 09 Pebruari 2018 M. oleh Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo.

Demikian pemberitahuan ini. Atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

Lirboyo, 24 Jumadal Ula 1439 H.
10 Pebruari 2018 M.

PIMPINAN MADRASAH HIDAYATUL MUBTADI-IEN

Ttd,

H. ATHO’ILLAH S. ANWAR

Adapun mengenai informasi yang beredar, bila tidak persis sama dengan statemen resmi ini, adalah informasi yang tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan (hoax).

Hanyut di Sungai, Santri Lirboyo Meninggal Dunia

LirboyoNet, Kediri—“Mayit itu laksana orang yang tenggelam,” dawuh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus suatu ketika. “Mereka membutuhkan pertolongan dari saudaranya.” Dan pertolongan bagi mereka yang telah wafat itu adalah doa.

Selasa sore (06/02) kemarin, Qushay, salah seorang santri Pondok Pesantren Lirboyo meninggal dunia. menurut informasi dari Kapolsek Mojo, Kediri, ia hanyut di sungai Brenggolo, Gedangan, Mojo, Kediri, pada pukul 15.30 WIB.

Kronologinya, bermula dari keinginan almarhum dan kawan-kawannya berkunjung ke Mojo, guna melihat macam-macam ikan di salah satu rumah warga. Ia berangkat bersama tiga orang kawannya. Sesampainya di lokasi, ia segera menuju sungai di belakang rumah, karena sang pemilik rumah sedang memancing ikan di sana.

Arus sungai sedang kecil ketika itu. Karenanya, mereka tertarik untuk mandi di sana. Tidak lama kemudian, datang arus besar dari arah pegunungan. Dua dari mereka segera menepi. Namun dua santri yang lain tak sempat menyelamatkan diri. Satu orang, Qushay, tenggelam dan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. sementara seorang lagi, Ari Sulistyo, belum ditemukan hingga berita ini ditulis.

Jenazah Qushay dirawat di Pondok Pesantren Lirboyo, dan dishalati oleh KH. An’im Falahuddin Mahrus, diikuti oleh ribuan santri. Setelahnya, jenazah segera diantar menuju rumah kediamannya untuk disemayamkan di sana.

Semoga Ari Sulistyo segera diketemukan, dan amal ibadah Qushay diterima oleh Allah swt. Amin.