All posts by santri lirboyo

Westernisasi dalam Pendidikan Islam di Indonesia (Bag-1)

Pendidikan Islam di Indonesia mengalami krisis dewasa ini. Mental gagah para terdidik muslim dalam mengacuhkan dunia kebendaan dan pasrah dalam penghambaan kepada Tuhan, menjadi rikuh dan gagu di hadapan realitas kemodernan. Konsep-konsep dasar yang diperjuangkan Walisongo lewat langgar, dan para penerusnya lewat pesantren, retak dan hampir tumbang. Modernitas, sebuah wacana mutakhir yang salah satu ujungnya adalah materialisme, tidak dapat diterjemahkan, lalu dipahami dengan baik oleh muslim. Tujuan pendidikan dewasa ini bukan lagi untuk menyemaikan hubungan mesra antara batin dengan sang Khalik, tetapi lebih kepada pertimbangan-pertimbangan duniawi dan materialistik.

Sementara, pola dan kebijakan pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat lepas dari apa yang diilustrasikan oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Kedatangan Belanda yang membawa kemajuan teknologi, pada saat yang sama dibenci oleh kaum santri. Karena, di samping membawa manfaat teknologi, mereka menyertakan penghancuran mental muslim Nusantara lewat pembaratan nilai (westernisasi). Nilai-nilai Barat (western) dinilai membahayakan karena banyak tema-tema buruk yang menjadi ujung tombak. Rasionalisme, empirisme, dan materialisme didewakan oleh para intelektual Barat sebagai akar-akar kebahagiaan. Nilai-nilai ini bertolak belakang dengan apa yang sedang diperjuangkan kiai, santri dan pesantren. Iming-iming berupa kekuasaan dan kekayaan material dari Barat membuat pribumi, yang telah sengsara fisik dan batin selama ratusan tahun, mengalihkan pandangan mereka dari pendidikan pesantren menuju sekolah ala Belanda. Dampaknya, kiai, santri dan pesantren yang sebelumnya menjadi kekuatan utama dalam menolak kehadiran penjajah, menjadi usang dan terpinggirkan. Tanggungjawab penanaman nilai moral dan etika yang sebelumnya diemban oleh para kiai, tidak mampu diteruskan oleh pemimpin-pemimpin lembaga pendidikan baru, yakni para lulusan sekolah Barat.

Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam Indonesia

Islam, atau Timur—dalam dikotomi Timur-Barat sementara pakar sejarah—pernah memberi pengertian pada “ilmu pengetahuan” secara rinci dan sistematis. Al-Ghazali, dengan berpijak pada pengalaman intelektual dan spiritualnya yang serius lagi panjang, menuliskan pengertian-pengertian itu di beberapa lembar kitab Ihya.

Pertama-tama, ia menyebut perlunya membagi ilmu pengetahuan berdasar pada seberapa penting peran ilmu itu dalam mewujudkan kebutuhan-kebutuhan manusia. Kebutuhan (al-marghub ilaihi) itu bisa jadi kepingan emas, atau kebutuhan duniawi yang lain. Namun Al-Ghazali kemudian mewanti-wanti umat muslim bahwa ihwal duniawi, yang terindera dan bersifat kebendaan, tidaklah patut untuk dijadikan kebutuhan, lalu dengan masif diperjuangkan[1].

Hanya satu hal bagi Al-Ghazali yang layak untuk benar-benar diperjuangkan: pertemuan dengan dzat Tuhan. Pertemuan ini pada hakikatnya akan muncul dalam rupaan kedamaian sejati (al-sa’adah fi al-akhirah) dan nikmatnya berhadap-hadapan denganNya (ladzat al-nadhri li wajhillah). Pada satu titik inilah segala ilmu pengetahuan harus bermuara. Jika tidak, maka tak akan berarti apa-apa selain sebuah kesia-siaan.

Sementara itu, Prof. Naquib al-Attas memberikan gambaran singkat tentang tujuan ilmu, yang inheren dengan kepentingan adab:

“the purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man…the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”[2]

 

[1] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, (Surabaya: Al-Haramain), hlm. 15.

[2] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hlm. 150-151.

<h2 style=”color: white; background-color: green;”>Bersambung ke <a href=”https://lirboyo.net/westernisasi-dalam-pendidikan-islam-di-indonesia-bag-2/”>Bagian II</a></h2>

 

Penulis, Farhan Al-Fadhil, Syukron Hamid, Hisyam Syafiq, III Aliyah, Pemenang II Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi Ponpes Lirboyo, Maret 2017.

Islam Produktif dalam Persaingan Budaya yang Fluktuatif

Umat muslim dalam keresahan, terutama para kaum cendekia, baik yang biasa dipanggil ulama atau yang bukan. Bagaimana tidak, peradaban Islam yang pernah agung itu saat ini mengalami kemerosotannya yang paling tajam. Keresahan ini bisa dipahami karena sudah tercetak dalam keyakinan orang muslim bahwa agama mereka adalah agama yang menyeluruh, universal dalam setiap waktu dan tempat (shālih li kulli zamān wa makān). Adagium ini bukanlah isapan jempol belaka. Dilihat dari penganutnya, agama Islam tidak tersekat batas-batas genealogis dan geografis. Segala macam ras dan berbagai macam suku bangsa bisa menganut agama Islam.

Realitas ini semakin membuat adagium itu mendapatkan tempatnya, meskipun ia bukan nash. Apalagi, akan sangat aneh jika kita melihat orang Aborigin menganut agama Yahudi atau pun orang negro dari Zimbabwe menganut agama Tokugawa di Jepang. Jadi realitas-realitas sosial semacam itu membuat prinsip universalitas Islam semakin menemukan relevansinya. Bahkan Allah Swt menyebut hal itu sebagai tanda-tanda-Nya.

Maka ketika eksistensi peradaban agama Islam terancam oleh invasi-invasi yang bersifat inovatif dan modern, reaksi pertama umat Islam adalah resistensi serta penolakan mentah-mentah. Paradoks ini sangat membingungkan: di sisi lain ada doktrin-doktrin yang meyakini bahwa agama ini universal dan selalu unggul (ya’lū wa lā yu’lā alaih) namun reaksi yang ditunjukkan terhadap inovasi modernisme adalah penolakan. Oleh karena itu reaktualisasi dan reinterpretasi (meskipun hal ini telah didengungkan beribu-ribu kali) menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Keluhuran agama Islam tidak bisa dicapai dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional sambil meninggalkan keagungan kebudayaan modern. Agama Islam haruslah dinamis. Hal ini bukanlah hal yang asing bagi Islam. Sahabat Ali Ra pernah berkata dalam satu kesempatan:

علّموا أولادكم في زمانهم فإنهم يعيشون في غير زمانكم

“Ajarilah anak kalian sesuai dengan zamannya. Karena mereka tidak hidup di zaman kalian.”

Keharusan Pembaruan

Pembaruan (tajdīdiyyah, renewal) bukanlah sesuatu yang aneh dalam Islam. Syaikh Abdullah bin Bayyah menyebut hal itu sebagai sebuah keniscayaan ilahi. Hal ini, menurut beliau, bersandar pada hadis Nabi Saw:

إنّ الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها أمر دينها

“Sesungguhnya Allah Swt mengutus bagi umat ini  di setiap awal seratus tahun seseorang yang membarui urusan-urusan agamanya.”[1]

Oleh karena itu, menutup diri dari pembaruan merupakan perlawanan terhadap kenyataan ilahi. Pembaruan-pembaruan yang disasar di sini haruslah sesuatu yang bersifat match dengan perkembangan zaman. Karena, seperti sering dikatakan, al-ālim ibnul waqti. Orang pandai adalah dia yang memahami masanya; Putera Zaman. Begitu juga, setiap usaha pembaruan yang melawan dan bertentangan dengan zaman bukanlah merupakan pembaruan secara nyata. Melainkan retorika yang diulang-ulang. Keharusan pembaruan ini harus dilakukan agar dua doktrin yang telah disebutkan di atas (universalitas dan keluhuran Islam) tidak kehilangan relevansinya. Apabila ini yang terjadi, hal ini tentulah tidak akan bisa diterima oleh kalangan islamis.

Seiring dengan berkembangnya budaya dan ilmu pengetahuan, old lifestyle dengan segala cara-cara dan langkahnya yang kuno tidak lagi relevan dengan kehidupan era modern ini. Peradaban modern selalu menuntut suatu hal yang kreatif-inovatif, begitu pula karakter masyarakatnya yang cepat bosan dengan hal-hal monoton. Berangkat dari kenyataan seperti itu, maka upaya-upaya dalam menjadikan Islam sebagai yang terdepan haruslah menggunakan cara yang modern pula, cara yang diminati masyarakat pada masa sekarang, ini bukanlah menundukkan agama pada realita, namun langkah-langkah seperti ini sejatinya adalah upaya agar Islam tetap menapak bumi dan relevan (shalih likulli zaman), tidak menjadi hal yang mengambang dan absurd. Sehingga segala sesuatu yang bersifat destruktif terhadap kondisi sosial juga harus ditolak. Ada beberapa pola dasar yang bisa menjadi contoh konkret bagi hal-hal yang destruktif ini.

Contoh klasik, tanggal 25 Desember dan 14 Pebruari selalu menjadi hari yang kontroversial di negeri kita yang mayoritas Muslim ini. Hampir setiap tahun, dua hari besar yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam itu selalu melahirkan fatwa haram, atau bahkan kafir bagi umat Islam yang ikut memeriahkan atau bahkan sekedar memberi ucapan selamat. Alih-alih menunjukkan independensi dan keteguhan agama Islam, fatwa ini malah menggambarkan kekalahan umat Islam dalam percaturan peradaban. Fatwa ini semakin memperlihatkan kegagalan “ulama” dalam mengawal umat. Beberapa orang muslim seakan-akan menganggap hal itu sebagai ancaman yang membahayakan sehingga umat harus dibentengi dari hal itu dengan fatwa haram. Ada subyektifitas yang terselubung dari fatwa itu. Memang, kita harus melindungi diri kita sendiri dari invasi budaya di luar apa yang kita miliki. Tetapi tidak dengan cara destruktif dan kontra produktif. Tidak dengan cara menyerang mereka dengan selusin berondongan fatwa-fatwa agama.

Contoh lain yang bisa kita ambil adalah fatwa pelarangan pemimpin non-muslim. Pelarangan ini menunjukkan bahwa kondisi agama Islam seakan kalah dalam pertarungan politik dan merasa terancam. Karena, seperti telah dijelaskan di muka, agama Islam adalah agama yang selalu luhur, maka segala hal yang membuat agama Islam merosot dan tidak luhur harus dibentengi dan dilindungi. Kesalahan penerapan prinsip ini (ya’lu wala yu’la ‘alaih) adalah penyakit yang sedang melanda umat Islam saat ini.

Anggapan ancaman terhadap setiap sesuatu yang dianggap tidak islami dan pelarang terhadap hal itu adalah sumber gejala kemunduran umat Islam yang semakin membuat Islam tampak terperosok ke bawah. Bukan malah semakin membuat Islam tampak sebagai agama yang luhur dan teguh memegang prinsip tapi semakin membuat Islam tampak sebagai pesakitan.

Sebuah perumpamaan klasik sering dikatakan untuk menggambarkan hal ini: andaikan kita seorang pemilik restoran, kebetulan ada restoran milik orang lain yang tak jauh letaknya dari restoran kita, dan ternyata restoran milik orang lain lebih diminati konsumen, maka cara agar restoran kita bisa unggul bukanlah dengan menyebar fitnah bahwa restoran “tetangga” menjual makanan yang telah dicampuri bahan pengawet atau zat kimia berbahaya, ini persaingan amatir dan tidak sehat. Cara yang tepat dalam kasus di atas adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas restoran kita misalkan dengan tampilan fisik restoran yang baru, menambahkan menu baru, atau menyajikan menu lama dengan cara yang baru. Cara yang sehat inilah yang bisa menjadi obat bagi umat Islam dalam menghadapi era modern agar agamanya tidak kehilangan relevansi serta selalu unggul, sesuai dengan doktrinnya.

Dengan kasus fatwa-fatwa tadi, persaingan secara sehat harus dilakukan dengan meningkatkan kualitas penganut agama Islam. Peningkatan kualitas ini, dalam konteks fatwa di atas, bukan dengan menggalakkan fatwa bahwa Natal atau Valentine itu haram dirayakan, melainkan dengan membuat fatwa yang bisa meningkatkan kualitas umat. Sebagai contoh, fatwa untuk merayakan 10 Muharram atau Maulid Nabi harus dibuat dan dipromosikan dengan gencar tanpa perlu memfatwakan melarang merayakan Natal.

Begitu juga dengan permasalahan pemimpin, yang harus dilakukan bukanlah melarang untuk memilih non-muslim. Melainkan umat Islam harus meningkatkan kualitas menciptakan kader-kader berkompeten yang mampu bersaing. Persaingan-persaingan secara sehat inilah yang harus digalakkan umat Islam agar ia bisa luhur dan universal.

Jika umat Islam sudah senang dan bangga dengan syiar dan kebudayaan Islam sendiri,  tanpa fatwa pun mereka dengan sendirinya akan meninggalkan kebudayaan dan segala hal yang kontras dengan Islam.[]

 

[1] Itsārat-Tajdīd hal 12

 

Penulis, Arif Rahman Hakim Syadzili, Rif’an Haqiqi, Alfanul Makki, II Aliyah, Pemenang I Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi Ponpes Lirboyo, Maret 2017.

Bahtsul Masail HIMASAL: NKRI Sudah Final!

LirboyoNet, Kediri – Seperti yang telah diagendakan sebelumnya, Himpunan Alumni SantriLirboyo (HIMASAL) berencana melaksanakan bahtsul masail khusus bagi alumni Pondok Pesantren Lirboyo pada Rabu-Kamis, 22-23 Maret 2017 M./23-24 Jumadal Akhirah 1438 H. nanti. Pelaksanaan bahtsul masail ini menjadi salah satu agenda Bahtsul Masail Kubro (BMK) Pondok Pesantren Lirboyo, sehingga selain  diikuti oleh para santri dan undangan dari berbagai pesantren, bahtsu ini nantinya juga diharapkan semakin ramai dengan keikutsertaan para alumni.

Redaksi LirboyoNet pada Senin (06/03) lalu menemui Agus HM. Ibrohim A. Hafidz, Rois ‘Am Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo guna mendapatkan informasi terkait bahtsul masail ini.

Apa yang mendasari pelaksanaan bahtsul masail HIMASAL ini?

Mulanya, di dalam agenda HIMASAL, bahtsul masail akan terlaksana setiap lima tahun sekali. Namun, akhir-akhir ini, ada desakan dari para alumni yang merasa bahwa untuk mengakomodir dan memformulasi permasalahan yang aktual, tidaklah cukup dirumuskan lima tahun sekali. Maka kemudian HIMASAL mencoba mewadahi permasalahan alumni ini dengan mengadakan bahtsul masail HIMASAL padaakhir tahunini.

Apa tema besar yang diangkat dalam bahtsul masail kali ini?

Kami mengangkat isu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Tujuannya, memberikan wawasan kebangsaan kepada para alumni.

Kenapa harus NKRI?

Mengenai ini, kami lebih melihat isu-isu terkini yang beredar di sekitar kita. Seperti diketahui, situasi dan kondisi negara saat ini membutuhkan perhatian khusus dari para pemerhati, termasuk dari para alumnus pesantren ini. Bagaimana permasalahan-permasalahan yang ada seperti kecintaan pada negara mulai luntur, dan adanya rongrongan pihak-pihak yang tidak senang dengan keutuhan negara kita. Apalagi, ada yang memanfaatkan unsur-unsur keagamaan untuk mewujudkan keinginan-keinginan buruk itu. Para alumni harus mempunyai rumusan yang pasti dan teguh untuk menghadapi permasalahan ini.

Kami juga melihat fakta bahwa ada beberapa pesantren dan lembaga keagamaan yang mulai mempertanyakan kembali, apakah NKRI benar-benar menjadi harga mati? Kenapa tidak mengkaji ulang konsep yang ditawarkan Islam, seperti khilafah dan semacamnya? Kita akan membahas ini. Seperti yang kita ketahui bersama, kerusuhan dan carut-marut yang terjadi di sebagian Timur-Tengah, seperti perang saudara berawal dari keraguan akan sistem pemerintahan yang telah berjalan. Kemudian, dengan agresif menuntut perubahan drastis. Kasus ini kemudian berkembang pada isu takfiri, yakni mudah mengkafirkan orang lain.

Juga, kita sama memahami apa yang terjadi di dalam media sosial. Perang opini yang saling dilemparkan sangat memprihatinkan.Yang membuat kami lebih prihatin adalah para korban opini itu bukan hanya masyarakat awam, tapi juga santri dan alumni pesantren yang notabene telah mendapat pendidikan cinta kepada negara.

Kenapa isu kebangsaan menjadi se-urgen itu di mata pesantren Lirboyo?

Perlu diketahui bersama, apa yang sedang aktual terjadi di negara ini sangat meresahkan para masyayikh kita. Beliau-beliau menganggap keutuhan dan persatuan negara berada dalam situasi yang genting. Gangguan dan rongrongan terhadap institusi, bahkan konstitusi negara sudah tidak main-main. Para masyayikh tidak ingin apa yang terjadi di Timur-Tengah juga melanda Indonesia. Analisa dari pihak-pihak terpercaya mengatakan gangguan itu sudah menjalar ke berbagai lapisan masyarakat dan politik.

Islam wajib memperhatikan ini semua. Bukan hanya itu, islam juga wajib melindungi negara dari gangguan apapun. Bukan malah mendirikan sistem baru. Apalagi khilafah. Dalam kasus negara kita, tawaran berupa khilafah ini samasekali tidak diizinkan oleh islam. Semua santri, terutama alumni ponpes Lirboyo, wajib mengetahui dan meyakini bahwa apa yang telah dirumuskan pendahulu bangsa adalah keputusan terbaik.

Dengan dijadikannya tema kebangsaan sebagai titik tolak utama dalam bahtsul masail HIMASAL kali ini, apa harapan dari pondok pesantren Lirboyo?

Pertama adalah menyatukan visi-misi. Seluruh alumni harus satu pandangan dalam menghadapi berbagai kasus, terutama kasus ini. Hal ini penting agar lingkungan dan masyarakat tempat para alumni tinggal dapat dikoordinir dengan baik oleh para alumni. Tidak muncul keresahan dan kebingungan yang tidak perlu.

Selanjutnya, para alumni harus kokoh dan teguh memegang prinsip yang telah dirumuskan oleh masyayikh di atas, bahwa apa yang dicanangkan pendahulu bangsa adalah hasil renungan terbaik. Maka harus kita bela dan perjuangkan dengan sekuat tenaga. Adapun dalam menghadapi permasalahan pelik ini, kita harus mengikuti apa yang didawuhkan masyayikh, yakni tetap bil hikmah dan mauidhah hasanah. Dengan prilaku dan komunikasi yang baik.

Terakhir, pesan dari para masyayikh adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dipertahankan seperti layaknya yang dilakukan para kiai dan santri dahulu. Karena dengan negara yang aman, kondusif, visi pesantren berupa ta’lim dan ta’allum (persebaran ilmu pengetahuan) akan dapat berjalan lancar dan nyaman.][

Mengenang KH. A. Idris Marzuqi, Santri Putri Khataman Al-Quran

LirboyoNet, Kediri — Hari Sabtu kemarin (04/03), suasana ramai terasa di Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Quran (P3TQ). Pasalnya, hari itu, sejak pagi hingga sore hari, pondok disibukkan dengan beberapa rangkaian acara peringatan Seribu Hari almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi.

Pada pagi hari, suasana pondok khidmat dengan khataman Al-Quran. Ada ratusan santri yang ikut berpartisipasi dalam khataman ini. Masing-masing dari mereka bergantian membaca Al-Quran untuk diperdengarkan dan disimak oleh beberapa kawannya. Suasana semakin khidmat karena yang terlibat bukan hanya para santri. Puluhan alumni pondok ini juga ikut hadir dan membaca Al-Quran, seperti santri-santri putri yang lain.

Sore harinya, rangkaian acara berganti dengan tahlil bersama. Pesertanya pun bertambah. Jika sebelumnya hanya santri dan alumni, acara yang dilaksanakan di ndalem itu juga diikuti oleh para pengajar P3TQ, TPQ Al-Muktamar, dan segenap khodim dan abdi ndalem keluarga almaghfurlah.

Acara ini adalah peringatan Seribu Hari almaghfurlah khusus bagi para santri dan alumni P3TQ. Adapun acara yang diperuntukkan bagi kalangan umum adalah besok Sabtu, 11 Maret/13 Jumadal Akhirah. Tempat pelaksanaannya masih sama, yakni di ndalem barat almaghfurlah.][

Sujud Tilawah dan Sujud Syukur

Di dalam Madzhab As-Syâfi’i, Macam sujud di luar salat ada dua, yaitu sujud tilawah dan sujud syukur. Sujud tilawah disunahkan ketika terbacanya ayat sajdah, sujud ini di sunahkan baik bagi pembaca maupun pendengar ayat sajdah, sedangkan sujud syukur di sunahkan bagi orang yang mendapatkan nikmat zahir atau terhindar dari bencana dhahir sebagai bentuk rasa syukur pada Allah SWT.

Sujud pada selain kasus di atas  maka hukumnya haram dan tidak diperkenankan bagi siapaun untuk melakukannya, bahkan sujud selain pada ketentuan diatas bisa berakibat kufur jika diniatkan sujud selain kepada Allah SWT. berbeda bila seseorang meletakkan kepalanya diatas tanah atas dasar karena ia merasa hina atau untuk merendahkan hati dengan tanpa berniat sujud, maka hal ini tidak diharamkan karena yang demikian bukan tergolong sujud.

Ketentuan sujud syukur dan tilawah (diluar sholat) adalah harus suci dari hadas, suci najis, menutup aurat, dan menghadap kiblat. Sedangkan cara melakukannya ialah pertama niat dan takbirotul ihram dengan mengangkat kedua tangan sebagai mana dalam salat, kemudian sujud satu kali, setelah itu duduk dan salam.

Sujud Tilawah

Sujud tilawah adalah sujud yang di lakukan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah yang terdapat dalam Alquran, di sunahkan (bahkan sunah muakkad) melakukan sujud tilawah tersebut baik di lakukan di dalam shalat ataupun di luar salat. Tata cara sujud tilawah adalah sebagai berikut:

Teknis pelaksanaan:

  1. Ketika berada dalam shalat

Setelah musholli (orang sholat) selesai membaca ayat sajdah maka langsung sujud dengan disertai niat sujud tilawah tanpa melakukan takbirotul ihram kemudian melakukan sujud dan setelah selesai maka musholli kembali bangun dengan di sertai takbir untuk meneruskan salatnya. Sujud tilawah yang di kerjakan di dalam salat tidak memakai takbirotul ihram dan salam. namun bagi makmum tidak boleh mengerjakan sujud tilawah bilamana imamnya tidak mengerjakan, sekalipun makmum mendengar atau membaca ayat-ayat sajdah.

  1. Ketika di luar shalat

Setelah selesai membaca atau mendengarkan bacaan ayat sajdah maka langsung menghadap qiblat kemudian takbir di sertai niat lalu sujud, kemudian takbir untuk duduk lalu salam.

Niat sujud tilawah adalah :

نَوَيْتُ سُجُوْدَ التِّلاَوَةِ سُنَّةً للهِ تَعَالىَ

Bacaan sujud tilawah adalah :

سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصُوَّرَهُ وَشَقَ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ .

Apa bila tidak memungkinkan sujud Tilawah karena ada kesibukan atau lainnya, maka di anjurkan membaca tasbih 4 kali sebagai pengganti sujud tilawah.

4 x سُبْحَانَ الله وَالْحَمْد لله وَلَا إِلَه إِلَّا الله وَالله أكبر وَلَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه الْعلي الْعَظِيم

Sujud Syukur.

sujud syukur adalah sujud yang di lakukan di luar shalat karena ada beberapa sebab. Berikut ini beberapa sebab di sunahkannya melakukan sujud syukur:

  1. Mendapatkan ni’mat yang tidak di sangka sebelumnya baik nikmat pada dirinya sendiri, kerabat, teman atau umat islam secara umum. Akan tetapi tidak disunahkan jika karena mendapat ni’mat yang terus menerus seperti ni’mat islam.
  2. Terhindar dari bencana atau musibah yang tidak di duga-duga sebelumnya seperti selamat dari tertimpa bangunan yang roboh akibat gempa atau selamat dari tenggelamnya kapal.
  3. Ketika melihat orang lain melakukan kemaksiatan sebagai rasa syukur bahwa dirinya tidak melakukannya.
  4. ketika melihat orang lain tertimpa musibah pada anggota badannya, seperti buta, tuli, atau gila. Namun pada saat melakukannya di sunahkan untuk tidak di perlihatkan padanya.

Adapun cara melakukan sujud syukur yaitu di lakukan di luar shalat dengan satu kali sujud di syaratkan dalam keadaan suci, menutup aurot, dan menghadap qiblat. Sementara rukun-rukunnya adalah sebagi berikut:

  1. Niat
  2. Takbiratulihram
  3. Sujud satu kali
  4. Duduk
  5. salam

Niat sujud syukur :

نَوَيْتُ سُجُوْدَ الشُّكْرِ سُنَةَ للهِ تَعَالَى

Bacaan sujud syukur sebagai berikut :

سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَا رَكَ اللهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ.