Hilirisasi Teknologi: Tantangan untuk Kebudayaan Nusantara

budaya nusantara-kebudayaan indonesia

Hilirisasi teknologi yang kian pesat telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.Modernisasi membawa budaya asing yang secara masif memengaruhi kebudayaan Nusantara, khususnya bagi masyarakat Indonesia, melalui berbagai platform media sosial seperti YouTube, WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena desakan-desakan tersebut membuat budaya lokal terkesan terpinggirkan dan dianggap kuno.

Tantangan Hilirisasi Teknologi Terhadap Kebudayaan

Perubahan ini tidak bisa dibiarkan karena dapat menghilangkan jati diri suku bangsa. Kebudayaan dapat mereduksi ketidakbenaran dengan norma kebudayaan, tradisi, dan kearifan lokal yang bangsa kita miliki. Memasuki era Society 5.0, di mana ilmu pengetahuan berbasis modern (AI, Robot, IoT) menjadi perhatian masyarakat, fokus banyak tertuju pada dunia maya.

Bonus Demografi dan Tantangan Kebudayaan Pada tahun 2045, Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi dengan jumlah pemuda yang mendominasi sebanyak 70%, sedangkan sisanya terdiri dari golongan berusia 14 tahun ke bawah dan orang tua. Pada tahun ini, tingkat produktivitas negara merah putih akan meningkat. Namun, pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita siap menghadapi masalah norma-norma dan kebudayaan yang mulai pudar dan kehilangan jati diri?

Kebudayaan sebagai Penguat Identitas Bangsa

Pandangan Dr. KH. Reza Ahmad Zahid Dr. KH. Reza Ahmad Zahid dalam suatu kesempatan mengatakan, “Every man’s ability maybe strength and increased by culture” (seseorang yang berpegang kuat terhadap kebudayaannya maka ia akan kuat mencintai budaya). Meneruskannya dan merawatnya adalah kewajiban kita untuk memajukan negara. Budaya lokal sebagai filterisasi budaya barat yang agresif dan dinamis diperlukan agar budaya lokal tidak hilang ditelan zaman.

Pembelajaran dari Walisongo Walisongo menyebarkan agama di pelosok Nusantara dengan cara mengkomparasikan agama dan budaya, yang sukses besar. Nusantara yang sebelumnya berpaham animisme, dinamisme, Hindu, dan Buddha akhirnya berbondong-bondong masuk Islam karena keluwesan Walisongo. Sunan Kalijaga berhasil menyebarkan Islam di Nusantara tanpa menghilangkan kebudayaan lokal, dengan memadukan ajaran Islam dalam wayang.

Strategi Mempertahankan Kebudayaan di Era Digital

Mengisi Platform Digital Meniru upaya Walisongo menjadi tantangan bagi kita, terutama kalangan santri. Bukan hanya keagamaan saja, tetapi juga mengajarkan norma-norma dan kebudayaan yang baik dengan memberdayakan tradisi dan budaya bangsa melalui platform digital.

Menggabungkan Agama dan Budaya Tugas kita adalah memajukan bangsa Indonesia dalam budaya dan tradisinya, bukan hanya dalam teknologinya saja. Agama sebagai landasan berprilaku dan beribadah, sedangkan budaya sebagai ciri khas dalam bersosialisasi. Hal ini selaras dengan slogan santri tahun ini, “Jihad Santri Jayakan Negeri,” di mana jihad kita adalah belajar dan mengamalkan kebudayaan sebagai ciri khas Islam Nusantara, sebagai personal branding tersendiri bagi agama bangsa dan negara.

Kesimpulan

Agama dan budaya tidak perlu dipisahkan karena keduanya saling menguatkan. Hilirisasi teknologi membawa tantangan besar bagi kebudayaan lokal, namun dengan strategi yang tepat, budaya lokal dapat bertahan dan berkembang di era digital. Kita harus berpegang kuat pada kebudayaan kita untuk menghadapi modernisasi, sambil tetap berhati-hati dalam memilih informasi yang kredibel.

Baca Juga ; Tukang Becak, Pelajar dan Rezeki yang Hilang

Jangan Lupa Kunjungi Media Sosial Pondok Pesantren Lirboyo : InstagramFacebookYoutube

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses