All posts by santri lirboyo

Rahasia Terbesar Pesantren

Dawuh Syekh Muhammad Bin Ismail Zain al-Yamani dari Mekah saat berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo.

Allah menginginkan dengan keberadaan pesantren, madrasah islamiah, agar mempunyai peran penting di dalam memperluaskan ajaran agama. Sejarah mencatat, ulama berperan besar dalam melindungi dan menjaga keselamatan sosial masyarakat, sehingga dengan ajaran dari ulama ini, negara menjadi kuat.

Para masyayikh di pondok pesantren, terutama pondok ini adalah orang-orang yang utama juga luar biasa. Mereka mengokohkan seluruh umur dan waktunya untuk kepentingan khidmah dan menyebarluaskan akhlakul karimah.

Ilmu adalah pemberian dari Allah, dengan ilmu Allah menunndukkan malaikat untuk bersujud kepada Adam. Bagi malaikat yang tidak mau melakukan sujud, Allah mengeluarkannya dari rahmat-Nya. Ia adalah iblis yang tidak mau melakukan sujud takrim, sujud penghormatan kepada Adam atas perintah Allah. Menjadi sangat wajib bagi kita semua untuk mengagungkan ilmu dari bentuk apa saja, seperti memuliakan guru, majelis ilmu, dan setiap tempat yang disandarkan terhadap ilmu dan berperan untuk meneguhkan agama. Pondok pesantren sampai saat ini masih kokoh berdiri karena memiliki suatu rahasia. Rahasia terbesarnya adalah ikhlas, karena ilmu tanpa ikhlas tidak mungkin didapatkan. Dengan ikhlas pula murid yang belajar akan mudah menerima ilmu. Dan salah satu cara untuk mensyukuri ilmu adalah membagikan ilmu itu, agar semuanya mendapat barokah ilmu. Semoga pesantren ini diberikan barokah. Amin.

Gemerlap Al-Aqsha, Dulu

Seperti Kaʻbah, Masjid al-Aqsha pertama kali didirikan oleh Nabi Adam as. (6216 SH/+5591 SM). Bapak manusia itu, atas perintah Tuhan, 40 tahun setelah mendirikan Kaʻbah, meletakkan dasar-dasar dan batas-batas Baitul Makdis. Kemudian pada peristiwa Ṭūfān (banjir maha dashsyat pada era Nabi Nuh as. [+3949 SM]) yang menenggelamkan seluruh pemukaan bumi, dasar dan batas kedua masjid itu menjadi kabur. Allah swt. kemudian memperlihatkan dasar dan batas Kaʻbah kepada Nabi Ibrahim as. (2893 SH/2271 SM) sekaligus menitahkannya untuk mendirikan kembali. Dengan dibantu Nabi Ismail as., putranya, Nabi Ibrahim as. pun meletakkan dasar dan batas bangunan kubus itu. Sebelumnya, dasar dan batas Baitul Makdis diletakkan kembali oleh salah seorang putra Nabi Nuh as. yang setelah peristiwa Ṭūfān diperintahnya untuk bermukim di sana, yaitu Sām bin Nuh as.[1]

Kemudian Baitul Makdis terus mengalami pembaruan pembangunan. Dasar dan batas yang semula diletakkan kembali oleh Sām bin Nūh as., bangunannya diperbarui lagi oleh Nabi Ibrahim as. setelah Kaʻbah selesai didirikannya,[2] kemudian diteruskan oleh seorang cucunya yang menjadi kakek moyang Bani Israel, Nabi Yaʻkub as. (+1837 SM). Lalu, bangunan itu diperbarui lagi oleh Nabi Daud as. (+ 1000 SM).[3]

Sebuah riwayat menuturkan, Nabi Daud as. membangun Baitul Makdis sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan karena pertaubatannya telah diterima, dan ia melihat Bani Israel telah hidup dalam kesejahteraan lahir dan batin. Untuk itu, Nabi Daud as. ingin membangunnya secara besar-besaran, bahkan ia menyiapkan ratusan ribu emas, jutaan perak, dan 300.000 ribu dinar sebagai anggaran pembangunan. Bani Israel pun, atas perintah pemimpinnya itu, bergotong royong membangun Baitul Makdis.

Tetapi, sebelum pembangunan betul-betul sempurna, Nabi Daud as. dikunjungi ajalnya, dan ia berwasiat kepada sang putra, Nabi Sulaiman as. (+ 962 SM) agar melanjutkan dan merampungkannya. Maka, di bawah tangan seorang nabi yang menjadi raja terbesar sepanjang sejarah manusia itu, Baitul Makdis menjadi bangunan yang luar biasa indah dan megah. Betapa tidak, untuk proyek pembangunan ini Nabi Sulaiman as. mempekerjakan cerdik pandai dari golongan manusia dan jin, ʻIfrīt dan para pembesar setan; kesemuanya dikoordinasikan menjadi beberapa tim kerja, mulai dari tim arsitek, tim pemahat, sampai tim pencari bahan bangunan dan tim penyelam untuk mencari mutiara-mutiara di kedalaman samudera.

Diperkirakan seluruh pekerja proyek pembangunan ini kurang lebih sebanyak 30.000 pekerja, 10.000 pemotong kayu yang harus menyiapkan 10.000 potong kayu setiap bulan, 70.000 pemahat batu dan 300 mandor–hitungan ini pun tanpa menghitung jumlah pekerja dari bangsa jin dan setan. Walhasil, tiada yang kuasa menandingi kemegahan dan keelokan Baitul Makdis, baik dari segi desain dan ornamen-ornamen yang menghiasinya–seperti pagar dan pilar yang berhias emas, perak, intan yaqut, marjan, mutiara, dan lain sebagainya, maupun dari segi teknik bangunan dan gaya arsitekturnya.

Baitul Makdis menjulang megah dengan ketinggian batu altar 12 hasta dan ketinggian kubah 18 mil yang di atasnya dihiasi patung kijang emas dengan gemerlap mutiara merah di antara kedua matanya, sampai-sampai para wanita daerah Balqāʼ saat itu (perjalanan dua hari dari Baitul Makdis) bisa memintal dengan diterangi pantulan mutiara tersebut. Dan, di malam hari bangunan itu saja yang memancarkan cahaya terang benderang menyinari kegelapan, bagai purnama.[4]  Bangunan itulah yang kemudian dikenal dengan Haikal Sulaiman (Temple of Solomon).

Setelah pembangunan Baitul Makdis yang maha megah itu rampung, Nabi Sulaiman ỿ lantas mengumpulkan seluruh kaum Bani Israel. Ia mendeklarasikan bahwa bangunan itu telah menjadi milik Allah swt. Adalah Allah swt. yang memberi titah untuk membangunnya. Maka, setiap benda di dalamnya adalah untuk Allah swt. Barang siapa merusak bangunan itu atau benda di dalamnya, ia betul-betul berkhianat kepada Allah swt.[5]

Dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad saw. berkisah,

“Sesungguhnya Sulaiman ketika membangun Baitul Makdis, ia memohon kepada Tuhannya tiga permohonan. Tuhan mengabulkan dua permohonan Sulaiman itu, dan aku berharap Ia juga mengabulkan permohonannya yang ketiga. Sulaiman memohon kepada Tuhan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, lalu Ia pun mengabulkannya; Sulaiman memohon kepada Tuhan sebuah kerajaan besar yang tak dapat ditandingi oleh seorang pun, lalu Ia pun mengabulkannya. Dan, Sulaiman memohon kepada Tuhan agar setiap orang yang keluar dari rumahnya dan tak bertujuan apapun selain melakukan shalat di Baitul Makdis, dosa-dosanya diampuni seperti ketika ia baru dilahirkan.”[6]

Dikutip dari buku Rihlah Semesta Bersama Jibril as., karya Tim Forum Kajian Ilmiah KASYAF, Purna Siswa III Aliyah 2017 MHM Lirboyo.

[1]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1, h. 30.

[2]        Ibn ʻĀsyūr, atTaḥrīr…., vol. 14, h. 14.

[3]        Ibid., vol. 1, h. 113-116.

[4]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1. h, 118-120.

[5]        Ibid., h. 122.

[6]        Muhammad bin ʻAlawiy, Wahuwa…, h. 170.

Jamiyah Dzikir itu Abadi

LirboyoNet, Kediri—Aula Muktamar malam tadi dibanjiri oleh ratusan orang berpakaian putih. Mereka berkumpul di Aula Muktamar guna menghadiri satu acara besar: Manaqib Kubra al-Khidmah. Acara ini rutin dilaksanakan tiap tahun. Biasanya, Manaqib Kubra Al-Khidmah dilaksanakan setiap Kamis akhir bulan Syawal.

Seperti biasanya acara dibuka dengan pembacaan manaqib syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, dan shalawat bersama jama’ah. “Jam’iyyah dzikir itu abadi, dan akan terus berlanjut hingga di akhirat nanti,” tutur Agus H. Reza Ahmad Zahid, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Unit HM Al-Mahrusiyah, yang malam itu bertindak sebagai tuan rumah.

Perlu diketahui, jam’iyyah al-khidmah dahulu tidaklah seramai seperti sekarang. Almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus lah yang menjadi poros utama berkembangnya jamiyah ini, terutama di daerah Kota Kediri dan sekitarnya. Di awal perjuangan beliau dalam mensyiarkan jamiyah, beliau mendatangkan santri dari Surabaya. Tidak tanggung-tanggung, dalam beberapa kesempatan beliau bahkan mendatangkan mereka dengan menggunakan moda transportasi beberapa bus. Hingga kini, jamiyah ini telah mendapatkan tempat di hati warga Kota Kediri dan sekitarnya.

Malam itu, turut hadir KH. Najib Zamzami selaku ketua Jamiyah Al- Khidmah Kota Kediri, dan Habib Abdurrahman Baagil dan Habib Haidar Al Idrus yang berkenan memberikan mauidoh kepada jamaah Al-Khidmah. Di malam itu, beliau berdua bersepakat, bahwa “para masyayikh itu adalah orang yang sesungguhnya mulia dunia dan akhirat. Maka seyogyanya jika kita ingin mulia, ikutilah jejak masyayikh, bagaimana istiqomah mereka dan bagaimana mereka memuliakan guru-guru mereka.”|\

 

 

Westernisasi dalam Pendidikan Islam di Indonesia (Bag-2)

Ihwal maha penting inilah yang kemudian dibawa oleh para penyampai pesan Tuhan saat mereka perlahan menjejakkan kaki di tanah-tanah asing nan jauh. Tanah-tanah asing itu bisa kita sebut beberapa: Afrika, Andalusia, India, hingga Nusantara. Penyebaran pengetahuan-pengetahuan agama Islam (baca: dakwah) ke tanah Nusantara dijalankan oleh orang-orang terpuji, yang dengan tulus dan halus mengurai pengetahuan itu kepada masyarakat Hindu-Budha. Kita biasa menyebut mereka Walisongo. Beragam cara bijak mereka pertimbangkan agar ajaran-ajaran yang mereka bawa dapat diterima dengan legawa oleh masyarakat.

Dalam menghadapi kebudayaan Nusantara yang sudah sangat tua, kuat dan mapan, Walisongo menyadari bahwa Islam tidak bakal bisa diperkenalkan dengan serta merta dan instan. Karenanya mereka kemudian merumuskan strategi jangka panjang. Termasuk, memberi perhatian lebih pada pendidikan anak-anak. Bukan masalah jika harus mengenalkan Islam sejak dini. Sebab, mereka merupakan masa depan bangsa.[1]

Usaha ini menggapai kesuksesan yang luar biasa. Masyarakat kemudian mau menerima agama baru itu dalam riwayat kehidupan mereka. Sebenarnya, dalam setiap mengadopsi agama baru, masyarakat Nusantara, sesuai wataknya, harus merenungkannya dalam waktu lama dan menggunakan pemikiran dengan tenang dan akurat.[2] Namun, agama baru yang dibawa Walisongo ini justru dapat diterima dengan baik dan cepat. Ini tak lepas dari kemampuan Walisongo dalam memformulasikan nilai-nilai sosio-kultural religius yang dianut masyarakat Syiwa-Budha dengan nilai-nilai Islam.[3] Formulasi ini berlaku pada banyak sekali aspek penularan ajaran-ajaran. Mulai dari nilai-nilai pengetahuan yang diajarkan, hingga penghargaan tinggi kepada guru ruhani (guru pangajyan).

Ajaran Islam yang menuntut seseorang untuk mendambakan pertemuan sejati dengan Tuhan, nampak selaras dengan apa yang telah menjadi obyek pencarian pengetahuan masyarakat Syiwa-Budha sebelumnya. Aspek pendidikan keduanya lebih dititikberatkan kepada pembentukan watak dan budi pekerti siswa-siswa yang ditandai oleh lulusan-lulusan berwatak mulia, cerdas, berbudi pekerti luhur, serta selalu bersyukur dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.[4]

Zamakhsyari Dhofier (2011: 46) menilai, sesuai tradisi pesantren, pengetahuan seseorang diukur oleh jumlah buku yang telah dipelajarinya dan kepada ulama mana ia telah berguru. Secara tidak tertulis, ada kitab-kitab yang disepakati oleh lembaga-lembaga pesantren untuk dijadikan standar penguasaan keagamaan, di samping terdapat budaya pengembangan diri dalam cabang pengetahuan tertentu. Dengan demikian, kekhususan pengetahuan seseorang dapat terbina dengan baik, dengan tetap menjaga homogenitas pandangan hidup pesantren.

Masa-masa ketentraman pendidikan Islam di Nusantara (baca: pesantren), dengan berbagai nilai benar dan bijak ini mulai terusik ketika pada akhirnya para bangsa lain, terutama Kerajaan Belanda, masuk dan menjajah. Imunitas mereka yang kuat sehingga mampu bertahan ratusan tahun itu, diuji besar-besaran.[]

 

[1] Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, M.A., Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara Menuju Masyarakat Mutamaddin, (Jakarta: LTN NU, 2015), hlm. 214

[2] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 2011), hlm 28.

[3] Agus Sunyoto, Op. cit., hlm. 154-156.

[4] Ibid., hlm. 414-415.

Selengkapnya, baca tulisan esai ini di link berikut.

Westernisasi dalam Pendidikan Islam di Indonesia

Penulis, Farhan Al-Fadhil, Syukron Hamid, Hisyam Syafiq, III Aliyah, Pemenang II Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi Ponpes Lirboyo, Maret 2017.

Westernisasi dalam Pendidikan Islam di Indonesia (Bag-1)

Pendidikan Islam di Indonesia mengalami krisis dewasa ini. Mental gagah para terdidik muslim dalam mengacuhkan dunia kebendaan dan pasrah dalam penghambaan kepada Tuhan, menjadi rikuh dan gagu di hadapan realitas kemodernan. Konsep-konsep dasar yang diperjuangkan Walisongo lewat langgar, dan para penerusnya lewat pesantren, retak dan hampir tumbang. Modernitas, sebuah wacana mutakhir yang salah satu ujungnya adalah materialisme, tidak dapat diterjemahkan, lalu dipahami dengan baik oleh muslim. Tujuan pendidikan dewasa ini bukan lagi untuk menyemaikan hubungan mesra antara batin dengan sang Khalik, tetapi lebih kepada pertimbangan-pertimbangan duniawi dan materialistik.

Sementara, pola dan kebijakan pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat lepas dari apa yang diilustrasikan oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Kedatangan Belanda yang membawa kemajuan teknologi, pada saat yang sama dibenci oleh kaum santri. Karena, di samping membawa manfaat teknologi, mereka menyertakan penghancuran mental muslim Nusantara lewat pembaratan nilai (westernisasi). Nilai-nilai Barat (western) dinilai membahayakan karena banyak tema-tema buruk yang menjadi ujung tombak. Rasionalisme, empirisme, dan materialisme didewakan oleh para intelektual Barat sebagai akar-akar kebahagiaan. Nilai-nilai ini bertolak belakang dengan apa yang sedang diperjuangkan kiai, santri dan pesantren. Iming-iming berupa kekuasaan dan kekayaan material dari Barat membuat pribumi, yang telah sengsara fisik dan batin selama ratusan tahun, mengalihkan pandangan mereka dari pendidikan pesantren menuju sekolah ala Belanda. Dampaknya, kiai, santri dan pesantren yang sebelumnya menjadi kekuatan utama dalam menolak kehadiran penjajah, menjadi usang dan terpinggirkan. Tanggungjawab penanaman nilai moral dan etika yang sebelumnya diemban oleh para kiai, tidak mampu diteruskan oleh pemimpin-pemimpin lembaga pendidikan baru, yakni para lulusan sekolah Barat.

Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam Indonesia

Islam, atau Timur—dalam dikotomi Timur-Barat sementara pakar sejarah—pernah memberi pengertian pada “ilmu pengetahuan” secara rinci dan sistematis. Al-Ghazali, dengan berpijak pada pengalaman intelektual dan spiritualnya yang serius lagi panjang, menuliskan pengertian-pengertian itu di beberapa lembar kitab Ihya.

Pertama-tama, ia menyebut perlunya membagi ilmu pengetahuan berdasar pada seberapa penting peran ilmu itu dalam mewujudkan kebutuhan-kebutuhan manusia. Kebutuhan (al-marghub ilaihi) itu bisa jadi kepingan emas, atau kebutuhan duniawi yang lain. Namun Al-Ghazali kemudian mewanti-wanti umat muslim bahwa ihwal duniawi, yang terindera dan bersifat kebendaan, tidaklah patut untuk dijadikan kebutuhan, lalu dengan masif diperjuangkan[1].

Hanya satu hal bagi Al-Ghazali yang layak untuk benar-benar diperjuangkan: pertemuan dengan dzat Tuhan. Pertemuan ini pada hakikatnya akan muncul dalam rupaan kedamaian sejati (al-sa’adah fi al-akhirah) dan nikmatnya berhadap-hadapan denganNya (ladzat al-nadhri li wajhillah). Pada satu titik inilah segala ilmu pengetahuan harus bermuara. Jika tidak, maka tak akan berarti apa-apa selain sebuah kesia-siaan.

Sementara itu, Prof. Naquib al-Attas memberikan gambaran singkat tentang tujuan ilmu, yang inheren dengan kepentingan adab:

“the purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man…the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”[2]

 

[1] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, (Surabaya: Al-Haramain), hlm. 15.

[2] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hlm. 150-151.

<h2 style=”color: white; background-color: green;”>Bersambung ke <a href=”https://lirboyo.net/westernisasi-dalam-pendidikan-islam-di-indonesia-bag-2/”>Bagian II</a></h2>

 

Penulis, Farhan Al-Fadhil, Syukron Hamid, Hisyam Syafiq, III Aliyah, Pemenang II Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi Ponpes Lirboyo, Maret 2017.