HomeSantri MenulisBelajar Menghargai dengan Musyawarah

Belajar Menghargai dengan Musyawarah

0 6 likes 595 views share

Menilik kaum sarungan di berbagai pesantren, banyak ditemukan para musyawirin (peserta musyawarah) yang antusias dalam majelisnya. Dengan bermusyawarah kita berusaha mengupayakan suatu kondisi agar mendatangkan sesuatu yang positif serta menghindarkan diri dari hal-hal yang negatif. Kalangan pesantren berlatih untuk  berargumen dengan tutur kata yang mudah dicerna dan dipahami. Karena seringnya berlatih berbicara dimuka umum yang disalurkan kedalam majelis musyawaroh inilah, selama ini pesantren banyak melahirkan singa-singa podium.

Sebagai makhluk sosial, pendapat serta usulan dari orang lain pasti diperlukan. Hidup berbaur dengan orang banyak sangatlah sulit jika harus berprilaku secara individual. Para musyawairin berjuang layaknya para pahlawan bangsa berjuang tak kenal lelah serta sungguh-sungguh berjuang untuk memerdekakan sang bumi tercinta. Mereka berjuang untuk mendapatkan penyelesaian dalam sebuah masalah agar tidak terjerumus ke dalam jawaban yang tidak dibenarkan, dengan pola pikir yang berpegang pada sumber rujukan atau referensi dari Al-Quran, Hadist dan kitab-kitab ulama salaf (kuno). Karena penilaian manusia amat rentan akan pengaruh dorongan nafsu insaniyah, maka, setiap permasalahan harus dikembalikan atau ditimbang secara syar’i, bukan atas perasaan suka atau tidak suka. Oleh karena itulah, dalam memecahkan suatu masalah membutuhkan banyak pertimbangan dan dilihat dari berbagai sudut agar menghasilkan jawaban yang objektif. Secara otomatis, dengan seringnya membuka berbagai referensi dan tentunya kitab-kitab salaf, analisa pemahaman kitab kuning semakin terasah. Penguasaan kitab klasik juga menjadi modal dasar para santri untuk berkiprah kelak di masyarakat.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib menjelang wafat memberikan wasiat kepada putranya, Hasan:

اغني الغني العقل

Sekaya-kaya kekayaan adalah akal pikiran.

Nasihat tersebut nampak sederhana. Tapi, jika kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya akal ini digunakan dalam musyawarah, insya Allah akan mendapat hasil yang tidak sesederhana yang dibayangkan. Dan perlu kita ingat, salah satu hidayah yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah akal.

Air mengajarkan kita untuk bertahan. Biarkan emosi mengalir seperti air. Jika kita sedang bermusyawarah, maka alirkan pemikiran-pemikiran kita sesuai dengan arusnya. Ungkapan kasarnya, ikutilah arus dengan tetap berkeadaan yang baik, jangan melawan arus. Kadangkala manusia belum mampu menggunakan akal sebaik-baiknya. Sehingga, terjadilah pembalikan-pembalikan fakta di zaman sekarang ini yang dapat merugikan umat manusia.

Banyak kita temui orang-orang yang pemikirannya tidak sinkron, bahkan ada yang berani menentang arus jalur pemikiran yang sudah umum. Hal ini bisa jadi disebabkan karena pola pikir yang menganggap dengan berbeda itu baik. Padahal tidak semua yang beda itu baik. Merasa harus ada pembaruan, merasa paling benar dan sebagainya. Karena, dengan hanya dilandasi nafsu kepentingan belaka tanpa sadar kesalahan-kesalahan, justru akan menjadikannya pihak yang paling salah diantara yang lainnya. Apalagi jika melihat kondisi akhir-akhir ini, dari waktu ke waktu tingkat angka permusuhan semakin melambung tinggi. Cacian-cacian yang semakin memanas memekikkan telinga. Salah satu pemicunya adalah mereka tidak mau bermusyawarah. Egoisme disemarakkan. Merasa hanya dirinya lah yang memiliki gagasan paling benar. Telinganya tertutup dengan keangkuhan. Tidak ingin mendengar pendapat orang lain. Musyawarah adalah sarana mempelajari perbedaan, menghargai pendapat orang lain, mengeratkan arti sebuah kebersamaan, pembelajaran diri bahwa selalu ada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan ketika berpendapat, bukan sekadar menampakkan egoisme dan kebenaran pribadi. Beradu argumen sudah menjadi kebiasaan para santri yang dapat membungkus peraduan itu dengan perisai ketakziman.

Meskipun demikan keruh yang terjadi di luar sana, santri-santri di pesantren sudah terlatih untuk menghadapi orang-orang yang demikian. Menghargai pendapat orang lain, tidak langsung mengklaim salah pendapat orang lain. Inilah manfaat yang kita dapat bila tekun bermusyawarah. Karena tidak dipungkiri, sebagian kepahaman kita terdapat dalam pemikiran orang lain. Jadi, hal yang sering terlupakan adalah senantiasa belajar berbicara yang baik tapi lupa belajar menjadi pendengar yang baik, mendengar pendapat orang lain.][]

 

Penulis, Siti Mudhiatun, Kelas II Aliyah Madrasah Al-Hidayah Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat al-Qur’aniyyah (P3HMQ), kamar Kanada, Pemenang I Lomba Penulisan Majalah Dinding Ar-Rabiet.