Tag Archives: Korban Coroa

Larangan Menolak Pemakaman Jenazah Korban Corona

Salah satu permasalahan baru yang muncul akibat virus corona atau Covid-19 ialah penolakan atas jenazah korban untuk dimakamkan di pemakaman umum daerah setempat. .
Dalam fikih, setiap orang Islam berhak untuk dimakamkan di pemakaman umum, baik pemakaman wakaf (mauqufah) maupun yang memang disediakan untuk pemakaman (musabbalah). Pada kasus ini, Al-Imam al-Haramain mengisyaratkan:

وَلَوْ جَعَلَ بُقْعَةً مَقْبَرَةً اِشْتَرَكَ فِيْهَا كٓافَةُ الْمُسْلِمِيْنَ

“Apabila seseorang menjadikan tempat tertentu untuk sebuah pemakaman, maka semua orang Islam berhak (untuk dimakamkan) di dalamnya.” (Nihayah al-Mathlab, VIII/398) .
Dengan demikian, ketika pemakaman atau fasilitas umum lain boleh dimanfaatkan oleh setiap orang yang berhak, maka tidak diperbolehkan bagi setiap orang untuk mencegah atau menghalanginya. Bahkan Imam Ibn Hajar al-Haitamy menjelaskan:

مَنْعُ النَّاسِ مِنْ الْأَشْيَاءِ الْمُبَاحَةِ لَهُمْ عَلَى الْعُمُومِ أَوْ الْخُصُوصِ …فَمَنْعُ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ عَنْ أَنْ يُنْتَفَعَ بِهِ مِنْ الْوَجْهِ الْجَائِزِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ كَبِيرَةً لِأَنَّهُ شَبِيهٌ بِالْغَصْبِ

“Mencegah orang-orang dari fasilitas yang legal untuk mereka, baik secara umum atau khusus… maka mencegah seseorang untuk memanfaatkan hal itu dalam batas pemanfaatan yang legal hampir dikatakan dosa besar. Karena pencegahan tersebut menyerupai ghasab (menguasai hak orang lain)” (Az-Zawajir, I/438)

Adapun kekhawatiran akan tertular virus Corona dari jenazah tidak dapat dibenarkan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh ahli medis. Bahkan apabila sampai ada kekhawatiran tidak berdasar keilmuan, dan mengarah pada penolakan penguburan secara serampangan, maka hukumnya tidak diperbolehkan. Al-Qarafi mengingatkan:

أَنَّ الْخَوْفَ مِنْ غَيْرِ اللهِ مُحَرَّمٌ إنْ كَانَ مَانِعًا مِنْ فِعْلِ وَاجِبٍ أَوْ تَرْكِ مُحَرَّمٍ ، أَوْ كَانَ مِمَّا لَمْ تَجْرِ الْعَادَةُ بِأَنَّهُ سَبَبٌ لِلْخَوْفِ

“Sungguh ketakutan dari selain Allah hukumnya haram jika berakibat menghalangi untuk melakukan kewajiban atau meninggalkan keharaman, atau takut dari hal-hal yang secara adatnya tidak dapat menyebabkan ketakutan,” (Idrarus Syuruq ‘ala Anwa’il Furuq, IV/400) []waAllahu a’lam.