Ada sebuah kisah yang sarat hikmah tentang seorang laki-laki yang jatuh hati kepada seorang perempuan. Rasa cintanya begitu besar hingga menguasai hati dan pikirannya. Suatu hari, ketika perempuan itu keluar untuk suatu keperluan, ia diam-diam mengikuti dari belakang.
Kesempatan yang selama ini diimpikannya akhirnya datang. Mereka berada di sebuah tempat yang sunyi di tengah perjalanan. Malam semakin larut, dan seluruh rombongan kafilah telah terlelap dalam tidur. Melihat keadaan itu, laki-laki tersebut memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya sekaligus mengajak perempuan itu melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah.
Baca juga: Kisah Syaikhona Kholil Nyantri ke Mbah Hasyim Asy’ari
Satu pertanyaan yang mengubah maksiat menjadi taat
Namun, perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata pelan, “Coba lihat, apakah semua orang sudah tidur?”
Ucapan itu membuat hati sang laki-laki berbunga-bunga. Ia mengira perempuan tersebut telah menerima ajakannya. Dengan penuh semangat ia berkeliling memeriksa kafilah. Setelah memastikan tak seorang pun yang terjaga, ia kembali sambil berkata penuh keyakinan, “Ya, semuanya sudah tidur.”
Saat itulah perempuan tersebut melontarkan satu pertanyaan yang mengubah hidupnya selamanya.
“Kalau begitu, bagaimana menurutmu? Apakah Allah juga sedang tidur pada saat ini?”
Laki-laki itu tertegun. Ia menjawab spontan, “Tidak. Allah tidak pernah tidur. Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tertidur.”
Perempuan itu lalu berkata dengan penuh ketegasan, “Kalau begitu, Zat yang tidak pernah tidur itu sedang melihat kita. Meskipun manusia tidak mengetahui apa yang akan kita lakukan, Allah menyaksikan semuanya. Bukankah kepada-Nya kita lebih pantas merasa takut?”
Kalimat sederhana itu menghantam nurani sang laki-laki. Seketika hawa nafsunya runtuh. Ia mengurungkan niat buruknya, meninggalkan perempuan itu, lalu bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Setelah itu ia kembali ke negerinya dan menjalani hidup dalam ketaatan.
Baca juga: Kisah Kaum Nabi Luth Belum Berakhir: Dua Potret Kaumnya yang Kini Kembali Terjadi
Akibat menjauhi maksiat
Beberapa waktu setelah ia wafat, seseorang melihatnya dalam mimpi dan bertanya, “Bagaimana perlakuan Allah kepadamu?”
Ia menjawab, “Allah mengampuniku karena rasa takutku kepada-Nya dan karena aku meninggalkan dosa itu.”
Betapa sering manusia merasa aman berbuat maksiat ketika tak ada seorang pun yang melihat. Padahal, pada saat seluruh mata terpejam, ada satu Zat yang tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya adalah benteng terkuat yang mampu mengalahkan godaan sebesar apa pun.
Baca juga: Ketika Seorang Nasrani Memuliakan Hari Asyura
Referensi:
Kitab Mukasyafah al-Qulub, hal. 11.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





