Tag Archives: nahdlatul ulama

Tentang Talqin ketika Sakaratul Maut

Talqin adalah menuntun seseorang untuk membaca لا إله إلاّ الله \ الله dan biasa dilakukan kepada orang yang sedang sakaratul maut atau orang meninggal yang telah dimakamkan.

(قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لقّنوا موتاكم لا إله إلاّ الله (رواه مسلم

Artinya: “Rasullulah saw bersabda: “Tuntunlah orang yang sedang berada di penghujung ajalnya agar membaca (kalimat) Laa Ilaaha Illallah.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menjelaskan tentang perintah Rasulullah saw untuk menuntun orang yang sedang sakaratul maut (berada di penghujung ajalnya) membaca Laa ilaaha illallah.

(عن معاذ بن جبل قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من كان اخر كلامه لا إلاّ الله دخل الجنّة (رواه أبو داود

Artinya: Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang akhir perkataanya (sebelum meninggal dunia) Laa Ilaaha Illaallah” maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud)

Menurut Imam al-Hakim ini adalah hadits yang sanadnya Shohih.()

Tentang Ijazahan Kitab dan Wirid

Menurut para ahli hadits dari pakar ilmu, Ijazah adalah salah satu cara untuk menerima dan meriwayatkan suatu Hadits. Maka menjadi beraneka juga dalam memaknai dan menerapkannya, namun tidak keluar dari makna umumnya, yaitu menerima ilmu dari para guru.

Adapun sebagian dasar dari Ijazah tersebut antara lain:

قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِّن قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ (الاحقاف:4

Artinya: Katanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah. Perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-0rang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS. Al-Ahqof:4)

Dalam tafsir Al-Qurthubi, Imam Al- Qorodhi menafsiri kata peninggalan dari pengetahuan (orang-orang terdahulu) dengan makna: suatu pengetahuan yang dikutip dari kitab orang-orang terdahulu dengan sanad yang shahih sampai kepada mereka.

(عن محمّد بن سيرين قال إنّ هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم.(رواه مسلم

Artinya: dari Muhammad bin Sirrin, ia berkata; “sesungguhnya penngetahuan ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mempelajari dan mengamalkannya.(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukan betapa pentingnya dari siap kita mengambil ilmu. Dengan ijazah akan melegalkan pengambilan ilmu seorang murid dari guru. Jika guru mengambil ijazah dari gurunya dan gurunya dari gurunya, begitu terus seterusnya hingga Nabi Saw, maka sanad ilmu yang didapat murid benar-benar bersambung sampai Nabi Muhammad Saw.()

Peringatan 7 Hari Wafatnya Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini

LirboyoNet, Kediri- Ahad malam Senin 16 Februari 2020 M. Telah dilaksanakan Tahlil dan Do’a tujuh harinya almarhum almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini.

Acara yang dilaksanakan di kediaman almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini ini berjalan dengan penuh khidmat. Tampak para Alumni dan tamu undangan memenuhi kediaman Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini sampai memenuhi area Serambi Masjid Lawang Songo yang memang sudah disiapkan oleh panitia.

Dalam acara tersebut untuk pembacaan surat yasin dipimpin langsung oleh KH. Raden Abdul Hamid Abdul Qodir, sedangkan pembacaan tahlil, tawasul, dan do’a tahlil dipimpin oleh KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus. Sambutan atas nama keluarga dibawakan oleh KH. An’im Falahuddin Mahrus, untuk Mauizhotul hasanah dan Do’a dibawakan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus.

Seperti diceritakan oleh KH. Ahmad Fahrurozi Kyai Habib adalah pertemuan dua nasab pendiri pesantren termasyhur di Indonesia, dari jalur ayah beliau adalah putra alm KH. Muhammad Zaini bin KH Moehammad munawwir, pendiri Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Jogjakarta, sementara ibunya almarhumah Nyai Hj Qomariyah binti KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri . 

Beliau adalah sosok kyai yang sangat alim, zuhud dan sederhana, setiap waktunya dihabiskan untuk mengajar di pondok pesantren, beliau menjadi rujukan santri dari seluruh Indonesia yang datang ke lirboyo.

Untuk mengaji kitab kitab besar bidang hadist, fiqh dan tafsir dll. Dengan ketekunan yang luar biasa, beliau mampu membaca kitab mulai pagi hingga malam hari tanpa lelah hingga khatam, sementara para muridnya mendengarkan sambil mencatat makna dari beliau mulai duduk hingga tiduran “mlumah murep “ tidak kuat saking lamanya .

Saya pernah mengaji kitab hadist sahih muslim hingga khatam dengan ijazah sanadnya kepada beliau  juga beberapa kitab lainnya. Pembacaan beliau terkenal sangat teliti, tahqiq dan enak didengar, karna penguasaan ilmu gramatika Arab beliau yang sempurna, saya belajar ilmu nahwu Alfiyah Ibnu Malik hingga ilmu balaghah Jauhar Al Makmun dibawah bimbingannya di MHM lirboyo . 

Meskipun sangat alim, namun beliau bersifat khumul, pendiam dan tidak banyak bicara. Beliau selalu menyembunyikan diri dan tidak suka tampil di depan umum kecuali hal yang sangat penting, saya tidak pernah melihat beliau kerso berpidato di pengajian umum atau acara terbuka lainnya, bahkan jika ada seremonial acara kunjungan pejabat tinggi sepenting apapun di lirboyo beliau sangat jarang sekali  berkenan  ikut hadir menyambut, beliau lebih memilih berdiam diri dan tidak keluar dari rumahnya .

Semoga kita semua bisa mendapatkan percikan berkah beliau, serta bisa meneladani tauladan beliau yang sangat alim, zuhud dan sederhana.  Wallahu A’lam .(TB)

Himasal Mesir Shalat Ghaib untuk Yai Habib

LirboyoNet, Mesir — Aroma duka yang semerbak di Pondok Pesantren Lirboyo kala KH. A. Habibulloh Zaini wafat, berhembus hingga belahan dunia seberang sana. Di Mesir, para alumni Ponpes Lirboyo berkumpul untuk bersama menerbangkan doa bagi beliau, Selasa malam (11/02/20) waktu setempat.

Mereka yang sedang menimba ilmu di salah satu kota ilmu tertua dalam sejarah Islam, Kairo, itu bermaksud mengadakan shalat ghaib bagi Yai Habib—sebutan para santri kepada KH. A. Habibulloh Zaini. Setelah shalat ghaib, mereka mendoakan Yai Habib dengan bacaan tahlil.

Acara ini diselenggarakan di salah satu rumah alumni Ponpes Lirboyo, Azizah, yang berada di Distrik Darb al-Ahmar, Kairo. Ia adalah koordinator Kajian Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Mesir. Karenanya, usai acara doa bersama, perkumpulan itu juga membicarakan agenda Himasal ke depan. “Kami juga menyiapkan hasil kajian kami selama enam bulan sebelumnya. Kami berencana menyusunnya menjadi satu buku khusus,” ujar Farhan al Fadhil, ketua Himasal Mesir.

Di kesempatan berkumpul ini, mereka juga menyambut kedatangan empat anggota Himasal Mesir baru. Mereka kemudian mendapatkan arahan dari para senior, di antaranya Hakam (mantan ketua PCINU Mesir) dan Imron Hasani, kandidat magister universitar Al-Azhar.

Madrasah, Asal Sejarah dan Pembentukannya

Pusat kajian umat Islam sejak zaman Rasulullah Saw hingga zaman setelahnya selalu terpusat di Masjid. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya catatan sejarah yang menjelaskan kajian-kajian intelektual muslim yang dibangun di banyak masjid-masjid peninggalan para shahabat dan generasi setelahnya.

Madrasah baru diperkenalkan di paruh kedua abad ke-empat Hijriah tepatnya semenjak berdirinya sebuah pusat pendidikan yang disebut dengan “Madrasah” di kota Naisabur pada masa kepemimpinan Raja Mahmud al-Ghaznawi. Tidak tanggung-tanggung, Raja Mahmud al-Ghaznawi membangun empat madrasah sekaligus dalam tempo waktu yang berdekatan yaitu Madrasah Baihaqiyyah, Madrasah Sa’idiyyah, Madrasah Abu Sa’id al-Ushturlab, dan Madrasah Abu Ishaq al-Isfirani.

Pembangunan Madrasah awalnya adalah sebuah langkah yang dicanangkan Raja Mahmud al-Ghaznawi untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Hal ini tentu sangat penting bagi sang Raja untuk menyaingi ajaran Sunni yang saat itu menjadi ajaran resmi Dinasti Abbasiyyah di Baghdad.

Uniknya, di masa setelahnya tepatnya di abad ke-lima Hijriah perdana menteri Nidzom al-Mulk juga memakai madrasah-madrasah peninggalan raja Mahmud al-Ghaznawi sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Sunni serta memberangus sisa-sisa ajaran Syi’ah di banyak wilayah dinasti Bani Saljuk.

Di abad ke-lima Hijriah, jauh di negeri Mesir sana sultan Salahuddin al-Ayyubi juga sedang berkerja keras menyebarkan ajaran sunni dengan mendirikan madrasah-madrasah yang beraliran Sunni. Tak hanya itu, sultan Salahuddin al-Ayyyubi juga menutup banyak madrasah yang sebelumnya di abad ke-Empat Hijriah digunakan untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Bahkan, masjid Al-Azhar saat itu resmi ditutup selama lebih dari satu abad sebagai sebuah simbol penutupan seluruh pusat pengajaran Syi’ah.

Gerakan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penyebar ajaran Sunni adalah sebuah gerakan besar. Dimana sebelumnya di dinasti Fatimiyyah, tercatat hanya Gubernur adz-Dzofir di kota Alexandria yang secara terang-terangan berani membangun madrasah dengan haluan ajaran Sunni di tahun 546 H.

Kala itu, sultan Salahuddin al-Ayyubi juga tokoh besar yang membangun madrasah al-Fadhiliyyah di Kairo dengan pengajaran madzhab Maliki dan Syafi’i dalam ilmu fiqh di madrasah yang sama pada tahun 580 H. Gagasan Salahuddin al-Ayyubi ini rupanya terinspirasi dengan gerakan pembangunan madrasah al-Asadiyyah di kota Damaskus yang dua belas tahun sebelumnya telah menerapkan pengajarab dua madzhab fiqh dalam satu tempat yang sama.

Hal ini, tentu sangat penting bagi kelanjutan keberagaman bermadzhab penduduk negeri Mesir kala itu. Karena telah jama’ terjadi gesekan antar madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) di periode sebelumnya khususnya di abad ke-tiga dan ke-empat Hijriah.

Uniknya, sultan Najmuddin as-Shalih melanjutkan estafet gagasan keberagaman bermadzhab dengan sangat apik di periode selanjutnya yaitu di tahun 639 H. Dimana, ia membangun madrasah ash-Sholihiyyah di bekas istana kesultanan Fatimiyyah di Kairo dengan pengajaran empat Madzhab di tempat yang sama. Ia membangun empat tempat di dalam masjid yang bentuknya mirip dengan mihrab yang sering disebut dengan Iwan dan setiap Iwan tersebut digunakan untuk mengajarkan empat madzhab fiqh (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).

Walhasil, sejarah telah mengajarkan kita betapa pentingnya sebuah eksistensi madrasah sebagai ujung tombak eksistensi sebuah ajaran akidah. Dimana dahulunya, para ulama dan pemerintahan khususnya para ulama dari etnis Kurdi di Syiria dan Mesir di abad ke-Empat dan ke-lima yang berhaluan sunni atau yang kini kita kenal dengan Ahlu Sunnah wal Jama’ah sukses menyebarkan ajaran akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan berkat sistem pengajaran yang bagus dalam madrasah-madrasah yang mereka buat. Tentunya, sejarah juga mencatat ulama dan pemerintah beraliran Sunni dahulu juga menjadikan madrasah sebagai jenjang pendidikan yang mengajarkan keberagaman berpendapat dan bermadzhab. Hal ini dibuktikan dengan pengajaran beragam madzhab fiqh dalam satu madrasah yang sama.

Refrensi :

Kitab Wafayat al-A’yan karya Ibnu Khalkan

Kitab Shabhul al-‘Asya karya al-Qalqasyandi

Kitab Masajid Mishr wa Awliyaiha karya Dr. Sa’ad Mahir Muhammad

Buku The Muslim Architecture of Egypt vol II karya Creswell

Penulis: M. Tholhah Al Fayyadl, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa universitas al-Azhar, Kairo.