Tag Archives: nasehat

Langkah Mencari Keberkahan Ilmu

“Saya hanya ingin mengingatkan kepada Adik-adik Santri, anak-anak Santri yang mana tujuan kalian semua ke Pondok Pesantren Lirboyo adalah untuk mencari ilmu. Maka dari itu, mari selagi di Pondok Pesantren Lirboyo mempeng (tekun) semaksimal mungkin. ” Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus pada awal beliau memberikan nasehat. Beliau menekankan seperti itu, karena untuk bisa mempeng (tekun & rajin) itu harapannya besar. Hal itu disebabkan di Pondok Pesantren Lirboyo lingkungannya mendukung. Teman-teman di Pondok sama-sama menempuh belajar. Para Santri juga tidak membawa HP, tidak boleh keluar Pondok, tidak boleh nonton TV. Sehingga harapan untuk bisa mempeng (tekun) itu besar. Beliau menuturkan bahwa, “Riyadloh (usaha batiniyah)  para Masyayikh itu tidak kurang-kurang. Tinggal kita, Secara Dzohir, mempeng (tekun) semaksimal mungkin.”

Thoriqoh (jalan tempuh) orang Mondok itu ada 4.

1. Puasa Sunah & Mempeng;

2. Mempeng tapi tidak Puasa Sunah;

3. Puasa sunah tapi tidak mempeng ;

4. Tidak mempeng juga tidak puasa sunah. Yang ke 4 ini jangan sampai dilakukan.

Beliau menuturkan bahwa, “Yang terbaik adalah yang pertama dan yang ke dua. Seandainya kalian kuat mempeng sambil puasa ya silahkan. Tapi seandainya tidak kuat mempeng apabila dibarengi dengan puasa, pendapat saya yang penting mempeng saja dulu. “

                “Nuwun sewu (mohon maaf) saya ingat walidi (orang tua saya) Kiyai Mahrus itu sering dawuh, ‘Bilamana Santri ingin ngalim, jangan pulang tiga tahun! ’ Itu saya dengar sendiri. Terus saya tafsiri, tidak pulang tiga tahun itu syaratnya apa? Harus mempeng. “ Tambah beliau.

Ikhtiar Mencari Berkah

               Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa yang tidak kalah penting dari mencari ilmu adalah mencari barokahnya. Beliau memberitahu cara ikhtiar supaya mendapatkan barokah dalam mencari ilmu adalah: Jangan su’udzon (berburuk sangka)  kepada guru. Guru harus kita muliakan. Karena guru itu juga termasuk أب (orang tua) الذي علمك yang mengajarimu. Bahkan ada qoul, bila kita suudzon kepada guru kita, maka kita wajib bertaubat. أب itu ada 3.

1. أب الذي ولدك (Orang tua yang telah melahirkanmu)

2. أب الذي علمك (Orang tua yang telah mengajarimu)

3. أب الذي زوجك (Orang tua yang menikahkanmu)

Semuanya itu  wajib kita muliakan.

Bersyukur

               Kita wajib bersyukur ditakdirkan oleh Allah bisa belajar di Pondok. Jika tidak mendapat hidayah dari Allah, mondok itu berat sekali. Kesulitan dalam mencari ilmu itu termasuk sebab-sebab kita mendapatkan keberkahan.

Beliau menceritakan bahwa Mbah Kiyai Abdul Karim waktu mondok itu rekoso banget (usahanya berat sekali). “Waktu itu beliau berangkat ke Pondok punya uang sedikit. Kalau mau naik kendaraan nanti tidak bisa beli kitab. Kalau mau beli kitab, maka tidak cukup untuk naik kendaraan. Akhirnya Simbah Kiyai Abdul Karim memilih berangkat ke Pondok dengan jalan kaki supaya bisa beli kitab.” Mbah Kiyai ‘Abdul Karim di Pondok pakaiannya hanya satu pasang. Sehingga bila pakaiannya kotor dicuci, kemudian dijemur. Sedangkan beliau berendam sambil menghafalkan alfiyah hingga pakaiannya kering.

Beliau juga mencari nafkah sendiri untuk membiayai hidupnya di Pondok. Waktu pondok libur, beliau ikut memanen padi. Sehingga beliau mendapatkan padi yang merupakan upah dari panenannya tersebut.

Waktu Mbah Kiyai Abdul Karim sampai di Pondok, Mbah kiyai Kholil menghadangnya. Syaikhona Kholil dawuh “Nab,  alhamdulillah. Untung kamu bawa beras. Ayam saya sudah lama tidak memakan padi.” Akhirnya Syaikhona Kholil meminta padi dari Mbah Kyai Abdul Karim. Sebagai gantinya, Mbah Kiyai Abdul Karim dihalalkan untuk memakan mengkudu. Di situlah Mbah Kiyai Abdul Karim mencari ilmu rekoso banget.

Selanjutnya apabila Kitab  Mbah Kiyai Abdul Karim sudah penuh maknanya, lalu kalau ingin beli kitab yang belum pernah dimiliki, kitab yang lama yang sudah beliau kaji, beliau menjualnya untuk membeli kitab yang baru tersebut.

Pada Akhirul hayat Syaikhona Kholil, beliau uzlah (menyendiri) tidak menerima santri lagi. Orang yang mau nyantri kepada Syaikhona Kholil, beliau menyuruhnya untuk ngaji ke Mbah Kiyai Abdul Karim.

Jama’ah

Dan juga min asbabil futuh itu adalah jama’ah. Ini penting sekali. Kalau bisa, di Pondok itu jangan sampai meninggalkan jama’ah. Ada cerita Santri Kiyai Ali waktu di Pondok itu ilmunya biasa-biasa saja. Tetapi setelah di rumah, Santrinya yang mengaji ribuan. Masya Allah..

Ternyata setelah ditelisik, waktu di Pondok beliau selalu berjama’ah.

Mentaati Peraturan

Termasuk min asbabil barokah selanjutnya adalah mentaati peraturan dari pengurus. Jangan sampai melanggar. Karena apa? Karena pengurus Pondok Lirboyo adalah kaki tangan Masayikh Lirboyo. Masayikh mengurus jenengan (Anda) sedetail-detailnya itu tidak mungkin. Maka dibentuklah kepengurusan Pondok Lirboyo. Maka dari itu monggo, semua santri Lirboyo saya harapkan untuk mentaati peraturan Pondok Lirboyo.

InsyaAllah kalau jenengan memuliakan guru, memuliakan orang tua, jama’ah, tidak melanggar peraturan, insyaAllah, insyaAllah, insyaAllah… Mempeng, insyaAllah, insyaAllah. Nanti di rumah mengamalkan ilmu. Insya Allah, insya Allah…

Jenengan (Anda)  jangan kecil hati, nanti sehabis belajar di Lirboyo akan jadi apa, jangan kecil hati. Allah yang akan mengatur. Karena apa? Banyak orang awam itu menganggap setelah lulus dari Lirboyo tidak bisa bekerja apa-apa. Banyak sekali. Menurut saya hal seperti itu tidak usah diangan-angan. Yang penting apa? Belajar, mempeng. Itu penting sekali. Insya Allah, nanti kalau di rumah mau mengamalkan ilmu, insya Allah nanti dibutuhkan oleh masyarakat. Insya Allah akan menjadi orang yang mulia. Seperti Firman Allah:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

” Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Baca juga:
SYARAT PENTING MENCARI ILMU

Langkah Mencari Keberkahan Ilmu

Simak juga:
[TUTORIAL] PENDAFTARAN SANTRI/SISWA BARU | PSSB ONLINE

Langkah Mencari Keberkahan Ilmu
Langkah Mencari Keberkahan Ilmu

Nasehat Awal Tahun Ajaran

Lirboyo.net, (28/05) . Pada awal tahun pelajaran ini, KH. M. Anwar Manshur memberikan nasehat kepada para santri sebagai bekal awal para santri dalam mencari ilmu untuk satu tahun ke depan di Pondok Pesantren Lirboyo.

              Beliau menyampaikan bahwa, “Mencari ilmu itu sangat diwajibkan bagi setiap orang Islam. ” Seperti dawuhnya Nabi Saw. طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ . Kata فريضة menggunakan huruf Ta’ marbuthoh di akhirnya menandakan sebuah penekanan. Berarti sangat diwajibkan.  

            Kalau orang tidak mempunyai ilmu, maka ibadahnya tidak sempurna. Beliau menyampaikan sebuah bait dalam kitab Alfiyatuz Zubad,

وَكُلُّ مَنْ بِغَيرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ   *  أَعْمَالُهُمْ مَرْدُودَةٌ لَا تكمَلُ

Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amal-amalnya tertolak dan tidak sempurna. ”

            Beliau mengajak, “Mumpung Kita di pondok, mari kita niati bersama, Bismillahirrohmanirrohim, saya mondok mencari ilmu untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. “

            “Kita hidup di dunia ini tujuannya adalah untuk beribadah. “

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ  وَالإِنس إِلَّا لِيَعْبُدُون .

Tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. “

Semakin Fokus, Semakin Tajam

            Beliau berpesan kepada para santri agar tidak memikirkan hal-hal lain yang dapat mengganggu proses mencari ilmu. Beliau mengajak kepada para santri supaya fokus memikirkan pelajaran-pelajaran yang sedang dikajinya.

Dasar yang Kokoh

            Beliau menyuruh para santri agar memahami kitab-kitab dasar sampai benar-benar paham. Sehingga ketika mempelajari kitab-kitab yang lebih luas pembahasannya nanti akan lebih mudah. Beliau mencontohkan, “Semisal dalam fan fikih, pahamilah kitab Fathul Qorib terlebih dahulu sampai benar-benar paham. Maka ketika Anda mempelajari kitab Fathul Mu’in ataupun Fathul Wahhab akan lebih mudah. Dalam fan ilmu nahwu, Anda pahami dulu kitab Jurumiyah sehingga ketika Anda mempelajari kitab Alfiyah akan lebih mudah. “

Tips Belajar Efektif

            Beliau juga memberikan tips metode belajar yang efektif di luar jam pelajaran Madrasah. Caranya adalah dengan membentuk kelompok belajar, cukup dengan tiga orang. Satu orang membaca kitab serta menjelaskan pemahamannya. Sementara yang lain mengoreksi bacaan dan pemahamannya. Hal ini dilakukan secara bergiliran. Metode belajar seperti ini akan memacu persaingan kemampuan dalam belajar. “Teman saya saja bisa, masa saya tidak bisa.” Tidak apa-apa berlomba-lomba dalam kebaikan. فَاستَبِقُوا الخَيرَات  . “Metode seperti ini lebih efektif daripada belajar sendirian. “ Tutur beliau.

            Setiap santri harus mempunyai himmah yang tinggi. Burung terbang menggunakan sayapnya, manusia terbang menggunakan himmahnya. Orang mengaji, kalau sudah paham maka hatinya terasa senang.            

Demikian kurang lebih poin-poin yang beliau sampaikan.

Baca juga:
DAWUH KH. AHS. ZAMZAMI MAHRUS: EMPAT PERKARA YANG MENAIKAN DERAJAT SESEORANG

Saksikan juga:
Anugerah yang Luar Biasa itu adalah ……. | Nasihat KH M Anwar Manshur

# NASEHAT AWAL TAHUN AJARAN
# NASEHAT AWAL TAHUN AJARAN

Nasehat Uwais Al- Qarni

Suatu saat Harim bin Hayyan, seorang saleh di tanah Arab jauh-jauh datang ke Kufah, Irak, untuk memenuhi satu-satunya cita-cita: bertemu Uways Al Qarni.

Telah ia kenal kisah kesalehan Uways Al Qarni. Bagaimana Rasulullah tak satu kalipun bertemu dengannya, namun oleh Rasulullah ia disebut sebagai pengguncang dunia langit. Bagaimana Umar bin Khattab berkali-kali menitipkan salam pada jamaahnya untuk disampaikan kepada Uways Al Qarni, nun jauh di Qaran, Irak.

Harim bin Hayyan mencari-carinya ke berbagai penjuru, hingga kemudian tertegunlah ia di tepi sungai Eufrat. Seseorang sedang berwudu dan mencuci pakaiannya. Seketika ia menerka, “ini pasti Uways Al Qarni yang aku cari.” Pakaiannya kumuh. Wajahnya lusuh. Tapi benar. Itulah Uways Al Qarni, Sang Majnun (Orang Gila).

“Suatu kebahagiaan bertemu denganmu, wahai Uways. Bagaimana kabarmu?” Tak diduga, yang ditanya hanya diam. Ia juga tak menjabat tangan Harim yang dijulurkan padanya. Harim, yang telah meluap-luap rasa cintanya karena telah bertemu dengan yang dirindukannya, menangis di hadapan Uways.

Uways menangis pula. Hingga kemudian ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Harim bin Hayyan. Bagaimana keadaanmu? Siapa yang menunjukkan diriku padamu?”

Harim terheran-heran. Bagaimana bisa Uways al Qarni mengenalnya. Mengenal nama ayahnya, sementara keduanya belum sekalipun pernah bertemu?

Dengan pandangan sejuknya Uways Al Qarni menjawab keheranan itu. “Jiwa kita saling mengenal ketika masing-masing hati kita saling berbicara. Sungguh, di dalam jiwa kita terdapat hati sebagaimana hati manusia. Sesama orang beriman pastilah saling mengenal dan saling mencinta atas pertolongan Allah. Meski tak pernah bertemu, tak pernah memandang, tak pernah berbincang. Meski terhalang rumah-rumah. Meski terpaut jarak dan lembah.”

“Maka sampaikan padaku hadits Rasulullah wahai Uways,” Kesempatan bertemu itu tak disia-siakan oleh Harim bin Hayyan. Ia ingin mendapatkan kesejukan kalimat-kalimat dari lelaki bijak itu.

“Tak sekalipun aku bertemu dengan Rasulullah. Tapi, telah sampai kepadaku juga ucapan-ucapannya, sebagaimana yang telah sampai kepada kalian. Namun, aku bukanlah orang yang suka bercerita. Bukan penentu hukum. Pun bukan pemberi fatwa. Hatiku tak ingin dipenuhi urusan manusia.”

“Maka sampaikan padaku firman Allah, Sungguh aku mencintaimu karena Allah. Maka sampaikan padaku sehingga aku bisa menjaganya, memegang pesan-pesannya.”

Uways al Qarni mengalah. Ia mulai membaca basmalah. Seketika ia menjerit. Menangis. “Tuhan telah berfirman. Ucapan paling benar adalah ucapanNya. Kalam yang paling indah adalah kalamNya.”

“Wahai Harim bin Hayyan. Inilah wasiatku padamu. Berpegangteguhlah pada Kitab Allah dan orang-orang shaleh. Jangan sekali-kali hatimu berpaling darinya, sekejap mata pun. Takutlah berpisah dari jamaah. Perpisahanmu dengan mereka adalah berpisahnya agamamu. Kau tak akan mendapatkan pengetahuan dan masuklah kau ke neraka.”

Uways kemudian berdoa, “wahai Tuhanku, Harim mencintaiku karenaMu, ia menemuiku karenaMu, maka pertemukanlah diriku dengannya di surga kelak. Jagalah ia di dunia sebagaimana mestinya. Mudahkanlah ia dalam urusan dunia, jadikanlah ia orang yang mensyukuri setiap nikmat yang kau berikan.”

Doa itu menggembirakan hati Harim bin Hayyan. Siapa yang tidak bergembira ketika ia didoakan oleh kekasihnya, manusia yang dunia langit bergemuruh ketika disebut-sebut namanya?

Namun kegembiraan itu berlangsung begitu singkat. Karena setelahnya, Uways mengucapkan kalimat yang tidak disangka-sangkanya, “Wahai Harim. Sungguh aku membenci keramaian dan mencintai kesendirian. Maka jangan mencariku setelah ini. Ketahuilah, aku bagian dari dirimu. Ingat-ingatlah aku, doakan aku. Karena aku akan selalu mengingat dan mendoakanmu.”

Harim terperangah. Ia menangis. Uways menangis. Tak lama kemudian, mereka berpisah.

“Betapa setelahnya aku mencari-carinya,” kisah  Harim ketika mengenang kisah hari itu. “Bertanya ke mana-mana. Tak kutemui seorangpun yang bisa memberi kabar tentangnya.”

Uqala-ul Majanin, Abu Qasim al-Hasan, Dar an-Nafais, hlm. 95-97.

Khotbah Jumat: Ngrekso Lisan

لْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد:

فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

Jemaah Salat Jumat Ingkang Minulyo…

Monggo kito sedoyo sareng-sareng ningkataken takwa kito dateng Allah ta’ala kanti nglampahi punopo ingkang dados printahipun soho nebihi sedoyo ingkang dados cecegahanipun. Langkung-langkung kito sedoyo kedahipun anjagi pinten-pinten anggoto kito supados mboten nglampahi perkawis ingkang andadosake bendunipun Allah awit saking pucuking rambut ngantos delamakan suku kekalih. Sebab sedanten wau inggih nikmat ingkan kedah dipun syukuri kanti angginaaken minongko ngabekti soho nglampahi perkawis ingkang pinuji. Mboten nglampahi laku dhuroko soho laku ingkang ndadosaken rusaking dunyo. Kaum muslimin ingkang minulyo….

Wonten khutbah puniko, kaulo badhe medhar sabdo magayutan pentingipun njagi anggoto ingkang tinerap wonten rogo kaulo panjenengan sedoyo supados nebihi maksiat, utaminipun anggoto ingkang manungso anggegampil soho  gampil sanget mlesetaken manungso dateng jurang maksiat. Inggih tutuk utawi kawastanan lisan. Ananging kejawi perkawis kolo wahu, lisan puniko ugi saget andadosaken luhuring derajat menawi manungso kolo wahu saget anggenipun ngrekso.

Dawuhipun kanjeng nabi…

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ قَالَ تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ الْخُلُقِ قَالَ وَ مَا أَكْثَرَ مَا يَدْخُلُ الَّنارَ قَالَ الْأَجْوَفَانِ اَلْفَمُّ وَالْفَرْجُ

Artosipun: “Rasulullah dipun suwuni pirso,punopo perkawis ingkang katah manjingaken dateng suwargo? Rasulullah dawuh: taqwa marang gusti Allah lan pakerti kang bagus. Shohabat dawuh: punopo perkawis ingkang katah manjingaken dateng neroko?Rasulullah dawuh: bolongan loro kang yoiku cangkem lan farji.”

Punopo lisan meniko sanget mbahayani tumpraping manungso dateng akhirat? Amargi lisan puniko gampil anggenipun tumindak ananging ewet utawi ngel dipun kendaleni. Maksiyat lisan puniko mboten rekaos ugi mboten mbetahaken katahing tenogo soho ragat. Pramilo saking meniko, bahaya lisan langkung ageng tinimbang anggotho lintunipun.

Kaum Muslimin Ingkang Dipun Rahmati Allah…

Maksiyat lisan puniko katah sanget ing antawisipun ghibah, tegesipun angrasani liyan kanti perkawis ingkang andadosaken mboten sekecho dateng penggalih menawi tiyang kolo wahu mireng ucapan kolo wahu. Kanti teges gusti Allah nyegah ghibah langkung langkung Allah swt. Ngibarataken bilih ghibah puniko kados dene mangan bathangipun sapodo. Allah swt. Dawuh…

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ, وَلَا تَجَسَّسُوْا وَ لَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“He… Piro-piro wong kang iman, ngedohono siro kabeh ing perkoro akeh songko penyono. Saktemene setengah saking penyononiku duso. Lan siro kabeh ojo niti-niti celone liyan lan setengah saking siro kabeh ojo ngrasani setengah saking liyan. Opo salah sijining siro kabeh demen mangan daging piro-piro sedulur siro kabeh hale rupo bathang? Mongko siro kabeh ngroso jijik kelawan perkoro mahu. Lan podo taqwaho siro kabeh marang Allah. Saktemene Allah iku dzat kang akeh anggone nrimo taubat serto dzat kang welas asih. (QS. Al- Hujarat: 12)

Jemaah Jumat Ingkang Minulyo…

Ing zaman ingkang modern puniko, kito sedoyo kedah ngatos-atos angkenipun tumindak keranten maksiyat puniko sampun kaprah lan kadang kawis maksiyat puniko dipun tindaaken tanpo sadar. Conto ingkang gampil ingih katahipun ucapan ucapan ingkang mengku sesengitan, ngino ngino soho lintunipun ingkang dados wabah piranti elektronik utawi langkung kinaweruhan kanti aran media sosial. Wabah puniko katah ingkang anggegampil soho gampil kelampahan tumpraping menungso ngantos menungso kolo wahu kasupen bilih sedanten ingkang dipun lampahi puniko dipun catet dening malaikat. Pramilo kito sedoyo kedahipun ngugemi punopo ingkang sampun dipun dawuhaken kanjeng nabi SAW.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمَ الْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artosipun: “Sing sopo wonge iman marang Allah lan dino ahir, mongko ngucapo perkoro kang bagus utowo wong mahu becik meneng.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

untuk bahasa indonesianya bisa klik di sini

Nasehat Kiai Anwar untuk Santri Putri

LirboyoNet, Kediri – Ketika mendampingi puluhan santri dari Pondok Pesantren Roudlotul Muta’abbidin Lamongan, Ahad (01/01) kemarin, KH. M. Anwar Manshur selaku pengasuh Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat memberikan beberapa petuah bagi para santri putri itu. Berikut kutipan-kutipannya.

“Sampean harus terus belajar. Perdalami ilmu-ilmu yang tidak bisa disampaikan laki-laki. Misalnya haidl. Harus paham betul itu. Kalau laki-laki yang menyampaikannya, sulit. Sampean yang jadi tumpuan masyarakat.”

“Mumpung masih di pesantren, cari kekurangan-kekurangan sampean.  Penuhi semua. Nanti kalau sudah di masyarakat sulit. Sampean belajar masalah-masalah yang ada di masyarakat. Belajar MC, memimpin tahlil, memimpin istighotsah, belajar pidato. Supaya nanti kalau ditunjuk di tengah-tengah masyarakat biar siap. Sampean harus siap. Dibutuhkan jadi apapun harus siap.”

“Sampean itu adalah delegasi dari masyarakat. Sampean mondok itu bukan untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat. Biarpun yang biayai orangtua kalian, yang butuh peran kalian itu masyarakat. Peran kalian itu berat.”

“Jangan lupa, ditata lagi niatnya. Karena semua itu bergantung niatnya. Semoga semua ini jadi amal shaleh sampean. Berangkat cari ilmu itu diangkat derajatnya oleh Allah swt. Semoga kita semua diangkat derajatnya oleh Allah swt.”][