Niat Menuntut Ilmu: Semata-mata demi Husnul Khatimah

ilmu untuk husnul khatimah

Dalam Pembukaan Majelis Sholawat Kubro 1446 H – 1447 H, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyampaikan nasihat mendalam tentang tujuan manusia yakni husnul khatimah. Beliau mengutip ungkapan dalam Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali:

فَالنَّاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَالِمُونَ، وَالْعَالِمُونَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُونَ، وَالْعَامِلُونَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْمُخْلِصُونَ، وَالْمُخْلِصُونَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيمٍ

Beliau mengartikan: Manusia itu hancur, rusak, kecuali orang-orang yang berilmu. Orang berilmu pun itu hancur, rusak, kecuali orang yang mengamalkan ilmu. Orang yang mengamalkan ilmu pun tidak ada nilainya, rusak, kecuali orang-orang yang mukhlisin, orang yang ikhlas. Dan orang yang ikhlas pun di dalam kekhawatiran yang besar.”

Baca juga: Iman Lemah Harus Dijaga dengan Lingkungan yang Baik

Berangkat dari ungkapan tersebut, beliau menjelaskan bahwa ilmu saja belum cukup untuk menyelamatkan seseorang. Ilmu harus kita wujudkan dalam amal, sedangkan amal tidak akan bernilai di sisi Allah tanpa keikhlasan. Namun, perjalanan seorang mukmin tidak berhenti pada keikhlasan semata.

Tujuan manusia: Husnul Khatimah

Menurut beliau, bahkan orang-orang yang telah mencapai derajat ikhlas tetap berada dalam kekhawatiran yang besar. Kekhawatiran itu bukan karena kurangnya amal, melainkan karena tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana akhir kehidupannya. Beliau kemudian mengingatkan:

“Orang tingkat tinggi pun masih dalam kekhawatiran. Orang yang mukhlisin masih dalam kekhawatiran. Sebab, إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِamal yang dinilai itu akhirnya’.”

Karena itu, puncak kebahagiaan seorang hamba bukan sekadar memiliki ilmu yang luas, banyak beribadah, atau menjadi orang saleh, melainkan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah. Itulah cita-cita terbesar setiap mukmin.

Baca juga: Kisah Mbah Karim dan Mbah Nyai Dlomroh

Beliau menegaskan bahwa jalan menuju husnul khatimah adalah dengan bertakwa kepada Allah dan senantiasa istiqamah di atas agama Islam. Sebagaimana firman Allah:

عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ

Yakni berjalan di atas jalan yang lurus, yaitu agama Islam yang Allah ridhai.

Dari sinilah KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus mengingatkan para santri agar benar-benar bersungguh-sungguh dalam mondok. Tujuan utama belajar di pesantren bukan sekadar memperoleh gelar, menjadi pintar berbicara, atau mendapatkan kedudukan di tengah masyarakat. Semua itu hanyalah sarana. Adapun tujuan akhirnya adalah berharap agar Allah menganugerahkan husnul khatimah.

“Jadi kalian mondok, ini yang sungguh-sungguh. Ini tujuannya. Tidak ada lain, yaitu untuk berharap mati dalam keadaan husnul khatimah.”

Beliau mengatakan bahwa orang-orang yang telah mencapai derajat tinggi dalam agama pun masih memiliki satu ketakutan yang sama, yaitu takut mengalami suul khatimah. Sebab, urusan akhir kehidupan sepenuhnya berada dalam kehendak Allah Swt.

Allah Mempermudah Melakakukan Amal Sesuai Ketetapan-Nya

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Allah memudahkan setiap manusia untuk melakukan amal sesuai dengan ketetapan-Nya. Apabila seseorang termasuk golongan ahli surga, maka Allah akan memudahkannya melakukan amal-amal penghuni surga. Sebaliknya, apabila seseorang termasuk golongan ahli neraka, maka ia akan Allah mudahkan melakukan amal-amal yang menyeretnya kepada kemaksiatan dan dosa.

“Tiap-tiap orang itu oleh Allah dimudahkan amalnya. Sesuai dengan apa dia diciptakan oleh Allah itu untuk apa. Misalkan saja, ahli jannah dimudahkan oleh Allah amalnya seperti ahli sa’adah, ahli jannah. Kalau orang itu diciptakan oleh Allah ahli nar, penghuni neraka, maka amalnya dimudahkan oleh Allah, seperti amalnya ahli nar, yaitu berbuat maksiat, berbuat dosa, dan lain-lain.”

Baca juga: Ibadah Manusia Lebih Utama daripada Ibadah Malaikat

Karena itu, seseorang yang Allah kehendaki menjadi orang alim akan Allah akan memberinya kemudahan untuk bersungguh-sungguh dalam belajar. Orang yang Allah takdirkan menjadi ulama akan dimudahkan menempuh jalan ilmu, baik secara ilmiah maupun amaliah.

“Kalau orang itu dijadikan oleh Allah menjadi orang alim, maka di pondok sungguh-sungguh. Kalau orang itu oleh Allah dicap menjadi ulama, maka dia mondoknya sungguh-sungguh.”

Status Ulama di Bawah Nabi

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus juga menjelaskan bahwa derajat kenabian (nubuwwah) merupakan anugerah murni dari Allah yang tidak dapat kita usahakan. Terlebih lagi, pintu kenabian telah Allah tutup dengan mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi.

Akan tetapi, jalan menuju derajat ulama masih terbuka lebar. Siapa pun dapat menggapainya dengan kesungguhan dalam mencari ilmu, mengamalkannya, serta menjaga keikhlasan. Orang yang memiliki ilmu kemudian mengamalkan ilmunya akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia, yaitu menjadi pewaris para nabi, dengan derajat yang berada tepat di bawah para nabi.

“Kalau nubuwwah itu tidak bisa dicari. Ini langsung pemberian Allah Swt. Dan juga nubuwwah ini sudah tertutup, tidak ada. Namun, menuju ulama, ilmiah dan amaliah itu masih bisa dicari. Sehingga orang yang mempunyai ilmu, ilmu tersebut diamalkan, maka derajatnya hanya di bawah nabi.”

Baca juga: Ketakutan Mbah Karim terhadap Uang Bisyaroh

Dawuh ini mengingatkan bahwa perjalanan seorang penuntut ilmu tidak berhenti pada penguasaan ilmu pengetahuan. Ilmu harus melahirkan amal, amal harus kita hiasi keikhlasan, dan seluruh perjalanan itu harus kita jaga hingga akhir hayat. Sebab, ukuran keberhasilan seorang hamba bukanlah seberapa tinggi ilmunya atau seberapa banyak amalnya, melainkan apakah Allah menutup kehidupannya dengan keadaan husnul khatimah.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses