Kisah Mbah Karim dan Mbah Nyai Dlomroh

kisah mbah karim dan mbah dlomroh

Dalam sebuah kesempatan, Agus Abdurrohman Ahmad Hafiz menuturkan kisah Mbah Karim dan Mbah Nyai Dlomroh. Dari kisah inilah dapat dipahami salah satu rahasia keberkahan dan perkembangan Pondok Lirboyo hingga menjadi pesantren besar seperti sekarang.

Kisah Mbah Karim dan Mbah Dlomroh

Dikisah Mbah Karim didatangi beberapa tamu dari tanah kelahiran beliau (Magelang), tamu tersebut menghendaki agar Mbah Karim kembali ke Magelang. Namun sebelum Mbah Karim menjawab, Mbah Nyai Dlomroh menyampaikan dawuh kepada beliau:

“Yai, kalau memang jenengan bade kundur ngilen monggo, tapi kulo mboten derek. Kulo tak teng mriki mawon, nerusne nopo seng diperintahke bapak.”

(Yai kalau memang jenengan mau pulang ke Barat (Magelang) silahkan, tetapi saya tidak ikut. Saya di sini saja, melanjutkan apa yang telah bapak perintahkan.)

Baca juga: Ibadah Manusia Lebih Utama daripada Ibadah Malaikat

Beliau kemudian melanjutkan:

“Tapi lek jenengan kerso teng mriki Yai, pun jenengan mboten udah nopo-nopo, jenengan cekap ngaos, ngimami jamaah, kaleh nemoni tamu, urusan anak-anak kulo seng nyambut damel.”

(Tetapi kalau jenengan mau di sini Yai, sudah jenengan tidak perlu melakukan apapun, jenengan cukup mengaji, mengimami jamaah, juga menemuai tamu, urusan anak-anak saya yang bekerja.)

Mendengar dawuh tersebut, Mbah Karim menjawab kepada para tamu yang hadir:

“Sampun mireng nggeh? Mpun nek ngoten kulo mboten saget wangsul teng magelang.”

(Sudah dengar ya? Sudah kalau begitu saya tidak bisa pulang ke magelang.)

Baca juga: Ketakutan Mbah Karim terhadap Uang Bisyaroh

Sejak saat itu, Mbah Karim menetap dan benar-benar memegang apa yang telah disampaikan oleh Mbah Nyai Dlomroh. Beliau tidak disibukkan dengan urusan dunia, melainkan menghabiskan hari-harinya untuk mengaji, mengimami shalat berjamaah, dan melayani tamu. Begitupun juga Mbah Dlomroh, beliau memegang ucapan beliau, semua urusan pekerjaan semua beliau tanggung.

Mbah Karim ke Sawah

Namun sebagaimana lazim terjadi, tidak semua orang memahami keadaan yang sebenarnya. Muncullah bisik-bisik di tengah masyarakat:

“Uenak yo dadi kyai ra tau nyapo-nyapo mung ngaji.”

(Enak ya menjadi kyai tidak pernah ngapa-ngapain cuma mengaji saja.)

Baca juga: Iman Lemah Harus Dijaga dengan Lingkungan yang Baik

Ucapan tersebut sampai ke telinga Mbah Karim. Beliau tidak marah, tidak pula membela diri dengan kata-kata. Demi menghindari fitnah, beliau memilih turun langsung ke sawah.

Pada suatu musim kemarau, beliau melihat sawah yang sedang kering. Di dekat sawah terdapat aliran air kecil. Karena tidak mengetahui aturan pembagian giliran air di persawahan, beliau langsung membuka aliran tersebut agar air dapat masuk ke sawah yang kering.

Melihat hal itu, para petani berteriak:

Lo Yai sakniki (sekarang) wancine (waktunya) nggen kulo (punya saya).

Mbah Karim dengan polos menjawab:

“Banyu kagungane Gusti Allah, ndadak wayah-wayahan niki pripun?”

(Air itu milik Allah, harus ada jadwalnya ini bagaiman?)

Baca juga: Tradisi Keluarga Bani KH. Abdul Karim Menyikapi Para Santri

Mendengar jawaban tersebut, orang-orang terdiam. Bukan karena beliau sedang berdebat, tetapi karena beliau memang tidak mengetahui aturan teknis pengairan sawah. Kehidupan beliau selama ini lebih banyak beliau habiskan dalam dunia ilmu, ibadah, dan pengabdian kepada umat.

Kemudian para petani melaporkan peristiwa tersebut kepada Mbah Nyai Dlomroh. Setelah mendengar kejadiannya, beliau berkata:

“Mpun Yai mbenjeng maleh mboten usah teng saben.”

(Sudah Yai besok lagi tidak usah ke sawah.)

Mulai saat itu Mbah Karim tidak pernah lagi ke sawah. Tetapi hari-hari beliau betul-betul dihabiskan untuk mengaji.

Penutup

Kisah ini mengajarkan bahwa keberkahan sebuah pesantren tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, ketegasan, atau banyaknya santri, melainkan juga oleh ketulusan, pengorbanan, dan kesadaran setiap orang untuk menempati perannya masing-masing. Mbah Karim dengan ikhlas mencurahkan seluruh hidupnya untuk ilmu, ibadah, dan pelayanan kepada umat. Sementara Mbah Nyai Dlomroh dengan penuh keikhlasan memikul urusan rumah tangga, ekonomi, dan berbagai kebutuhan pesantren agar sang suami dapat istiqamah dalam perjuangannya.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses