316 views

Hutang Puasa Sampai Ramadhan lagi

Di bulan suci Ramadhan dimana setiap muslim yang telah baligh dan berakal serta mampu untuk melakukan puasa maka bagi mereka tentu berkewajiban untuk melakukan ibadah puasa dengan sempurna. Namun Islam bijak dalam menyikapi beberapa kasus dimana secara umum kondisi demikian akan dirasa berat apabila melakukan puasa. Diantaranya adalah saat dalam kondisi sakit, ibu hamil atau menyusui, dalam perjalanan jauh juga wanita yang sedang haidl atau nifas. Dimana bagi mereka akan mendapatkan dispensasi syariat (rukhsoh) berupa boleh untuk tidak berpuasa. Tentunya dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat.
Allah menuturkan dalam Alqurannya:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّاماً مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ


“Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa) maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah, Ayat: 183-184)
Dalam ayat tersebut dijelaskan bagi siapa saja yang diperbolehkan meninggalkan puasa berkewajiban untuk mengganti puasa yang telah ia tinggalkan di lain waktu (di luar bulan Ramadhan). Mengenai teknis meng-qodho’i puasa yang ia tinggalkan hendaknya yang paling afdhol adalah dengan bersegera dan memfokuskan diri untuk meng-qodho’i puasa yang telah ia tinggalkan. Namun baginya tetap diperbolehkan untuk mengganti dihari-hari berikutnya (muwassa’un) sekira tidak sampai menjumpai Ramadhan selanjutnya. Sehingga apabila ia menunda-nunda hutang puasa yang ia miliki sampai menjumpai bulan Ramadhan berikutnya maka ia terkena sangsi berupa membayar fidyah untuk tiap hutang puasa yang ia miliki. Akan tetapi apabila terdapat udzur atau hal-hal yang menghalanginya untuk bersegera meng-qodho’i puasanya seperti sakit berkepanjangan atau sedang dalam kondisi menyusui maka ia tidak terkena denda fidyah. Hal ini sebagaimana penuturan Al-Mawardi dalam Hawi Kabirnya:


إذا أفطر أياما من شهر رمضان لعذر أو غيره ، فالأولى به أن يبادر بالقضاء وذلك موسع له ما لم يدخل رمضان ثان ، فإن دخل عليه شهر رمضان ثان صامه عن الفرض ، لا عن القضاء فإذا أكمل صومه قضى ما عليه ثم ينظر في حاله ، فإن كان أخر القضاء لعذر دام به من مرض أو سفر ، فلا كفارة عليه ، وإن أخره غير معذور فعليه مع القضاء الكفارة عن كل يوم بمد من طعام ، وهو إجماع الصحابة


“Ketika seseorang membatalkan puasa bulan Ramadhan beberapa hari karena faktor uzur atau hal yang lain, maka hal yang utama baginya adalah segera mengqadha’i puasanya. Mengqadha’ ini bersifat muwassa’ (luas/panjang) selama tidak sampai masuk Ramadhan selanjutnya. Jika sampai masuk waktu Ramadhan selanjutnya maka ia berpuasa fardhu, bukan puasa qadha. Ketika puasa Ramadhan pada tahun tersebut telah sempurna, baru ia mengqadha puasanya yang lalu dan dilihat keadaannya: jika ia mengakhirkan qadha karena ada uzur yang terus-menerus berupa sakit atau perjalanan maka tidak wajib kafarat baginya. Jika ia mengakhirkan qadha tanpa adanya uzur maka wajib baginya untuk mengqadha puasa sekaligus membayar kafarat pada setiap hari (yang belum diqadha) senilai satu mud makanan, hal ini telah menjadi konsensus para sahabat.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, apabila seseorang yang memiliki hutang puasa di bulan Ramadhan lantas ia akhirkan sampai menjumpai Ramadhan berikutnya tanpa adanya udzur jelas baginya berkewajiban untuk meng-qodho’i puasa yang ia tinggalkan besertaan dengan membbayar kafarah berupa fidyah satu mud tiap harinya. Yang mana dalam hal ini fidyah yang harus dibayarkan adalah berupa bahan makanan pokok sebanyak satu mud atau dalam konteks Indonesia berarti beras sebanyak 0,6kg yang kemudian dialokasikan kepada para fakir miskin. wallahu a’lam bisshawab.

Baca juga: Setan Dibelenggu Saat Bulan Puasa, Benarkah?, Urgensi Asmaul Khomsah dalam Membangun Keharmonisan

Dukung juga akun youtube kami: Pondok Lirboyo

6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.