Lirboyo — Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) Pondok Pesantren Lirboyo kembali menyelenggarakan Praktik Tajhizul Janaiz sebagai bagian dari program pembelajaran fikih yang wajib diikuti oleh santri kelas III Aliyah. Kegiatan yang menjadi agenda tahunan ini berlangsung selama sepuluh hari, mulai Jumat (17/07/2026) hingga Selasa (28/07/2026), dengan jeda pada hari Kamis.
Baca juga: Ujian Al-Qur’an dan Muhafadzhoh Hadist Pondok Lirboyo
Pembagian Kelompok
Tingginya jumlah peserta membuat pelaksanaan praktik dibagi ke dalam beberapa gelombang. Setiap malam terdapat empat kelas yang mengikuti praktik, sementara masing-masing kelas dibagi lagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok memperoleh materi praktik yang berbeda, meliputi cara penanganan jenazah laki-laki dan perempuan, serta simulasi jenazah muslim maupun non-muslim sesuai pembahasan fikih.
Tercatat kurang lebih dua ribu santri kelas III Aliyah mengikuti kegiatan ini. Selain menjadi bagian dari proses pembelajaran, praktik Tajhizul Janaiz juga menjadi salah satu komponen penilaian dalam pertimbangan kenaikan tingkat ke jenjang berikutnya.
Program ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kompetensi santri agar tidak hanya menguasai teori fikih mengenai penyelenggaraan jenazah, tetapi juga mampu menerapkannya secara benar sesuai tuntunan syariat.
Salah seorang peserta, Triandi, mengaku memperoleh pemahaman yang jauh lebih utuh setelah mengikuti praktik secara langsung.
“Alhamdulillah, ternyata memahami materi saja belum bisa dikatakan sempurna. Dengan adanya praktik ini, pemahaman saya menjadi lebih mendalam, khususnya bagi saya pribadi dan seluruh santri pada umumnya,” ungkapnya.
Baca juga: Muhafadzah Hadis: Menjalankan Kewajiban di Tengah Padatnya Aktivitas
Pra Praktek
Sebelum memasuki sesi praktik, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti Seminar Tajhizul Janaiz oleh orang yang kompeten di bidangnya. Melalui seminar tersebut, santri dibekali pengetahuan mengenai tata cara penyelenggaraan jenazah berdasarkan ketentuan fikih.
Baca juga: Skrining Sistematis Tuberkulosis di Pondok Pesantren Lirboyo
Sesi Praktek
Dalam sesi praktik, santri memeragakan seluruh rangkaian penyelenggaraan jenazah secara sistematis. Kegiatan diawali dengan simulasi penanganan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut (naza’), kemudian dilanjutkan dengan tata cara penanganan setelah seseorang dinyatakan wafat.
Peserta juga mempraktikkan teknik menjaga kondisi jenazah agar tidak mengalami kekakuan apabila belum memungkinkan untuk segera dimandikan. Setelah itu dilakukan simulasi memandikan jenazah. Demi menjaga adab dan etika, para santri membentuk lingkaran sambil memegang kain penutup sehingga proses pemandian tidak terlihat dari luar. Selama prosesi berlangsung, doa-doa yang dianjurkan dalam penyelenggaraan jenazah turut dilantunkan.
Rangkaian Tajhizul Janaiz
Tahapan berikutnya ialah mengafani jenazah. Dalam praktik tersebut, jenazah laki-laki dibungkus menggunakan tiga helai kain kafan, sedangkan jenazah perempuan menggunakan lima helai kain kafan sesuai ketentuan fikih.
Setelah selesai dikafani, jenazah kemudian dishalatkan. Selanjutnya dilakukan prosesi pemberangkatan jenazah menuju lokasi pemakaman praktik. Sebelum diberangkatkan, salah seorang santri yang berperan sebagai tokoh agama menyampaikan persaksian mengenai kebaikan jenazah sebagaimana lazim dilakukan di tengah masyarakat.
Di lokasi praktik telah disiapkan empat liang kubur, terdiri atas dua liang lahad dan dua liang syaq (cempuri), sehingga para santri dapat mempraktikkan kedua bentuk pemakaman yang dikenal dalam kitab-kitab fikih. Masing-masing liang telah dijaga oleh beberapa peserta yang bertugas menerima jenazah. Proses pemakaman dilakukan secara simbolis dengan menggunakan penutup tripleks sebagai pengganti timbunan tanah.
Baca juga: Studi Banding PP. Miftahul Ulum Karangdurin Sampang
Pasca Praktek
Usai simulasi pemakaman, salah seorang peserta ditunjuk oleh mustahiq untuk mempraktikkan pembacaan talqin. Selama seluruh rangkaian berlangsung, para mustahiq mendampingi setiap kelompok, memberikan arahan, melakukan evaluasi, serta mengoreksi apabila ditemukan kekeliruan dalam pelaksanaan praktik.
Harapan
Melalui kegiatan ini, Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo berharap para santri memiliki bekal yang utuh, baik dari sisi keilmuan maupun keterampilan praktik, sehingga mampu melaksanakan penyelenggaraan jenazah sesuai tuntunan syariat ketika terjun di tengah masyarakat. Selain menjadi bagian dari evaluasi akademik, praktik Tajhizul Jana’iz juga diharapkan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesiapan santri dalam mengemban tugas-tugas keagamaan di masa mendatang.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





