Lirboyo — Keheningan malam di Pondok Pesantren Lirboyo mendadak berubah menjadi pusat perhatian. Saat sebagian besar santri menikmati hangatnya secangkir kopi untuk menemani belajar, sekelompok santri berpakaian serba unik berjalan beriringan menuju Gedung An-Nahdloh pada Jumat dini hari (17/07/2026).
Dari lantai dua hingga lantai empat gedung di sekitar lokasi, banyak santri menghentikan aktivitas mereka sejenak. Rasa penasaran membawa pandangan mereka tertuju pada iring-iringan yang berjalan perlahan di bawah cahaya lampu malam.
Rombongan tersebut ternyata merupakan siswa kelas III Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) yang akan mengikuti Praktik Tajhizul Janaiz, program pembelajaran tahunan yang berlangsung pada 17–28 Juli 2026.
Yang menarik, sejumlah peserta mengenakan busana bernuansa adat Jawa, seperti blangkon, kain batik, dan sarung bermotif tradisional. Sebagian lainnya membawa keranda, obor, hingga berbagai properti pendukung yang membuat suasana prosesi terasa semakin hidup. Sambil berjalan, mereka melantunkan tembang-tembang Jawa yang menambah kesan khidmat sekaligus menarik perhatian santri lain.
“Hanya sebatas untuk memeriahkan suasana dan menyemangati teman-teman,” ujar salah seorang peserta, M. Rajib Abdullah.
Baca juga: Skrining Sistematis Tuberkulosis di Pondok Pesantren Lirboyo
Simulasi Lengkap Perawatan Jenazah
Setelah memasuki ruang praktik sesuai kelompok masing-masing, kegiatan dimulai sekitar pukul 00.10 WIB. Setiap regu dipimpin oleh seorang ketua yang bertugas membimbing seluruh rangkaian praktik, mulai dari perawatan menjelang ajal hingga proses pemakaman.
Salah seorang anggota regu ditunjuk untuk memerankan jenazah. Simulasi diawali dengan praktik ihtidhar, yaitu membimbing seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut agar mengucapkan kalimat tauhid.
Suasana semakin terasa nyata ketika ketua regu mengumumkan bahwa “jenazah” telah wafat. Beberapa peserta sengaja memerankan keluarga yang berduka dengan tangisan, ratapan, hingga memeluk tubuh jenazah. Meski diselingi gelak tawa karena hanyalah simulasi, adegan tersebut berhasil memberikan gambaran emosional tentang suasana ketika seseorang benar-benar berpulang.
Tahapan berikutnya adalah memandikan jenazah. Peserta mempraktikkan tata cara memandikan sesuai tuntunan fikih, mulai dari menjaga aurat, membersihkan najis, hingga membasuh seluruh anggota tubuh dengan perlahan dan penuh penghormatan.
Setelah selesai dimandikan, jenazah kemudian diwudhukan dengan mencukupkan rukun-rukun wajib apabila kondisi tidak memungkinkan untuk menyempurnakannya. Selanjutnya peserta mempraktikkan proses mengafani, menyalatkan, bertahlil, dan mendoakan jenazah.
Baca juga: Ujian Al-Qur’an dan Muhafadzhoh Hadist Pondok Lirboyo
Dari Keranda Menuju Liang Kubur
Rangkaian praktik berlanjut dengan prosesi pemberangkatan jenazah menuju area pemakaman simulasi di sebelah utara Aula Al-Muktamar.
Sebelum keranda diberangkatkan, salah seorang peserta menyampaikan mauizah yang mengingatkan tentang hakikat kehidupan dan kepastian datangnya kematian berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.
Di sepanjang perjalanan menuju lokasi pemakaman, para peserta melantunkan kalimat La ilaha illallah secara bersama-sama. Di tengah udara malam yang dingin, lantunan tahlil menghadirkan suasana yang khusyuk sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah Swt.
Sesampainya di lokasi, peserta langsung menempati liang kubur yang telah disiapkan panitia. Praktik dilakukan menggunakan dua model pemakaman, yaitu liang lahat dan liang syaq (cempuri), sehingga santri memahami tata cara keduanya sesuai pembahasan fikih.
Dalam simulasi tersebut, peserta mempraktikkan seluruh tahapan pemakaman, mulai dari menurunkan jenazah ke liang kubur, menghadapkan ke arah kiblat, membuka tali kafan pada bagian tertentu, menyangga tubuh dengan gumpalan tanah, hingga menutup liang kubur menggunakan papan sebelum ditimbun tanah.
Peserta juga mempraktikkan sunnah menaburkan tiga genggam tanah ke arah kepala jenazah sambil membaca doa-doa yang dianjurkan.
Mengingat Kematian, Menyiapkan Bekal Kehidupan
Rangkaian praktik ditutup dengan pembacaan talqin dan doa bersama yang dipimpin ketua regu. Tepat sekitar pukul 02.30 WIB, seluruh peserta meninggalkan area pemakaman setelah menyelesaikan seluruh tahapan praktik.
Di balik suasana yang dikemas menarik dan sesekali diselingi canda, Praktik Tajhizul Janaiz sejatinya bukan sekadar ujian keterampilan mengurus jenazah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran fikih yang aplikatif sekaligus media muhasabah bagi para santri untuk mengingat bahwa setiap kehidupan pada akhirnya akan berakhir di liang kubur.
Melalui praktik tersebut, santri tidak hanya dibekali kemampuan melaksanakan fardu kifayah sesuai tuntunan syariat, tetapi juga diajak menumbuhkan kesadaran bahwa kematian adalah kepastian yang menuntut setiap insan untuk senantiasa mempersiapkan bekal amal terbaik.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





