Langit malam memekarkan keindahan melalui gemerlap cahaya bintang ditemani oleh keanggunan temaram bulan. Tiupan angin malam memberi sedikit ketenangan kepada seorang pemuda berbaju biru dengan kalung id card yang dikenakan, Ibnu (23). Ia merupakan satu dari seribu siswa kelas tiga Aliyah yang diberi mandat untuk menjadi salah satu panitia Tajhizul Janaiz, sebuah program tahunan yang diadakan oleh Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM).
Sebuah Kisah Praktik
Angin malam berjalan tenang membawa gemuruh suara keramaian yang tak terlalu jelas untuk didengar. Dari kejauhan samar-samar terlihat segerombolan orang yang memakai baju serba hitam dengan memegang obor api yang menyala, sekilas mereka nampak seperti sekumpulan kunang-kunang yang berjalan beriringan di ketenangan malam.
“Tak salah lagi, itu dia para peserta praktek tajhizul janaiz”. Ucap Ibnu sambil membenarkan posisi pecinya.
Bagi Ibnu sudah menjadi tugasnya untuk memantau dan mengawasi berjalannya kegiatan praktek ini dari awal hingga selesai.
Detik waktu terus berjalan layaknya kapal laut yang tetap berlayar di tengah pusaran badai. Para peserta rombongan praktek telah sampai di gedung An-Nahdhoh, maka di sinilah awal dari rangkaian praktek dimulai.
“Mekanisme praktek dimulai dari perawatan menjelang dan setelah ajal, tata cara memandikan, mengkafani, mensholati dan pada puncaknya adalah proses pemakaman jenazah yang dilakukan di sebelah utara Aula al-muktamar” Jelas ibnu Panjang lebar. Para peserta Nampak begitu semangat dan khidmat ketika melakukan rangkaian kegiatan praktek ini. Canda dan tawa para peserta menjadikan suasana menjadi lebih hangat layaknya tempias sinar surya yang mencairkan segala rasa kecanggungan dan kejenuhan.
Baca juga: Ujian Al-Qur’an dan Muhafadzhoh Hadist Pondok Lirboyo
Rangkaian Praktek
Ketekunan dan kedisiplinan para peserta juga patut diacungi jempol dimulai dari merawat mayit sebelum ajal sampai Ketika mayit akan diberangkatkan ke tanah pemakaman. Para peserta juga sadar bahwa program ini bukan semata-mata untuk menambah nilai akademik melainkan menjadi sekilas bayang kematian bahwa kehidupan di dunia hanya sesuatu yang fana dan setiap manusia takkan bisa menghindar dari ajal kematian kendatipun dia berada dalam benteng yang kokoh.
Waktu semakin larut malam, jam digital yang menempel erat di dinding Gedung an-Nahdhoh telah menunjukkan pukul 01.30 WIS malam. Ibnu berlarian kecil menuju para ketua regu kelompok untuk menyampaikan bahwa regu yang sudah selesai melakukan rangkaian kegiatan praktek di An-Nahdhoh akan segera diberangkatkan ke gelombang pamungkas praktek tajhizul janaiz, yakni proses pemakaman mayit. Nyala obor telah padam tapi tidak dengan bulan yang masih setia memberi cercahan cahayanya begitu juga semangat para peserta, mereka berjalan dengan membawa keranda buatan menuju tempat pemakaman sembari melantunkan kalimat mulia “La ilahaillallah” Secara bersamaan menciptakan perasaan ambigu yang mengambang antara bersyukur belum mendapati ajal? Atau belum siap menyiapkan bekal untuk transisi alam.
Baca juga: Studi Banding PP. Miftahul Ulum Karangdurin Sampang
Suasana di Lokasi Praktik
Sesampainya di lokasi pemakaman, para peserta disibukkan dengan tugas regu masing-masing.
Dimulai dari menurunkan jenazah sampai memakamkan jenazah semua turut kebagian tugas yang diemban.
Beberapa Mustahiq siswa kelas tiga Aliyah juga terlihat Khidmah memantau proses pemakaman yang dilakukan. Setelah semua prosedur pemakaman telah dilakukan dengan benar tanpa ada sedikit kesalahan Ibnu Kembali memberi kode kepada ketua regu untuk menyuruh orang yang bertugas sebagai pentalqin mayit untuk maju mendekat liang kuburan yang telah ditimbun tanah.
Satu orang berjalan tenang ke depan memimpin semua orang yang hadir untuk merenungkan setiap kata yang diucapkannya tak terkecuali si mayit, karena proses talqin adalah bagian terakhir paling penting untuk menjadi sebuah pengingat dan penanda bahwa segala perbuatan yang dilakukan oleh mayit semasa hidupnya akan dipertanggung jawabkan di alam kehidupan yang sebenarnya, akhirat.
Baca juga: Muhafadzah Hadis: Menjalankan Kewajiban di Tengah Padatnya Aktivitas
Mentalqin Mayyit
Di bawah penerangan lampu yang menyala terang dan angin yang mulai jahil meniupkan dedaunan pohon yang berjatuhan di antara orang-orang yang berada di area pemakaman. Peserta yang ditugaskan sebagai pentalqin mayit telah sukses memerankan perannya dengan begitu dramatis membuat sebagian peserta ada yang terdiam merenungi, ada juga yang bertekad untuk meng-update amal di dunia agar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
“Memang cukup melelahkan tapi saya sama temen-temen panitia yang lain selalu bilang sama diri kami sendiri bahwa enggak boleh ada kata menyerah dalam kamus kerja kami” ujar Ibnu setelah semua rangkaian praktek selesai sembari membetulkan letak sarung yang melilit pinggungnya.
Dia juga menuturkan bahwa Praktek Tajhizul Janaiz bukan hanya sekadar urusan belajar merawat dan mengurusi mayit dengan benar saja, melainkan sebuah bentuk penghormatan terakhir dan pengembalian jasad manusia kepada asal Penciptanya.
Pancaran cahaya bola lampu menyisakan bayangan para insan yang telah pulang, pepohonan melambai-lambai, jalanan Lirboyo lenggang, lahan kosong sebelah utara Aula Al-Muktamar menjadi saksi bisu yang merekam akhir peristiwa berakhirnya praktek Tajhizul Janaiz Siswa Kelas Tiga Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadien.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





