Syekh Abdullah Mubarak bercerita: Saya pergi haji ke Baitullah dan sekaligus berziarah ke makam agung baginda Nabi Muhammad Saw., Di tengah perjalanan, saya bertemu dengan sosok hitam yang berada di sisi jalanan, akupun mendekatinya dan ternyata sosok itu perempuan tua yang ouitfit-nya terbuat dari bulu—baik baju maupun kerudungnya. Akupun langsung menyapa dengan mengucapkan salam kepadanya.
Baca juga: Saat Semua Orang Terlelap, Satu Pertanyaan Ini Menggagalkan Sebuah Maksiat
Dialog panjang antara Syaikh Abdullah dan perempuan tua
Syekh Abdullah: Assalamualaiki warahmatullah wabarakatuh
Perempuan : سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ (يس: 57) “Salam sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang”
Syekh Abdullah: Semoga Allah memberi Rahmat-Nya untukmu, apa yang sedang engkau lakukan di sini?
Perempuan : مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ (الأعراف: 186) “Barangsiapa yang dibiarkan tersesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk”. Akupun paham bahwa perempuan itu sedang tersesat, aku pun bertanya lagi:
Syekh Abdullah: Memangnya engkau hendak pergi kemana?
Perempuan : سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى (الإسراء: 1) “Maha suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa”
Dalam hatiku mengerti bahwa setelah perempuan itu selesai melaksanakan ibadah haji, ia hendak pergi ke Baitul Maqdis (Palestina).
Syekh Abdullah: Sudah berapa lama engkau berada di tempat ini?
Perempuan : (مريم: 10) ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا “…Tiga malam…”
Syekh Abdullah: Apakah engkau memiliki sesuatu untuk dimakan?
Perempuan : هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (الشعراء: 79) “(Dialah) yang memberi makan dan minum kepadaku”
Syekh Abdullah: Lantas, bagaimana ketika engkau ingin berwudhu?
Perempuan : فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا (النساء: 43) “…sedangkan kamu tidak mendapat air maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci)”
Syekh Abdullah: Sesungguhnya aku memiliki makanan, apakah engkau ingin makan?
Perempuan : ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ (البقرة: 187) “Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam”
Syekh Abdullah: Tetapi ini bukanlah bulan Ramadhan
Perempuan : وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (البقرة: 158) “Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui”
Syekh Abdullah: Bukankah boleh-boleh saja bagi kita untuk tidak berpuasa ketika dalam perjalanan
Perempuan : وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة: 184) “Dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”
Baca juga: Kisah Kaum Nabi Luth Belum Berakhir: Dua Potret Kaumnya yang Kini Kembali Terjadi
Alasan berbicara selalu menggunakan ayat Al-Quran
Syekh Abdullah: Kenapa engkau tidak berbicara menggunakan kata-kata seperti aku berbicara kepadamu?
Perempuan : مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (ق: 18) “Tidak suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”
Syekh Abdullah: Sebenarnya dari golongan manusia manakah engkau?
Perempuan : وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (الإسراء: 36) “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani semua itu akan dimintai pertanggung jawaban”
Syekh Abdullah: Sungguh saya telah melakukan kesalahan, maafkan aku.
Perempuan : لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ (يوسف: 96) “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu”
Syekh Abdullah: Apakah engkau bersedia menaiki untaku ini sampai bertemu dengan kafilah rombonganmu?
Perempuan : وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ (البقرة: 197). “Segala yang baik yang engkau kerjakan, Allah mengetahuinya” Kemudian aku menundukkan untaku.
Perempuan : قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ (النور: 30). “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya” Akupun tersentak dan langsung menjaga pandanganku
Syekh Abdullah: “Naiklah”. Tatkala perempuan itu hendak naik, si unta lari membuat baju perempuan itu sedikit sobek
Perempuan : وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ (الشورى: 30) “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatanmu sendiri”
Syekh Abdullah: Sabarlah, aku akan menundukkannya kembali
Perempuan : فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ (الأنبياء: 79) “Maka kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat” Kemudian aku mengikat unta itu lalu berkata lagi kepada perempuan itu: “Naiklah”. Ketika perempuan itu sudah naik ia pun langsung berucap,
Perempuan : سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَه مُقْرِنِينَ (14)(13) وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ “Mahasuci (Allah) yang telah menundukan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami” Kemudian aku mengambil tali kendali dan menyabetkan kepada unta itu agar jalannya lebih cepat.
Baca juga: Kisah Syaikhona Kholil Nyantri ke Mbah Hasyim Asy’ari
Perjalanan dengan menggunakan unta
Perempuan : وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ (لقمان: 19) “Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu” Seketika itu aku langsung menjalankan untaku pelan-pelan seraya menyanyikan sebuah syair.
Perempuan : فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ (المزمل: 20) “Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Quran
Syekh Abdullah: Sungguh aku telah melakukan kebajikan.
Perempuan : وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَاب (البقرة: 269) “Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat”. Ketika perjalanan sudah dilalui beberapa waktu, aku bertanya kembali kepadanya:
Syekh Abdullah: Apakah engkau mempunyai suami?
Perempuan : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ (المائدة: 101) “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, (justru) menyusahkan kamu”.
Kemudian aku langsung terdiam dan tidak ada percakapan sama sekali di antara kami sampai benar-benar bertemu dengan kafilah rombongan.
Syekh Abdullah: Lihat, kita sudah bertemu dengan kafilah rombongan, apakah engkau mempunyai sesuatu yang engkau miliki di sana?
Perempuan : الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا (الكهف: 46) “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” Aku langsung paham bahwa diantara para kafilah rombongan yang berada di sana terdapat anak si wanita ini.
Baca juga:
Pertemuan dengan anak-anak
Syekh Abdullah: Apakah mereka juga habis menunaikan ibadah haji?
Perempuan : وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ (النحل: 16) “Dan (dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk.” Aku mengerti bahwa mereka (anak-anak perempuan itu) sebagai penunjuk rombongan, kemudian aku mendatangi perkemahan yang sudah berdiri di seberang sana. Akupun bertanya lagi ke perempuan itu:
Syekh Abdullah: Siapakah nama anak-anakmu itu?
Perempuan : وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (النساء 125)
يَايَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ (مريم: 12)
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا (النساء: 164)
Syekh Abdullah berteriak: Wahai Ibrahim! Musa! Yahya!.
Seketika itu datanglah para pemuda yang laksana rembulan menghadap kepadanya.
Perempuan : فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ (الكهف: 19) “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu itu, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu”.
Salah satu di antara mereka bergegas membeli makanan kemudian menyuguhkannya kepada Abdullah Mubarak.
Perempuan : كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَة (الحاقة: 24)”Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.
Demi menjaga hafalan Al-Quran
Syekh Abdullah: Untuk sekarang, makanan ini (yang kalian suguhkan) haram bagiku sehingga kalian menjelaskan ihwal perempuan itu (yang selalu berbicara menggunakan ayat Al-Quran).
Salah satu dari antara mereka menjawab: Dia adalah ibu kami, semenjak 40 tahun lalu ia tidak pernah berbicara kecuali menggunakan ayat Al-Quran karena ia khawatir hafalannya hilang—yang nantinya Allah murka kepadanya. Maha Suci dzat yang menguasai atas sesuatu yang Ia kehendaki.
Syekh Abdullah: ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (الحديد: 21) “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”.
(Referensi: kitab Syarh Salalimul Fudhalla ala Hidayatil Adzkiya karangan Syekh Nawawi al-Bantani hal. 95 cet. Al-Kamal Lirboyo, Kediri).
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





