Hafshah binti Umar bin al-Khattab, putri dari Khalifah Umar yang dikenal akan keadilan dan keberaniannya, memainkan peran penting dalam sejarah Islam. Kisahnya bukan hanya tentang hubungan seorang anak dengan ayahnya, tetapi juga mencerminkan keteladanan kepemimpinan Umar dan kekuatan iman Hafshah sebagai seorang wanita Muslim.
Momen Terakhir Hafshah Dan Umar bin al-Khattab
Saat Khalifah Umar bin al-Khattab terbaring sakit menjelang wafatnya, Hafshah mendekati ayahnya dengan penuh kelembutan. Ia berkata:
يحزنك وفادتك على ربٍ رحيم ولا تبعة لأحد عندك ومعي لك بشارة لا أذيع السر مرتين ونعم الشفيع لك العدل لم تخف على الله خشنة عيشتك وعفاف نهمتك وأخذك بأكظام المشركين والمفسدين في الأرض
“Wahai Ayahku, apa yang membuatmu bersedih? Bukankah engkau akan segera berjumpa dengan Tuhan Yang Maha Pengasih? Tak ada satu pun tuntutan yang akan membebanimu di hadapan-Nya. Keadilanmu akan menjadi saksi yang membela, kehidupanmu yang penuh kesederhanaan akan menjadi bukti ketulusan, dan hatimu yang bersih dari keserakahan akan menjadi penawar dosa. Keberanianmu menghadapi kaum musyrik dan para perusak di bumi tidak pernah luput dari pandangan-Nya. Ayahku, segala yang kau perjuangkan akan bermakna di sisi-Nya. Berbahagialah.”
Baca Juga: Doa Nabi Ibrahim: Negeri Aman dan Makmur
Kemudian, Hafshah melanjutkan dengan bait syair penuh makna:
أكظم الغلة المخالطة القلب … وأعزى وفي القرآن عزائي
لم تكن بغتة وفاتك وحدا … ان ميعاد من ترى للفناء
“Aku menahan kesedihan yang bercampur dengan hatiku,
Aku menemukan pelipur laraku dalam Al-Qur’an.
Kepergianmu bukanlah sesuatu yang mengejutkan,
Karena semua yang hidup akan menemui ajalnya.”
Syair ini menjadi ungkapan duka mendalam sekaligus pengingat akan kefanaan dunia.
Pesan Hafshah setelah Wafatnya Umar
Setelah ayahnya berpulang, Hafshah tampil dengan keberanian untuk menyampaikan Pesan yang menggambarkan perjuangan Umar dalam menegakkan keadilan. Ia berkata:
الحمد لله الذي لا نظير له والفرد الذي لا شريك له وأما بعد فكل العجب من قومٍ زين الشيطان أفعالهم وارعوى إلى صنيعهم ورب في الفتنة لهم ونصب حبائله لختلهم حتى همّ عدوا الله بإحياء البدعة ونبش الفتنة وتجديد الجور بعد دروسه
“Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Agung, tiada banding dan tiada sekutu bagi-Nya. Betapa mengherankan melihat kaum yang terjerumus dalam jebakan setan! Mereka menghiasi tindakan mereka dengan tipu daya, menghidupkan kembali bid‘ah, menyulut fitnah, dan membangkitkan kezaliman yang seharusnya telah terkubur oleh waktu. Sungguh, langkah mereka hanya menambah luka di muka bumi.”
Hafshah mengingatkan umat Islam akan tipu daya setan yang dapat menggiring mereka menuju kehancuran. Namun, ia juga memuji bagaimana Allah memberikan pertolongan kepada agama-Nya dengan menjadikan Umar sebagai sosok pemimpin yang adil dan bijaksana.
Baca Juga: Keindahan Islam dalam Bertetangga
Warisan Kepemimpinan Umar bin al-Khattab
Dalam pesannya, Hafshah mengisahkan bagaimana Umar bin al-Khattab mengemban amanah kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab. Umar bin al-Khattab tidak menjadikan posisinya sebagai cara untuk memperkaya keluarga atau keturunannya. Sebaliknya, ia menyerahkan amanah kepada mereka yang paling layak untuk melanjutkan kepemimpinan umat Islam.
“Dia meninggalkan dunia dengan hati yang jenuh terhadap segala tipu dayanya. Dunia pun tak mampu memikatnya, karena dia tak pernah menginginkannya. Dia selalu mengingatkan umat bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik, lebih indah, dan lebih kekal. Dengan keteguhan hati, dia menjalankan Islam tanpa ragu, menegakkan sunnah dengan penuh cinta, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya penuntun dalam setiap langkahnya—hingga akhirnya Allah memanggilnya kembali ke sisi-Nya.”
Pelajaran Berharga dari Hafshah binti Umar
Kisah Hafshah binti Umar mengajarkan banyak hal, terutama tentang cinta, iman, dan keteguhan hati. Sebagai putri dari salah satu pemimpin terbesar dalam sejarah Islam, Hafshah tidak hanya menyaksikan perjuangan ayahnya, tetapi juga mengambil peran dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada generasi mendatang.
Nilai Utama yang Bisa Kita Petik:
- Keadilan sebagai Warisan: Umar bin al-Khattab meninggalkan warisan berupa keadilan yang menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
- Kekuatan Iman: Hafshah menunjukkan bagaimana iman kepada Allah memberikan kekuatan di tengah duka.
- Akhirat sebagai Tujuan: Kehidupan Umar adalah bukti bahwa dunia hanyalah sementara, dan tujuan utama seorang Muslim adalah kebahagiaan di akhirat.
Baca Juga: Imam Nafi’ Al-Madani (Ahli Qiraat Pemilik Banyak Keistimewaan)
Referensi:
Bulaghot An-nisa, Abu al-Fadl Ahmad bin Abi Tahir Ibn Tayfur Hal 31
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
