Tag Archives: FMPP

Wakaf Dalam Sorotan (Materi Bahtsul Masail FMPP XXXI Komisi A)

Problematika Wakaf selalu menarik untuk dibahas. Pasalnya, salah satu kajian fikih yang satu ini sangat rentan akan kekeliruan dan kesalahpahaman di tengah-tengah masyarakat. Kekeiruan maupun kesalahpahaman ini terkadang disebabkan kurang memadainya kapasitas pemahaman keilmuan masyarakat atas hukum Wakaf secara menyeluruh. Atau bisa juga potensi kesalahan itu muncul dari corak permasalahannya. Sehingga, analisis secara cermat terhadap permasalahan wakaf dari berbagai sudut pandang sangat dibutuhkan.

Perubahan dan perkembangan corak kehidupan sosial kemasyarakatan juga memiliki pengaruh dalam isu-isu persoalan yang terus menerus mengemuka. Bahkan, permasalahan aktual yang ada di zaman sekarang belum pernah ditemukan di masa-masa sebelumnya. Sehingga tidak jarang rumusan ulama salaf yang tersebar dalam berbagai lembaran kitab klasik tidak begitu pas dengan permasalahan yang ada.

Salah satu contoh adalah permasalahan mengubah status wakaf mushalla menjadi masjid. Tentunya inisiatif yang muncul dari ususlan masyarakat ini memiliki latar belakang yang perlu dipertimbangkan. Maka dari itu, bagaimana syariat menanggapi problematika tersebut?. Apakah hal itu diperbolehkan, atau justru sebaliknya?.

Dalam Komisi A Bahtsul Masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) ke-31 di Pondok Pesantren Salaf Sulaiman, Sukorejo, Gandusari, Trenggalek, Jawa Timur selama dua hari, yakni 28-29 Muharram 1439 H / 18-19 oktober 2017, selain membahas problematika wakaf seperti yang telah disebutkan di atas, para delegasi pondok pesantren se Jawa Madura juga akan membahas beberapa isu kontemporer yang faktual, diantaranya adalah mengenai investasi dana haji di Kementrian Agama.

Dalam permasalahan tersebut akan dibahas apakah status uang setorang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) kepada BKPH Kementrian Agama? ataukah sebatas Wadiah (titipan) atau Wakalah (perwakilan)?. Apabila dikatakan Wakalah yang memiliki kelonggaran hukum lebih luas, bolehkah pihak BPKH menginvestasikan uang tersebut, mislakan dalam pembangunan infrastruktur?. Dan sebatas mana izin dari Calon Jamaah Haji dapat dipertimbangkan dalam kasus ini?. Semua pertanyaan tersebut menjadi fokus pembahasan di Komisi A FMPP ke-31 ini.

Selain terkait permasalahan-permasalahn faktual tersebut di atas, forum diskusi FMPP ke-31 di komisi A juga akan membahas mengenai hukum bergabung dalam mitra Paytren, cara memakamkan mayat di kuburan berair, hukum mengambil ikan lele yang hilang akibat banjir, kejelasan pemahaman tentang Udzur ‘Am di zaman masa kini, serta ketidakjelasan penjual dalam transaksi bisnis online.

[Untuk Deskripsi soal lengkap Bahtsul Masail FMPP XXXI Komisi A bisa didownload pada link di bawah ini]

-Download Materi Komisi A-

 

 

FMPP Se Jawa Madura ke-31

Perubahan dinamika kehidupan akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Hal ini akan berbanding lurus dengan munculnya berbagai fenomena aktual yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat. Sebagai instrumen baru dalam tatanan kehidupan, isu-isu tersebut selalu memerlukan sentuhan dan kejelasan hukum terutama dalam tinjauan syariat Islam.

Adalah Bahtsul Masail, sebuah wahana kajian ilmiah ala santri menjadi salah satu upaya responsif pesantren yang selalu hadir dalam memberikan jawaban atas problematika tersebut. Bahkan sudah menjadi realita yang tidak terbantahkan, peranan Bahtsul Masail dalam memberikan solusi terhadap problematika aktual yang muncul di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diragukan lagi. Berbagai isu pun dibahas di dalamnya, mulai dari masalah yang berkaitan dengan ibadah, mu’amalah, interaksi sosial, bahkan isu-isu kenegaraan.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan, pondok pesantren mempunyai tanggung jawab moral untuk berpartisispasi dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan tersebut. Maka dari itu, Bahtsul Masail sebagai tradisi intelektual sudah sejak lama dikembangkan di kalangan pesantren. Bahkan, sebelum Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) berdiri, tradisi halaqoh dan musyawarah yang menjadi cikal bakal lahirnnya forum Bahtsul Masail sudah mendarah daging di pesantren sejak dulu.

Sehingga, sikap kritis, tanggap, dan tanggung jawab terhadap berbagai permasalahan umat yang ditunjukkan oleh pesantren dalam suatu forum Bahtsul Masail tersebut perlu untuk diapresiasi. Terlebih lagi, apabila sistem tersebut tidak sebatas hanya dalam internal pesantren tertentu saja. Namun, mencakup jaringan berbagai pesantren dalam suatu wilayah tertentu. Karena dengan begitu, adanya forum Bahtsul Masail bukan hanya sebatas memecahkan masalah. Melainkan menjadi sebuah ajang silaturrahim untuk mempererat hubungan antar pesantren. Langkah nyata dalam konteks tersebut adalah adanya Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se Jawa Madura dan segala bentuk program dan aktivitasnya.

Sejak pertama kali didirikan, Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) telah melaksanakan program Bahtsul Masail yang diagendakan di setiap tahunnya. Dan pada tahun ini, ajang diskusi yang paling bergengsi di dunia pesantren tersebut akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Salaf Sulaiman, Sukorejo, Gandusari, Trenggalek, Jawa Timur.

FMPP se Jawa Madura yang ke-31 tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 28-29 Muharram 1439 H / 18-19 oktober 2017. Sesuai perkiraan panitia, FMPP tahun ini akan dihadiri sekitar lebih dari 300 santri delegasi dari berbagai pesantren se Jawa Madura. Dari jumlah itu, mereka akan terbagi ke dalam 3 komisi yang memiliki soal pembahasan yang berbeda, yaitu:

 [Komisi A]

Investasi Dana Haji untuk Infrastruktur

Hukum Paytren dalam Tinjauan Fikih Muamalah

Mengubah Status Wakaf Musholla Menjadi Masjid

Cara Memakamkan di Kuburan Berair

Ikan Lele Hilang Akibat Banjir

Ketidakjelasan Penjual Obat

Kejelasan Tentang Udzur ‘Am di Zaman Masa Kini

-Download Materi Komisi A-

[Komisi B]

PERPPU Pembubaran Ormas

Legalitas Amil Zakat Tradisional

Fenomena Jemuran di Pesantren

Hutang Dibayar Hasil Panen

Standart Harga dalam Menghitung Zakat Tijarah

Melepas Hewan Peliharaan Berujung Meresahkan

Dilema Jalan Tol

-Download Materi Komisi B-

[Komisi C]

Kejahatan Saracen

Pencekalan Dai

Membantu Ibadah Orang Tua yang Sakit

Melepas Tanggung Jawab Barang yang Tidak Sesuai Spesifikasi

Menjawab Ucapan Salam yang Berulang-ulang

Memburu Belalang

Problematiaka Orang Yang Istihadhoh

-Download Materi Komisi C-

 

Keputusan Bahtsul Masail FMPP ke-30

LirboyoNet, Cirebon – Bahtsul Masail ke-30 yang diselenggarakan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa Madura di Pondok Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, berakhir sudah. Kegiatan yang digelar sejak Kamis-Sabtu, 20-21 Muharram/21-22 Oktober, kemarin resmi ditutup.

Forum yang mencoba menjawab permasalahan kekinian dari sudut pandang hukum agama ini, kali ini banyak mengangkat isu nasional. Mulai dari soal pengampunan pajak (Tax Amnesty) hingga status tanah hasil reklamasi.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Untuk mendownload hasil keputusannya, silahkan klik tautan KOMISI di bawah ini.

KOMISI A

1. Implementasi Resolusi Jihad di Era Post Modern
2. Hukum Laundry Pakaian
3. Piagam Madinah Sebagai Konstitusi Negara Untuk Masyarakat Plural
4. Ancaman Limbah Pabrik
5. Hukum Pokemon Go

KOMISI B

1. Menggugat Perda Syariat
2. ‘Kekerasan’ Terhadap Murid (Gegeran Guru Mencubit Murid)
3. Bermazhab Secara Manhaji

KOMISI C

1. Hukum Tax Amnesty
2. Fasilitas Wi-fi di Masjid
3. Hukum Proyek Reklamasi Pantai Utara Jakarta
4. Memperingati Hari Kemerdekaan (17 Agustus) dengan Pesta Pora/Hura-hura

KOMISI D

1. Hukum Mempekerjakan Buruh Asing
2. Hukum Ekspor Bahan Baku/Mentah
3. Hukum Melepas/Mencabut Status Kewarganegaraan Teroris

Diskusi Film Jalan Dakwah Pesantren

LirboyoNet, Cirebon – Semalam (20/10/2016), Panitia Bahtsul Masa’il XXX, Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) Se-Jawa dan Madura, dalam rangka turut serta memperingati Hari Santri Nasional, menggelar pemutaran dan diskusi film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Pemutaran film menggunakan 2 layar tancep, dengan lokasi yang agak berjauhan untuk santri putra dan santri putri. Pemutaran dan diskusi ini dihadiri lebih dari 4.000 santri putra dan putri dan tentunya juga oleh warga sekitar pesantren. Jumlah ini adalah setengah dari total keseluruhan santri putra dan putri pesantren Babakan yang berjumlah lebih dari 11.000 santri.

Secara singkat, film tersebut mencoba meyakinkan para penonton bahwa betapa Indonesia memiliki sebuah lembaga pendidikan dengan sejarah panjang. Berabad telah dilewati, banyak peristiwa dihadapi, dari perubahan ke perubahan-pun telah dijalani. Lembaga pendidikan itu berciri khas keagamaan, tapi di sisi lain juga lekat dengan lokalitas dengan beragam tradisi dan budaya. Ia selalu berdialog dengan keadaan dan telah menjadi bagian dari peradaban dunia. Ia adalah “Pondok Pesantren” nama popular lembaga pendidikan yang dimaksud. Pondok Pesantren menjadikan adagium “Melestarikan tradisi yang baik dan mengambil kebaruan yang lebih baik”, sebagai metode untuk terus hidup, berkembang dan bermanfaat. Maka tidak aneh, jika dalam perjalanannya, pesantren, dari satu sisi kuat dengan tradisi, tapi di sisi lain terus berinovasi. Tak aneh pula, jika pesantren tampak terlihat melingkupi banyak lini kehidupan, dari keagamaaan hingga kesenian, dari kemasyarakatan hingga berbangsa.

Film ini sangat menarik bukan hanya karena banyaknya pihak yang dilibatkan, mulai pesantren-pesantren, kiai-kiai, santri, peneliti, sejarahwan dan tentunya orang-orang dibalik layarnya, tetapi juga karena harapan dan semangat yang terkandung di dalamnya. Mulai semangat menjalin “ukhuwah islamiyah” (persaudaraan sesama umat muslim), “ukhuwah wathaniyah” (persaudaraan sesama warga bangsa), hingga “ukhuwah insaniyah” (persaudaraan sesama umat manusia).

“Karena citra pesantren sebagai suatu tempat mencari ilmu, menempa diri, dialog membangun masyarakat beradab, berkebudayaan, itu sudah semakin luntur dimata masyarakat luas. Saya berharap, film ini menjadi jendela kecil bagi orang yang ingin melihat pesantren dalam artian yang lebih luas,” ungkap salah seorang produsernya, Hamzah Sahal, dalam diskusi selepas nonton bareng.

Sampai hari ini memang film tersebut belum bisa kita nikmati secara luas, karena memang belum tersebar didunia maya. Jika anda bertanya kenapa, direktur film, Yuda Kurniawan berkomentar, “Secara pribadi saya bingung harus jawab apa. Karena, disisi lain, saya juga merasa sedih. Sebegitu parahkah minat mengapresiasi sebuah film di sebagian penonton kita? Ataukah Youtube sudah merubah semua budaya menonton kita menjadi sangat individualistik, menonton sendiri-sendiri di gadget, di laptop, nonton di kamar, di mobil, di commuterline bahkan di toilet. Tak ada lagi ruang interaktif, tak ada lagi ruang berdiskusi, bertukar pikiran dan gagasan, semuanya serba sendiri-sendiri. Dan ketika pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan, saya selalu menjawab, ’Tunggu saja, sampai dititik dimana kami lelah memutarkan keliling film ini’.”][

Hari Santri, Pesantren se-Jawa-Madura Berbahtsul Masail di Cirebon

LirboyoNet, Kediri — Ratusan santri dari 41 pondok pesantren se-Jawa Timur berkumpul di pondok pesantren Lirboyo, Kamis pagi (20/10/16).  Rencananya, mereka akan berangkat bersama-sama ke Pesantren Babakan, Ciwaringin, Jawa Barat. Jauh-jauh ke sana, untuk apa?

Dengan diantar tiga bus, mereka akan mengikuti Bahtsul Masail ke-30 yang diselenggarakan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa Madura. Rincinya, bahtsul masail dilaksanakan pada Jum’at-Sabtu, 20-21 Muharram/21-22 Oktober.

Bukan kebetulan jika agenda bahtsul masail ini bertepatan dengan Hari Santri Nasional (22 Oktober). Karena, sebagaimana yang diberitakan radarcirebon.com,  selain bahtsul masail, panitia telah menyiapkan beberapa agenda bagi para peserta. Diantaranya, pemutaran film “Jalan Dakwah Pesantren” dan halaqah kebangsaan.

Demam “pesantren dan nasionalisme” memang sangat kentara dalam agenda FMPP kali ini. Ketua panitia, KH. Arwani Syaerozi menyatakan, dalam kesempatan ini, banyak isu nasional yang menjadi tema masalah untuk dirumuskan nantinya oleh para peserta. Diantaranya, “Implementasi Resolusi Jihad di Era Post Modern”, “Piagam Madinah sebagai Konstitusi Negara untuk Masyarakat Plural”, dan “Menggugat Perda Syariat”. Materi soal yang akan dibahas selengkapnya bisa didownload di link ini.

Terlepas dari apapun yang dihasilkan nanti, forum ini adalah usaha untuk mencari dan menemukan rumusan intelektual atas studi kasus terkini, dari tema politik (siyasah), tema global (mashlahah ‘ammah), hingga sosial (ijtima’iyah) semisal . Tentu saja, konsep rumusan ini memiliki jangkauan superluas, karena fikih memang sebuah ranah yang tak akan habis dan mentok untuk dikaji. Karenanya pula, santri, yang notabene hari-harinya ditenggelamkan oleh kajian fikih, menanggung sebuah peran berat: mentransformasi nilai-nilai fikih itu dalam tema-tema yang tak berhenti berkembang di dalam masyarakat.][