Tag Archives: Iman dan Islam

Iman itu Ketenangan Jiwa

Hidayah berupa iman yang Allah swt. anugerahkan kepada kita adalah sebuah kenikmatan yang terbesar. Iman merupakan tiket dan syarat pertama diterimanya sebuah amal. Tanpa iman, amal hanya terkatung-katung tak diterima. Seperti halnya amalnya orang-orang kafir, karena mereka tak memenuhi persyaratan, kebaikan yang mereka perbuat hanya dibalas di dunia.

Orang-orang kafir Quraisy, meskipun pada akhirnya kebanyakan dari mereka beriman, namun untuk mencapainya, beliau Nabi SAW. sungguh telah mengerahkan segala upayanya lahir-batin (sesuai dengan kadar kekuatan kenabian tentunya). Sudah jamak kita tahu, kaum padang pasir yang beliau hadapi merupakan kelompok orang keras kepala. Mereka mempunyai sifat fanatik dan loyalitas kesukuan yang tinggi.

Sudah bermacam mukjizat yang beliau tampakkan agar mereka mau beriman. Nyatanya, bermacam alasan pula mereka menolaknya. Suatu saat, mereka dengan kejam menuduh Nabi tukang sihir. Di kesempatan lain, mereka menyebut Alquran hanyalah karangan Nabi sendiri.

Sebenarnya, dari sudut alasan yang mereka sampaikan, setidaknya sudah menggambarkan kebingungan mereka mencari-cari alasan yang tepat untuk menolak kebenaran Nabi Muhammad saw. Mereka tidak mau mengakui sebab bermacam pertimbangan pribadinya. Mereka takut kehilangan pengaruh  di tengah kaumnya. Sebenarnya, mereka sangat tahu siapa sebenarnya Muhammad itu, bahkan lebih mengenalnya ketimbang mengenal anak mereka sendiri (periksa Q.S. Al-Baqarah:146).

Suatu ketika, mereka meminta Nabi untuk berdoa kepada Allah supaya menjadikan gunung Shafa layaknya tumpukan emas. Mereka membanding-bandingkan Nabi Muhammad dengan kisah nabi-nabi sebelumnya. Saat nabi hendak berdoa, tiba-tiba Jibril datang seraya menegur, “Jika kau menghendaki apa yang mereka inginkan,  itu mudah. Namun ingat, jika setelah itu mereka tidak mau beriman, sungguh Allah akan mengadzab mereka. Tapi kalau kau mengacuhkan permintaan mereka, maka Allah akan menerima taubat (masuk islam) sebagian dari mereka.”

Di sini terlihat betapa sayangnya beliau terhadap umatnya. Nabi dengan belas kasihnya mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengacuhkan mereka, berharap sebagian dari mereka kelak beriman.

Iman adalah sebuah kebahagiaan dan ketenangan dalam pengakuan terhadap suatu hal. Sebaliknya, kufur adalah kegelisahan, kebingungan, perasaan tidak tenang. Dalam Alquran, Allah swt. memberikan sebuah perumpamaan mengenai kondisi batin orang beriman (islam) dan kafir:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (Q.S al-Maidah 125).

Kelapangan dada yang dimaksud, sesuai dengan penjelasan beliau Nabi saw adalah disematkannya cahaya (keimanan)  yang akan dirasakan oleh pemiliknya berupa kelapangan hati, perasaan dalam hati, selanjutnya hal ini akan mendorongnya untuk terus meningkatkan kwalitas imannya.

Sedangkan ketika ditanya mengenai ciri-ciri orang yang bersifat demikian ini, beliau menerangkan bahwa mereka adalah orang yang berusaha meninggalkan jalan kesesatan, dan beralih memperjuangkan jalan hidup keabadian, serta selalu menyiapkan diri untuk menyambut kematian.

Sayyidina Umar R.A. bertanya kepada seseorang tentang apa yang di kehendaki dengan sesak (haraj) pada ayat ini. Oleh beliau kemudian dijawab bahwa yang dimaksud haraj adalah seperti rerimbunan pohon nan lebat yang tidak bisa dilewati. Setelah itu beliau menimpali, “demikian itulah keadaan hati orang munafik, takkan pernah bisa kebaikan untuk menjelajahinya.”

Sungguh, betapapun keimanan sudah tertanam dalam hati,di zaman yang putih dan hitam sama-sama samar untuk dilihat, selayaknya kita selalu mewawas diri dengan senantiasa menyusuri keadaan lubuk hati, mendeteksi penyakit yang ada dan mencoba menyembuhkannya.

 

 

 

 

Agama Sebagai Pilihan Hidup

Iman adalah hasil dari proses panjang sebuah pemikiran, ibaratnya kita akan percaya dan meyakini ada dan terjadinya sebuah perkara, dengan sebab kita mengatahuinya, jadi seseorang harus mengetahui dulu apa yang akan ia percayai sebelum beranjak meyakini dan membenarkan (tashdiq), dalam konsep ketuhanananpun demikian.

Akan tetapi,bukanlah jaminan keimanan bagi orang yang telah mengetahui sebuah dalil ketuhanan, sebab iman atau hidayah merupakan hak prerogatif Tuhan, bahkan nabipun tak banyak bisa berbuat. Contohnya, orang-orang kafir pada zaman Nabi Saw. meraka tahu betul siapa Nabi itu, mereka meyakini bahwa beliau benar-benar seorang utusan, nyatanya tidak tumbuh rasa iman di hati mereka.

Sebagian ulama mengelompokkan Iman dalam 3 pembagian, sesuai dengan pasang-surutnya:

Pertama, iman yang selalu bertambah dan tak bisa berkurang,yakni imannya para Nabi.Kedua, iman yang tidak bertambah dan tidak berkurang, kriteria imannya Malaikat.Ketiga, iman yang bisa bertambah dan bisa berkurang, imannya orang mukmin.

Meski keyakinan yang timbul sebab ikut-ikutan (taqlid)  terkadang Sesuai dengan kenyataan Tapi keyakinan orang yang demikian ini sangat rentan untuk di tumbangkan hanya dengan semisal memberikan sedikit pengertian yang bertentangan dengan apa yang ia ketahui.

Dalam ranah keimanan kepada Allah Swt secara umum (ijmaly), dalam I’tiqad ahlussunah wal jama’ah (ASWAJA) setiap mukallaf ( baligh dan berakal)  wajib meyakini sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi-Nya, sehingga ia harus :

  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt pasti bersifat dengan segala kesempurnaan (sifat wajib 20) yang layak bagi sifat keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt mustahil bersifat dengan segala sifat kekurangan (sifat mustahil 20) yang tak layak bagi keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah Swt boleh saja melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz (mumkin) seperti menghidupkan manusia atau membinasakannya.

Selain itu seorang mukallaf juga wajib meyakini secara terperinci (tafshily) sifat wajib yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnan-Nya (sifat asasiyah kamaliyah) sebagai Tuhan, sifat mustahil dan sifat jaiz.

Yang di kehendaki dengan dalil tafshili yakni ketika semisal seseorang di tanya;           ” apa bukti Tuhan itu ada ?” ia mampu menjawab ”bukti adanya Tuhan yakni alam ini. ” ketika si penanya masih mengejarnya dengan pertanyaan ” alam menjadi bukti adanya Tuhan dari sisi masih mungkinnya ia akan wujud atau sesudah ia wujud dari yang sebelumnya tidak ada ”, ia pun masih bisa menjawab. Sedangkan ketika jawabannya hanya sebatas ” bukti adanya Tuhan yakni alam ini ” saja, maka itulah yang disebut dalil ijmaly

orang-orang yang mengekor (taqlid) dalam keimanan, yakni keyakinan yang tumbuh tanpa di dasari pengetahuan sebuah dalil entah itu dalil ijmali (umum) atau dalil tafshili (perinci), dan yang demikian ini merupan iman kebanyakan umat islam, dalam penyestatusannya ulama tejadi perbedaan;

pertama, pendapat mayoritas ulama, mereka di hukumi mukmin, hanya saja mereka berdosa, sebab tidak mau berangan-angan terhadap dalil ketuhanan. Pendapat kedua, mereka dihukumi mukmin dan berdosa jikalau mereka mampu untuk berangan-angan dalil namun tak mau, apabila memang tidak mampu maka tidak dihukumi berdosa. Ketiga, yang paling ekstrim, mereka di hukumi kafir,sebab menurut pendapat ini, berfikir akan dalil keiminan merupakan hukum asal, artinya seseorang tidak cukup hanya sekadar ikut-ikutan (taqlid).

Perlu diketahui, bahwa hukum beriman atau tidaknya seseorang dalam pengelompokan ini merupakan hukum di akhirat kelak, sehingga selagi orang itu bersyahadat, ulama sepakat bahwa ia di hukumi muslim.

Pada akhirnya, daripada status iman kita masih di perselisihkan, marilah luangkan waktu untuk memikirkan  sifat-sifatNya, menyelami KalamNya yang tak bertepi, sehingga keimanan menjadi kukuh, tak mudah goyah, menjadikan islam memang benar-benar pilihan hidup, bukan karena tumbuh dan tercetak dari lingkungan, apalagi warisan.

Iman dan Islam dalam Perspektif Ihya’ Ulumuddin

Banyak ulama berupaya melakukan kajian objektif mengenai maksud kata iman dan islam. Apakah keduanya memiliki makna yang sama? Ataukah justru keduanya berbeda? Salah satu ulama yang mencobanya adalah Syaikh Abu Thȃlib Al-Maky. Namun kajian iman dan islam Syaikh Abu Thȃlib ini menuai kritik dari Hujjatul Islam Imam Abu Hȃmid Al-Ghazali, karena dinilai terlalu berbelit-belit dan justru membingungkan. Berangkat dari situ, Imam Ghazali membuat sebuah kajian yang lebih runtut dan sederhana difahami, versi beliau.

Imam Al-Ghazali dalam masterpiecenya, Ihya Ulumuddin menambahkan satu pasal khusus yang panjang lebar menjelaskan tentang iman dan islam. Dalam Kitab ‘Aqaid (Salah satu bagian dari kitab Ihya Ulumuddin) pasal tersebut disisipkan. Kajian beliau meliputi makna iman dan islam yang dikaji dari tiga aspek. Aspek bahasa, tafsir, dan kacamata fiqh.

Dari sisi bahasa, iman jika diartikan adalah tashdiq, yang artinya membenarkan. Sedangkan islam, adalah bentuk Arab dari kata pasrah, dan memasrahkan diri dengan cara tunduk, patuh, tidak membangkang, dan lain sebagainya.

والحق فيه أن الإيمان عبارة عن التصديق قال الله تعالى وما أنت بمؤمن لنا أي بمصدق والإسلام عبارة عن التسليم والاستسلام بالإذعان والانقياد وترك التمرد والإباء والعناد

“Pada kenyataannya, iman memiliki arti tashdiq (membenarkan), Allah SWT berfirman وما أنت بمؤمن لنا (Artinya: ‘Engkau tidaklah membenarkan-Ku’). Sedangkan islam artinya adalah taslim (pasrah) dan istislam (memasrahkan diri)”[1]

Tentu saja ini membuahkan kesimpulan, kalau dari segi kajian bahasa, islam dan iman tidaklah sama. Iman cenderung pada masalah keyakinan, masalah hati. Sementara islam adalah masalah pasrah lahiriyah, masalah anggota luar. Demikian Imam Al-Ghazali membahasakan.

Dari sisi tafsir dan penggunaan oleh syari’at (kata iman dan islam yang ditemukan dalam naskah Alquran dan hadis), beliau menguraikan benang simpul bahwa baik kata iman maupun islam memang kadang ditemukan dalam makna yang sama persis, dan kadang justru berbeda jauh maknanya.

والحق فيه أن الشرع قد ورد باستعمالهما على سبيل الترادف والتوارد وورد على سبيل الاختلاف وورد على سبيل التداخل

Pada kenyataannya, syari’at terkadang menggunakan kata iman dan islam dalam satu makna, berbeda makna, dan kadang dengan makna yang saling terjalin. [2]

Sulit dan tidak bisa disimpulkan begitu saja, menurut beliau, kalau iman dan islam adalah semakna dalam hal ini. Oleh karena hal ini, beliau menolak mentah-mentah pendapat kaum Mu’tazilah dulu yang langsung mengklaim kalau iman dan islam adalah semakna. Pemahaman yang salah dari mu’tazilah ini memunculkan kesimpulan yang salah pula kalau orang yang melakukan dosa besar tidak bisa dikatakan beriman mnurut mereka.

Tendensi yang dilampirkan Imam Al-Ghazali untuk melengkapi kesimpulan beliau adalah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Ibn ‘Umar RA, hadis islam terbangun dari lima perkara (بُنِيَ الْإِسْلَامُ على خمس), yaitu syahadat, salat, puasa, zakat, serta menunaikan ibadah haji. Karena pada kesempatan yang lain, Nabi Muhammad SAW pernah menjawab dengan kelima hal tersebut dikala seseorang datang menemui beliau dan bertanya tentang apakah itu iman.[3] Kedua hadis ini jika digabungkan akan menghasilkan kesimpulan kalau iman dan islam memiliki makna penafsiran yang sama persis.

Lalu jelas disebutkan dalam Alquran,

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ  [الحجرات: 14

Orang-orang Arab Badui berkata ‘Kami telah beriman’, katakanlah ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah kalian, ‘Kami telah masuk islam’ dan iman belumlah masuk kedalam hati kalian. ’ “(QS. Al-Hujurat; 14)

Ayat ini dengan gamblang menunjukkan kalau iman dan islam jelas memiliki makna penafsiran yang jauh berbeda.

Kemudian hadis yang menjadi dalil kalau iman dan islam memiliki makna yang terjalin satu sama lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

أنه سئل فقيل أّيّ الأعمال أفضل فقال صلّى الله عليه وسلّم الإسلام فقال أيّ الإسلام أفضل فقال صلّى الله عليه وسلم الإيمان. رواه أحمد

Nabi pernah ditanyai, ‘Amalan manakah yang paling utama?’ Nabi menjawab, ‘Islam’ Lalu orang tadi kembali bertanya, ‘Islam manakah yang palin utama?’ Nabi menjawab, ‘Iman’ ”(HR. Ahmad)

Maksudnya adalah, iman merupakan bagian penting dari islam. Tapi keduanya bukanlah hal yang sama.

Menanggapi penafsirannya yang berbeda-beda, Imam Al-Ghazali mencoba mempertegas, bahwa pemakaian kata iman dan islam secara bersamaan tidak akan lepas dari penggunaan majaz. Kalau iman dan islam sedang diartikan sebagai sesuatu yang berbeda, berarti islam diposisikan sebagai tashdiq bil qolbi, bahasa hati yang percaya akan kehadiran-Nya, dan islam diposisikan sebagai taslimnya anggota lahiriyah seseorang. Atau jika iman dan islam sedang ditafsirkan sebagai dua hal yang sama, maka iman kita letakkan tidak hanya sebagai porsi pasrahnya anggota lahiriyah saja, tapi juga anggota batin (hati). Penafsiaran yang lebih sesuai jika dikaitkan dengan penggunaan bahasa menurut Imam Al-Ghazali sebenarnya adalah penafsiran terakhir.

وهو أوفق الاستعمالات في اللغة لأن الإيمان عمل من الأعمال وهو أفضلها والإسلام هو تسليم إما بالقلب وإما باللسان وإما بالجوارح وأفضلها الذي بالقلب وهو التصديق الذي يسمى إيماناً

Penafsiran bahwa iman dan islam adalah dua hal yang saling terkait adalah penafsiran yang paling sesuai jika ditinjau dari sudut bahasa.  Karena pada dasarnya, iman merupakan bagian dari amalan –Amalan paling utama adalah iman-. Sedangkan islam jika diterjemahkan adalah memasrahkan diri, entah dengan hati, lisan, atau anggota badan lain. Dan upaya memasrahkan diri yang terbaik adalah dengan hati. Hal ini juga disebut sebagai tashdiq, kata lain dari bahasa ‘iman’.[4]

Imam Al-Ghazali tidak menjelaskan dengan spesifik, karena iman terkadang maksudnya adalah islam, dan sebaliknya. Atau terkadang ditemukan penafisran, jika iman dan islam artinya jauh berbeda.

Bersambung, Insya Allah…

 

[1] Ihya Ulumuddin 108/1 Darul Fikr.

[2] Ibid

[3] Lihat Sunan Al-Baihaqi bab I’tiqad. Hais ini diriwayatkan oleh sahabat Ibn ‘Abbas RA.

[4] Ihya Ulumuddin 109/1 Darul Fikr.