HomeAngkringIman itu Ketenangan Jiwa

Iman itu Ketenangan Jiwa

0 1 likes 181 views share

Hidayah berupa iman yang Allah swt. anugerahkan kepada kita adalah sebuah kenikmatan yang terbesar. Iman merupakan tiket dan syarat pertama diterimanya sebuah amal. Tanpa iman, amal hanya terkatung-katung tak diterima. Seperti halnya amalnya orang-orang kafir, karena mereka tak memenuhi persyaratan, kebaikan yang mereka perbuat hanya dibalas di dunia.

Orang-orang kafir Quraisy, meskipun pada akhirnya kebanyakan dari mereka beriman, namun untuk mencapainya, beliau Nabi SAW. sungguh telah mengerahkan segala upayanya lahir-batin (sesuai dengan kadar kekuatan kenabian tentunya). Sudah jamak kita tahu, kaum padang pasir yang beliau hadapi merupakan kelompok orang keras kepala. Mereka mempunyai sifat fanatik dan loyalitas kesukuan yang tinggi.

Sudah bermacam mukjizat yang beliau tampakkan agar mereka mau beriman. Nyatanya, bermacam alasan pula mereka menolaknya. Suatu saat, mereka dengan kejam menuduh Nabi tukang sihir. Di kesempatan lain, mereka menyebut Alquran hanyalah karangan Nabi sendiri.

Sebenarnya, dari sudut alasan yang mereka sampaikan, setidaknya sudah menggambarkan kebingungan mereka mencari-cari alasan yang tepat untuk menolak kebenaran Nabi Muhammad saw. Mereka tidak mau mengakui sebab bermacam pertimbangan pribadinya. Mereka takut kehilangan pengaruh  di tengah kaumnya. Sebenarnya, mereka sangat tahu siapa sebenarnya Muhammad itu, bahkan lebih mengenalnya ketimbang mengenal anak mereka sendiri (periksa Q.S. Al-Baqarah:146).

Suatu ketika, mereka meminta Nabi untuk berdoa kepada Allah supaya menjadikan gunung Shafa layaknya tumpukan emas. Mereka membanding-bandingkan Nabi Muhammad dengan kisah nabi-nabi sebelumnya. Saat nabi hendak berdoa, tiba-tiba Jibril datang seraya menegur, “Jika kau menghendaki apa yang mereka inginkan,  itu mudah. Namun ingat, jika setelah itu mereka tidak mau beriman, sungguh Allah akan mengadzab mereka. Tapi kalau kau mengacuhkan permintaan mereka, maka Allah akan menerima taubat (masuk islam) sebagian dari mereka.”

Di sini terlihat betapa sayangnya beliau terhadap umatnya. Nabi dengan belas kasihnya mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengacuhkan mereka, berharap sebagian dari mereka kelak beriman.

Iman adalah sebuah kebahagiaan dan ketenangan dalam pengakuan terhadap suatu hal. Sebaliknya, kufur adalah kegelisahan, kebingungan, perasaan tidak tenang. Dalam Alquran, Allah swt. memberikan sebuah perumpamaan mengenai kondisi batin orang beriman (islam) dan kafir:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (Q.S al-Maidah 125).

Kelapangan dada yang dimaksud, sesuai dengan penjelasan beliau Nabi saw adalah disematkannya cahaya (keimanan)  yang akan dirasakan oleh pemiliknya berupa kelapangan hati, perasaan dalam hati, selanjutnya hal ini akan mendorongnya untuk terus meningkatkan kwalitas imannya.

Sedangkan ketika ditanya mengenai ciri-ciri orang yang bersifat demikian ini, beliau menerangkan bahwa mereka adalah orang yang berusaha meninggalkan jalan kesesatan, dan beralih memperjuangkan jalan hidup keabadian, serta selalu menyiapkan diri untuk menyambut kematian.

Sayyidina Umar R.A. bertanya kepada seseorang tentang apa yang di kehendaki dengan sesak (haraj) pada ayat ini. Oleh beliau kemudian dijawab bahwa yang dimaksud haraj adalah seperti rerimbunan pohon nan lebat yang tidak bisa dilewati. Setelah itu beliau menimpali, “demikian itulah keadaan hati orang munafik, takkan pernah bisa kebaikan untuk menjelajahinya.”

Sungguh, betapapun keimanan sudah tertanam dalam hati,di zaman yang putih dan hitam sama-sama samar untuk dilihat, selayaknya kita selalu mewawas diri dengan senantiasa menyusuri keadaan lubuk hati, mendeteksi penyakit yang ada dan mencoba menyembuhkannya.