Tepat pada tanggal 22 Oktober, peran santri dan kiai divalidasi serta diabadikan dalam sejarah bangsa dengan sebutan Hari Santri Nasional. Hal ini wajar, sebab para santri telah turut serta menyalurkan tenaga, pikiran, dan pengorbanan untuk mempertahankan serta memajukan negara.
Para santri dididik dengan kedisiplinan tinggi dan adab yang mulia. Meskipun santri identik dengan aktivitas keagamaan, namun justru agamalah yang mengajarkan untuk mencintai tanah air. Sebagaimana ungkapan yang tak asing lagi didengar:
“حب الوطن من الإيمان“
“Mencintai tanah air adalah bagian dari iman.”
Ketika tanah air terancam oleh penjajah, agama menuntut setiap individu untuk memeranginya. Hal ini terbukti dari perjuangan para guru dan santri terdahulu yang memberikan pengaruh besar dalam peristiwa Resolusi Jihad, demi kemerdekaan Indonesia seutuhnya.
Baca juga: Sejak Dini, Menanamkan Akhlak Sang Buah Hati
Jejak Santri Sejak Zaman Nabi
Identitas santri bukan hanya fenomena modern. Bahkan sejak zaman Rasulullah SAW, sudah tampak wujud “santri” sejati, sebagaimana Sayyidina Ali bin Abi Thalib, murid langsung baginda Nabi. Rasulullah bersabda:
“أنا مدينة العلم وعلي بابها“
“Aku adalah kota (pusatnya) ilmu, dan Ali adalah pintunya.”
Begitulah sanad keilmuan itu terus bersambung hingga kepada guru-guru kita hari ini. Maka patutlah kita mengagungkan pencapaian para leluhur santri yang telah menjaga kemurnian ilmu (bersanad) dan kehormatan akhlak.
Namun, pertanyaan penting muncul:
Apakah kita mampu melanjutkan perjuangan mereka?
Mungkinkan seratus tahun ke depan identitas santri tetap terjaga?
Ataukah perlahan hilang hanya dalam hitungan waktu?
Baca juga: Khutbah Jumat: Berakhlak Baik kepada Orang yang Buruk Akhlaknya
Dua Faktor Penjaga Eksistensi Santri
Untuk menjaga eksistensi santri di tengah perubahan zaman, ada dua faktor utama yang harus diperhatikan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor Internal (Pengaruh dari Dalam)
a. Meningkatkan kapasitas keilmuan.
Ilmu adalah fondasi primer bagi santri. Banyak imperium besar runtuh karena minimnya ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Dinasti Abbasiyah yang sempat mencapai masa keemasan (the golden age of Islam) di masa Harun ar-Rasyid, namun merosot drastis ketika dipimpin oleh Abu Ishaq al-Mustamim, seorang khalifah yang unggul dalam militer, tetapi lemah dalam keilmuan.
Karenanya, santri masa kini harus menjadi pribadi yang reformis, bukan sekadar intelektualis, apalagi primitif — ora ono nilai iku maujud.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.:
“إن الله لا يحب الشاب الفارغ“
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai pemuda yang hatinya kosong.”
Yang dimaksud dengan “hati kosong” ialah hati yang jauh dari cahaya ilmu. Maka menjadi reformis bukan berarti merevisi prinsip santri yang telah tertanam, melainkan mengembangkan dengan kapasitas ilmu yang lebih luas dan mendalam.
b. Menjaga ukhuwah basyariyyah.
Santri harus mampu menjaga persaudaraan kemanusiaan secara global, khususnya terhadap sesama santri, meskipun berbeda thariqah.
Begitu pula santri, tidak akan abadi identitasnya jika masyarakat di sekitarnya tidak memercayai visi dan misi mulianya.
2. Faktor Eksternal (Pengaruh dari Luar)
Faktor eksternal juga berpengaruh besar terhadap keberlangsungan suatu peradaban. Contohnya pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Islam sempat mencapai kejayaan. Namun pada tahun ke-12 Hijriah masa kepemimpinannya, terjadi keruntuhan akibat fitnah yang dipelopori Abdullah bin Saba’, hingga menewaskan beliau.
Demikian pula santri, harus mampu mengkondisikan lingkungan eksternal. Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam dan sering kali awam terhadap pesantren. Maka santri harus mampu berdakwah dengan bijak, tidak memicu kebencian, dan tetap sabar menghadapi perbedaan.
Seorang pendakwah ibarat orang yang menyeberangi lautan tanpa perahu — perlu keteguhan dan kesabaran luar biasa.
Imam al-Ghazali pernah mengingatkan:
“يسري الطبع من حيث لا يدري من صاحب الطبع“
“Tanpa disadari, karakter seseorang terbentuk dari karakter orang yang biasa menemaninya.”
(Mau‘idzhatul Mu’minin)
Karena itu, santri harus memilih teman dan lingkungan yang baik, agar tidak terseret oleh arus keburukan.
Penutup
Sudah saatnya kita, para santri, membangunkan alam bawah sadar untuk bangkit dari tidur panjang. Santri bukan pemuda berhati kosong — santri adalah penjaga cahaya ilmu dan akhlak, pewaris para nabi yang terus berjuang menyalakan iman di tengah zaman.
Oleh: Firmansyah: Penulis berasal dari Sukabumi, anggota HMC 44, kelas 3 Tsanawiyah tahun pelajaran 2025-2026.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





