Oleh: M. Kaisa Aqla (MA I-II)
Indonesia tengah menapaki jalan menuju Indonesia Emas 2045. Momen saat bangsa ini genap berusia satu abad. Namun, keberhasilan atau kegagalan cita-cita besar itu sangat bergantung pada tiga generasi yang kini menjadi penggerak utama perubahan:
Baca juga: Dimensi Ta’abbudi: Seni Tuhan Menguji Hamba-Nya
Generasi Millenial: Pondasi penggerak
Lahir antara 1981-1996, milenial kini menduduki posisi strategis di dunia kerja dan pemerintahan. Mereka adalah decision maker (orang yang memiliki tanggung jawab menentukan arah, strategi dan kebijakan) muda yang adaptif terhadap teknologi, namun juga memahami nilai-nilai kerja keras dan idealisme sosial.
Generasi Z: Inovator dan pengguncang sistem
Gen-Z lahir 1997-2012 tumbuh di tengah gempuran internet dan media sosial. Mereka kritis, kreatif dan haus akan perubahan. Di tengah mereka, isu keberlanjutan, keadilan sosial dan teknologi hijau menjadi sorotan utama.
Baca juga: Latar Belakang Berdirinya Sumpah Pemuda
Generasi Alpha: Harapan masa depan digital
Lahir setelah 2013-sekarang adalah generasi pertama yang terlahir di dunia yang sudah dikuasai oleh teknologi digital. Mereka belajar, bermain dengan berfikir dengan bantuan teknologi. Jika dibimbing dengan baik, mereka bisa menjadi generasi paling cerdas dalam sejarah bangsa.
Indonesia emas/cemas?
Jawabannya tergantung pada sinergi antar generasi. Milenial memberi arah, Gen-Z menyalakan ide dan Gen Alpha akan menuai hasilnya. Jika ketiganya mampu bekerjasama, saling belajar dan menanamkan nilai kejujuran, empati serta semangat inovasi—maka Indonesia 2045 bukan sekadar mimpi emas, melainkan kenyataan gemilang.
Namun jika terpecah oleh ego, disinformasi dan individualisme digital—maka “Indonesia Emas” bisa berubah menjadi “Indonesia Cemas”.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
