HomeSantri MenulisKebodohan yang Memisahkan

Kebodohan yang Memisahkan

Santri Menulis 0 1 likes 584 views share

Kita hidup kini di dalam jaringan dunia virtual (yang sesungguhnya), dan kehidupan seperti ini membuat kita menjadi sering frustrasi. Jika kita ingin sadar, begitu banyak orang-orang menghabiskan waktunya untuk hidup di beragam situs jaringan sosial: Facebook, Instagram, Whatsapp, Path, dan lain sebagainya. Orang-orang cenderung beranggapan mereka akan bahagia dan menemukan banyak hal pengetahuan hanya dengan mengerak-gerakkan jari-jari mereka. Lebih dari itu, situs-situs di media sosial kini menjadi media pendidikan utama yang paling banyak diminati bagi orang yang malas dalam belajar.

Dengan bantuan situs-situs di dunia virtual ini, orang-orang juga merasa didekatkan satu sama lain. Mereka merasa  dekat dengan teman dan keluarga, walaupun sebenarnya mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu. Kita juga sering melihat orang-orang berkumpul di suatu tempat  namun mereka sibuk dan asyik dengan teleponnya masing-masing. Itu pemandangan yang sangat menjengkelkan bagi kita. Mereka dekat, sekaligus jauh. Badan mereka di tempat yang sama. Namun, pikiran mereka terpisah ratusan, bahkan ribuan kilo meter.

Komunitas di dunia sehari-hari terpisah, ketika justru komunitas di dunia virtual tumbuh. Orang lebih nyaman dengan layar ponsel dan komputer dari pada dengan wajah temannya, atau keluarganya sendiri. Komunikasi pun semakin menjadi dangkal, karena terbatas pada beberapa potong kalimat di layar komputer ataupun telepon genggam yang kerap kali justru menciptakan kesalahpahaman. Gerak tubuh dan ekspresi wajah  yang merupakan bagian penting dari komunikasi di antara manusia, kini sudah tidak menarik lagi.

Situs-situs di dunia virtual ini, yang juga kita sebut sebagai jaringan sosial, adalah bentuk hubungan yang memisahkan. Orang akan menciptakan hubungan semu yang justru menghancurkan hubungan dengan sesama manusia, juga acapkali menjadikan hubungan antar manusia menjadi sedemikian dangkal dan sering sekali dipenuhi dengan kepalsuan dan kebohongan-kebohongan.

Yang tercipta kemudian adalah keterputusan koneksi antar manusia. Koneksi yang seharusnya terjalin dengna komunikasi verbal dan tatap muka digantikan dengan komunikasi palsu dan semu. Kadang-kadang ketidakpedulian tercipta. Orang akan lebih sibuk mengejar gosip terbaru daripada memikirkan tantangan-tantangan kehidupan bersama. Orang-orang bergeser dari hal-hal prinsipil dalam kehidupan bersama. Mereka menggiring diri mereka sendiri ke dalam ranah pembodohan dan pendangkalan dalam bentuk konsumsi tanpa batas. Dan pada akhirnya mereka akan mati dalam fikiran mereka sendiri.

Kita harus tahu, jika hal-hal tersebut terus berlanjut, masalah-masalah baru akan terus tercipta. Kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin di berbagai belahan kota akan menjadi semakin besar. Gerak korporasi rakus terhadap diri sendiri di negara kini solah tanpa kontrol. Tak terasa, umat manusia kini bergerak dengan gembira sekaligus bodoh menuju kehancurannya sendiri, tanpa mereka mau menyadari.

Ketika pola komunikasi antar manusia menjadi dangkal dan palsu, maka manusia-manusia yang berkembang dalam pola komunikasi semacam itu akan menjadi dangkal dan palsu juga. Maka dari itu, pola komunikasi yang ada pun harus diubah. Dalam konteks ramainya situs-situs jaringan sosial dengan pendangkalan serta pemalsuan informasi, kita perlu memutuskan diri dari semua itu, agar kita bisa membangun komunikasi yang sejati. Kita perlu memutus jaringan justru untuk membangun  jaringan yang sebenarnya.

Melepaskan diri dari jaringan sosial yang menipu dan mendangkalkan membuat kita berjarak dari keadaan. Jarak akan mendorong refleksi dan analisis yang lebih mendalam. Dari sini akan tercipta kebijaksanaan, dan kebijaksanaan membantu kita secara kritis memilah beragam informasi yang ada. Dengan begitu, kita akan mampu mengambil keputusan terbaik dari segala kemungkinan yang ada.

Pada akhirnya, bukankah hidup akan menjadi begitu hampa dan dangkal, jika kita isi dengan konsumsi tanpa batas dari berbagai berita-berita penuh kebohongan belaka yang membuat kita akan terjebak pada kebodohan didalam benak kepala kita sendiri.[]

Penulis: Ahmad Marzuqi, siswa kelas III Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadiin, asal Madura.