HomeArtikelJangan Ceramah Sambil Berteriak

Jangan Ceramah Sambil Berteriak

Artikel 0 11 likes 1.4K views share

Beredar pemahaman di kalangan kelompok masyarakat tertentu—yang selanjutnya berafiliasi membentuk kelompok islam garis keras—bahwa amar makruf nahi munkar berbeda dengan dakwah. Sehingga, mereka berasumsi bahwa dalil-dalil dakwah yang berisi ajakan dan seruan dengan cara hikmah, toleran, lembut, bijaksana, nasihat yang baik tidak bisa diterapkan dalam amar makruf nahi munkar. Dalam al-Qur’an, Allah swt. berfirman:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125)

Kelompok itu pun mengakui bahwa dakwah selayaknya dilakukan dengan hikmah sesuai ayat tersebut. Namun kerap kali dijumpai orasi dan ceramah dari golongan mereka dengan tensi nada yang tinggi sambil berteriak-teriak, bahkan sering pula dengan mencaci-maki. Mereka menganggap semua itu dalam rangka amar makruf nahi munkar maka yang menuntut sikap tegas dan keras. Kelompok ini berargumen menggunakan hadis Nabi:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

Ketika nabi berkhotbah, mata beliau memerah, suara beliau meninggi, amarah beliau meluap, sampai seolah-olah beliau adalah komandan angkatan perang.” (HR. Muslim)[1]

Dari kesimpulan mereka, terdapat beberapa kesalahpahaman dalam memahami dalil yang perlu diluruskan. Hadis tersebut dipotong sehingga sangat memungkinkan menimbulkan salah persepsi. Karena apabila diteruskan akan berbunyi:

يَقُوْلُ: بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى

Nabi berkata; jarak diutuskanya diriku dan hari kiamat seperti ini. Nabi berisyarat dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya.”[2]

Apabila dicermati bersama, dalil khotbah Nabi tersebut tidak ada kaitannya sedikit pun dengan amar makruf nahi munkar. Konteks dari hadis di atas adalah ketika Nabi saw. menjelaskan tentang hari kiamat. Sehingga tensi suara khotbah beliau sebagai bentuk isyarat atas gentingnya keadaan hari kiamat. Hal ini juga dibuktikan dengan hadis senada dengan riwayat lain yang berbunyi:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وًَجْنَتَاهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ وَعَلَا صَوْتُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

Saat Rasulullah saw. Menjelaskan hari kiamat, wajah beliau memerah, amarah beliau meluap, suara beliau meninggi, seolah-olah beliau adalah komandan angkatan perang.” (HR. Ibnu Hibban)[3]

Dengan demikian, penggunaan dalil khotbah Nabi sebagai pembenaran untuk ceramah yang berteriak-teriak dalam rangka amar makruf nahi munkar terkesan kurang ilmiah dan salah paham.

Adapun perkataan mereka bahwa dakwah dan amar makruf nahi munkar tidak memiliki kaitan adalah klaim sepihak tanpa dasar. Sebab apabila dipahami secara menyeluruh, dakwah dan amar makruf nahi munkar memiliki relasi yang sangat kuat. Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Taimiyah:

وَقَدْ تَبَيَّنَ بِذَلِكَ اَنَّ الدَّعْوَةَ نَفْسَهَا أَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ فَإِنَّ الدَّاعِيَ طَالِبٌ مُسْتَدْعٍ مُقْتَضٍ لِمَا دُعِيَ اِلَيْهِ وَذَلِكَ هُوَ الْأَمْرُ بِهِ

Maka sudah jelas bahwa esensi dakwah adalah memerintah kebaikan (amar makruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). Karena orang yang berdakwah pasti meminta, menyeru, dan menuntut pada apa yang ia ajak. Dan hal tersebut dinamakan perintah (amar).[4]

Dalam keterangan lain, pakar tafsir kenamaan, Imam Fakhruddin Ar-Razi, mengatakan dalam penafsirannya mengenai surat Ali Imran ayat 104:

اَلدَّعْوَةُ اِلَى الْخَيْرِ جِنْسٌ تَحْتَهُ نَوْعَانِ اَحَدُهُمَا التَّرْغِيْبُ فِيْ فِعْلِ مَا يَنْبَغِيْ وَهُوَ الْاَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالثَّانِي التَّرْغِيْبُ فِي تَرْكِ مَا لَا يَنْبَغِيْ وَهُوَ النَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Dakwah pada kebaikan merupakan pembagian yang di dalamnya mencakup dua hal. Pertama, seruan untuk melakukan kebaikan, ini dinamakan amar makruf. Kedua, seruan untuk meninggalkan keburukan, ini dinamakan nahi munkar.”[5]

[]waAllahu a’lam


[1] Shahih Muslim, vol. II hal. 592

[2] Ibid

[3] Shahih Ibn Hibban, vol. VII hal. 332

[4] Majmu’ Al-Fatawa, vol. XV hal. 166

[5] Tafsir Al-Kabir, vol. VIII hal. 146