Tiga Cara Meraih Khusyuk dalam Salat

Khusyuk merupakan ruh salat. Gerakan salat mungkin dapat dilakukan oleh banyak orang, tetapi menghadirkan hati di hadapan Allah adalah perkara yang tidak mudah. Karena itu, ketika Allah menyebut ciri orang-orang beriman yang beruntung, yang pertama kali disebutkan adalah:

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 2)

Para ulama menjelaskan bahwa khusyuk bukan sekadar ketenangan anggota badan, juga bukan semata-mata getaran hati. Khusyuk adalah perpaduan keduanya. Berikut adalah cara memperoleh khusuk dalam salat.

Baca juga: Inilah Tanda-Tanda Haji Mabrur

Apa itu khusuk?

Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa sebagian ulama memaknai khusyuk sebagai amalan hati seperti rasa takut dan tunduk. Sebagian lain memaknainya sebagai amalan anggota badan seperti diam dan tidak menoleh. Namun pendapat yang lebih kuat adalah menggabungkan keduanya.

Beliau menulis:

فَالْخَاشِعُ فِي صَلَاتِهِ لَا بُدَّ وَأَنْ يَحْصُلَ لَهُ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْقَلْبِ مِنَ الْأَفْعَالِ نِهَايَةُ الْخُضُوعِ وَالتَّذَلُّلِ لِلْمَعْبُودِ، وَمِنَ التُّرُوكِ أَنْ لَا يَكُونَ مُلْتَفِتَ الْخَاطِرِ إِلَى شَيْءٍ سِوَى التَّعْظِيمِ، وَمِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْجَوَارِحِ أَنْ يَكُونَ سَاكِنًا مُطْرِقًا نَاظِرًا إِلَى مَوْضِعِ سُجُودِهِ.

“Orang yang khusyuk dalam salat harus menghadirkan pada hatinya puncak ketundukan dan kerendahan diri kepada Zat yang disembah. Sedangkan pada anggota badannya tampak ketenangan, menundukkan pandangan, serta meninggalkan gerakan-gerakan yang tidak diperlukan.” (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb aw al-Tafsīr al-Kabīr, jil. 23 [Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāṡ al-‘Arabī, 1420 H], 259.)

Baca juga: Berdesakan Demi Mencium Hajar Aswad

1. Menghadirkan Hati di Hadapan Allah

Dalam kitab Bariqah Mahmudiyyah terdapat keterangan:

الْخُشُوعُ وَهُوَ قِيَامُ الْقَلْبِ بَيْنَ يَدَيِ الْحَقِّ

“Khusyuk adalah tegaknya hati di hadapan Al-Haqq (Allah).” (Abū Sa’īd al-Khādimī al-Ḥanafī, Barīqah Maḥmūdiyyah, jil. 3 [Kairo: Maṭba’ah al-Ḥalabī, 1348 H], 98.)

Artinya, ketika seseorang mengangkat takbiratul ihram, ia menyadari bahwa ia sedang berdiri di hadapan Raja segala raja. Hatinya tidak berkelana ke pasar, pekerjaan, urusan rumah tangga, atau berbagai kesibukan dunia lainnya. Ia hadir sepenuhnya dalam munajatnya kepada Allah.

Karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa hakikat khusyuk adalah:

جَمْعُ الْهِمَّةِ لَهَا، وَالْإِعْرَاضُ عَمَّا سِوَاهَا

“Mengumpulkan seluruh perhatian untuk salat dan berpaling dari segala sesuatu selainnya.” (Abū al-Qāsim Maḥmūd ibn ‘Amr ibn Aḥmad al-Zamakhsyarī, Al-Kasysyāf ‘an Ḥaqā’iq Ghawāmiḍ al-Tanzīl, jil. 3 [Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, cet. III, 1407 H], 175.)

Semakin hati terkumpul untuk Allah, semakin besar pula kekhusyukan yang ia rasakan.

Baca juga: Kriteria Memilih Istri

2. Menjaga Pandangan dan Ketenangan Anggota Badan

Imam az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa di antara bentuk khusyuk adalah menundukkan pandangan ke tempat sujud.

Beliau menukil keterangan Imam Qatadah:

وَهُوَ إِلْزَامُهُ مَوْضِعَ السُّجُودِ

“Yaitu mengarahkan pandangan ke tempat sujud.”

Disebutkan pula bahwa sebelum turunnya ayat tentang khusyuk, Rasulullah terkadang mengangkat pandangan ke langit saat salat. Setelah ayat tersebut turun, beliau mengarahkan pandangannya ke tempat salatnya.

Para ulama terdahulu bahkan merasa segan mengarahkan pandangan ke selain tempat sujud ketika berdiri dalam salat, karena mereka merasa sedang berada di hadapan Allah.

Khusyuk juga tercermin dari ketenangan anggota badan. Oleh sebab itu, para ulama memakruhkan berbagai gerakan yang tidak ada kaitannya dengan salat, seperti memainkan pakaian, merapikan janggut tanpa kebutuhan, menoleh ke kanan dan kiri, meregangkan badan, atau sibuk dengan hal-hal kecil yang mengganggu konsentrasi.

Rasulullah pernah melihat seseorang memainkan janggutnya ketika salat, lalu beliau bersabda:

لَوْ خَشَعَ قَلْبُهُ خَشَعَتْ جَوَارِحُهُ

“Seandainya hatinya khusyuk, niscaya anggota badannya pun akan khusyuk.” (Abū al-Qāsim Maḥmūd ibn ‘Amr ibn Aḥmad al-Zamakhsyarī, Al-Kasysyāf ‘an Ḥaqā’iq Ghawāmiḍ al-Tanzīl, jil. 3 [Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, cet. III, 1407 H], 175.)

Hadis ini menunjukkan bahwa gerakan lahir sering kali menjadi cerminan keadaan batin.

Baca juga: Mengadakan Tahlilan Sampai Berutang?

3. Menghayati Setiap Bacaan

Di antara petunjuk paling indah untuk meraih khusyuk adalah penjelasan Sultanul Ulama, Syekh Izzuddin bin Abdissalam.

Beliau menerangkan bahwa orang yang salat diperintahkan untuk memperhatikan makna bacaan yang sedang dibacanya.

فَإِنَّ الْمُصَلِّيَ مَأْمُورٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ أَنْ يُلَاحِظَ مَعَانِيَهُ

“Sesungguhnya orang yang salat diperintahkan untuk memperhatikan makna ayat-ayat yang dibacanya.”

Ketika membaca ayat ancaman, ia menghadirkan rasa takut kepada Allah. Ketika membaca ayat tentang rahmat dan pahala, ia menghadirkan harapan kepada-Nya.

Maka ketika lisan membaca, hati ikut berbicara. Saat membaca ayat tentang surga, hati merindukannya. Ketika membaca ayat tentang neraka, hati gemetar karena takut kepadanya. Saat membaca ayat tentang kebesaran Allah, hatinya penuh dengan pengagungan kepada-Nya. Inilah yang membuat salat menjadi hidup.

Setiap Gerakan Memiliki Penghayatannya Sendiri

Syekh Izzuddin juga mengutip sebuah kaidah yang relevan dengan khusyuk.

Beliau berkata:

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ يَلِيقُ بِهِ

“Setiap posisi memiliki bacaan dan penghayatan yang sesuai dengannya.”

Karena itu, seseorang tidak seharusnya sibuk memikirkan makna bacaan lain ketika sedang membaca bacaan tertentu.

Beliau menegaskan:

وَلَا يَشْتَغِلُ عَنْ مَعْنَى ذِكْرٍ مِنَ الْأَذْكَارِ بِمَعْنَى غَيْرِهِ مِنَ الْأَذْكَارِ وَإِنْ كَانَ أَفْضَلَ مِنْهُ؛ لِأَنَّهُ سُوءُ أَدَبٍ.

“Janganlah seseorang berpaling dari makna suatu zikir kepada makna zikir yang lain, meskipun yang lain itu lebih utama, karena hal tersebut termasuk adab yang buruk.” (Izzuddin bin Abdissalam, al-Qawa’id al-Kubra, juz I, halaman 354).

Ketika berdiri membaca Al-Fatihah, fokuslah pada Al-Fatihah. Tatkala rukuk, resapilah makna pengagungan dalam ucapan Subhāna Rabbiyal ‘Azhīm. Ketika sujud, hayatilah kerendahan seorang hamba yang meletakkan wajahnya di tanah seraya memuji Rabb Yang Mahatinggi. Tatkala duduk tasyahud, hadirkan perasaan sedang menghadap Allah sambil memperbarui syahadat dan doa. Jangan melompat dari satu penghayatan ke penghayatan lain sebelum waktunya.

Penutup

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ketika berdiri dalam salat, hati mereka hadir bersama-Nya, lisan memahami apa yang dibacanya, dan anggota badan mereka tunduk dengan penuh penghormatan kepada-Nya.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses