Akad Nikah Menggunakan Bahasa Selain Arab

Syarat Akad Nikah Menggunakan Bahasa Selain Arab

Prosesi akad nikah merupakan hal yang paling sakral dari rangkaian acara pernikahan. Dalam praktiknya di masyarakat, sering kali prosesi akad nikah dilakukan dengan menggunakan selain bahasa Arab, baik dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah masing-masing.

Apabila di tinjau dalam fikih pernikahan, tidak setiap bahasa selain Arab dapat dijadikan lafal akad nikah, baik untuk ijab atau kabul. Akan tetapi harus ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh bahasa tersebut. Sebagaimana penjelasan Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fath al-Mu’in berikut:

(وَصَحَّ) النِّكَاحُ (بِتَرْجَمَةٍ) أَيْ تَرْجَمَةِ أَحَدِ اللَّفْظَيْنِ بِأَيِّ لُغَةٍ وَلَوْ مِمَّنْ يُحْسِنُ الْعَرَبِيَّةَ لَكِنْ يُشْتَرَطُ أَنْ يَأْتِيَ بِمَا يَعُدُّهُ أَهْلُ تِلْكَ اللُّغَةِ صَرِيْحًا فِي لُغَتِهِمْ. هَذَا إِنْ فَهِمَ كُلٌّ كَلَامَ نَفْسِهِ وَكَلَامَ الْآخَرِ وَالشَّاهِدَانِ.

“Dan sah akad nikah menggunakan terjemahan. Artinya terjemah dengan bahasa apapun dari salah satu lafal ijab dan kabul walaupun ia mampu berbahasa Arab dengan baik. Akan tetapi disyaratkan menggunakan kata yang bisa menunjukkan ijab kabul nikah menurut pengguna bahasa tersebut. Dan (penggunaan bahasa terjemahan) ini boleh apabila masing-masing dari orang yang melaksanakan akad (mempelai pria, wali atau wakilnya) dan kedua saksi memahami perkataannya dan perkataan selain diriya.” (Lihat: Zainuddin al-Malibari, Hamisy Fath al-Mu’in ‘ala I’anah at-Thalibin, III/318)

Dengan demikian, syarat bahasa selain Arab yang dapat digunakan sebagai akad nikah ialah:
(1) bahasa yang benar-benar menunjukkan terjemah ijab dan kabul akad nikah secara sharih;
(2) bahasa tersebut dipahami oleh orang-orang yang melakukan akad (mempelai pria, wali atau wakilnya) dan kedua saksi.

Apabila syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka akad nikah menggunakan selain bahasa Arab hukumnya sah. Alasannya, dalam hal ini yang terpenting bukanlah formalitas bahasa, akan tetapi kandungan atau esensi maknanya. (Lihat: Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami’ala al-Khatib, III/333) []waAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM MENGHADIRI RESEPSI PERNIKAHAN TANPA DIUNDANG

Follow instagram kami di:
@pondoklirboyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.