Tag Archives: cerita

Solusi Mencari Barang Hilang Versi Abu Hanifah

Sebagai ulama ahli fikih yang terkenal dengan kedalaman ilmunya, tak heran jika Imam Abu Hanifah menjadi rujukan dari setiap permasalahan yang dialami umat Islam kala itu. Bahkan masyarakat sering pula menanyakan persoalan dan mencari solusi yang sebenarnya bukan ‘wilayah’ Imam Abu Hanifah. Seperti yang pernah dilakukan oleh salah seorang pemuda. Ia mengadu kepada imam Anu Hanifah perihal barangnya yang hilang.

Aku menyimpan barangku di suatu tempat. Namun aku lupa dimana tempat itu.” keluh pemuda tersebut.

Itu bukan permasalahan fikih, maka aku tak bisa membantumu. Tetapi pulanglah, dan lakukan salat sunah mulai malam hingga menjelang pagi. Maka dengan izin Allah, engkau akan mengingatnya kembali.” perintah Abu Hanifah.

Mendengar jawaban tersebut, pemuda itu lantas benar-benar melakukannya. Tak sampai empat rakaat, ia telah mengingat letak barang yang dicarinya.

Seketika itu pula, pemuda tersebut menemui Abu Hanifah kembali dan menceritakan apa yang terjadi semalam. Dengan santai, Abu Hanifah menjawab, “Aku tahu bahwa setan tidak mau meninggalkanmu shalat dalam keadaan khusuk sehingga ia berusaha mengingatkanmu.”  jawab Abu Hanifah “Namun bagaimana kalau kamu menyempurnakan salatmu hingga esok sebagai bentuk rasa syukurmu pada Allah.” lanjutnya.

_______________________________

Disarikan dari kitab Habib Zein bin Ibrahim bin Smith yang berjudul  Al-Fawaid Al-Mukhtaroh, hal. 142.

Mensyukuri Jodoh

Pada suatu hari, Al-Atabi sedang berjalan di jalanan kota Bashrah, Irak. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang wanita berparas cantik jelita yang sedang bergurau dengan lelaki tua yang berwajah buruk. Ketika lelaki tua itu berbicara sang wanita, wanita tersebut pun lantas tertawa.

Melihat kemesraan tersebut, akhirnya Al-Atabi penasaran. Ia bertanya kepada sang wanita, “Siapakah dan apa hubungan lelaki tua ini denganmu?

“Dia adalah suamiku.” jawab wanita cantik tersebut.

Bagaimana kamu bisa sabar dengan kejelekannya, sementara engkau adalah wanita yang sangat cantik?. Ini bukan hal yang lumrah.” tanya Al-Atabi penasaran.

Ingatlah, ketika mendapatkan istri sepertiku, ia bersyukur. Begitu juga aku ketika mendapatkan suami seperti dia, aku bersabar. Orang-orang yang bersyukur dan bersabar dijamin masuk surga. Apakah engkau tidak ridho dengan pemberian Allah padaku?” pungkas wanita tersebut.


Disarikan dari kitab An-Nawadir, hal. 176, karya Imam Al-Qulyubi.

Kehebatan Sayyidah Aisyah yang Tersembunyi

Abu Abdullah al-Husein bin Ahmad bin Sa’danseorang menteri pada dinasti Buwaihi (373-375 H), pernah mengajukan pertanyaan menarik, “Apakah ada perempuan yang menjadi laki-laki?”

Abu Hayyan at-Tauhidi menjawab, “Abu Sa’id al Sairafi menceritakan kepadaku bahwa Aisyah binti Abu Bakar pernah disebut sebagai laki-laki Arab (Rajulah al-Arab). Sayangnya, orang asing (non Arab) kemudian menenggelamkan predikat ini dari sirkuit sejarah. Sehingga tidak banyak orang mengenal Aisyah disebut kaumnya demikian.  Demi Tuhan, dia benar-benar begitu. Saya pernah mendengar orang mengatakan: Kalau saja ayahnya punya anak laki-laki seperti dia (Aisyah), niscaya dia tidak akan bisa berbuat apa-apa di hadapannya (Aisyah)”.

Apakah anda punya informasi tentang pandangan-pandangannya?” sang  menteri kembali bertanya.

Sangat banyak. Dia bicara banyak tentang hukum-hukum agama. Pendapat-pendapatnya sangat diperhatikan dan ditransmisikan. Diriwayatkan bahwa Aisyah pernah menyampaikan tentang Akhlaq al-Karimah. Katanya : “Ada 10 akhlak karimah: jujur dalam ucapan, terbuka terhadap orang lain, menjaga amanat (kepercayaan), silaturrahim, menyampaikan kebaikan, memperhatikan tetangga, menyayangi teman, membayar layak para pekerja, menjamu tamu dan paling penting adalah memiliki rasa malu (untuk berbuat jahat).” jawab Abu Hayyan.

_______________________________

Disarikan dari kitab karya Abu Hayyan at-Tauhidi  yang berjudul Al-Imta’ Wa Al-Muanasah, vol. III hal. 199-200

Para Pemuda yang Terperangkap Dalam Gua

Rasulullah saw. pernah menceritakan:

 Dahulu kala ada tiga orang berjalan-jalan. Di tengah perjalanan turunlah hujan, akhirnya mereka mendapatkan sebuah gua yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh, maka mereka pun masuk ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba ada batu dari atas bukit yang menggelinding dan menutupi pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar.

Salah seorang di antara mereka berkata, “Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu sekalian dari bencana ini kecuali bila kamu sekalian berdo’a kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan amal-amal shalih yang pernah kalian perbuat.”

Salah seorang di antara mereka menimpali, “Wahai Allah, saya mempunyai ayah ibu yang sudah tua renta, saya biasa mendahulukan memberi minuman susu kepada keduanya sebelum saya memberikannya kepada keluarga dan budak saya. Pada suatu hari saya terlambat pulang dari mencari kayu dan saya menemui keduanya sudah tidur, saya terus memerah susu untuk persediaan minum keduanya. Karena saya mendapati mereka berdua telah tidur maka saya pun enggan untuk membangunkan mereka. Kemudian saya berjanji tidak akan memberi minum susu itu baik kepada keluarga maupun kepada budak sebelum saya memberi minum kepada ayah bunda. Saya menunggu ayah bunda, hingga terbit fajar barulah keduanya bangun sementara anak-anakku menangis, mereka mengelilingi kakiku. Setelah mereka bangun, kuberikan minuman susu kepada keduanya. Wahai Allah jika saya berbuat seperti itu kerana mengharapkan RidhoMu maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.”

Maka bergeserlah sedikit batu itu tetapi mereka belum dapat keluar dari gua tersebut.

Yang lain berkata, “Wahai Allah, sesungguhnya saya mempunyai saudara sepupu yang sangat saya cintai. Kemudian saya ingin berbuat zina dengannya tetapi ia selalu menolaknya. Selang beberapa tahun ia tertimpa kesulitan kemudian datang kepada saya dan saya berikan kepadanya 120 dinar, dengan syarat ia harus mau bersebadan denganku, dan ia pun setuju.  Ketika saya sudah menguasainya dan berada di antara kedua kakinya, dia berkata, ‘Takutlah kamu kepada Allah dan jangan kau robekkan selaput daraku kecuali dengan cara yang benar.’ Kemudian saya meninggalkannya, padahal dia adalah seseorang yang sangat saya cintai dan saya telah merelakan emas (dinar) yang saya berikan kepadanya. Wahai Allah, jika saya berbuat seperti itu karena mengharapkan ridhaMu, geserkanlah batu yang menutup gua ini.”

Maka bergeserlah batu itu tetapi mereka belum dapat keluar dari gua itu.

Orang yang ketiga berkata, “Wahai Allah, saya mempekerjakan beberapa karyawan dan semuanya saya gaji dengan sempurna kecuali ada seorang yang pergi, meninggalkan saya dan tidak mau mengambil gajinya terlebih dahulu. Kemudian gaji itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak. Selang beberapa lama dia datang kepada saya dan berkata, ‘Wahai hamba Allah, berikanlah gaji saya yang dulu itu.’ Saya berkata, ‘Semua yang kamu lihat itu baik unta, sapi, kambing maupun budak yang menggembalakannya adalah gajimu.’ Ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkan saya.’ Saya menjawab, ‘Saya tidak mempermainkan kamu.’ Kemudian dia pun mengambil semuanya dengan tidak meninggalkan sisa sedikit pun. Wahai Allah jika saya berbuat itu kerana mengharap ridhaMu, maka geserkanlah batu itu.”

Lalu batu itupun bergeser dan mereka dapat keluar dari dalam gua.

______________________

Disarikan dari kitab Fath Al-Mun’im ‘Ala Shahih Al-Muslim, vol. X hal. 291, CD. Maktabah Syamilah

Berpura-pura Buta

Pada suatu hari, Abu Hanifah datang ke sebuah pemandian umum. Lumrahnya pemandian umum, membuka aurat seakan menjadi hal yang biasa. Tak dapat dihindari, akhirnya Abu Hanifah mendapati seseorang yang membuka auratnya.

Demi menyelamatkan kedua matanya dari maksiat, Abu Hanifah memejamkan matanya dan terus berjalan. Akibatnya, dia menginjak orang yang membuka aurat tersebut.

“Sejak kapan Allah menghilangkan penglihatanmu?” tanya orang itu dengan nada kesal.

“Sejak Allah menghilangkan penutup auratmu.” jawab Abu Hanifah ringan.

_________________________

Disarikan dari kitab An-Nawadir, karya Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, hal. 175