Tag Archives: classical condationing

Penghargaan Al-Ghazali yang “Dicuri”

Penulis: Muhammad Bagus Fatihulridla

Ivan Patrovich Pavlov, seorang dokter juga fisiolog asal Rusia yang pada awal abad 20 menggegerkan dunia. Ia menemukan teori yang dalam psikologi modern yang disebut Classical Conditioning atau “Pengondisian Klasik”.

 Classical Condotioning ialah keadaan di mana stimulus (rangsangan) buatan mampu menimbulkan respons sebagaimana stimulus alami. Ini bisa terjadi dengan mengumpulkan dua stimulus (alami dan buatan) secara terus menerus, yang pada akhirnya manusia akan merespon stimulus buatan tersebut selayaknya stimulus alami.

Sebenarnya Pavlov menemukan teori ini secara tak sengaja. Ia awalnya hanya hendak meneliti stimulus pada air liur anjing. Anjing akan memproduksi air liur ketika ada stimulus alami berupa rasa lapar. Pavlov pun penasaran, apakah memang benar hanya stimulus alami yang mendorong produksi air liur pada anjing.

Pavlov kemudian melakukan pengujian dengan membiarkan seekor anjing kelaparan lalu bersamaan dengan itu, ia membunyikan metronom (semacam alat pengatur tempo musik). Ia melakukannya terus menerus selama beberapa hari. Setelah dirasa cukup, Pavlov memberi makan anjing itu hingga kenyang. Pavlov kemudian membunyikan metronom tersebut. Mendengar itu, anjing pun secara respons memproduksi air liur. Stimulus buatan yang ditemukannya, mampu menciptakan respons sebagaimana stimulus alami. Atas temuanya itu, ia diganjar hadiah paling bergengsi dalam dunia ilmu pengetahuan (Nobel tahun 1904) (1).

Setelah Pavlov, temuan itu mengalami pengembangan. Di antaranya penelitian oleh Watson dan Rayner pada tahun 1920. Mereka berdua ingin memastikan apakah teori ini juga bisa dialami oleh manusia. Obvervasi ini mereka lakukan kepada seorang bayi. Penelitian kontroversial ini mereka lakukan dengan cara mencari sesuatu yang ditakuti bayi tersebut, kemudian mengalihkan ketakutan tersebut pada hal lain. Pada era sekarang, Classical Condotioning digunakan sebagai terapi terhadap pengidap phobia.

Akan tetapi, Pavlov sebenarnya bukan orang pertama yang menemukanya. Al-Ghazali lah, orang yang menemukannya kira-kira 800 tahun sebelum Pavlov lahir.

Al-Ghazali pionir classical condationing

Dalam Al-Mustashfa, Al Ghazali memaparkan kelemahan-kelemahan diri manusia. Sehingga ia tak akan mampu menjangkau hakikat kebaikan dan keburukan. Salah satu kelemahannya adalah seperti yang disebutkan beliau:

سَبْقُ الْوَهْمِ إلَى الْعَكْسِ.

 Beliau memaparkan bahwa anggapan manusia terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh prasangka-prasangka yang ada di dalam dirinya. Manusia akan terseret—menganggap sesuatu berdasarkan sebuah keidentikkan. Padahal keindentikkan tak akan pernah menjadi kepastian akan hakikat suatu hal. Prasangka yang terbentuk dari pergumulannya dengan kehidupan, akan menutupinya dari penilaian atas suatu hal. Walaupun akal tak membenarkan penilaian tersebut.

Semisal, diri manusia akan mersepons tali-tali beraneka warna yang dilihatnya dengan menjauhinya. Sebab, bayangan pertama yang muncul dalam dirinya adalah ular-ular yang membahayakan dirinya. Begitu pun diri manusia, mereka cenderung menolak bermalam di samping jasad tak bernyawa, padahal nyata-nyata ia tak lagi bergerak dan berbicara. Begitu rapuhnya diri manusia sehingga ia tak objektif menilai hakikat suatu hal (2).

 Fakta penting ini, diungkap pada tahun 1971 oleh sarjana Muslim, Doktor Faiz al-Hajj dalam tesisnya yang berjudul : “Nadzhariyyah Sabq al-Wahmi ila ‘Aksi ‘Inda al-Ghazali, Ma’a Muuqoronatin ‘Ilmiyatin li Araa’i al-Falsafati al-Mutaqaddimin wa an-Nadzariyyat al-Isyrotiyyah al-Iqtironiyah al-Haditsah”. Dalam tesis yang mengantarkannya meraih gelar doktoral tersebut, Dr. Faiz berkonklusi bahwa al-Ghazali telah mendahului Pavlov dalam penemuan atas Classical Condotioning(3). Sehingga al-Ghazalilah yang sebenarnya peraih nobel pada tahun 1904.

 Fakta di atas semakin menegaskan bahwa al-Ghazali berpengaruh besar pada perkembangan pemikiran-pemikiran modern. Sebagaimana pernyataan orientalis Ernesto Renan (1822-18920), bahwa pemikiran al-Ghazali mewarnai pemikiran-pemikiran Barat pada abad pencerahan. Buktinya ialah pengaruh terhadap filsuf Prancis, Rene Decartes (1596-1650) pada pernyataaan terkenalnya : “Aku berpikir, maka aku ada”. Hal ini secara jelas ditulis al-Ghazali dalam Al-Munqidz min Adz-Dzalal bahwa beliau menyandarkan pencarian atas kebenaran dengan dasar keraguan (4).

           Waba’du     

Pada akhirnya, penjabaran di atas dalam skala luas, semakin membuktikan bahwa  turats para cendekiawan Muslim memberikan sumbangan yang besar pada pemikiran-pemikiran modern. Dan hendaknya, para pendaku kemodernan yang sebelah mata dalam memandang pesantren—sebagai basis pendidikan turats—hendaknya menundukkan kepala mereka yang terlanjur mendongak ke langit. Sedang dalam skala kecil, juga semakin membuktikan pernyataan beberapa pakar bahwa: Hujjatul Islam al-Ghazali adalah penakluk Timur dan Barat.[]

Referensi:

(1) Rohmah, Noer, Psikologi Pendidikan, hlm. 80-81 (Jogja: Penerbit Teras)
(2) Al Ghazali, Abu Hamid, Al Mustashfa, hlm. 79 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah)
(3) Al-Buthiy, Muhammad Said Ramadhan, Min al-Qolbi wa al-Fikri, hlm. 33 (Damaskus: Dar al-Faqiih)
(4) Muqoddimah Al Munqidz min Adz-Dzalal dalam Majmu’ Rasaail Al Imam Ghozali, hlm. 9 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah)

Perhargaan al-Ghozali yang Dicuri
Perhargaan al-Ghozali yang Dicuri

Baca juga: Sa’ad bin Abi Waqqash Sejarah yang Terpendam, Harapan yang Diinginkan
Jangan lupa saksikan: ISTIGHOTSAH KUBRO ONLINE