Tag Archives: nabi muhammad saw

Nabi Tidak Mengenali Umatnya?

Seorang shaleh shalat. Di tengah tasyahud, ia lupa membaca shalawat kepada nabi. Dalam mimpinya ia bertemu Nabi.

“Kenapa engkau lupa membaca shalawat padaku?”

“aku terlalu sibuk dengan memuja Allah dan menghamba padanya. Karena itulah aku lupa.”

“apakah kau tak pernah mendengar sabdaku? Semua amal dihentikan. Doa ditangguhkan. Hingga dibacakan shalawat padaku.”

 “Bahkan, ketika seorang hamba datang di hari kiamat dengan membawa amal baik seluruh manusia, akan percuma. Seluruhnya tidak diterima dan ditolak jika tak ada shalawat padaku.”

Seorang zuhud bermimpi melihat rasulullah. Ia menghadap. Rasulullah enggan melihatnya.

“wahai Rasulullah, marahkah engkau?”

“tidak.”

“Tidakkah engkau mengenalku?”

“tidak.”

“ibadahku terus menerus. aku sang zahid.”

“tidak. Aku tak mengenalmu.”

“Wahai Rasulullah. Aku mendengar orang-orang alim pernah berujar: Bahwa Nabi sangat mengenal seluruh umatnya, sedekat orangtua pada anaknya.”

“benar. Sungguh tiap nabi bahkan lebih mengenal mereka daripada orangtuanya.”

Yakni mereka yang bershalawat pada nabinya, sesuai kadar shalawatnya.

Durrotun Nasihin, 172-173.

Ketika Malaikat Mikail Menahan Matahari demi Ali

Ali sebenarnya sudah bergegas menuju masjid untuk ikut shalat jamaah subuh dengan Nabi Muhammad. Namun di tengah jalan, ia bertemu dengan orang tua, yang sayang sekali berjalan terlalu pelan. Tetapi Ali tidak mendahuluinya, sebagai cara untuk mengungkapkan penghormatan dan pemuliaan terhadap orangtua itu.

Matahari sudah hampir terbit ketika keduanya sampai di depan masjid. Tak diduga oleh Ali, orang tua itu tidak ikut shalat berjamaah. Dia Nasrani. Ali segera masuk masjid dan ikut shalat jamaah tepat ketika Rasulullah sedang rukuk.

Para jamaah merasa ada yang janggal dengan shalat Rasulullah. Beliau shalat tidak seperti biasanya. “Wahai Rasulullah. Mengapa engkau rukuk tadi begitu lama? Rukukmu tak pernah sepanjang ini sebelumnya.”

“ketika aku hendak bangun dari rukukku,” Jawab Nabi, “Malaikat Jibril datang menyandarkan sayapnya di punggungku. Aku baru bisa bangun dari rukuk ketika ia mengangkat sayapnya.”

“Kenapa bisa begitu, Ya Rasul?”

“Aku tak sempat menanyakannya.”

Seketika itu Malaikat Jibril hadir di hadapan Rasulullah. “Wahai Muhammad. Sungguh Ali hendak bergegas shalat berjamaah bersamamu. Tapi kemudian ia bertemu seorang Nasrani tua di jalan, yang ia tak tahu keNasraniannya. Ia memuliakannya, dan tak mendahuluinya . Allah kemudian menyuruhku untuk menahan rukukmu, sampai dia bisa shalat shubuh bersamamu.”

“Allah juga memerintahkan Malaikat Mikail untuk menahan matahari dengan sayapnya agar tak terbit, karena menghormati Ali.”

Fawaid al-Mikhtarah, 71.

Isra Mikraj dan Musik: Ekspresi Cinta kepada sang Baginda

Mumpung masih suasana bulan Rajab, saya hendak berbagi sedikit kemesraan. Kemesraan? Benar. Di dalam bulan mulia ini terdapat peristiwa penting yang mewajibkan kita memiliki rasa cinta: perjalanan spiritual Nabi dari Masjid al-Haram Mekah ke Masjid al-Aqsha Palestina. Setelah meninggalkan tunggangannya, Nabi bermikraj naik hingga ke langit ketujuh, lalu melangkah melampaui Sidaratul Muntaha sebelum akhirnya berjumpa dengan Tuhan.

Namun bukan kisah-kisah menakjubkan yang terburai sepanjang perjalanan spiritual itu yang ingin saya bagikan. Di waktu-waktu yang marak dengan caci maki dan ujaran benci ini, sangat urgen kiranya saya membagikan kemesraan-kemesraan suci: rasa cinta umat kepada sang Nabi.

Ada banyak cara mengungkapkan cinta kepada sang pujaan hati. Sayyidina Ali mengajukan dirinya untuk menjadi “sosok Nabi” ketika rumah Nabi dikepung kaum kafir Quraisy. Sayyidina Utsman menyerahkan ratusan kuda dan unta untuk membantu peperangan demi peperangan. Sayyidina Umar mengacungkan pedang untuk siapa saja yang mengatakan Rasulullah telah wafat di hari duka itu. Sayyidina Abu Bakar tetap merestui Usamah bin Zaid, yang masih 17 tahun itu, untuk memimpin pasukan perang melawan imperium Romawi di saat Madinah masih bergejolak akibat banyak kaum murtad, hanya karena Nabi telah memutuskannya.[1]

Pun begitu dengan umat Nabi hari-hari ini. Untuk mengenang Isra Mikraj Nabi, sebuah grup musik sufi dari Libanon, “Al Madihin”, ingin membuktikan cinta mereka kepada Nabi. Mereka membacakan salawat dan puji-pujian dari Qasidah al-Burdahnya Imam al-Bushiriy. Tentu saja dengan irama merdu suara dan alat musik mereka.

Madah-madah yang digubah al-Bushiriy ini memang mengesankan sekali. Indah, sastrawi, dan membuat kita melambung secara spiritual, apalagi dipadu dengan adanya garapan musikal yang penuh estetika. Baca saja bait-bait yang beliau tulis khusus mengenai peristiwa Isra Mikraj ini. Berikut beberapa bait diantaranya[2]:

وَأَنْتَ تَخْتَرِقُ السَّبْعَ الطِّبَاقَ بِهِمْ *

فيِ مَوْكِبٍ كُنْتَ فِيهِ الصَّاحِبَ العَلَمِ

Engkau tembus langit tujuh petala, bertemu para nabi

Bersama kumpulan malaikat, engkau menjadi pembawa panji

حَتىَّ إِذَا لَمْ تَدَعْ شَأْوًا لِمُسْتَبِقٍ *

مِنَ الدُّنُوِّ وَلاَ مَرْقَى لِمُسْتَنِمِ

Hingga tak ada batas terdekat yang engkau sisakan untuk orang yang ingin mendahului (mendekat)

dan tak ada tempat naik (yang engkau sisakan untuk pencari derajat tinggi)

خَفَضْتَ كُلَّ مَقَامٍ بِالإِضَافَةٍ إِذْ *

نُودِيتَ بِالرَّفْعِ مِثْلَ المُفْرَدِ العَلَمِ

Dibandingkan dengan derajatmu derajat apapun menjadi rendah

kerena namamu dipanggil dengan rafaʻ (keluhuran) sebagaimana ʻalam mufrad

Maafkan saya yang terlampau buruk dalam menerjemahkan syair-syair al-Bushiriy. Tetapi betapapun buruk terjemahan saya, dan orang-orang terhadap syair kasmaran ini, pembacaan syair ini toh telah menjadi tradisi di berbagai lapisan masyarakat. Dengan gaya dan langgam yang berbeda-beda, tradisi membaca syair salawat Burdah hampir ada di semua kawasan di dunia Islam. Di kampung saya dan di lingkungan tradisional-religius lainnya, hampir setiap malam Jumat masjid dan surau-suraunya melantunkan salawat al-Burdah ini.

Dengan kata lain, dunia Islam sejak dulu sebetulnya kaya dengan tradisi musik yang berbagai-bagai. Agama menjadi indah, dan umat Islam tidak mengalami kekeringan rohaniah, karena adanya tradisi estetik seperti ini. Tradisi-tradisi ini potensial sekali untuk mengasah naluri moderat umat Islam di manapun. Berangkat dari fakta atas tradisi ini, boleh jadi musik adalah salah satu fondasi “tawwassuthiyyat al-Islam”, moderasi Islam.

Orang-orang dengan jiwa yang kering kerontang atau komunitas manusia tanpa pengetahuan sastrawi, tanpa kebudayaan, tanpa keindahan alam, tanpa tradisi estetika, tak akan mampu mengekpresikan keindahan agama melalui tradisi musik seperti ini. Alih-alih bersalawat dengan ekspresi estetik, orang-orang dan komunitas seperti itu malah menuding salawat dan berbagai ekspresi keindahan agama sendiri sebagai barang bid’ah, munkar, dan syirik.

Bagi saya dan sebagian besar masyarakat islam yang ikut membangun tradisi indah untuk ekspresi agama, tudingan dan bentakan-bentakan itu tidak berpengaruh apapun. Toh tradisi kami tetap berlangsung, bahkan semakin marak. Kalau kalian tidak percaya, lalu preman-preman di jalanan dan para pengamen yang melantunkan salawatannya Sabyan itu kalian sebut apa?

Ada saatnya kita menampakkan diri untuk membela habis-habisan apa yang ditudingkan. Tapi untuk saat ini, kita bantah dengan salawatan saja. Mengenang kembali perjalanan spiritual Isra Mikraj Nabi Muhammad dengan lantunan puja-puji kepadanya. Sesekali kita teduhkan timeline medsos kita dengan syair-syair burdah. Jangan gegeran pilpres saja.

Faurok Tsabat, alumnus Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo tahun 2017, asal Pasuruan.


[1] Tarikh al-Khulafa. Abd al-Rahman al-Suyuthi. Dar Ibn Hazm. Beirut. Hal. 61.

[2] Syarh Burdah al-Madh. Muhammad al Bushiriy. Dar al-Quran. t.t. hal 17-18.

Syafa’at Rasulullah, untuk Siapa?

Masih dalam suasana maulid, rasanya tak afdol untuk tidak mengingat jasa-jasa nabi yang sudah atau yang akan beliau lakukan, karena memang tujuan maulid adalah demikian, meningkatkan semangat juang kita mengikuti sang nabi.

 

Tulisan ini dibuat juga untuk imtitsalul awamir pada perintah ummi beberapa waktu lalu “Mumpung suasana maulid. Silahkan yang punya pengalaman ngaji tentang hal hal yang berkaitan dengan nabi hendaknya ditulis, agar banyak yang mengambil manfaat. Kalau bukan orang islam sendiri yang mempelajarinya siapa lagi.” begitu dawuh beliau

 

Cerita berikut ini adalah sesuatu yang dialami sayyidina Abu Bakar as-Shidiq di dalam tidurnya, begini ceritanya

 

Disuatu malam sunyi, sahabat Abu Bakar as-Shidiq tertidur, dalam mimpinya ia mendapati kejadian ganjil yang luar biasa, beliau sampai menangis dalam tidurnya, hingga suara tangisan itu terdengar dari luar rumah. Kebetulan sayyidina Umar sedang berkeliling desa, dengan tanpa sengaja beliau mendengar tangisan itu dan segera mengetuk pintunya, ketukan sayyidina umar yang gagah berani membuat sayyidina abubakar terbangun dari mimpinya, beliau bergegas membuka pintu, sisa tetesan air matanya masih mengalir di pipinya. Sayyidina Umar yang melihat ini berusaha menanyakan “Ada apa ya sayidina Abu Bakar, apa yang menyebabkan engkau menangis dalam tidurmu?”

Sayidina Abu Bakar diam sejenak lalu berkata: “Baik aku akan menjawabnya, tapi kumpulkanlah dulu para sahabat kemari, aku akan memberitahu alasannya, biar kita semua mengambil ibroh(renungan) bersama dari cerita ini.”

Tak menunggu waktu lama, Sayyidina Umar telah mengumpulkan mereka untuk sama sama mendengar ceritanya

 

Sayyidina Abu Bakar mulai bercerita:

Didalam mimpi aku melihat begitu nyata hari kiamat telah tiba, aku melihat sekumpulan rombongan diatas mimbar dari cahaya dengan wajah-wajah berbinar berseri-seri seperti bintang.

Aku mencoba bertanya pada malaikat: “Wahai malaikat,siapa mereka?”

Malaikat itu menjawabnya: “Mereka adalah para nabi yang menanti kedatangan insan terbaiknya, Nabi muhammad saw. hanya dalam genggamannya saja kunci syafaat umat.”

 

Aku yang tak tahan melihat ini langsung berkata: “Lalu dimana Nabi Muhammad SAW sekarang? Bawa aku ke beliau, aku adalah pembantu setianya, aku adalah sahabat karibnya,aku adalah Abu bakar.”

Malaikat pun segera membawaku kesana. suatu pemandangan yang luar biasa dan membuatku terharu, aku mendapati beliau sedang berada dibawah arsy, sorbannya menjuntai disisinya, beliau mengulur tangan kananya ke arsy, dan mengulur tangan kirinya berusaha mengunci pintu neraka demi umatnya.

 

Beliau berkata: “Ya Tuhanku tolonglah umatku, ya Tuhanku selamatkan umatku, ya Tuhanku tolonglah umatku.. apakah engkau tidak kasihan, diantara mereka ada beberapa ulama’nya, ada orang-orang solihnya, ada orang-orang yang telah menunaikan haji, ada orang-orang yang telah menunaikan umroh, ada juga yang memperjuangkan jalan kebenaran karenamu, (bukankah semua itu adalah terkasihmu?) kumohon ya rabb.”

 

Dibalik sana ada suara memanggil: “Wahai Muhammad, yang kau lakukan hanya menyebutkan nama golongan orang yang taat-taat saja, engkau telah lupa tidak menyebutkan yang lain, sebutkan juga yang melakukan kelaliman, yang meminum khamr, yang melakukan perzinahan, yang telah memakan barang ribawi.”

 

Nabi muhammad tidak tinggal diam membela umatnya beliau berkata: “Wahai Tuhanku, memang benar diantara mereka ada sekelompok yang seperti engkau katakan, namun mereka tiada satupun yang menyekutukanmu, tiada satupun yang menyembah berhala,tiada satupun yang beranggapan bahwa kau memiliki anak, tiada satupun yang melawan atau membangkang pada keesaanmu, oleh karenanya kumohon ya rabb, kumohon dengan sangat terimalah syafaatku untuk mereka semua.”

 

Setelah melihat kejadian luar biasa atas pengorbanan baginda nabi, spontan aku berkata pada beliau (sebab rasa cinta dan kasih sayangku kepadanya): “Wahai rosululloh kumohon kasihanilah atau pedulilah pada dirimu sendiri.”

 

Rosul menjawab: “Wahai Abu Bakar, saya sudah memohon dengan rendah hati kepada Allah, dan senang sekali Allah telah memberi syafaat buatku untuk umatku.”

 

Aku mencoba bertanya lagi: “Ya rosul apakah syafaat ini diberikan untuk semua umat muhammad atau hanya sebagian saja?”

 

Tapi sebelum nabi sempat melanjutkan perkataanya untuk menjawab pertanyaanku ini, yang engkau lakukan malah membangunkan ku dari mimpi wahai sayyidina umar.

 

Mimpi sayyidina Abu Bakar malam itu masih mengundang tanya, tapi tak lama terjawab sudah. Tiba-tiba ada suara menanggil datang dari dalam rumah, semacam hatif (suara tanpa jasad) yang tidak tau dari mana arahnya: (syafaat itu) untuk semuanya, untuk semuanya, untuk semuanya wahai Abu Bakar…

 

Sayyidina Abu Bakar pun merasa gembira dengan jawaban itu serta disusul dengan ucapan puji syukur bersama Sayyidina Umar yang ada disisinya beliau-beliaupun berkata: Alhamdulillah

 

 

Dari kisah ini Cukuplah menjadi Bukti bahwa Pengorbanan nabi Muhammad untuk umatnya begitu besar,masihkah kita enggan untuk memperbaharui janji cinta kita kepada beliau sang terkasih? masihkah kita beranggapan bahwa tidak perlu bergembira merayakan kelahiranya? oh… sungguh tak habis pikir bagi mereka yang enggan bergembira karenanya. Baginda Nabi Muhammad adalah nikmat agung, beliau adalah petunjuk, beliau adalah hadiah untuk umatnya, sebagai penyelamat kita semua dihari akhir besok. Shollu ‘alannabiy. Semoga bermanfaat (IMK)

 

Refrensi:

📙 Al-Nawadir Imam Qulyubi hal. 161

 

Penulis : Agus Abdurrohman al- Auf bin KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Qunût Nâzilah, Doa Nabi Kala Turun Musibah

Jika kita biasa mengenal doa qunut hanya dilakukan ketika menjalankan salat subuh, atau sesekali dalam salat witir pada pertengahan akhir bulan Ramadhan saja, maka ada satu lagi doa qunut yang mungkin bagi sebagian orang terdengar asing dan memang jarang dilakukan. Qunut tersebut dinamakan sebagai qunut nâzilah. Mengacu pada akar kata nâzilah, yang berarti “turun”, kalimat ini dikonotasikan sebagai turunnya musibah atau bencana. Qunut nâzilah ini disunnahkan untuk dilakukan ketika terjadi bencana, wabah, peperangan, atau bala’ yang menimpa kaum muslimin pada suatu daerah atau bahkan suatu negara.

Nabi pertama kali melakukan qunut ini setelah beliau hijrah ke kota Madinah. Tepatnya pada tahun ke empat kalender hijriyyah. Pada masa itu Islam sedikit demi sedikit sudah mulai mencapai masa kejayaannya. Dan pada masa itu pula Islam mulai mendapatkan pengaruh kuat di sekitar jazirah Arab. Islam telah memiliki nama besar dan punya cukup banyak pengikut. Islam sudah bisa dikatakan mapan di kota Madinah. Dan karena itu jugalah dakwah di luar kota Madinah mulai dirasa perlu. Mengingat banyak sekali masyarakat yang antusias akan kehadiran agama Islam, namun masih butuh akan bimbingan. Banyak para sahabat terpilih yang didelegasikan ke luar Madinah untuk berdakwah dan menyebarkan panji-panji agama islam. Biasanya mereka yang dikirim bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah para penghafal Alquran, sahabat-sahabat yang berakhlaq terpuji, senantiasa tak pernah putus menjalankan salat malam, dan juga memiliki keluasan ilmu pengetahuan.

Dimulainya masa pengiriman delegasi dakwah disambut gembira oleh banyak kabilah Arab yang letaknya jauh dari Madinah. Mereka jadi bisa mengenal Islam lebih dekat, sebab diantara mereka akhirnya ada para sahabat Nabi yang bisa dijadikan rujukan.

Namun tentu saja, hal ini tidak selalu berjalan dengan baik. Ada saja orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Mereka menggunakan siasat licik yang akhirnya justru dimanfaatkan untuk membunuh dengan keji para delegasi dakwah Nabi yang tak bersalah ini.

Salah satu tragedi besar yang memulai rangkaian musibah bagi umat muslim adalah apa yang kita kenal hari ini dengan tragedi Bi’r Ma’unah (sumur Ma’unah). Kala itu, pada bulan Shafar tahun ke empat hijriah, seorang pemuka dari kabilah Bani ‘Amir, namanya Abu Barra’ bin Malik bekunjung menemui Nabi Muhammad SAW. Nabi mengajak Abu Barra’ untuk masuk Islam, namun Abu Barra’ belum bersedia. Sebagai gantinya, Abu Barra’ menawarkan kepada Nabi untuk mengirimkan para sahabatnya agar mau berdakwah di daerah Najd. Tentu saja Nabi menyambut tawaran itu dengan suka cita, apalagi Abu Barra’ juga menawarkan jaminan keselamatan kepada sahabat Nabi yang dikirim. Nabi mengirimkan tujuh puluh orang sahabat terpilih. Beliau menunjuk Mudzir bin ‘Amr dari Bani Sa’idah untuk menjadi pemimpin delegasi tersebut. Sahabat-sahabat terpilih tersebut menurut cerita merupakan para penghafal Alquran terbaik pada masanya.

Tiba di Bi’r Ma’unah yang terletak tak jauh dari pemukiman kabilah Bani ‘Amir, rombongan para sahabat justru diserang dan dibunuh oleh beberapa kabilah gabungan yang dipelopori oleh ‘Amir bin Thufail. ‘Amir bin Thufail memang dikenal sebagai musuh Islam. Di kesempatan tersebut, ia berhasil memanfaatkan peluang untuk membunuh para sahabat Nabi yang tengah bermukim sementara.

Meskipun pada akhirnya, menurut cerita, ‘Amir bin Thufail dapat dibunuh oleh Abu Barra’ yang telah menjamin keselamatan para sahabat Nabi yang dikirim, duka akan kehilangan para sahabat terpilih ini tak bisa dengan mudah hilang. Nabi dan kaum muslimin merasa amat berduka dan kehilangan atas terjadinya peristiwa tersebut.

Belum habis kesedihan atas peristiwa Bi’r Ma’unah, pada tahun dan bulan yang sama, terjadi juga peristiwa yang dikenal dengan yaum al-râji’. Saat itu, datanglah beberapa orang dari ‘Adhal dan Qarah. Orang-orang ini meminta kepada Nabi untuk mengirimkan para sahabatnya ke wilayah mereka. Agar nantinya mereka bisa diajari bagaimana cara salat dan membaca Alquran.

Namun ternyata hal ini hanyalah tipu muslihat belaka. Orang-orang ini memiliki niat jahat untuk menangkap para sahabat Nabi yang akan dikirim, untuk nantinya sahabat yang ditangkap akan ditukarkan dengan tawanan dari kabilah mereka yang ditahan suku Quraisy.

Nabi Muhammad SAW menyanggupi permintaan orang-orang Adhal dan Qarah tersebut. Beliau mengirimkan enam orang sahabat pilihan beliau yang ahli membaca Alquran, untuk dikirim berdakwah disana. Mereka adalah Martsad bin Abi Martsad al-Ghanawi, ‘Ashim bin Tsabit, Abdullah bin Thariq, Zaid bin Datsinah, Khubaib bin Ady dan satu orang lagi sahabat Nabi yang tidak diketahui namanya.

Maka benar saja, ketika rombongan tiba di bukit Raji’, mereka sudah ditunggu oleh sekitar tiga ratus pasukan Adhal dan Qarah. Tiga dari enam sahabat gugur sebagai syuhada, sementara tiga lainnya ditangkap untuk diserahkan kepada suku Quraisy. Namun ditengah jalan menuju Mekah, Abdullah bin Thariq yang ditawan akhirnya juga gugur sebagai syuhada karena melakukan perlawanan. Sehingga yang mampu diserahkan orang-orang Adhal dan Qarah hanya dua sahabat Nabi saja. Pada akhirnya, dua sahabat Nabi terakhir ini wafat dieksekusi oleh kaum Quraisy.

Berita ini sampai kepada Nabi dan menjadi berita duka untuk beliau dan seluruh kaum muslimin. Musibah yang demikian bertubi-tubi menimpa kaum muslimin membuat Nabi Muhammad SAW yang tidak hanya berperan sebagai pembawa risalah dan utusan Allah, tapi juga menjadi pemimpin dan panutan umat muslim bersedih. Masalah demi masalah yang tak kunjung usai menuntut beliau segera bertindak. Umat islam telah kehilangan banyak saudara. Tujuh puluh sahabat terbaik syahid ketika mengemban tugas mulia. Dan ketika masa berkabung belum usai, berita duka lain menyusul secara tiba-tiba.

Sejak itu, selama sebulan penuh Nabi Muhammad SAW selalu menyisipkan qunut nazilah dalam tiap kali salat jamaah yang beliau pimpin. Beliau menambahkan doa ini di setiap rakaat terakhir dengan harapan agar kaum muslimin diberikan kesabaran, dan cobaan yang datang bertubi-tubi tersebut segera hilang. Tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpa kaum muslimin, dan tak ada lagi musibah yang mungkin akan membuat luka umat islam semakin dalam. Juga harapan agar orang-orang yang menghianati perjanjian dapat segera dikalahkan. Allah SWT akhirnya memenangkan kaum muslimin dalam perang Dzatu Riqa’. Perang melawan beberapa kabilah gabungan yang menyerang para sahabat Nabi di Bi’r Ma’unah.

Hingga hari ini, kita juga masih disunnahkan untuk membaca doa qunut nâzilah ketika terjadi peristiwa besar dan musibah yang menimpa umat muslim. Dan dengan semakin tidak terkendalinya situasi di Palestina, Pondok Pesantren Lirboyo menginstruksikan kepada seluruh alumni untuk membaca qunut nâzilah, dan mengamalkan Hizib Nashar yang ditujukan untuk kehancuran Zionis Israel.

Teks qunut nâzilah bisa didownload di link ini.