Tag Archives: Sepanjang Masa

Wanita Terbaik Sepanjang Masa

Di dalam beberapa literatur tentang pernikahan, terdapat sebuah kisah Asiyah, istri Firaun. Ini karena kisahnya sungguh istimewa.

Bayangkan. Ia adalah istri dari seorang yang paling terkutuk di bumi: seorang yang mendaku diri sebagai tuhan seumur hidupnya. Hidup di tengah kemewahan kerajaan dan kesombongan sang raja seharusnya membuatnya menjadi wanita yang suka bersenang-senang. Berfoya-foya. Sewenang-wenang. Asal dia bahagia.

Tetapi tidak bagi Asiyah putri Muzachim. Di tengah kungkungan kehidupan kafir itu, Allah menghendakinya menjadi seorang yang beriman kepada-Nya.

Karenanya, ia disebut-sebut sebagai salah satu wanita terbaik di dunia yang pernah ada. Rasulullah saw. sendiri pernah menyebutnya sebagai satu dari tiga wanita terbaik: Khadijah, istri Rasulullah Saw.; Maryam, ibunda Nabi Isa as.; dan Asiyah, istri Firaun.

Jika melihat sejarah hidupnya, tidaklah mengherankan jika ia disebut sebagai wanita terbaik. Dialah yang menyelamatkan nabi Musa a.s. dari tindakan sadis Firaun yang membunuh seluruh bayi bani Israil. Ia juga menyelamatkannya saat masih kecil, saat akan dihukum oleh Firaun karena telah mempermainkan jenggotnya. Ia juga menyelamatkan nabi Musa a.s. dari sihir-sihir yang dialamatkan padanya.

Bahkan, saking istimewanya Asiyah di mata Allah, ia dijadikan semacam standar pahala bagi perempuan-perempuan yang sudah menikah.

من صبرت على سوء خلق زوجها أعطاها الله من الأجر مثل ثواب آسية امرأة فرعون

Bagi perempuan yang bisa bersabar atas prilaku buruk suaminya, Allah akan memberikan pahala setara pahala Asiyah istri Firaun.

Seberapa besar pahala Asiyah? Entah. Tapi kisah di bawah ini bisa menjelaskannya.

Telah sekian lama keimanan Asiyah tersembunyi dari mata Firaun. Dan hari itu tiba juga: hari di mana keimanan Asiyah tampak di mata sang suami.

Seketika itu Firaun murka.

Dicencangnya kedua tangan dan kaki Asiyah. Tubuhnya ditelentangkan di atas tanah. Dibentangkannya kedua tangan dan kaki Asiyah ke empat arah. Di atasnya, matahari sedang terik-teriknya.

Firaun tidak bisa menahan murka. Tak cukup siksaan Asiyah sampai di situ saja. Diperintahkannya para hulubalang untuk mencari batu besar. Ia ingin menumbuk tubuh istrinya itu. Sungguh kejam nian.

Hulubalang berhasil menemukan batu yang dikehendaki. Mereka menggotongnya ke tubuh Asiyah.

Sebelum batu itu menimpanya, Asiyah berdoa kepada Tuhannya, “Tuhanku. Bangunkan aku rumah di samping-Mu. Rumah di surga-Mu.”

Asiyah kemudian diperlihatkan oleh Allah apa yang dimintanya: Rumah besar dibangun dengan bebatuan mulia.

Seketika itu malaikat mencabut ruhnya. Asiyah telah tiada sebelum batu besar menimpanya. Maka saat batu itu ditumbukkan, batu itu hanyalah menemui jasad tak bernyawa. Ia telah lebih dulu wafat dengan bahagia.

Referensi:
Uqud al-Lujain. Hal. 5.

Baca juga:
GENERASI SHOLEH UMMU SULAIM

Follow juga:
@pondoklirboyo