Tag Archives: waktu

Dawuh KH. Abdul Kholiq Ridlwan: Waktu Seperti Pakaian

Yang perlu dilakukan dalam Menghadapi Tahun baru ini hendaknya kita:

-Bersyukur karena masih bisa menemuinya

-meneliti diri sebagaimana dawuh shabat Umar Ra.: “Hisablah diri kalian sebelum datang hari penghisaban amal”

 

Abdullah bin Umar Ra. Berkata: “Tatkala engkau memasuki pagi hari, janganlah menunggu sorenya. Begitupun sebaliknya; Dan pergunakanlah hidupmu untuk matimu”

 

Mencari ilmu itu hukumnya wajib, sebab apa? Sebab manusia diciptakan untuk beribadah dan ibadah memerlukan ilmu.

 

Dalam ilmu Manthiq (logika: red.) pengertian manusia adalah hayawanun natiq (mahluk yang punya potensi untuk berfikir: red.) maka jika tidak berilmu, sifat natiq/pikiran-nya akan tenggelam dan nanti yang muncul adalah sifat-sifat kebinatangannya belaka; Bahkan bisa lebih parah daripada binatang, sebagaiman firman Allah Ta’ala:

أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

“Mereka layaknya binatang ternak, bahkan lebih sasar (buruk) lagi” (QS al-A’raf: 179)

 

Waktu itu seperti pakaian yang dimasukkan ke dalam tas. Jika tidak dilipat dengan baik maka baju sedikit saja tas sudah terasa penuh. Namun jika dilipat dengan baik, maka akan lebih banyak pakaian yang bisa masuk. Demikian pula waktu, bila tidak diatur dengan baik maka yang terasa seolah-olah selalu sempit.

 

Menunda-nunda sesuatu yang bisa kita kerjakan sekarang sama saja dengan melamar kegagalan.

disampaikan  dalam acara Masbro di aula Al muktamar 13 sep. 2018 M.(IM)

Isilah Waktu Luang

Waktu kosong tanpa kegiatan sama saja dengan mobil yang didorong kemudian berjalan sendiri di sebuah jalan menurun. Jadilah mobil itu menabrak ke sana kemari tanpa tujuan. Mana kali suatu hari kita mengalami kekosongan dalam hidup, bersiap-siaplah untuk menyambut datangnya kesedihan, kesusahan, ketakutan. Sesungguhnya kekosongan kita ini akan membuka semua arsip masa lalu, masa kini dan masa depan dari panggung kehidupan. Sehingga kita berada dalam kondisi yang ruwet.

Maka, isi kekosongan yang mematikan ini dengan melakukan kegiatan yang membuahkan hasil dan bermanfaat. Kekosongan itu tak ubahnya seperti pencopet yang sedang menunggu mangsa. Begitu kita mengalami kekosongan, saat itu kita diserang gempuran ilusi dari angan-angan dan saat itulah hilang seluruh bagian dari hidup kita. Para penyembuh kesurupan selalu bilang “Jangan pernah melamun. Tetaplah ada yang diingat. Karena begitu Anda melamun, jin-jin iseng akan mengambil kesadaranmu.”

Oleh karena itu, bangkitlah mulai sekarang untuk melakukan kegiatan. Seperti sholat sunnah, membaca, bertasbih, menelaah, menulis, merapikan kitab, memperindah kamar atau memberi hal yang berguna bagi orang lain. Dijamin 50 % kebahagiaan akan kita peroleh. Apa yang harus dilakukan? Membaca buku adalah salah satu jawaban yang tepat.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Di sini penulis mengutip kalam-kalam ulama yang  setidaknya bisa menjadi motivasi bagi kita untuk semakin semangat melakukan kegiatan positif yang satu ini.

Abu Ubaidah mengatakan bahwa Al Muhallab pernah mengatakan kepada anak-anaknya dalam wasiatnya, “ Wahai anak-anakku, janganlah kalian berada di pasar-pasar kecuali membawa buku untuk dibaca.”

Al Hassan Al Lu’lu mengatakan, “Aku telah menjalani masa 40 tahun tidak pernah tidur siang, tak banyak tidur malam hari dan tidak pula bersandar melainkan selalu bersama buku yang kuletakkan di dadaku.”

Ibnu Hazm mengatakan, “ Jika kantuk menyerangku, padahal belum waktunya tidur -dan yang lebih buruk adalah tidur melebihi kebutuhan-, aku pun mengambil buku diantara buku-buku yang bersubyekkan hikmah. Maka, kurasakan diriku tergugah oleh faedah yang tergantung di dalamnya  dan kurasakan kesenangan menguasai diriku manakala menemukan sebagian keperluanku di dalamnya. Hal yang menyelimuti kalbuku karena gembira dan bangga mendapatkan keterangan yang menjelaskan, kurasakan lebih menggugah diriku daripada ringkikan keledai dan lebih mengejutkan diriku daripada suara runtuhnya bangunan.”

Selanjutnya Ibnu Hazm mengatakan, “Jika ada sebuah buku yang kunilai baik dan baru serta dapat kuharapkan darinya faedah yang belum pernah kujumpainya dalam buku itu. Anda akan melihat diriku dari waktu ke waktu yang lain membuka lembaran buku untuk memeriksa tinggal berapa halaman lagi yang tersisa karena khawatir habis dan materi yang dibahas belum tuntas. Jika ternyata  buku yang kubaca tebal dan banyak halamannya, barulah aku merasa bahagia dan puas”.

At Ta’abi menyebutkan sebuah karya orang terdahulu. Lalu dia memberikan komentarnya setelah membacanya, “Kalau bukan karena ketebalannya dan jumlahnya yang begitu banyak, tentulah aku sudah menyalinnya”.

Bahkan Allah berfirman, “ Ini adalah sebuah Kitab yang diturunkan (Allah) kepadamu (Muhammad). Karenanya, janganlah ada keraguan dalam hatimu terhadapnya dan supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (agar mereka mau beriman) “ (Q.S Al A’raf : 2).

Maka tunggu apa lagi untuk mau membaca?

Penulis, M. Fu’ad Hasyim, siswa kelas II Tsanawiyyah asal Riau.