Mencintai Rasulullah Harus Melebihi Cinta kepada Diri Sendiri

Agus HM Dahlan Ridlwan, Mencintai Rasulullah

Kediri – Pondok Pesantren Lirboyo kembali menggelar Majelis Sholawat Kubro yang menjadi agenda rutin setiap malam Jumat yang bertepatan dengan Kamis Legi. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis Legi, 3 Dzulhijjah 1446 H/29 Mei 2025 M tersebut berlangsung di Aula Al-Muktamar mulai pukul 19.30 WIB. Dalam kesempatan itu, Agus HM. Dahlan Ridlwan menyampaikan dawuh mengenai hakikat mencintai Rasulullah saw. sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesempurnaan iman seorang muslim.

Baca juga: Iman Lemah Harus Dijaga dengan Lingkungan yang Baik

“Nabiyullah Muhammad saw. dari semesta alam ini harus kita tempatkan dalam hati kita sebagai manusia terbaik, sebagai makhluk nomor satu. Kalau itu tidak ditempatkan seperti itu, maka belum lengkap iman kita. Belum cukup iman kita.”

Cintanya Umar Kepada Rasulullah Belum Cukup

Untuk menjelaskan makna tersebut, beliau mengutip hadis yang Abdullah bin Hisyam riwayatkan. Dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. berjalan bersama para sahabat sambil menggenggam tangan Sayyidina Umar bin Khattab ra. Pada saat itu, Umar yang begitu mencintai Rasulullah merasa sangat bahagia berada di sisi Rasulullah berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي

“Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang paling aku cintai melebihi segala sesuatu, selain diriku sendiri.”

Baca juga: Niat Menuntut Ilmu: Semata-mata demi Husnul Khatimah

Agus HM. Dahlan Ridlwan menjelaskan bahwa pada saat itu Sayyidina Umar masih mengecualikan dirinya sendiri. Artinya, beliau mencintai Rasulullah saw. masih berada di bawah cintanya kepada dirinya sendiri.

Mendengar ucapan tersebut, Rasulullah saw. bersabda bahwa keimanan belumlah sempurna hingga seseorang mencintai beliau melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Beliau bersabda:

“Tidak cukup itu, wahai Umar. Demi Allah Yang jiwaku berada di tangan-Nya, belum sempurna imanmu hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Apakah Kita Bisa Mencintai Rasulullah Secara Cukup

Beliau menuturkan bahwa hadis ini sangat mudah diucapkan dan sering didengar oleh kaum muslimin. Namun, ketika maknanya benar-benar dihadapkan kepada diri masing-masing, mengamalkannya bukanlah perkara yang ringan.

“Ini adalah riwayat hadis yang mudah kita ucapkan, yang terasa biasa kita dengarkan. Namun, ia akan menjadi sangat berat ketika dipertaruhkan oleh diri kita sendiri.”

Baca juga: Ibadah Manusia Lebih Utama daripada Ibadah Malaikat

Kemudian Agus HM. Dahlan Ridlwan menegaskan bahwa cinta kepada Rasulullah saw. tidak cukup hanya diungkapkan melalui lisan atau perasaan. Cinta tersebut harus diwujudkan dengan mencintai segala sesuatu yang Rasulullah cintai serta menjaga seluruh warisan yang beliau tinggalkan.

“Mencintai Nabi berarti mencintai segala apa yang dicintai oleh Nabi. Mencintai Nabi berarti mencintai segala apa yang menjadi warisan Nabi.”

Melalui dawuh tersebut, para santri diajak untuk terus menumbuhkan mahabbah kepada Rasulullah saw. hingga menjadi kecintaan yang mengalahkan kecintaan kepada diri sendiri. Sebab, kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari seberapa besar kecintaan seorang hamba kepada Nabi Muhammad saw. yang tercermin dalam ketaatan, mengikuti sunnah, serta menjaga ajaran yang beliau wariskan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses