Tag Archives: Alumni Pondok Lirboyo

Bahtsul Masail HIMASAL: NKRI Sudah Final!

LirboyoNet, Kediri – Seperti yang telah diagendakan sebelumnya, Himpunan Alumni SantriLirboyo (HIMASAL) berencana melaksanakan bahtsul masail khusus bagi alumni Pondok Pesantren Lirboyo pada Rabu-Kamis, 22-23 Maret 2017 M./23-24 Jumadal Akhirah 1438 H. nanti. Pelaksanaan bahtsul masail ini menjadi salah satu agenda Bahtsul Masail Kubro (BMK) Pondok Pesantren Lirboyo, sehingga selain  diikuti oleh para santri dan undangan dari berbagai pesantren, bahtsu ini nantinya juga diharapkan semakin ramai dengan keikutsertaan para alumni.

Redaksi LirboyoNet pada Senin (06/03) lalu menemui Agus HM. Ibrohim A. Hafidz, Rois ‘Am Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo guna mendapatkan informasi terkait bahtsul masail ini.

Apa yang mendasari pelaksanaan bahtsul masail HIMASAL ini?

Mulanya, di dalam agenda HIMASAL, bahtsul masail akan terlaksana setiap lima tahun sekali. Namun, akhir-akhir ini, ada desakan dari para alumni yang merasa bahwa untuk mengakomodir dan memformulasi permasalahan yang aktual, tidaklah cukup dirumuskan lima tahun sekali. Maka kemudian HIMASAL mencoba mewadahi permasalahan alumni ini dengan mengadakan bahtsul masail HIMASAL padaakhir tahunini.

Apa tema besar yang diangkat dalam bahtsul masail kali ini?

Kami mengangkat isu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Tujuannya, memberikan wawasan kebangsaan kepada para alumni.

Kenapa harus NKRI?

Mengenai ini, kami lebih melihat isu-isu terkini yang beredar di sekitar kita. Seperti diketahui, situasi dan kondisi negara saat ini membutuhkan perhatian khusus dari para pemerhati, termasuk dari para alumnus pesantren ini. Bagaimana permasalahan-permasalahan yang ada seperti kecintaan pada negara mulai luntur, dan adanya rongrongan pihak-pihak yang tidak senang dengan keutuhan negara kita. Apalagi, ada yang memanfaatkan unsur-unsur keagamaan untuk mewujudkan keinginan-keinginan buruk itu. Para alumni harus mempunyai rumusan yang pasti dan teguh untuk menghadapi permasalahan ini.

Kami juga melihat fakta bahwa ada beberapa pesantren dan lembaga keagamaan yang mulai mempertanyakan kembali, apakah NKRI benar-benar menjadi harga mati? Kenapa tidak mengkaji ulang konsep yang ditawarkan Islam, seperti khilafah dan semacamnya? Kita akan membahas ini. Seperti yang kita ketahui bersama, kerusuhan dan carut-marut yang terjadi di sebagian Timur-Tengah, seperti perang saudara berawal dari keraguan akan sistem pemerintahan yang telah berjalan. Kemudian, dengan agresif menuntut perubahan drastis. Kasus ini kemudian berkembang pada isu takfiri, yakni mudah mengkafirkan orang lain.

Juga, kita sama memahami apa yang terjadi di dalam media sosial. Perang opini yang saling dilemparkan sangat memprihatinkan.Yang membuat kami lebih prihatin adalah para korban opini itu bukan hanya masyarakat awam, tapi juga santri dan alumni pesantren yang notabene telah mendapat pendidikan cinta kepada negara.

Kenapa isu kebangsaan menjadi se-urgen itu di mata pesantren Lirboyo?

Perlu diketahui bersama, apa yang sedang aktual terjadi di negara ini sangat meresahkan para masyayikh kita. Beliau-beliau menganggap keutuhan dan persatuan negara berada dalam situasi yang genting. Gangguan dan rongrongan terhadap institusi, bahkan konstitusi negara sudah tidak main-main. Para masyayikh tidak ingin apa yang terjadi di Timur-Tengah juga melanda Indonesia. Analisa dari pihak-pihak terpercaya mengatakan gangguan itu sudah menjalar ke berbagai lapisan masyarakat dan politik.

Islam wajib memperhatikan ini semua. Bukan hanya itu, islam juga wajib melindungi negara dari gangguan apapun. Bukan malah mendirikan sistem baru. Apalagi khilafah. Dalam kasus negara kita, tawaran berupa khilafah ini samasekali tidak diizinkan oleh islam. Semua santri, terutama alumni ponpes Lirboyo, wajib mengetahui dan meyakini bahwa apa yang telah dirumuskan pendahulu bangsa adalah keputusan terbaik.

Dengan dijadikannya tema kebangsaan sebagai titik tolak utama dalam bahtsul masail HIMASAL kali ini, apa harapan dari pondok pesantren Lirboyo?

Pertama adalah menyatukan visi-misi. Seluruh alumni harus satu pandangan dalam menghadapi berbagai kasus, terutama kasus ini. Hal ini penting agar lingkungan dan masyarakat tempat para alumni tinggal dapat dikoordinir dengan baik oleh para alumni. Tidak muncul keresahan dan kebingungan yang tidak perlu.

Selanjutnya, para alumni harus kokoh dan teguh memegang prinsip yang telah dirumuskan oleh masyayikh di atas, bahwa apa yang dicanangkan pendahulu bangsa adalah hasil renungan terbaik. Maka harus kita bela dan perjuangkan dengan sekuat tenaga. Adapun dalam menghadapi permasalahan pelik ini, kita harus mengikuti apa yang didawuhkan masyayikh, yakni tetap bil hikmah dan mauidhah hasanah. Dengan prilaku dan komunikasi yang baik.

Terakhir, pesan dari para masyayikh adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dipertahankan seperti layaknya yang dilakukan para kiai dan santri dahulu. Karena dengan negara yang aman, kondusif, visi pesantren berupa ta’lim dan ta’allum (persebaran ilmu pengetahuan) akan dapat berjalan lancar dan nyaman.][

Silaturrohim Santri & Alumni Lirboyo Daerah Bondowoso

LirboyoNet, Bondowoso – Dalam rangka mengisi kegiatan liburan pondok tahun 1437 H., maka santri aktif PP. Lirboyo Kota Kediri yang bermukim di Bondowoso & Situbondo berkolaborasi dengan PC. Himasal Bondowoso & Situbondo mengadakan kegiatan bertajuk “Silaturrohim Santri & Alumni PP. Lirboyo Kota Lirboyo serta Penutupan Pengajian Rutin Kamis Legi PC. Himasal Bondowoso & Situbondo 1437 H/2016 M” di PP. Nurul Hasan, Dadapan, Grujukan, Bondowoso beberapa hari yang lalu sebelum masuk bulan puasa.

Alumni Pondok Lirboyo Daerah Bondowoso
Sebagian Pengurus PC. Himasal Bondowoso & Situbondo bercengkrama dengan KH. Muhammad Ghozaly Bahar sebelum acara dimulai

Acara tersebut berlangsung gayeng dengan pola seperti kegiatan jam’iyyahan di pondok. Ketua Umum PC. Himasal Bondowoso & Situbondo, KH. Asy’ari Fasya, Lc, dalam sambutannya menyatakan bahwa apapun kegiatan yang kita lakukan itu semata-mata bagian dari khidmah pada masyayikh Lirboyo. Beliau juga menyitir sebuah hadis:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang suka dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturrahim.”

Acara ini menghadirkan penceramah yang juga alumni PP. Lirboyo dari Probolinggo, KH. Muhammad Ghozaly Bahar. Beliau adalah salah seorang Purna Mustahiq MHM Lirboyo 1993, juga Mudier MTs MHM Lirboyo 1993/1994. Selanjutnya beliau memperistri salah seorang keponakan Almaghfûrlah Mbah Yai Idris Marzuqi.

Dalam mau’idhohnya beliau lebih banyak bernostalgia tentang kehidupan sebagai sesama santri Pondok Lirboyo. Beliau membuat ibroh sederhana tentang model lembaga pendidikan seperti sebilah pisau dan keris. Keris lebih mahal dari pisau, sebilah keris bisa bernilai 20 sampai 40 kali harga pisau. Namun kenyataannya lebih banyak manfaat pisau dari keris. Pisau digunakan untuk berbagai kebutuhan, sedangkan keris hanya menjadi hiasan seperti yang dipakai oleh pengantin pria saat di pelaminan, itupun diletakkan di belakang punggungnya.

Demikian pula lembaga pendidikan. Ada yang mahal biayanya dan mewah fasilitasnya, tapi outputnya kadang tidak maksimal. Mondok di Lirboyo itu murah, tapi besar barokah dan manfaatnya. Banyak alumnusnya yang menjadi mulia setelah pulang ke kampung halamannya.

Dawuh Sayyidina Abdullah bin Abbas:

ذللتُ طالبا وعززتُ مطلوبا

وفي رواية : ذَلَلْتُ طَالِبًا لِطَلَبِ الْعِلْمِ، فَعَزَزْتُ مَطْلُوبًا

Sekarang ini banyak lembaga mewah yang memanjakan santri/siswanya, sehingga hasilnya tidak mandiri dan tidak siap melarat. Menjadi santri Lirboyo harus siap melarat, sebagaimana dawuh Mbah Yai sepuh. Sehingga jadi apapun ketika pulang sudah siap dan tidak kaget.

Santri-Alumni-Pondok-Lirboyo-Bondowoso
Sebagian Pengurus PC. Himasal Bondowoso & Situbondo dan Panitia dari Santri Aktif PP. Lirboyo Kota Kediri berpose bersama setelah acara

Maka “pisau” harus sering diasah supaya tidak karat, begitupun santri dan alumni harus tetap menjaga ‘alaqoh dengan Masyayikh. Beliau juga berpesan agar para santri dan alumni meneladani segala perilaku Masyayikh, khususnya dalam hal keistiqomahan dan ketawadlu’an. Di samping itu beliau juga menekankan pentingnya mempunyai jiwa pengabdian terhadap ummat dengan meneladani Masyayikh, serta pentingnya pula menjaga agar Masyayikh senantiasa meridloi kita.

Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Wakil Ketua PC. Himasal Bondowoso & Situbondo, KH. Zainal Musthofa Sumoko Sholeh, yang juga Purna Mustahiq MHM Lirboyo tahun 1997. Lalu dilanjutkan dengan ramah tamah dan dialog antar para santri dan alumni.[]

Dituturkan oleh ALY SHODIQ ASA, Sekretaris Umum PC. Himasal Bondowoso & Situbondo

Turba HIMASAL di Kalimantan Timur

LirboyoNet, Kalimantan Timur – Untuk kali kedua, sepekan yang lalu tepatnya Jumat-Ahad (6-8 Mei 2016), Pengurus Pusat HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Timur. Turba kali ini diwakili oleh KH. An’im Falachuddin Mahrus dan KH. Nurul Huda Ahmad, selaku Ketua Satu dan Dua HIMASAL. Turut serta pula, Agus M. Ahsin Ahmad, Slumbung, Kediri.

Beragam acara digelar pada kunjungan tersebut. Jumat sore, rombongan meninjau sebidang tanah yang akan dihibahkan kepada Pondok Pesantren Lirboyo. Malam harinya, Pengurus Pusat HIMASAL mengisi pengajian umum yang dibingkai dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW serta peringatan Harlah Ke-5 Desa Bangun Mulya, Waru, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Meskipun konsep acara tersebut sederhana, tidak mengurangi antusias masyarakat untuk hadir mendengarkan tausiyah dari masyayikh Lirboyo.

Kunjungan-Kiai-Lirboyo-Ke-KaltimSabtu pagi harinya, mengunjungi tanah yang diwakafkan kepada Pondok Pesantren Lirboyo dan saat ini sudah digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar agama. Selepas survei tanah wakaf yang berlokasi di kilo meter 25,5 Balikpapan tersebut, rombongan menghadiri acara Serasehan Alumni dan Santri Lirboyo di Palaran, yang berlangsung hingga sore hari dan diakhiri dengan mushofahah.

Banyak hal dibahas dalam forum serasehan antar masyayikh Lirboyo, alumni dan wali santri tersebut. Diantaranya adalah bagaimana jika HIMASAL daerah membuat terobosan ekonomi demi keberlangsungan organisasi. Karena ke depan diharapkan, kebutuhan operasional organisasi mampu dicukupi dari divisi ekonomi organisasi, bukan dari iuran anggota atau lainnya.

“Hal lain yang penting dan harus selalu kita jaga adalah kekompakan. Para alumni harus tetap bersatu padu, tetap teguh menjaga Islam ala ahlussunnah wal jamaah. Jika kita kompak, tetap menjaga haluan sebagaimana yang dipesankan para masyayikh kita, insyaallah lambat laun kegiatan yang ada pada tanah wakaf di sana (tanah wakaf di Balikpapan yang Sabtu pagi rombongan kunjungi-Red.) itu akan berkembang,” pesan Yai An’im dalam sambutannya. (IM)