Tag Archives: bahasa arab

Sabtu-Arab, Senin-Inggris, Rabu-Jawa

LirboyoNet, Kediri –Berbicara bahasa, tidak akan lepas dari membicarakan keragamannya. Ada ribuan bahasa di dunia. Di indonesia saja, ada 748 bahasa ibu yang terdata. Dan yang akrab dengan lidah santri Lirboyo adalah bahasa Jawa, Kawi, dan tentu bahasa Arab. Bagaimana dengan bahasa asing yang lain?

Seorang bijak mengatakan, “bahasa adalah pertaruhan: kuasai ia lalu kuasai dunia, atau tinggalkan ia dan menjadi jajahan.” Apa pasal? Karena aktivitas apapun, selama bersinggungan dengan pihak lain, ia butuh komunikasi.  Dan komunikasi yang dapat bertahan lama tentu saja lewat bahasa yang bisa dipaham kedua pihak.

Hanya saja, seberapa penting bahasa lain–selain bahasa ibu kita­– dibaca dan dipelajari? Kita tak tahu pasti. Namun dunia saat ini menuntut kita untuk tidak pasif: berkomunikasi hanya dengan bahasa sendiri. Jika yang terjadi seperti itu, kita memang akan tetap hidup dan berkomunikasi;  tapi kita akan terisolir dan terasing.

Lirboyo, betapapun ia berhati-hati dalam mengisolir diri, bukanlah pesantren yang jumud akan modernisasi. Salah satu kunci modernisasi itu, yakni komunikasi, dirawatnya dengan baik hingga kini. Baik pondok induk maupun unitnya mempunyai beberapa program khusus terkait pengembangan komunikasi. Ambil saja, misalnya, apa yang dilakukan Pondok Pesantren Putri Tahfidzul Quran (P3TQ).

Setiap hari Jumat, para santri putri mendapatkan pengajaran ekstra: pengembangan Bahasa Inggris. Dilaksanakan di Laboratorium Bahasa milik pondok induk, mereka dibimbing oleh Bapak Saiful Asyhad, SH. sejak pukul 07.30 hingga 11.00 Wis (Waktu Istiwa’). Apa yang mereka lakukan selama itu? Macam-macam. Menghafal sentence (susunan kalimat), verb (kata kerja), noun (kata benda), dan beberapa keterangan lain. Di sana, mereka juga diajarkan cara pelafalan yang benar, dan trik-trik merangkai kata.

Tidak berhenti di situ, P3TQ juga memiliki program lanjutan terkait ekstra yang telah berlangsung lama itu. Yakni, kewajiban berbahasa tertentu di hari tertentu. Untuk bahasa Inggris, mereka diwajibkan melafalkannya di setiap hari Senin dan Selasa. Walhasil, mereka terbiasa berbahasa asing bahkan saat mereka sudah berada di rumah. Menurut Bapak Saiful, sampai saat ini, masih banyak lulusan P3TQ yang berkorespondensi dengan beliau. Terutama, konsultasi terkait kualitas bahasa Inggris mereka. “(konsultasi itu diantaranya untuk) buat skripsi, ada yang buat ngajar di sekolah, mau tes kuliah,” terang beliau.

Selain bahasa Inggris, mereka juga diwajibkan berbahasa Arab pada hari Sabtu-Ahad, dan bahasa Jawa pada hari Rabu dan Kamis.

Tentunya, program ini tidak mengganggu samasekali dari tujuan utama mereka: mempelajari agama dengan sungguh-sungguh. Karena apa yang dinanti-nanti masyarakat sebenarnya adalah pengetahuan mereka tentang agama. Sementara ekstra kebahasaan, maupun yang lain, hanyalah sebagai sarana untuk lebih dekat dengan masyarakat.][

Menuju Pesantren Berbahasa Arab

Di mata masyarakat umum, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang out putnya adalah santri yang –setidaknya- tahu bahasa Arab. Kitab-kitab berbahasa Arab menjadi makanan sehari-hari, pelajarannya juga tentang bahasa Arab (nahwu shorof), bahkan tak sedikit pesantren yang menerapkan bahasa Arab sebagai bahasa keseharian.

Namun demikian ternyata tidak dengan Lirboyo. Boleh saja asumsi khalayak mulai kiai, santri, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat awam menilai Lirboyo sebagai kiblat pesantren nahwu shorof. Dan kenyataannya memang demikian. Hampir bisa dipastikan wawasan keilmuan Ilmu Alat di kalangan santri sudah nglothok. Akan tetapi ternyata ketika diajak ngobrol dengan bahasa Arab bisa dipastikan akan gelagapan. Mengherankan memang.

Melihat realita yang demikian muncul inisiatif dari beberapa pengurus madrasah, antara lain Agus H. Abdul Muid Shohib untuk lebih meningkatkan wawasan kebahasaan, terutama bahasa Arab. Dan sebagai tahap awal tercetuslah untuk mengadakan seminar Jamíyyah Nahdliyah dengan tema “Meningkatkan Komunikasi Berbahasa Arab untuk Menuju Pesantren yang Berwawasan” hasil kerja bareng MHM dan M3HM. Acara yang melibatkan perwakilan siswa ibtidaiyyah dan tsanawiyyah ini dilaksanakan pada hari Kamis malam Jum’at, 11 April 2013 di Gedung LBM P2L. Seminar kali ini bisa dikatakan mendadak karena memang sebelumnya jam’iyah nahdliyah tahun ini diagendakan hanya satu kali, yakni sebelum Maulud. Yang membuat seminar malam itu berbeda 3 tutornya adalah langsung dari Mesir. Yakni Syekh Mahmud, Syekh Muhammad Fauzi dan Syekh Hamadtho. Ketiga-tiganya adalah dewan pengajar Bahasa Arab di Ponpes An Nur, Malang asuhan KH. A. Fakhrurrozi -yang malam itu menjadi moderator-  yang didatangk an dari Unversitas Al Azhar Mesir.

“Banyak ulama luar negeri yang heran dengan Lirboyo. Sebenarnya pendidikan di Lirboyo sudah luar biasa, cuma bahasa komunikasi (bahasa Arab) dan hafal Al Qur’an yang perlu dikembangkan lagi,” ungkap Gus Fahrur membuka seminar. Tokoh NU ini lantas memperkenalkan satu per satu tutor.

“Semua Syekh ini hafal Al Qur’an. Selain itu Syekh Mahmud juga ahli tafsir. Syekh Fauzi seorang qori internasional hingga kemarin sudah sampai di Spanyol. Yang bisa sedikit bahasa Indonesia Syekh Hamadtho, karena beliau sering belanja sendiri ke pasar,” terang beliau disambut tawa hadirin. Dalam menyampaikan materi ketiga syekh ini menggunakan bahasa Arab dengan diterjemahkan oleh moderator. Pembicara pertama adalah Syekh Fauzi. Beliau menekankan agar para santri tidak banya giat memperbanyak hafalan. Namun juga harus paham. Jangan seperti kaum Bani Israil yang diibaratkan Al Qur’an ‘Kamastalil khimar yahmilu asfaro’, layaknya keledai yang mengangkut kitab-kitab.  Salah satu caranya adalah dengan membiasakan sehari-hari berdiskusi berbahasa Arab dengan teman. Sedikit-sedikit sebisanya. Jangan takut salah. Ibarat balita yang belajar berjalan, tentu tak bisa langsung bisa mahir berlari.

Pembicara kedua, Syekh Mahmud, banyak memberikan kiat-kiat agar handal bercakap-cakap dengan bahasa Arab. “Hukumnya wajib belajar bahasa Arab, karena Al Qur’an memakai bahasa Arab. Belajarlah bahasa Arab supaya kamu mengerti,” ujarnya. Selain itu Bahasa Arab adalah bahasa sastrawi, namun ketika Al Qur’an turun sampai sekarang belum ada orang Arab maupun non-Arab yang bisa menandingi sastranya.

Di antara tips yang beliau utarakan  adalah dengan menghafal 10 kalimat (kata) per hari. Tak perlu yang sulit, hafalkan yang mudah yang biasa dilihat sehari-hari. “Baab pintu, Misbah lampu,” syekh mencontohkan. Sebagai pemula tak perlu takut salah. Di Pesantren Gontor santri-santri baru banyak yang masih menggunakan bahasa Arab semampunya. Semisal, “ente kok kadzalik?”,  “Na’am dong”. Menggelikan memang. Tapi karena lingkungan mendukung dan banyak teman akhirnya terbiasa. Tidak ada yang mudah tapi juga tidak ada yang tidak mungkin. Kuncinya satu, kesungguhan. Beliau menyayangkan minimnya tempelan-tempelan berbahasa Arab di Lirboyo. padahal hal tersebut sangat membantu kelancaran berbahasa Arab para santri. Selain itu juga harus ada satu guru yang ahli bahasa Arab tinggal sebagai rujukan.

[ads script=”1″ align=”center”]

Pembicara yang ketiga, Syekh Hamadtho juga banyak mengungkapkan keunggulan bahasa Arab dibanding bahasa lainnya. Allah mempunyai pilihan-pilihan. Ada ribuan bahasa, tapi kenapa Allah memilih bahasa Arab? Karena bahasa Arab mempunyai keistimewaan. Hal ini terbukti secara ilmiah ternyata ceramah bahasa Arab lebih dapat mengena. Efeknya sangat tinggi di hati pendengar. “Banyak orang yang membaca Al Qur’an menangis, namun tak ada orang yang hanya membaca terjemahannya bisa menangis,” ungkapnya.

Beliau mencontohkan percakapan yang semuanya menyitir ayat Al Qur’an. Sampai-sampai Gus Fahrur berkomentar, “Indah sekali seandainya mengerti apa yang beliau sampaikan.” Acara kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Total ada enam penanya. Kebanyakan mencoba bertanya kepada para Syekh dengan bahasa Arab. “Kaifa .. e .. nahnu .. natakallamu .. e .. billughotil arobiyah?” Tentu saja masih grotal-gratul karena tak terbiasa ngomong Arab. Dan lagi kitab banget. Sontak para hadirin tertawa melihat tingkahnya. Seminar malam itu baru selesai ketika jarum jam menunjuk pukul 11.30 wis.

***

Dunia Islam, tak terkecuali pesantren memang selalu diidentikkan dengan bahasa Arab. Yang menarik ternyata bahasa Arab tidak selalu identik dengan orang Negara Arab. Definisi orang Arab bukan karena hidungnya panjang dan jenggotnya lebat. Orang Arab adalah yang menguasai bahasa Arab. Di jazirah Arab justru kebanyakan bukan orang Arab yang berbahasa Arab. Dari 22 negara di sana hanya Makkah dan Yaman yang hingga kini eksis memakai bahasa Arab sebagai bahasa resmi. Yang lainnya adalah suku-suku bangsa yang lain dengan bahasanya masing-masing. Seperti Iran dengan bahasa Persi, Mesir dengan bahasa Koptik, dll.

Bahasa Arab baru menjadi bahasa pemersatu Jazirah Arab ketika Islam didakwahkan. Hal ini tak lepas dari peranan al qur’an yang berbahasa Arab. Para ulama muslim mayoritas juga justru bukan dari Negara Arab. Imam Bukhori dari maroko, Imam Nawawi juga bukan orang Arab. Tafsir Qurthibi karangan Imam Qurthubi dari Spanyol malah termasuk tafsir dengan kajian bahasa Arab terbaik sampai sekarang. Melihat kenyataan demikian sama sekali tak jadi soal kita orang Arab atau bukan untuk menguasai bahasa Arab. kuncinya sekali lagi satu, kemauan. Dan sekarang mau atau tidak semua tergantung Anda. {}