Tag Archives: khazanah aswaja

Di balik buku “Khazanah Aswaja”

LirboyoNet, Kediri-  Diskursus mengenai ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara komprehensif merupakan bekal penting untuk menjaga eksistensi agama Islam. Langkah tersebut merupakan upaya prefentif yang sangat mendesak mengingat semakin banyaknya berbagai aliran-aliran yang terus berusaha merongrong kemurnian ajaran Islam. Dan kehadiran buku “Khazanah Aswaja” yang ditulis oleh Tim Aswaja NU Center Jawa Timur merupakan salah satu bentuk nyata dalam menjadikan masyarakat untuk memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Pada ahad kemarin (19/3), redaksi LirboyoNet berhasil mewawancarai Ahmad Muntaha AM, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo yang juga salah satu Tim Aswaja NU Center Jawa Timur untuk mendapatkan informasi terkait seminar dan bedah buku “Khazanah ASWAJA” yang diikuti seluruh siswa kelas 2 dan 3 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo.

Sebelum bertanya tentang buku “khazanah Aswaja”, kami ingin menanyakan sekilas tentang Aswaja NU Center?

Secara prinsip, Aswaja NU Center merupakan satuan khusus yang fokus menangani isu-isu keaswajaan. Aswaja Center bukanlah lembaga ataupun n badan otonom di bawah PWNU Jawa Timur. Satuan perangkat pelaksana program ini resmi didirikan bersamaan dengan ulang tahun NU ke 85 pada 31 januari 2011 dengan nama Aswaja NU Center Jatim.

Untuk latar belakang berdirinya,  bahwa dalam organisasi NU banyak sekali aspek yang menjadi fokus penanganan, baik yang berhubungan dengan bahtsul masa’il, dakwah, kepemudaan dan seterusnya. Dengan memandang keadaan demikian serta tuntutan kondisi yang terus mengemuka di masyarakat yang membutuhkan penanganan serius dalam masalah keaswajaan, maka didirikanlah Aswaja NU Center Jatim.

Aswaja NU Center Jatim memiliki misi untuk mengaktualisasikan umat dalam keislaman Aswaja NU, meningkatkan pemahaman, penghayatan, pengalaman (menginternalisasi) Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai perilaku umat dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana perkembangan Aswaja NU Center untuk selain  PWNU Jatim?

Untuk wilayah Jawa Timur sendiri, Aswaja Center sudah merata di seluruh Cabang NU di setiap  kabupaten atau kota.  Untuk luar Jawa Timur, sementara ini baru di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang sudah dibentuk, namun masih berada di bawah kordinasi LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama) Pusat. Bahkan di beberapa pesantren juga sudah membentuk satuan yang khusus menangani bidang keaswajaan tersebut.

Mengenai buku “Khazanah Aswaja”, apakah latar belakang penulisan buku tersbut?

Latar belakang penulisan buku tersebut sama persis dengan tujuan berdirinya Aswaja Centre NU, yaitu menjawab berbagai isu-isu yang berhubungan dengan keaswajaan. Sebenarnya,  buku-buku senada sebelumnya juga sudah ada, salah satunya yang berjudul Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun, karena adanya perkembangan problematika  keaswajaan dan   muncul berbagai pertanyaan dan usulan-usulan baru, maka keluarlah ide untuk menulis buku tersebut.

Diantara beberapa pembahasan baru yang tidak ditemukan dalam buku-buku sebelumnya adalah masalah radikalisme, liberalisme, kebangsaan , aqidah 50, kondisi  Islam pada masa rosulullah SAW  sampai masa Imam al-‘Asy’ari, kemudian pembahasan secara komprehensif mengenai madzhab ‘Asyairoh dan Maturidiyyah yang merupakan representasi dari konsep Ahlus Sunah wal Jama’ah yang sebenarnya.

Karena di  dauroh-dauroh (pelatihan) Aswaja yang diselenggarakan oleh NU baru menjelaskan masalah amaliyah keseharian, dasar-dasar Aswaja, maka buku ini lebih tepatnya dikatakan sebagai pengembang dari berbagai upaya yang telah dilakukan sebelumnya.

Bagaimana respon dan tanggapan masyarakat atas hadirnya buku tersebut?

Mengenai respon atas kehadiran buku tersebut, untuk wilayah Jawa Timur bahkan di tingkat nasional sangat bagus sekali . Hal itu bisa dilihat dari beberapa hal, salah satunya adalah banyaknya minat dan permintaan diselenggarakannya bedah buku “Khazanah Aswaja” di berbagai daerah, pesantren-pesantren, perguruan tinggi, sejumlah PCNU, bahkan di PBNU. Dan yang aneh lagi terjadi di daerah Solo, sebelum dilaunching secara resmi, buku ini sudah dibedah oleh selain tim penulis.

Karena melihat permintaan yang sangat tinggi terhadap buku tersebut, tim penulis sudah melakukan cetak ketiga meskipun masih belum lama diluncurkan secara resmi. Bahkan buku tersebut menjadi referensi dan bekal wajib bagi santri tahap akhir di pesantren-pesantren besar, semisal Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan.

KH Ma’ruf Amin dalam sambutan buku ini mengatakan, “Kehadiran buku ini menjadi langkah strategis dan secara substantif dapat diserap oleh NU di seluruh level secara nasional, sesuai kondisi dan tantangan yang dihadapi”.

Terakhir, apa harapan dengan adanya Aswaja NU Center dan diterbitkannya buku “Khazanah Aswaja”?

Harapan besar kami, mengingat begitu pentingnya konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah, agar pemahaman tentang Aswaja ini dapat diterima, terus disyiarkan, dan dikembangkan di seluruh lapisan masyarakat khususnya warga Nahdliyyin dan pesantren-pesantren NU. []

 

 

 

Memperkenalkan kembali Pesantren, Aswaja, dan Nasionalisme

LirboyoNet, Kediri –Penanaman kembali ideologi ahlussunnah wal jamaah menjadi begitu penting akhir-akhir ini. Terutama, ketika melihat fakta bahwa banyak alumnus pesantren, yang mendapat ajaran dan maqalah-maqalah bijak masyayikh (para kiai) saat masih mesantren, kini justru berjalan dan berjuang di jalan yang bertentangan dengan ideologi yang bertahun-tahun diterimanya itu.

Fakta ini diungkap oleh Ahmad Muntaha AM, salah satu anggota Tim Aswaja Center PWNU Jawa Timur dalam pengenalannya akan buku “Khazanah Aswaja” di depan ratusan santri Pondok Pesantren Lirboyo. Berawal dari kegeraman akan fakta inilah, kemudian menjadi salah satu dasar bagi Tim Aswaja Center untuk “menyeduh” kajian-kajian pemahaman bernafas ahlussunnahyang dapat dinikmati khalayak muslim Indonesia yang kemudian berwujud sebuah buku tebal.

Dalam “seduhan buku Khazanah Aswaja” yang ada di hadapan para peserta itu, telah terpapar dengan jelas sejarah berikut analisa kasus seputar ahlussunnah, terutama perseteruannya dengan tawaran ideologi dari firqah lain.”Sangat banyak firqah yang berusaha mengacaukan ajaran ahlussunnah. Puncak usaha mereka, firqah apapun itu, ingin menanamkan ajaran tauhid uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa shifat (yang sangat terlarang bagi akidah aswaja). Pada intinya mereka ingin akidah pengikut aswaja menjadi buram,” jelas pria yang juga alumnus Ponpes Lirboyo ini.

Yang marak terjadi dewasa ini adalah usaha untuk menanamkan jargon “kembali ke Alquran dan Hadits” ke dalam mindset muslimin Indonesia. Mereka mengajak untuk meninggalkan kitab-kitab salaf dan pendapat-pendapat ulama. Alquran, kata mereka, adalah kalam Allah, yang terjaga keasliannya dan pasti benar apa yang dikandungnya. Sementara ulama adalah manusia, makhluk yang tak lepas dari kesalahan. “Sampean pilih mana, Alquran yang ma’shum (terjaga) atau kitab-kitab yang dikarang makhluk yang tak lepas dari dosa?” tuturnya menirukan jargon yang sering mengemuka di instansi pendidikan tinggi itu. “Yang mengherankan, banyak santri yang tergerus jargon ini. Bagaimana bisa? Wongpara kiai, masyayikh dan pesantren tidak pernah meninggalkannya (Alquran dan Hadits), kok kita diajak kembali. Kembali ke mana?”

Syaikh Ramadlan Al-Buthi, sebutnya, bahkan menilai jargon ini sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan. Akhtha’u al bid’ah. Seburuk-buruk bid’ah. Karenanya, para santri harus sangat berhati-hati. Propaganda yang dilakukan sudah begitu masif, tidak hanya oleh satu-dua kelompok, namun sudah menjamur dan dilantangkan berbagai komunitas dan kelompok masyarakat. “Biasanya, mereka merujuk pada persoalan-persoalan besar negara yang tidak terpecahkan. Ekonomi yang buruk, itu karena (kita percaya pada konsep) Pancasila thaghut (sesat). Obatnya apa? Khilafah. Politik yang tidak kunjung adem, obatnya apa? Khilafah. Apa-apa khilafah. Sampai-sampai ada guyonan, panu di punggung obatnya apa? Khilafah.”

Penjelasanini kemudian mengundang pertanyaan dari Isrofi, salah satu peserta kelas tiga Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. “Bukankah alasan-alasan mereka ada di dalam nash? Dan bukankah itu, dengan merujuk bahwa Alquran dan Hadits adalah kabar yang pasti benar,jelas bisa diterima?”

Ahmad Muntaha dalam menjawab kegundahan ini kemudian merujuk pada satu kisah, bagaimana KH. Maimun Zubair, Sarang, pada suatu ketika membacakan kitab di depan para santri. Saat sampai pada teks-teks yang menelaah kekerasan dalam Islam, beliau berujar, “Yo ngunu kui kitab, cung (ya begitu itu teks kitabnya, cung)”. Artinya, nash yang kita baca tidak bisa sertamerta dapat dipahami sekilas, lalu diterjemahkan apa adanya. Satu maqalah arif mengatakan, “an-nash syai’un, wa tadbiruhu syai’un.” Dalil nash adalah sesuatu, sementara pemahaman dan pembicaraan mengenainya adalah sesuatu yang lain. Perlu melihat faktor-faktor lain sebelum merubah nash itu menjadi sebuah keputusan.

“Mbah Hasyim (KH. Hasyim Asy’ari) saat kukuh mendukung NKRI apa tidak tahu ayat itu? Itulah perlunya penalaran lebih dalam mengenai dalil-dalil nash, terlebih jika ingin melakukan tindakan yang subversif seperti akhir-akhir ini,” terangnya.

Di akhir pembicaraan, Muntaha menegaskan bahwa saat ini diperlukan santri-santri yang berjiwa militan dalam memperjuangkan ahlussunnah. Para masyayikh sangat berharap tumbuh para santri yang tak kenal lelah berjuang dan berkiprah di berbagai bidang, terutama lewat budaya literasi. Karena dengan semakin intensifnya karya tulis santri lahir, keutuhan NKRI dan kelestarian agama Islam dapat terus diabadikan.][