Tag Archives: khidmah

Selasa Wage, Sebuah Rutinitas Himasal Magelang

Lirboyonet, Magelang—Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) Magelang kecamatan Borobudur memiliki semacam kegiatan rutinan sebagai wadah berkumpul antar alumni. Kegiatan ini digelar setiap Selapanan, lebih tepatnya setiap malam Selasa Wage.

Pada malam Selasa Wage kali ini (14/08), rutinan Selapanan bertempat di lokasi ‘Rumah Kamera’, desa majaksingi kec. Borobudur. Selapanan diawali dengan tahlil teruntuk masyayikh Lirboyo, lalu dilanjutkan dengan musyawarah.

Dalam musyawarah ini, tercetus ide untuk ikut menyemarakkan kampanye #ayomondok, yang telah digaungkan oleh organisasi Nahdlatul Ulama beberapa waktu lalu. Bagaimanapun juga, sebagai alumni Pondok Pesantren Lirboyo, sudah seharusnya bergiat dalam lingkaran nasyrul ilmi, menyebarkan ilmu. Karena wasiat sang pendiri, KH. Abdul Karim, kepada para santri Lirboyo adalah ngedep dampar. Ngedep dampar adalah sebuah filosofi, yang diterjemahkan sebagai pengabdian kepada ilmu. Salah satu caranya ialah mengajarkan ilmu, apapun ilmu yang dimiliki. Termasuk dalam pengabdian ini adalah menarik hati masyarakat sekitarnya untuk memondokkan putra putrinya. Karena, diakui atau tidak, pesantren adalah tempat terbaik untuk mentrasformasikan ilmu agama dan akhlak kepada generasi muda.

Acara berlangsung hingga larut malam, sekitar pukul 01:00. WIB, yang ditutup dengan doa oleh KH. Muslih, dan Ketua Himasal daerah, KH. Noor Mahin CH.][

Sumber: akun Instagram himasalmagelang

Siswa Tiga Aliyah Siap Berkhidmah

LirboyoNet, Kediri—Khidmah adalah proses penempaan diri untuk membentuk karakter santri sebelum akhirnya betul-betul pulang dan bertempat di sekeliling masyarakat. Begitulah kira-kira apa yang disampaikan ustadz Thohari Muslim, pemateri Diklat Khidmah dan Mengajar yang diselenggarakan Kamis (02/02) kemarin.

Di awal materi, ustadz Thohari mengingatkan bahwa program wajib khidmah ini adalah kesempatan mulia yang diberikan oleh pesantren kepada para santri. “Jangan malah ngersulo (resah). Lihat mustahiq (guru) sampean. Mereka bertahan tidak hanya setahun, tapi sampai lima tahun, sembilan tahun.” Dengan berkhidmah dan mengajar, santri akan mempunyai kesempatan untuk menutupi kekurangan yang ada. “Sederhananya, mengajar itu belajar lagi,” jelas beliau.

Tidak ada kamus minder dalam berkhidmah. KH. Marzuqi Dahlan, atau Kiai Juki, sendiri telah mewanti-wanti santri untuk tetap mendedikasikan diri dalam proses ajar-mengajar, di manapun. “Isone alif ba ta yo diulangne alif ba ta, iso Sullam yo diulangne Sullam, (bisanya alif ba ta ya diajarkan alif ba ta, bisanya Sullam (kemungkinan besar kitab Sullam Taufiq, ­-Red) ya diajarkan Sullam), ungkap beliau menirukan maqalah Kiai Juki.

Tentu perjalanan khidmah nanti tidak bisa semulus yang dibayangkan. Akan ada halangan-halangan yang tidak diprediksi. Beliau memberi misal, “waktunya mengajar, ternyata ada undangan tahlilan di tetangga. Ini tidak bisa kita kukuh mengajar. (jika begitu) Akan dikucilkan masyarakat. Mengajar juga tidak bisa disampingkan. Lalu bagaimana? Titik tengahnya, tetaplah mengajar, meskipun sebaris. Setelahnya, baru hadiri undangan.” Dengan begitu, kita tidak meninggalkan tanggungjawab sebagai pengajar, juga tetap memiliki hubungan baik dengan masyarakat sekitar.

Acara sore itu adalah salah satu hajat dari tiga lembaga inti dalam naungan ponpes Lirboyo, yakni Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), Pondok Pesantren Lirboyo (P2L), dan Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM). Tujuannya, materi-materi yang disampaikan akan dapat menjadi bekal bagi para siswa kelas III Aliyah untuk menghadapi program wajib khidmah. Sehingga, mereka akan lebih siap dalam menerima tugas khidmah nanti.

Selain ustadz Thohari Muslim, acara yang digelar di Aula Al-Muktamar ini juga mendatangkan tutor lain, ustadz Zahrowardi, yang sama-sama alumni ponpes Lirboyo, dan telah mendapat peran penting di tengah masyarakat.

Beliau lebih dulu memberitahu para peserta bahwa afât (penyakit) yang paling berat kala berkhidmah nanti adalah hubbul jâh (cinta kedudukan) dan hubbul mâl (gila harta). “Ini yang nanti akan menjadi fitnah bagi kita,” tuturnya.

“Namun yang pasti, dalam bermasyarakat, jangan sampai menolak permintaan mereka. seberat apapun,” lanjutnya. Beliau memberi alasan, jika sekali saja permintaan itu ditolak, akan menutup peluang berperan di tengah-tengah mereka. Selain itu, beliau juga berpesan untuk menambah pengetahuan tentang kondisi dan lembaga-organisasi yang sedang berjalan, “pahamilah Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah, bukan sekedar jamaah. Struktural, tidak hanya kultural.” Karena dengan terjun dalam organisasi, atau paling tidak mengetahui gerak-geriknya, akan dapat membantu kita untuk menentukan langkah dalam berkhidmah.][

Permohonan Guru Bantu Resmi Dibuka

LirboyoNet, Kediri—Setelah diresmikan pada tahun lalu, program Guru Bantu Pondok Pesantren Lirboyo mendapat apresiasi cukup hangat di kalangan para pemohon. Pada bulan Syawal lalu, yakni pemberangkatan perdana program ini, ada sekitar 130 santri yang disebar di penjuru negeri. Dari sekitar Kediri sendiri, hingga provinsi paling utara Indonesia, Aceh. Mereka dirasa memenuhi kebutuhan para pemohon, baik menjadi guru di pesantren, instansi pendidikan formal, maupun lembaga pendidikan lain.

Seperti diketahui sebelumnya, program ini bermula dari kebutuhan lembaga pendidikan di banyak daerah akan tenaga ajar. Dengan adanya santri yang diterjunkan ke berbagai daerah itu, diharapkan kebutuhan tenaga ajar dapat teratasi.

Karena dinilai mendapat sambutan yang baik, program ini dibuka kembali tahun ini. Bagi para pengampu yayasan pendidikan ataupun lembaga lain yang menginginkan guru bantu, Ponpes Lirboyo telah membuka pintu untuk mendaftarkan yayasannya sebagai penerima guru bantu.

Sesuai dengan amanah masyayikh, program ini sebenarnya bukan hanya bermanfaat bagi para yayasan penerima guru bantu. Hal yang juga menjadi harapan masyayikh adalah program ini bisa melatih santri untuk berkhidmah di tengah masyarakat. Selain itu, mereka juga dituntut untuk bisa memaksimalkan potensi diri mereka, sehingga ketika benar-benar pulang ke tempat tinggalnya kelak, mereka akan dapat bergumul di lingkungan masyarakat dengan baik.

Tentu, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah yayasan sebelum permohonannya bisa diterima. Diantaranya, mengajukan surat permohonan resmi, yakni berlogo, berstempel, dan bertanda tangan pengasuh lembaga.  Selain itu, juga wajib melengkapi profil lembaga, seperti daftar pelajaran yang akan diajarkan guru bantu, jumlah santri, dan beberapa hal-lain.

Bagi para pemohon, keterangan teknis, formulir pendaftaran dan lainnya bisa didownload di sini.

Ilmu dan Pengabdian

LirboyoNet, Kediri — Bagaimana jika manusia yang sakit, tak makan, tak minum, dan tak berobat? Ia akan mati. Begitupun hati. Jika ia tidak menerima kalam hikmah dan ilmu selama tiga hari, sejatinya ia telah mati. Idiom ini dipopulerkan oleh Imam Fath al-Mousili, yang dikutip ulang oleh ustadz Abdul Kafi Ridho, salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Quran (P3TQ).

Kutipan itu ia sampaikan di dalam Jam’iyah Nahdhiyah, yang terlaksana Kamis (17/11/16) lalu. Begitu agungnya ilmu, Allah menyebutkannya secara tersirat dalam Al-Baqarah: 31. Adam as., yang baru saja tercipta, oleh Allah dihadapkan kepada seluruh malaikat, sekaligus disuruhNya mereka untuk bersujud kepada Adam as. Mengapa, malaikat, makhluk tanpa cela, harus bersujud kepadanya? Karena ada satu hal yang diberikan Allah kepadanya, yang tak diberi kepada yang lain: pengetahuan.

Jam’iyah Nahdhiyah adalah salah satu kegiatan yang menjadi program Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat Fit Tahfizhi wal Qiro-aat (M3HMTQ). Ia diadakan sebagai penutup dari seluruh kegiatan yang berada di dalam program M3HMTQ. Baik, musyawarah, sorogan kitab, hingga sorogan nadzam. Karena pondok ini berlokasi di dua tempat, barat (samping ndalem barat almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi) dan timur (samping ndalem timur almaghfurlah), maka kegiatan juga dibagi menjadi dua, namun dilaksanakan bersamaan.

Di pondok barat, jamiyah ini diikuti kurang lebih 700 santri, yang terdiri dari 300 siswi ibtidaiyah, 400 siswi Tsanawiyah, Aliyah, dan ’Umdah (santri khusus tahfidz). Sementara di timur, yang ditutori oleh ustadz Zaenal Musthofa, ada sekitar 200 santri yang berpartisipasi.

Selama satu tahun, Jam’iyah Nahdhiyah dilaksanakan sebanyak dua kali, yakni di akhir masing-masing semester.

Di dalam kegiatan yang bertema Ilmu dan Pengabdian ini, juga diungkap bagaimana proses khidmah, mengabdi, adalah proses penting lagi mulia. Karena pengabdian sejatinya adalah pengorbanan, maka ia tak terkhusus kepada ilmu. Ada satu analogi menarik untuk membandingkan amal khidmah dengan amal ibadah lain: jika ibadah sunnah, shalat dhuha semisal, hanya bermanfaat bagi pelakunya secara pribadi, lain halnya dengan khidmah. Manfaat khidmah mesti dirasakan oleh banyak pihak.

Pertama, manfaat kepada pribadi, pernah ditulis oleh Ibn Qayyim al-Jauzi. “Yang bisa menentramkan hatia dalah membatu kepada orang yang membutuhkan dengan harta, pangkat, maupun tenaga kita. Ada kepuasan batin yang tidak akan dirasakan oleh orang yang bakhil.”

Kedua, dengan berkhidmah, kepada seorang guru\kiyai, seseorang akan tahu bagaimana strategi pengajaran dan dakwah mereka. Tentunya, sepulangnya nanti, ia dapat mempraktikkan strategi ini di tengah masyarakat nanti.][

Sejarah Baru: Pemberangkatan Guru Bantu

LirboyoNet, Kediri – Sejarah baru tertoreh di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM), Sabtu (30/07). Untuk pertama kalinya, Pondok Pesantren Lirboyo secara resmi menebar santri-santrinya. Mereka ditugaskan untuk berkhidmah. Ratusan daerah menjadi titik tujuan. Bagi beberapa pesantren maupun madrasah, bisa jadi para santri yang mereka minta ini menjadi berkah. Bagi para santri, program wajib khidmah ini menjadi ajang untuk mengharapkan barokah.

Sebenarnya, keputusan untuk membuka diri bagi pesantren dan madrasah luar untuk meminta guru bantu, baru diketok palu bulan Rabiul Awal lalu. “Setelah itu, (para pengurus) rapat secara maraton. Kita cari formula terbaik bagaimana program ini bisa berjalan. Alhamdulillah, akhirnya bisa terlaksana di tahun ini juga,” papar KH. Atho’illah Sholahudin Anwar pagi itu.

Ada banyak pertimbangan dalam memutuskan hal ini. Diantaranya, santri yang tidak mempunyai tanggungjawab khidmah, baik di pondok maupun sekolah, seringkali terlihat resah. Eman sekali jika potensi mereka yang mereka miliki tidak disalurkan dengan baik.

Khidmah adalah salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi itu. Apa yang santri dapatkan di pondok, akan dapat berguna dan tercerna ketika dileburkan dalam khidmah di tengah masyarakat. Maka wajar jika program ini langsung dijalankan bagi santri mutakhorijin (alumnus) periode 1436/1437 H. ini.

Faktanya, program guru bantu sebenarnya bukanlah program yang murni baru bagi Ponpes Lirboyo. Bertahun-tahun lalu, sudah dimulai berdakwah mingguan di daerah-daerah membutuhkan. Semisal, setiap hari Kamis, tidak kurang dari 30 santri diterjunkan ke pelosok desa yang tersebar di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Di Jumat paginya, puluhan santri lain juga ditugaskan untuk mengajar di beberapa sekolah di Kota Kediri. Hanya saja, program ini lebih dikembangkan lagi. Bukan hanya masyarakat Kediri yang merasakan alunan dakwah para santri. Kini, madrasah-madrasah di Sumatera dan Kalimantan pun ikut mencicipi ilmu para santri Ponpes Lirboyo.

Memang, program yang terhitung mendadak ini membuat banyak santri kaget. Imam Masyhuri, santri asal Riau yang mendapat tugas khidmah di Gurah, Kediri mengakui hal itu. “Saya sempat shock setelah tahu akan ada kewajiban khidmah. Apalagi saya ditempatkan di Madrasah Ibtidaiyah di Gurah. Hehe. Gawatnya, yang saya pegang adalah kelas dua,” imbuhnya. Memang belum terbayang susahnya. Namun itulah santri. Harus siap sedia diletakkan di manapun.

Beberapa waktu lalu, setelah dibukanya program guru bantu ini, terutama setelah terdengar di berbagai pelosok Nusantara,  ‘jatah’ santri segera habis dalam waktu tidak begitu lama. Padahal, masih banyak pesantren maupun madrasah yang mengantri untuk mendapatkan guru bantu. Walhasil, mereka harus bersabar menanti tahun depan.

Meningkatnya kebutuhan pesantren-pesantren akan hadirnya guru bantu juga terlihat dari ‘ketidaksabaran’ mereka. Beberapa santri diberangkatkan terlebih dahulu ke daerah di mana mereka akan ditempatkan. Itu terjadi pada bulan Ramadlan lalu. Karenanya, acara ini hanya bisa mereka ikuti lewat media sosial dan kabar dari kawan-kawan.

“Yang paling penting adalah, kalian menjaga akhlakul karimah. Bagaimanapun alimnya seseorang, nek ora nganggo akhlakul karimah ora ono regane (kalau tidak berakhlakul karimah, tidak ada harganya),” dawuh KH. M. Anwar Manshur saat memberikan mauidlah hasanah.

“Ojo reno-reno. Ga usah dolanan arek wedok. Nek seneng ditari pisan nang wongtuwone. Pengen rabi ditembung pisan. Timbang plirak-plirik. (jangan macam-macam. Tidak usah pacaran. Kalau suka, bicara dengan orangtuanya. Ingin nikah dibicarakan saja. Daripada melirik kesana-kemari)” sambung beliau, diiringi tawa renyah para santri dan penjemputnya. Perlu diketahui, salah satu syarat untuk meminta guru bantu adalah menjemput mereka di Lirboyo. Walhasil, pagi itu banyak ustadz dan utusan dari masing-masing lembaga pendidikan hadir di gedung LBM.

“Berangkat dan niatlah berdakwah dan nasyrul ilmi. Dakwah paling ampuh adalah dakwah bil fi’li. Itu yang paling mancep di hati masyarakat. Tunjukkan kedisiplinan kalian. Jalan di depan kalian sudah tergelar sayap-sayap malaikat karena ridla atas langkah dakwah kalian,” pungkas beliau.

Semoga apa yang menjadi harapan santri, para penjemput, para pemangku lembaga pendidikan, lebih-lebih para masyayikh Ponpes Lirboyo, akan senantiasa terwujud dan bendera kalimatillah dapat berkibar di mana-mana. Amin.][