Tag Archives: kunjungan ulama

Al-Habib Umar bin Zain bin Smith Temui Santri

LirboyoNet, Kediri. Kemarin (03/05) Pondok Pesantren Lirboyo kembali kedatangan tamu istimewa. Beliau adalah Al-Habib Umar bin Zain bin Ibrahim bin Smith dari kota Madinah Al-Munawwaroh. Beliau sendiri merupakan putra Al-Habib Zain bin Smith Ba’lawi, salah seorang habaib nusantara dan pengarang kitab Al-Manhaj Al-Sawi yang kemudian berhijrah ke kota Madinah Al-Munawwaroh.

Beliau beserta rombongan meluangkan waktu untuk menyapa para santri di serambi masjid Lawang Songo. Cukup banyak santri yang belum pulang dan bertatap muka dengan Al-Habib kemarin. Para santri dengan  antusias menyambut tamu agung ini, mereka sampai rela duduk berdesakan di serambi masjid. Khusyuk, para santri mencatat satu demi satu wejangan-wejangan yang diberikan oleh Al-Habib.

Dalam kunjungan singkat ini, beliau menyampaikan banyak nasihat dan petuah. “Kita niat berada di perkumpulan seperti ini karena ilmu. Karena Rasul SAW. Beliau yang menjadi sebab akan terkumpulnya kita di tempat yang berkah ini.” Tutur beliau melalui seorang penerjemah.

Al-Habib Umar bin Zain bin Smith berkali-kali mengingatkan mengenai keutamaan ikhlas dalam mencari ilmu. “Kalianlah (para santri-Red) yang tengah ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Oleh sebab itu saya mengajak kalian, untuk tidak mencari ilmu karena dunia, tidak mencari ilmu kecuali dengan dibarengi amal. Karena ilmu akan tetap ada dengan diamalkan.” Kata beliau. “Yang harus kita jadikan pedoman, bahwa karena hakikat ilmu ini, mereka para nabi dan rasul telah diutus ke dunia ini. Mereka diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan ilmu.“ Tambah Al-Habib.

Pagi kemarin, beliau juga membuka sedikit diskusi dan pertanyaan. “Bagaimana caranya agar seorang penuntut ilmu bisa tetap memiliki semangat hingga akhir hayat?” tanya seorang santri yang hadir.

Mereka para ulama hingga usia delapan puluh tahun, semangat mereka dalam belajar masih sama seperti para pemuda.” Terang Al-Habib, “karena mereka tahu, bahwasanya harganya ilmu begitu mulia disisi Allah dan Rasulnya. Dan mereka punya tanggung jawab menyebarkan ilmu kepada masyarakat, agar masyarakat tahu tentang hakikat syari’at Allah SWT dan sunnah-sunnah Rasul SAW.”  Pungkas beliau.

Lirboyo sering menerima kunjungan tamu-tamu besar dari berbagai daerah. Biasanya, selain bersilaturahim ke ndalem, para tamu tersebut juga menyapa para santri. Seperti Al-Habib Syekh bin Abdul Qadir As-Segaf belum lama ini, dan Al-Habib Ali Zainal Abidin dari Malaysia, beberapa waktu silam.[]

Husnudhon Pada Guru: Kunci Kesuksesan Murid

Setiap menjelang acara Lirboyo Bersholawat, Habib Syekh bin Abdul Qodir As-Segaf pasti menyempatkan diri sowan ke ndalem, dan bertatap muka dengan santri putri. Tak lupa pula beliau selalu menyampaikan petikan-petikan petuah untuk bekal para santri.

Dalam kunjungan beliau ke Ponpes Putri Hidayatul Mubtadi-aat kemarin, beliau berpesan kepada para santri untuk selalu berhusnudhon kepada guru. Sebab salah satu kunci kesuksesan dalam proses belajar adalah husnudhon. “Sebesar apa ilmu yang kita dapatkan, tergantung sebesar apa husnusdhon kita kepada guru. Kalau husnudhon kepada guru seratus persen, walaupun kadang tidak membaca kitab, memandang guru itu saja sudah dapat ilmu.” Tutur Habib Syekh.

Masih tentang husnudhon, beliau berbagi pengalaman saat umroh beberapa waktu lalu. Saat itu beliau sempat bertemu dengan Al-Habib Abdullah Muhammad bin Abdul Qadir bin Ahmad di Jedah. “Al-Habib Muhammad mengatakan, ‘aku waktu belajar kepada ayah dan guru-guruku, disitu saya kebanyakan tidak mebaca kitab. Disitu saya di tes oleh guru-guru saya yang khusus, bagaimana husnudhon saya terhadap mereka. Sewaktu saya menyangka guru saya baik betul, seakan-akan saya mendapatkan ilmu tanpa membaca kitab’.” Kenang Habib Syekh.

Bahkan Habib Syekh juga menambahkan, kalau husnudhon kepada guru adalah salah satu faktor utama penentu keberhasilan murid, selain belajar. “Baca kitab, belajar itu penting, tapi lebih penting lagi kalau kita husnudhon penuh kepada orang yang mengajar. Kalau belajar saja, tidak husnudhon tidak cepat masuk (ilmunya -Red). Masukpun, besok kalau sudah keluar dari pondok akan ngelek-elek (menjelek-jelekkan –Red) gurunya. Karena tidak ada husnusdhon kepada guru.” Tukas Habib Syekh.

Karena menurut beliau, sering sekali seorang murid menemukan guru yang kelihatannya memang ‘biasa-biasa’ saja. Namun sebetulnya, guru tersebut memiliki kelebihan yang sangat luar biasa. Beliau memberikan i’tibar pada pribadi Nabi Muhammad SAW yang memang sengaja menutupi kemuliaan dan ketinggian derajatnya dimata Allah SWT, dengan tetap mau bergaul kepada siapapun tanpa membatasi jarak.

Ada guru-guru yang tidak memamerkan bahwa ‘saya ini memiliki kedudukan’. Kadang guru-guru tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki sirr (rahasia –Red), kalau ditunjukkan, murid-murid tidak ada yang berani duduk dihadapannya. Seperti Rasul Muhammad SAW, manusia pilihan Allah SWT yang memiliki kedudukan yang amat sangat tinggi. Sampai istilahnya, kalau Allah SWT menampakkan aslinya Nabi Muhammad, tidak satupun makhluk berani memandang wajah Rasulullah, karena luar biasanya nur (beliau). Tapi oleh Allah SWT, makhluk ditutupi hingga dia bisa melihat nur itu. Akhirnya (para sahabat) bisa duduk, makan, dan menanyakan sesuatu kepada  Nabi Muhammad.”

Terakhir, beliau berpesan, “Siapapun guru anda, anda harus husnudhon. Setiap guru akan bertanggung jawab kepada muridnya, dan setiap guru yang akan mengarahkan muridnya menuju surga. Karena guru-guru kita adalah guru yang keluar dari sumbernya (berguru kepada guru yang jelas sanadnya –Red).[]

Habib as-Syathiri Berkunjung Kala Sore Mendung

LirboyoNet, Kediri—Cium kaki ibu. Saat pulang, cium kaki ibumu. Pikiran yang terbuka, hati yang terbuka akan hidayah, bersumber dari penghormatan kepada orangtua. Ancaman Allah berkali-kali datang bagi orang yang mengacuhkan orangtua. “Ketika datang ridla Allah pada seseorang, sedangkan orangtuanya murka, Allah akan ikut murka. Ketika Allah murka kepada seseorang, namun orangtuanya ridlah padanya, ‘fa ana ‘anhu râdl, maka padanya aku ridla.'” (al-hadits au kamâ qâl)

Cinta dan kasih sayang kepada orangtua inilah yang ditekankan oleh Habib Abdul Qadir Jailani as-Syathiri saat berada di tengah-tengah ribuan santri Ponpes Lirboyo, Senin sore (02/01). Bersanding dengan para masyayikh Lirboyo, beliau memperingatkan santri untuk tidak sekali-kali membuat orangtua susah. Karena apa yang kita perbuat kepada orangtua, juga akan diperbuat oleh anak-anak kita kelak.

Seperti sebelum-sebelumnya, ketika datang seorang terhormat ke pondok, toa tua nan tinggi di tengah-tengah asrama pesantren lantang bersuara, mengomando santri untuk segera berkumpul di serambi Masjid Lawang Songo. Bada Asar, santri-santri berdatangan. Sekejap saja, sudah tidak ada tempat untuk duduk bersila. Sembari menunggu sang tamu tiba, shalawat dari grup rebana bergema. Orang mulia yang ditunggu itu kemudian melewati gerbang, tak lama setelah masyayikh datang.

“fa ‘alaikum bil ijtihâd,” buka beliau. Keponakan Habib Salim bin Abdullah bin Umar as-Syathiri itu mengingatkan pada santri bahwa mereka adalah para pengganti ulama. Maka tidak boleh tidak, para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Kiatnya, harus menulis dan terus menulis masalah-masalah dan faedah-faedah. Kerja keras ini, dengan ditemani kesabaran yang tinggi, menurut beliau, akan mengantar santri pada jalur kesuksesan. Beliau mengutip kalimat al-Haddad, (sangat mungkin yang beliau sebut adalah Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, pengarang ratibul haddad), “orang-orang yang mendapat prioritas di sisi Allah adalah mereka yang penyabar.”

Selain di Masjid Lawang Songo, beliau yang datang langsung dari Yaman itu juga berkenan untuk memberikan mauidzah di aula Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM). Di sana, pesan-pesan yang beliau ungkapkan lebih khusus bagi para santri perempuan. “Bagaimanapun, kalian akan menjadi ibu. Juga istri. Siapkan itu.” Untuk membangun kualitas ibu dan istri yang baik, patut bagi para santri untuk mencermati bagaimana laku hidup Rasulullah saw. “Beliau sangat cinta pada kebersihan. Makanya, jaga kebersihan kalian. Bersihnya badan, kamar, dapur, dan juga bersihnya hati.” Beliau prihatin dengan prilaku istri-istri dewasa ini. Mereka berdandan, memakai wewangian, mengenakan baju ala pengantin baru, justru ketika keluar rumah. “Sementara untuk menyambut suaminya, mereka memakai pakaian seadanya. Yang kotor, bolong-bolong. Bau. Awut-awutan. Seperti jin,” tutur beliau sambil menunjukkan mimik menyeramkan. Hadiraat sontak tertawa menyambut candaan beliau itu.

Dawuh beliau selanjutnya adalah perhatian pada keramahan dan kesantunan terhadap sekitar. Karena Rasulullah pernah menyiratkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang mampu membangun hubungan baik dengan manusia lain, lebih-lebih tetangga.

Dalam kesempatan itu, beliau mengungkapkan rasa terima kasih kepada para ulama, karena telah dengan susah payah menjaga kemurnian ilmu. Membangun rumah mudah, ujar beliau, namun membangun pesantren tidak bisa dibandingkan dengan itu.][