Tag Archives: malam

Selayang Pandang Tradisi Peringatan Malam Nuzulul Quran

Bulan Ramadhan adalah bulan dengan nuansa dan suasana paling khas diantara bulan-bulan selainnya. Ada semacam kesepakatan bersama untuk lebih intens meningkatkan kualitas diri dibulan ini, belum lagi indahnya tarawih yang menemani malam-malamnya ditambah kenikmatan berbuka yang merupakan buah menahan diri mulai terbitnya fajar.

Salah satu yang sering kita jumpai dibulan Ramadhan ialah acara-acara bertemakan ‘Peringatan Malam Nuzulul Quran’ yang umumnya acara ini diisi dengan  sholawat, pembacaan ayat suci Alquran dan pada puncaknya diisi ceramah agama oleh mubaligh tertentu. Dalam suasana kebersamaan, masyarakat ditunutun sedikit demi sedikit untuk mengerti sekaligus memahami Islam sehingga mereka tidak akan asing terhadap amaliahnya sendiri dan tentunya suatu hal jika dilakukan dengan bersama-sama terasa lebih membekas.

Hal ini tidak lain digerakkan oleh ghirrah syiar Islam yang tinggi dengan jalan tradisi atau mentradisikan sesuatu, pada kata lain ini adalah bagian dari usaha membiasakan hal-hal baik, tentu dengan memperbaiki pula hal-hal yang sudah terbiasa.

Salah satu bukti sederhana keberhasilan tradisi ini (Peringatan Malam Nuzulul Quran), anak-anak kecil langgar pun sudah hafal betul bahwa nuzulul quran itu dibulan Ramadhan lebih-lebih pemuda ataupun orang-orang tua. Mungkin akan berbeda jika para warga Nahdliyyin tidak mentradisikan hal-hal semacam ini, dimana kita sehari-harinya sering kali kalah dengan kegiatan-kegiatan non-keagamaan lainnya.

Tradisi ini selaras sebagaimana di dalam kitab Durrotunnasihin bahwa tentang turunnya Alquran dibulan Ramadhan ini merupakan sebab menjadi istimewanya bulan Ramadhan yaitu dengan diwajibkan puasa didalamnya. Maka sangat tepat sekali apabila momentum berharga ini di semarakkan dan dihayati secara masal.

Dikatakan pula di dalam kitab Hikmatut Tasyri’ Wa Falsafatuhu hikmah kewajiban puasa di letakkan dibulan Ramadhan adalah karena ia adalah bulan paling utama sebab diturunkan Alquran di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْءَانُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan saat diturunkannya Alquran.” (Qs. al-Baqarah: 185)

 

Akhiran, bahwa menghidupkan tradisi-tradisi positif adalah tugas setiap generasi karena jika sampai satu saja generasi putus maka akan sulit bagi generasi selanjutnya untuk mengenal tradisi-tradisinya bahkan boleh jadi ia akan buram dengan identitas historinya. (IM)

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Dalam rangka menggapai seluruh keutamaan yang ada pada malam Nisfu Sya’ban (15 sya’ban), banyak sekali dari umat Islam tidak melewatkan kesempatan emas itu dengan menghidupkan malam tersebut melalui berbagai macam aktivitas ibadah kepada Allah SWT.

Adapun kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat tradisioanlis adalah dengan cara berkumpul di mushalla atau masjid setelah salat maghrib. Secara berkelompok, mereka membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dan diiringi dengan doa Nisfu Sya’ban di setiap akhir bacaan surat Yasin. Mengenai tata cara (kaifiyah) amaliah ini  dijelaskan secara terperinci dalam kitab Kanzunnajah Was Surur. Dalam kitab yang dikarang oleh Syech Abdul Hamid yang berasal dari Kudus tersebut, dipaparkan hendaknya bacaan surat Yasin pertama memohon agar diberikan umur panjang, bacaan surat Yasin kedua memohon agar terhindar dari segala macam bahaya, bacaan surat Yasin ketiga memohon agar tidak memiliki ketergantungan terhadap orang lain atau dalam versi lain diberikan kelancaran rizki.[1]

Yang menjadi tendensi hukum tradisi dan amliah tersebut adalah sebuah hadis yang menceritakan bahwa sayyidah ‘Aisyah pada suatu malam kehilangan Rasulullah SAW. Ia pun bergegas mencari Rasulullah SAw, dan ‘Aisyah menemukan suami tercintanya di Baqi’, nama komplek pemakaman bagi para sahabat Nabi dan para pejuang. Di tempat itu, Rasulullah SAW sedang menengadahkan wajahnya ke langit dengan mata sendu, terkadang pula meneteskan air mata. Mengetahui istrinya datang, Rasulullah SAW berkata:

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَنْزِلُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ مِنَ الذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, Tuhan menurunkan (rahmatnya) ke langit dunia. Dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang jauh lebih banyak dari jumlah bulu domba bani Kalb,” (HR. Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).[2]

Menurut sumber informasi yang lain, Rasulullah SAW mengatakan;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ

“Sesungguhnya Allah menampakkan diri pada malam Nisfu Sya’ban, dan mengampuni mereka yang meminta ampun dan menyayangi mereka yang ingin disayang, dan mengacuhkan mereka yang mendengki,”.

Dalam menyikapi tradisi salat-salat malam Nisfu Sya’ban para ulama masih berbeda pendapat. Adapun Imam an-Nawawi berkomentar bahwa hal tersebut termasuk Bid’ah Qobihahdan hadis yang dipakai menjai dasaradalah hadis Maudlu’ (palsu) . Namun berbeda lagi dengan Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin dan beberapa ulama lain yang mengatakan hal tersebut justru merupakan sebuah kesunnahan. Dalam silang pendapat ulama yang mengemuka ini, Al-Kurdi hadir dengan statemennya yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini dipengaruhi atas dasar penilaian status hadis dari sisi sanad dan macam ritual yang disyariatkan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.[3]

Diakui ataupun tidak, selalu saja ada pengingkaran atas tradisi yang sudah menjamur di masyarakat. Namun, dengan menggunakan konsep dalil secara umum saja sudah mampu merobohkan pengingkaran dan segala tuduhan tersebut. Sedangkan, terkait dengan berbagai aktivitas ibadah seperti membaca al-Qur’an, salat sunah, istighfar dan semacamnya sudah dijelaskan oleh berbagai redaksi dalil yang masyhur baik itu dari al-Qur’an ataupun Hadis. Semuanya berlaku secara mutlak terkecuali pada waktu yang telah ada nash-nash pelarangannya.

Dan pada akhirnya dapat dipahami bahwa kegiatan keagamaan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berbagai kegiatan lain yang bernilai ibadah merupakan perkara yang selaras dengan syariat.[]. waAllahu a’lam.

 


[1] Kanzunnajah Was Surur, hlm 48, Maktabah Dar Al-Hawi.

[2] Faidl Al-Qodir, II/316.

[3] Hasyiyah I’anah At-Thalibin, I/312, Maktabah Darul Fikr.

Ketetapan dan Keutamaan Nisfu Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia yang terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Dari beberapa malam di dalamnya, malam nisfu sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Untuk tahun ini, malam Nisfu Sya’ban jatuh pada hari Sabtu malam Ahad, 20 April 2019 M.

Pada malam yang bertepatan dengan tanggal 15 sya’ban tersebut, Allah SWT menetapkan segala keputusan yang berhubungan dengan urusan manusia, baik yang berhubungan dengan kematian, rizki, perbuatan baik maupun buruk. Semua urusan tersebut merupakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT hingga datangnya bulan sya’ban di tahun berikutnya. Allah SWT sudah berfirman dalam al-Qur’an;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,”(QS. Ad-Dukhon: 3-4).

Yang dimaksud ‘malam yang diberkahi’ dalam redaksi ayat tersebut masih terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah malam lailatul qadar dan sebagian yang lain berpendapat bahwa malam itu adalah malam nisfu sya’ban.

Dalam kitab Tafsir Al-Baghowi, sahabat ‘Ikrimah berkata, “Malam yang diberkahi tersebut adalah malam nisfu sya’ban. Pada malam tersebut ditetapkanlah segala urusan untuk masa satu tahun dan orang-orang yang hidup dihapus (daftarnya) dari orang-orang yang meninggal,”.[1]

Mengenai apa yang telah dikatakan sahabat ‘Ikrimah tersebut, Rasulullah SAW memang pernah menyinggungnya dalam sebuah hadis:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” تُقْطَعُ الآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَنْكَحُ وَيُولَدُ لَهُ، وَلَقَدْ خَرَجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى

“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Ajal seseorang ditentukan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, sehingga ada seseorang bisa menikah dan melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang meninggal,”.[2]

Selain kaitannya yang sangat erat dengan proses penentuan segala urusan umat manusia, malam nisfu sya’ban juga berkaitan dengan penutupan catatan amal di tahun tersebut. Segala amal yang diperbuat oleh manusia dilaporkan tanpa terkecuali, baik dalam kurun harian, mingguan, bahkan tahunan. Laporan harian dilakukan oleh malaikat pada siang dan malam hari. Laporan amal mingguan dilakukan malaikat setiap hari Senin dan Kamis. Adapun periode tahunan dilakukan pada malam lailatul qadar dan malam nisfu sya’ban.[3]  Rasulullah SAW bersabda:

إنَّهُ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Sesungguhnya bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Maka Aku senang amalku diangkat sementara Aku dalam keadaan berpuasa,”.[4]

Sebagai salah satu malam yang memiliki peran urgen dalam keberlangsungan umat manusia, Allah SWT juga menjanjikan besarnya ampunan yang diberikan-Nya pada malam itu. Sahabat Muadz bin Jabal pernah mengatakan:

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. At-Thobroni dan Ibnu Hibban).[5] []waAllahu a’lam


[1] Tafsir Al-Baghowi, VII/228.

[2] Fath Al-Mun’in Syarh Shahih Muslim, V/41.

[3] Hasyiyah Al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, II/350.

[4] Sunan an-Nasa’i, IV/201.

[5] Tuhfah Al-Ahwadzi, III/366.

Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia yang terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Dari beberapa malam di dalamnya, malam Nisfu Sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Pada malam yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban tersebut, Allah SWT menetapkan segala keputusan yang berhubungan dengan urusan manusia, baik yang berhubungan dengan kematian, rizki, perbuatan baik maupun buruk. Semua urusan tersebut merupakan ketentuan Allah SWT hingga datangnya bulan Sya’ban di tahun berikutnya.

Allah SWT sudah berfirman dalam Alqur’an;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,”(QS. Ad-Dukhon: 3-4).

Yang dimaksud ‘malam yang diberkahi’ dalam redaksi ayat tersebut masih terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah malam Lailatul Qodar dan sebagian yang lain berpendapat bahwa malam itu adalah malam Nisfu Sya’ban.

Dalam kitab Tafsir Al-Baghowi, sahabat ‘Ikrimah berkata, “Malam yang diberkahi tersebut adalah malam Nisfu Sya’ban. Pada malam tersebut ditetapkanlah segala urusan untuk masa satu tahun dan orang-orang yang hidup dihapus (daftarnya) dari orang-orang yang meninggal,”. [1]

Mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW pernah menyinggung dalam sebuah hadis;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” تُقْطَعُ الآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَنْكَحُ وَيُولَدُ لَهُ، وَلَقَدْ خَرَجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; ajal seseorang ditentukan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, sehingga ada seseorang bisa menikah dan melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang meninggal,”.[2]

Selain kaitannya yang sangat erat dengan proses penentuan segala urusan umat manusia. Malam Nisfu Sya’ban juga berkaitan dengan penutupan catatan amal di tahun tersebut. Segala amal yang diperbuat oleh manusia dilaporkan tanpa terkecuali, baik yang dalam periode harian, mingguan, bahkan tahunan. Laporan harian dilakukan oleh malaikat pada siang dan malam hari. Laporan amal mingguan dilakukan malaikat setiap hari Senin dan Kamis. Adapun periode tahunan dilakukan pada malam Lailatul Qodar dan malam Nisfu Sya’ban.[3]  Rasulullah SAW bersabda;

أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سُئِلَ عَنْ إكْثَارِهِ الصَّوْمَ فِي شَعْبَانَ فَقَالَ: إنَّهُ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Sesungguhnya rasulullah SAW ditanyai ketika Beliau memperbanyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Beliau menjawab; Sesungguhnya bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Maka Aku senang amalku diangkat sementara Aku dalam keadaan berpuasa,”. 

Sebagai salah satu malam yang memiliki peran urgen dalam keberlangsungan umat manusia, Allah SWT juga menjanjikan besarnya ampunan yang diberikan-Nya pada malam itu. Muadz bin Jabal, sahabat Nabi, pernah mengatakan;

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. At-Thobroni dan Ibnu Hibban).[4]

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Dalam rangka menggapai seluruh keutamaan yang ada pada malam Nisfu Sya’ban, banyak sekali dari umat Islam tidak melewatkan kesempatan emas itu dengan menghidupkan malam tersebut melalui berbagai macam akitvitas ibadah kepada Allah SWT.

Adapun yang sering dilakukan masyarakat tradisioanlis adalah dengan cara berkumpul di musholla atau masjid setelah waktu maghrib. Secara berkelompok mereka membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dan diiringi dengan doa Nisfu Sya’ban di setiap akhir bacaan surat. Mengenai tata cara masalah ini sudah dijelaskan secara gamblang dalam kitab Kanzunnajah Was Surur. Dan dalam Kitab tersebut dipaparkan, hendaknya bacaan surat Yasin pertama diniati agar diberikan umur panjang, bacaan surat Yasin kedua diniati agar terhindar dari mara bahaya, bacaan surat Yasin ketiga diniati agar tidak memiliki ketergantungan terhadap orang lain.[5]

Adapun salah satu tendensi hukum tradisi tersebut adalah ketika sayyidah ‘Aisyah pada suatu malam kehilangan Rasulullah SAW. Ia pun bergegas mencarinya, ‘Aisyah menemukan suami tercintanya di Baqi’, nama komplek pemakaman bagi para sahabat Nabi dan para pejuang. Di tempat itu, Rasulullah SAW sedang menengadahkan wajahnya ke langit dengan mata sendu, terkadang pula meneteskan air mata. Mengetahui istrinya datang, Rasulullah SAW berkata;

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَنْزِلُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ مِنَ الذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, Tuhan menurunkan (rahmatnya) ke langit dunia. Dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang jauh lebih banyak dari jumlah bulu domba bani Kalb,” (HR. Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).[6]

Menurut sumber informasi yang lain mengatakan;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ

“Sesungguhnya Allah menampakkan diri pada malam Nisfu Sya’ban, dan mengampuni mereka yang meminta ampun dan menyayangi mereka yang ingin disayang, dan mengacuhkan mereka yang mendengki,”.

Dalam menyikapi salat-salat malam Nisfu Sya’ban para ulama masih berbeda pendapat. Adapun Imam An-Nawawi dalam al-Majmu’ berkomentar bahwa hal tersebut termasuk Bid’ah Qobihah. Namun berbeda lagi dengan Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin dan beberapa ulama lain yang mengatakan hal tersebut justru merupakan sebuah kesunnahan.

Dalam silang pendapat ulama yang mengemuka ini, Al-Kurdi hadir dengan statemennya yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini dipengaruhi atas dasar penilaian atas status hadis dari sisi sanad dan macam ritual yang disyariatkan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.[7]

Diakui ataupun tidak, selalu saja ada pengingkaran atas tradisi yang sudah menjamur di masyarakat. Namun, dengan menggunakan konsep dalil secara umum saja sudah mampu merobohkan pengingkaran tersebut. Sedangkan, terkait dengan berbagai aktifitas ibadah seperti membaca Alqur’an, salat sunah, istighfar dan semacamnya sudah dijelaskan oleh berbagai redaksi dalil yang masyhur baik itu dari Alqur’an ataupun Hadis. Semuanya berlaku secara mutlak terkecuali pada waktu yang telah ada nash-nash pelarangannya.

Dan pada akhirnya dapat dipahami bahwa kegiatan keagamaan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berbagai kegiatan lain yang bernilai ibadah merupakan perkara yang selaras dengan syariat.[]. waAllahu a’lam.


[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 7 hal 228.

[2] Fath Al-Mun’in Syarh Shahih Muslim, juz 5 hal 41.

[3] Hasyiyah Al-Jamal, juz 2 hal 350.

[4] Tuhfah Al-Ahwadzi, juz  3 hal 366.

[5] Kanzunnajah Was Surur, hal 48, Maktabah Dar Al-Hawi.

[6] Faid Al-Qodir, juz 2 hal 316.

[7] I’anah At-Thalibin, juz 1 hal 312, Maktabah Darul Fikr.