Tag Archives: Musibah

Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah

Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah |
Dikisahkan dari kitab Kifayatul Awam buah karya dari Syaikh Muhammad Fudhali, bahwa Nabi Musa As. pernah sakit gigi dan mengaduakn hal ini kepada Allah. Mendengar keluhan Nabi Musa, Allah memerintahkannya untuk mengambil sejenis rumput di tempat yang telah ditentukan untuk diletakkan di atas giginya yang sakit. Nabi Musa melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Tak lama kemudian, rasa sakitnya hilang seketika.

Di lain hari, sakit gigi Nabi Musa kambuh lagi. Tanpa pikir panjang, Nabi Musa langsung mengambil rumput yang dahulu pernah dikabarkan oleh Allah. Bukannya sembuh, sakit gigi yang diderita Nabi Musa justru bertambah parah.

Setelah itu, Nabi Musa mengadu kepada Allah dan memohon pertolongannya. Nabi Musa berkata: “Wahai Tuhanku Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, bukankah engkau pernah memberitahuku untuk mengobati gigiku yang sakit dengan rumput itu? Tapi mengapa sekarang rumput itu tidak dapat menyembuhkanku?”

Mendengar pengaduan Nabi Musa Allah mengatakan: “Wahai Musa, akulah yang memberi kesembuhan, memberi kesehatan, memberi manfaat dan memberi malapetaka. Dulu, ketika engkau sakit engkau langsung mengingatku dan meminta tolong kepadaku. Maka aku hilangkan penyakitmu. Namun saat engkau merasa kesakitan lagi, engkau tidak segera berharap kepadaku, engkau justru meminta pertolongan pada rumput itu. Karena itulah aku tidak mengehendaki rumput itu bermanfaat untuk gigimu.”

***

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.” (QS. Al-Ambiya: 83).

Setiap kali sakit, kita selalu saja buru-buru menyalahkan takdir, atau pun menangis sesenggukan karena tidak tahan dengan apa yang kita rasakan. Esoknya, kita akan meluncur ke rumah sakit dan meminta obat di sana agar lekas sembuh. Padahal sedari awal kita menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Kalau pun setelah meminum obat kita bisa sembuh, itu karena Allah menghendaki kesembuhan lewat obat tersebut.

Jika kita terbiasa melupakan Allah di setiap ujian dan musibah yang diberikan oleh-Nya, kita seakan meyakini bahwa yang menyembuhkan kita bukanlah Allah. Yang memberi kita kesembuhan adalah obat yang diberikan oleh dokter.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian dan jangan kalian berobat dengan yang haram.”

Renungan

Perlu dicatat, bahwa yang menurunkan penyakit adalah Allah. Lalu kenapa saat kita terkena musibah justru berharap kepada selainnya?

Seharusnya kita lebih dulu mengadukan hal ini kepada Allah dan meminta jalan terbaik agar kita diberi kesembuhan. Setelah itu, barulah ia berobat. Bukan karena kita berharap pada seorang dokter agar bisa menyembuhkan kita. Namun semata-mata karena Allah memerintahkan kita untuk berobat agar kita diberi kesembuhan.

Pandangan seperti ini akan membuat kita terbiasa untuk menjadikan setiap musibah yang datang atau menerpa kita sebagai wasilah untuk semakin dekat pada-Nya. Dalam artian ketika kita diberi cobaan berupa rasa sakit atau pun yang lainnya, Allah satu-satunya Dzat yang dimintai pertolongan. Tidak ada yang lain.

Setelah kita menyadari bahwa musibah tersebut datang dari Allah dan juga sudah berobat ke tempat yang semestinya, sudah sepantasnya bagi kita untuk tawakal atau pasrah pada takdir yang sudah diskenariokan oleh Allah. Ketika diberi kesembuhan berarti Allah ingin agar kita lebih giat dalam bekerja atau pun beribadah. Dan ketika belum juga diberi kesembuhan, mungkin karena Allah belum mengizinkan kita untuk segera sembuh dan kembali menjalani aktivitas seperti biasanya atau mungkin karena Allah mendengar do’a-do’a kita, atau Allah ingin  mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sabar.

Karena semua penyakit datang dari Allah dan setiap kesembuhan juga datang darinya, maka hanya dengan seizinnya jugalah penyakit tersebut akan sirna.[]

*Penulis bertempat tinggal di Pondok HMP kamar M 35 asal Nganjuk.

Baca juga:
TAWAKAL : SEBUAH PENGHAMBAAN DIRI KEPADA ALLAH

Simak juga:
[TUTORIAL] PENDAFTARAN SANTRI/SISWA BARU | PSSB ONLINE

Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah
Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah

Antisipasi Musibah yang Islami

Bencana demi bencana mendera bangsa kita. Mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, tanah longsor, demam berdarah, flu burung, dan terakhir banjir bandang. Musibah itu menerpa laksana cerita komik berjilid-jilid. Bala’ seolah tak kenal kata ”stop”. Kita pun kalang kabut.

Walau demikian, kita sebagai muslim tidak boleh putus asa. Kita harus berkhusnuzh zhaan terhadap Allah SWT. Dengan berpikir positif itu, insya Allah kita mampu menguak hikmahnya. Caranya dengan meneliti tiga kemungkinan berikut.

Pertama, musibah-musibah itu adalah ujian dari Allah SWT. Jika ini benar, maka kita harus bersyukur karena itu pertanda Allah SWT akan meningkatkan derajat bangsa kita di mata-Nya jika lulus dalam ujian itu. Kita bisa tersungging karena ”naik kelas” di ”sekolah” Allah SWT setelah sabar mengahadapi tes rentetan musibah itu. Kita pun bisa tertawa lepas setelah menerima ”ijazah” dari ”tangan”-Nya di acara ”wisuda”-Nya di alam fana ini.

Bukan itu saja. Kita juga akan memperoleh limpahan rahmat dan karunia-Nya yang tanpa batas dalam berbagai bentuk. Alam yang makin tertata rapi dan subur kembali. Iklim yang kembali normal dan bersahabat. Hujan tanpa angin kencang, badai, atau banjir. Kemarau tanpa kekeringan atau kebakaran hutan. Hadirnya pemimpin yang adil yang mampu mewujudkan bangsa dan negara menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Dan banyak lagi hikmah yang akan kita terima. Sungguh, nikmat yang tiada tara bila musibah itu semata-mata tes dari Allah SWT. Karena, bila kita mampu melewatinya dengan sabar, pasti rahmat-Nya melimpah ruah di Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi tercinta.

Kemungkinan kedua, musibah itu peringatan Allah SWT. Jika ini yang benar, maka itu artinya kita harus segera mawas diri. Apa yang telah kita perbuat hingga Dia memukulkan ”cambuk kecil”-Nya. Mungkin kita mengaku Islam, namun belum kaaffah. Islamnya masih sebatas Islam-KTP. Kita harus berani meneliti di mana bercak-bercak diri berada. Kemudian, kita bersihkan dosa-dosa itu dengan amal ubudiyyah yang bernuansa taubatan nasuuha. Insya Allah, Dia yang Maha Pengampun berkenan memberikan ”penghapus”-Nya untuk kita pinjam menghapus noda-noda diri.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Yang harus sangat kita khawatirkan adalah jangan-jangan malah kemungkinan ketiga yang terjadi. Musibah itu azab! Wah, kalau ini yang terjadi, maka harus ada akselerasi tobat kepada-Nya. Kita harus terus-menerus memohon ampunan-Nya atas dosa yang telah kita perbuat. Sekecil apa pun dosa itu harus kita istighfari setiap hari. Dengan demikian, terciptalah gerakan tobat secara individual warga yang menasional kepada Allah SWT. Syukur-syukur bila ada political will dari Pemerintah dengan menggelar acara taubatan nasuuha skala nasional di tempat dan pada saat yang sama secara berjamaah kemudian dilanjutkan dengan tobat harian secara pribadi.

Langkah tobat nasional itu tampaknya sudah merupakan harga mati. Kita memang harus mengakui betapa banyak dosa yang telah kita perbuat. Kemudian, kita pun harus menyesali dosa yang kian hari makin menumpuk, menggunung, bahkan melimpah ruah bak air bah di samudra. Wujud penyesalan itu kita tumpahkan dalam bentuk linangan air mata yang tulus di hadapan Allah SWT saat qiyaam al lail, salat tahajud, atau pun salat tobat.

Langkah terakhir dari ritual taubatan nashuuha adalah berjanji sepenuh hati tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu. Kita berjanji untuk tidak terperosok ke jurang nista yang sama untuk kedua kali. Cukup sampai di sini saja laku kotor itu. Kita berjanji tidak meneruskan tingkah terkutuk yang bikin kita kian terpuruk.

Wujudnya, kita jangan lagi melakukan illegal logging yang membabi buta itu. Ingatlah, kita ini manusia. Bukan babi yang buta! Kita pun jangan mendukung, apalagi melakukan dan memperjuangkan pornografi dan pornoaksi di Indonesia yang agamis ini sebab itu bak mempertemukan anjing dan kucing. Kita juga harus antikorupsi sebab korupsi membangkrutkan negara. Kita yang mengaku umat beragama Islam, wujudkan amaliah ke-Islaman itu dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya mengaku Islam, tapi tidak salat, enggan berzakat, tak sudi mengaji, bahkan malah korupsi.

Masih banyak lagi kemaksiatan yang harus kita hindari dan ”perangi” setiap hari, baik dengan tangan atau kekuasaan yang sesuai tingkat kekuasaan yang diamanatkan dan dilekatkan Allah SWT pada diri kita. Bisa juga mencegah maksiat itu dengan lisan berupa nasihat yang bijaksana kepada saudara-saudara kita yang masih belum mau bertobat. Atau minimal dengan menyatakan ingkar terhadap kemaksiatan itu di dalam hati meskipun langkah terakhir ini mengindikasikan lemahnya iman kita. Pokoknya, paling tidak kita tidak bermaksiat, bahkan bisa mengingkari dalam hati dan mencegahnya dengan kekuasaan.

Akhirnya, kita memohon kepada Allah SWT agar berkenan mene-rima tobat-total kita semua, baik secara individual maupun nasi-onal, agar kita dapat menuai hikmah dari musibah. Aamin, aamin, yaa rabbal  ‘aalamiin…[]

Penulis, Saiful Asyhad, Pengajar Ekstrakurikuler di Ponpes Lirboyo, Kediri