Tag Archives: Pendidikan

Demokrasi Pendidikan Pesantren

“Kamu jangan selalu fanatik di pendidikan, jangan paksakan anakmu sesuai dengan kehendakmu, tapi tolong arahkan bakat anak itu. Bakat anak itu apa, kemudian dukung sesuai dengan bakatnya,”  [1]

Petuah KH. Mahrus diatas sangat demokratis. Dalam arti orang tua tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk menekankan anaknya menekuni satu bidang tertentu. Seorang anak mempunyai bakat tersendiri, dan sebagai orang tua berkewajiban mengawal anaknya dalam memupuk bakat yang diingini.

Hal ini senada dengan pengertian demokrasi yang digagas oleh Gus Dur. Baginya, landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti juga otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang ia ingini.[2]

Di pesantren sangat kental dengan istilah taadduban (bertatakrama atau beretika) kepada seorang guru. Berakhlak baik didepan seorang guru adalah ajaran yang paling ditekankan kepada semua santri. Lebih dari itu, seorang santri dimanapun dia berada harus bisa menjaga sikap dan perilakunya. Dia juga harus rela melakukan semua perintah guru selagi tidak bertentangan dengan syari’at agama islam.

Jika hal diatas didasari atas hubungan status antara seorang guru dan murid, wajib bagi seorang murid untuk melakukannya. Karena, semua perintah dari seorang guru pasti mengandung nilai kebaikan. Apa yang diperintahkannya tidak akan pernah melenceng dari ajaran Rasulullah SAW. Andai ada seorang guru yang demikian, maka dia bukanlah seorang guru yang baik, yang patut untuk ditiru. Karena, seorang guru tidak akan pernah mengajarkan secuil kejelekan sekalipun kepada para muridnya.

[ads script=”1″ align=”center”]

Namun, akan sangat berbeda jika perintah itu dikaitkan dengan potensi yang harus ditekuni seorang santri. Setiap santri mempunyai bakat atau potensi yang berbeda-beda. Logikanya seorang santri yang berbakat menjadi penceramah tidak akan mau jika dipaksa untuk menjadi seorang penulis, dan begitu juga sebaliknya, meskipun keduanya mempunyai tujuan yang sama yakni; berdakwah. Dalam berdakwah, santri tidak harus berada di atas mimbar dengan berpidato. Akan tetapi dakwah bisa dilakukan melalui jalur manapun, lewat berpolitik, menulis di media, kesenian, budaya dan lain sebagainya. Dari sinilah, bisa kita pahami bahwa bakat seseorang berbeda-beda. Semua orang mempunyai keterbatasan yang dengan itu semua bisa saling mengisi kekurangan-kekurangan yang ada. Dan seharusnya guru bisa memahami hal itu.

Mengajar menurut Kennet D. Moore, adalah sebuah tindakan dari seseorang yang mencoba untuk membantu orang lain mencapai kemajuan dalam berbagai aspek seoptimal mungkin sesuai dengan potensinya (Moore, 2001:5). Pandangan ini didasari oleh sebuah paradigma bahwa tingkat keberhasilan mengajar bukan pada seberapa banyak ilmu yang disampaikan guru pada siswa, tapi seberapa besar guru memberi peluang pada siswa untuk belajar dan memperoleh sesuatu yang ingin diketahuinya, guru hanya memfasilitasi para siswanya untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuannya.[3]

Sejalan dengan pengertian diatas, Madeline Hunter mengemukakan bahwa mengajar adalah sebuah proses membuat dan melaksanakan sebuah keputusan sebelum, selama dan sesudah proses pengajaran (Hunter, 1994:6), yakni keputusan yang jika diambil oleh seorang guru, akan meningkatkan kemungkinan siswa untuk belajar.[4] Kalau kita pahami, dua pengertian diatas menunjukkan bahwa kedudukan seorang guru sangat penting demi meningkatnya kesemangatan siswa dalam belajar dan menekuni bakat tertentu. Untuk itu ia harus memberi keluasan kepada muridnya untuk memupuk bakat yang sudah dimiliki, selain memperdalam ilmu yang diajarkan di pesantren.

Sebenarnya sistem demokrasi dalam mendidik para santri di pondok pesantren lirboyo, sudah diterapkan sejak dulu. Diantaranya, melalui program-program yang dicanangkan oleh Seksi Pramuka. Seperti, Kursus Jurnalistik bagi para calon penulis handal, kursus bahasa inggris bagi peminat bahasa asing, kursus seni baca al-Qur’an bagi santri yang memiliki suara merdu, kursus computer dan lain sebagainya. Kemudian bagi santri yang berambisi menjadi seorang pencetus hukum, bakatnya bisa tersalurkan melalui ajang diskusi yang diagendakan oleh Lajnah Bahtsul Masa’il (LBM). Dan tak ketinggalan, bagi santri yang berpotensi menjadi seorang pejabat tinggi Negara, bakatnya juga bisa tersalurkan dengan menjadi pengurus dari tingkat jam’iyyah far’iyyah hingga jam’iyyah pusat ataupun menjadi pengurus pusat kelas.

Semua itu adalah sarana untuk meningkatkan bakat-bakat santri yang selama ini terpendam. Sehingga dalam berdakwah mereka tidak harus dengan berada diatas mimbar, mereka bisa berdakwah dengan bentuk dan model yang berbeda sesuai dengan bakat yang dimiliki. Namun, yang paling pokok ketika berada dalam pondok pesantren adalah menguasai ilmu agama (islam). Mengenai cara dalam meng-aktualisasikan teori turast dan mentransfernya ke masyarakat luas, tergantung bakat yang dimiliki oleh masing-masing santri.

______

 

[1] Kesan mendalam para tokoh alumni terhadap tiga tokoh lirboyo_Hal. 260

[2] Gus Dur siapa sih sampeyan?_Hal 89

[3] Paradigma pendidikan demokratis_Hal. 91

[4] Ibid Hal_ 91

Penulis, Said al-Birroe

Pesantren, Pendidikan Primer atau Sekunder?

Selama ini, sebagian besar pendidikan pondok pesantren di Indonesia menampakan wajah yang terkesan tradisional, klasik serta apa adanya. Namun demikian tidak bisa dipungkiri dengan citra wajah yang seperti itu, justru tidak lapuk dimakan zaman. Bahkan ditengah gempuran arus globalisasi yang kian menggila dan hedonisme masyarakat yang kian meningkat, pesantren tetap mampu memikat sebagian komunitas masyarakat untuk tetap menjadikannya sebagai wadah untuk menuntut ilmu. Benarkah?

Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai syariat dan penyiaran agama Islam. Dengan menyediakan kurikulum yang berbasis agama, pesantren diharapkan mampu melahirkan alumni yang kelak mampu menjadi figur agamawan yang tangguh dan mampu memainkan peran serta membiaskan peran propetiknya pada masyarakat secara umum. Artinya, akselerasi mobalitas vertikal dengan penjejalan materi-materi keagamaan menjadi priotitas.

Namun dalam hal ini, dimana peranan itu sudah semakin mengabur dengan berbagai permasalahan  yang dihadapkan oleh perkembangan zaman–dimana masyarakat kita sudah didera berbagai penyakit terutama hedonisme yang semakin menggila–sepertinya memaksa kita untuk tidak mengatakan satu-satunya prioritas dalam  sistem pendidikan pesantren (ilmu agama).

Dalam hal ini, tentunya kita perlu mengkaji kembali nilai-nilai substansial dari sistem yang selama ini  dijadikan superioritas  dalam pendidikan pesantren (tradisional) untuk lebih bisa menompang nilai-nilai yang bersifat reaktif, tanggap terhadap berbagai persoalan bangsa. Adalah keniscayaan ketika kita terlalu eksklusif  dalam pengelaborasian sistem yang selama ini di anggap final – memberikan ruang  yang demikian besar pada ilmu-ilmu keagamaan – berakibat menciptakan penghalang mental untuk melakukan perubahan di tubuh pesantren sendiri.

Padahal, ditengah gegap gempita dan kompetisi sistem pendidikan yang ada, pesantren –sebagai lembaga pendidikan tertua yang masih bertahan hingga kini-, tentu saja harus sadar bahwa penggiatan diri melulu pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Pesantren dituntut untuk senantiasa apresiatif sekaligus selektif dalam menyikapi dan merespons perkembangan zaman.

Pragmatisme budaya yang kian menggejala, sejatinya bisa dijadikan pertimbangan lain, bagaimana seharusnya pesantren mensiasati fenomena tersebut. Bukannya malah menutup diri. Sejatinya pesantren harus membuka diri sekaligus menjajaki perubahan yang terjadi. Dan pada saat yang sama, pesantren pun harus proaktif serta memberikan ruang bagi pembenahan.

Meskipun demikian, kecurigaan pesantren terhadap anancaman lembaga pendidikan kolonial tidak selalu berwujud penolakan yang apriori. Karena di balik penolakannya, ternyata diam-diam pesantren melirik metode yang digunakan lalu kemudian mencontohnya.

Fenomena “menolak sambil mencontoh”, demikian Karel Steenbrink (1994) mengistilahkannya, tampak dalam perkembangan pesantren di Nusantara. Ini terlihat, misalnya, dengan diajarkannya pengetahuan umum semisal bahasa Melayu dan Belanda, sejarah, ilmu hitung, ilmu bumi, dan sebagainya.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Pada tahun 1934, KH. Wahid Hasyim atas restu ayahnya, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, mendirikan madrasah Nidzhomiyah yang mana pengajaran pengetahuan umum mencapai 70 persen dari keseluruhan kurikulum yang diajarkan disana. (Dhafier, 1994). Ini merupakan salah satu respon pesantren dalam mensiasati tuntutan zaman yang tujuannya bukan mengurangi keunikan pesantren itu  sendiri, melainkan justru melengkapi dan memperluas cakupan keilmuannya.

Dalam konteks inilah, pesantren di samping mempertahankan kurikulum yang berbasis agama, juga melengkapinya dengan kurikulum yang menyentuh serta berkaitan erat dengan persoalan dan kebutuhan kekinian umat.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa modifikasi dan improvisasi yang dilakukan pesantren semestinya hanya terbatas pada aspek teknis operasionalnya saja. Bukan substansi pendidikan pesantren itu sendiri. Sebab, jika modifikasi dan improvisasi tersebut menyangkut substansi pendidikan, maka pesantren yang mengakar ratusan tahun lamanya akan tercabut dan kehilangan elan vital sebagai penopang moral pesantren.

Teknis operasional yang dimaksud bisa berwujud perencanaan pendidikan yang rasional. Pembenahan kurikulum pesantren dalam pola yang mudah dicerna dengan tanpa mengulang kembali pelajaran yang sudah diajarkan, tentu saja adalah skala prioritas dalam pendidikan. Dengan pola perencanaan yang matang, terstruktur sembari mempertimbangkan skala prioritas dan pembentukan kurikulum yang efektif dan efisien, dapat dipastikan pesantren mampu terus menancapkan pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat yang belakangan tampak mulai apatis,–untuk tidak mengatakan alergi dengan sistem pendidikan pesantren.

Era Globalisasi Pesantren

Indonesia, sebagai Negara satu-satunya di dunia yang memiliki sistem pendidikan pesantren seharusnya mampu menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang bergengsi serta mampu bersaing dengan pendidikan formal lainnya. Sebab, selama ini masyarakat lebih disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan akan lembaga pendidikan formal yang bergengsi. Bila mendengar nama pesantren, maka yang timbul adalah sikap apatis dan berusaha menjauhkan keluarganya dari lingkungan pesantren.

Padahal, pesantren telah terbukti mampu memberikan pembinaan dan pendidikan bagi para santri untuk menyadari sepenuhnya atas kedudukannya sebagai mansuia, mahluk utama yang harus menguasai alam sekelilingnya. Hasil pembinaan pondok pesantren juga membuktikan bahwa para santri menerima pendidikan untuk memiliki nilai-nilai kemasyarakatan selain akademis. Ini merupakan salah satu keberhasilan pondok pesantren dalam bidang pembinaan bangsa.

Bukan berarti salah jika pondok pesantren selalu memodernisasi sistem pendidikanya dengan tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja, akan tetapi juga mengajarkan mata pelajaran yang ada dalam sistem pendidikan nasional. Dengan sistem pendidikan seperti ini, maka pondok pesantren tidak hanya dapat bertahan, akan tetapi juga berkembang dan tidak pernah tertingal oleh perkembangan zaman.

Maka wajar apabila pesantren mampu mencetak banyak pemikir islam Indonesia. Melihat perkembangan zaman yang semakin pesat, maka pesantren segera menyesuaikan diri dengan melakukan proses urbanisasi intelektual. Santri-santri yang tadinya hanya membaca kitab kuning, kemudian merambah “dunia lain” dengan menjadi seorang pemuda yang membaca kitab putih.

Dengan demikian, diharapkan nantinya akan terlahir pemuda-pemuda bangsa dengan latar belakang pendidikan pesantren yang mempunyai pandangan luas, kritis, produktif, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi untuk bangsa Indonesia. Semoga.][

Penulis, Arsyad Muhammad, Kru Mading Hidayah

KH. Mashum Jauhari

Betapa banyaknya orang yang alim, tapi ilmunya manfaat tidak, barokahpun tidak. Semua itu disamping takdir, dipengaruhi juga oleh sepak terjang, tingkah laku juga perangai waktu di pondok. Mungkin mereka sombong, pongah, congkak, takabbur dan mungkin pula mereka tinggi hati.

Namun juga sebaliknya, banyak orang yang ilmunya sedang-sedang saja, tapi betapa hebat manfaat & barokahnya. Karena ditunjang oleh sifat tawadlu’ (rendah hati) dan banyak khidmah tholabul ‘ilmi.

Liburan, Ribuan Santri Pulang Kampung

LirboyoNet, Kediri – Terhitung mulai rabu ini (01/02) hingga jum’at pekan depan (10/02)seluruh kegiatan Pondok Pesantren Lirboyo di Liburkan. Mulai dari kegiatan belajar mengajar hingga ektra kurikuler, semua di liburkan. Sekretaris Umum PP. Lirboyo, M. Mufid mengatakan “Liburan ini merupakan kalender kerja Madrasah, yang memberi kesempatan kepada santri untuk beristirahat sejenak dari rutinitas belajar di pondok,” ujarnya.

Senada dengan Ust. Mufid, salah seorang Mudier MHM, Ustad Faqih mengatakan “Meskipun liburan, para santri dihimbau untuk mengisinya dengan kegiatan yang positif,” ujarnya tegas, lebih lanjut ustad muda kelhiran grobogan ini menjelaskan, bahwa kegiatan positif yang dapat dikerjakan, seperti organisasi dan pengajian di pesantren-pesantren lain.

Berdasarkan pantauan crew Lirboyo.net, ribuan santri Lirboyo, secara bergelombaang meninggalkan PP. Lirboyo, mulai selasa pagi (31/01) hingga berita ini diturunkan, banyak santri yang berangkat menuju kampung halaman masing-masing. Ada berbagai moda transportasi yang mereka pakai, mulai bus hingga kereta api.

Ketua Seksi Keamanan PP. Lirboyo, Ustad Sofyan Tsauri mengatakan “Mereka yang mudik ada yang pulang sendiri-sendiri, berkelompok kecil bahkan rombongan besar,” ujarnya, lebih lanjut Ust. Sofyan mengatakan sebagian besar santri pulang sendiri-sendiri, namun untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, keamanan menganjurkan untuk pulang secara berkelompok dan tidak pulang dimalam hari.

Secara khusus Pengasuh PP. Lirboyo, romo KH. Idris Marzuqi menginstruksikan kepada seluruh santri, melalui surat edaran di kelas-kelas, agar para santri senantiasa menjaga nama baik Pondok Pesantren Lirboyo, dimanapun berada. Selain itu Mbah Yai Idris juga berpesan agar mengisi liburan dengan kegiatan yang positif. Riff