Tag Archives: Pendidikan

Tingkatkan Payung Hukum, FKPM Serahkan RUU Pendidikan Keagamaan dan Pesantren ke Baleg

Jakarta Puluhan Pimpinan Pondok Pesantren Mu’allimin dan Salafiyah se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) berkunjung ke Badan Legislasi di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (5/7/2018).

Kunjungan ini untuk menyerahkan usulan Rancangan Undang Undang (RUU) tentang Pendidikan Keagamaan dan Pesantren (PKP).

“Audiensi antara FKPM dengan Badan Legislatif untuk memberikan masukan RUU PKP,” kata Presiden Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia, KH Muhammad Tata Taufik, kepada Tribunnews.com.

Kunjungan FKPM ke Baleg DPR utk menyerahkan usulan RUU pendidikan keagamaan dan pesantren. (Istimewa)

KH Muhammad Tata Taufik yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Al Ikhlas, Kuningan, Jawa Barat tersebut menjelaskan target dari audiensi ini agar pesantren punya payung hukum setingkat undang-undang.

“RUU pesantren harus bisa menjawab kebutuhan pesantren. Diantaranya legalitas lulusan pesantren, diharapkan dengan ini proses penyeteraan atau muadalah kepada pesantren-pesantren bisa diberikan lebih banyak lagi oleh pemerintah,” katanya.

Meski maklum diketahui pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia dan berkontribusi besar terhadap perekembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia tapi keberadaan ijazah lulusan pesantren baru diakui beberapa tahun lalu.

“Kami berjuang sejak 2003 dan alhamdulillah ijazah lulusan pesantren sekarang sudah mendapat penyetaraan tapi masih setingkat peraturan Menteri Agama. Untuk itu kami harus memperjuangkan lagi sampai naik ke level Undang-Undang,” kata KH Muhammad Tata Taufik.

Hal terpenting dalam Muadalah tersebut salah satunya adalah soal otonomi pesantren. Pemerintah tidak seharusnya memaksakan pesantren agar merubah kurikulumnya untuk mendapatkan pengakuan.

“Iya benar, kurikulum pesantren itu punya kekhasan tersendiri yang berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan lainya. Kekhasan itu yang harus dipertahankan,” katanya.

Untuk mensukseskan perjuangan ini FKPM berharap Pihak pesantren sebagai stakeholder yang jumlahnya ribuan di tanah air bisa lebih harmoni melaksanakan Undang-Undang.

Hadir saat audiensi Rektor Unida Gontor, Prof Amal Fathullah Zarkasyi, perwakilan dari Pondok Modern Gontor, Pengasuh Pesantren Darunnajah Jakarta, Pesantren Al Ikhlas Kuningan, Pesantren Al Ikhlas Lombok, Pesantren Tazakka, Pesantren Langitan, Pesantren Termas Pacitan, HM. Dahlan Ridlwan dari Pesantren Lirboyo dan beberapa pesantren lainnya.

sumber : tribunnews.com

Pendidikan Harus Dilakukan Bersama

Saya mohon kepada kalian, ini merupakan tugas yang berat, saya minta keikhlasannya. ilmu yang sudah dicapai diminta untuk disampaikan kepada orang lain, kalian ikut membantu membimbing santri-santri mbah sepuh.

Pendidikan itu sangat berat dan tidak bisa dilakukan oleh satu orang harus dilakukan bersama-sama.

Lirboyo itu yang dikenal adalah Alfiyah dan Qoidahnya, tahun 60-an teman saya menjadi pengurus di pondok lain tetapi saat di Lirboyo hanya masuk kelas 4 pelajarannya Tashrifan.

Maziyahnya lirboyo itu harus kita pertahankan itu merupakan ilmunya Mbah Sepuh dan itu ahline Mbah Sepuh.

Mbah Anwar cucunya Kiyai Kholil menempati serambi selatan, ikut mengaji selama sebulan kepada Mbah Karim, beliau itu sudah Kiyai, hanya karena mencari tashrifan dan alfiyah beliau ikut mengaji. jika itu baik, kitabnya juga baik itulah yang dipertahankan.

Yang sangat penting sekali adalah saya bersyukur kepada Allah SWT sekarang saya bisa ikut mengajar di Lirboyo, semoga dipilih diharapkan Allah menjadi orang yang baik. Yufaqqihu fiddin.

Banyak orang yang mondok tetapi tidak mengajar, ini yang berkehendak adalah Allah SWT. kalian pulang kerumah mencari lima orang akan kesulitan, disini murid yang menunggu begitu banyak, kalian harus bersyukur telah dilatih mendidik anak kecil.

Bismillahirrohmanirrohim. saya niat nasyrul ilmi karena Allah ta’ala.

Disampaikan Oleh Beliau Romo KH. M. Anwar Manshur dalam Sibes MHM

Halal Bi Halal Madrasah

LirboyoNet, Kediri— KH. M. Anwar Manshur menyatakan bahwa menjadi pengajar Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), juga bertanggungjawab atas pendidikan moral santri. Karena selain ta’lim, pengajaran ilmu agama dalam kitab-kitab salaf, pengajar juga dituntut untuk men-tarbiyah santri. Berbeda dengan ta’lim, tarbiyah adalah pengajaran santri yang lebih dititikberatkan kepada pengalaman nilai-nilai agama dalam prilaku harian mereka.

“Kita harus bisa mendidik akhlak mereka. Merubah prilaku mereka (agar sesuai dengan nilai islam),” tutur beliau di acara Halal Bi Halal MHM, Senin malam kemarin (10/07).

Menjadi pengajar MHM juga berarti mendapat kesempatan yang baik untuk memperoleh nilai tinggi di hadapan Allah swt. “Karena tidak ada kemuliaan di dunia, kecuali menjadi salah satu dari dua hal: kun ‘aliman au muta’alliman. Menjadi orang alim, berilmu, atau menjadi pencari ilmu,” Imbuh beliau.

Selanjutnya, sebagai khadim Pondok Pesantren Lirboyo, beliau memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada hadirin, dan berterima kasih atas kedisiplinan yang terus dijaga.

Sementara itu, KH. Nurul Huda Ahmad berharap, momen halal bihalal ini menjadi landasan bagi hadirin mengikrarkan diri untuk memohon maaf kepada sesama. “Semoga, rangkaian qiyamul lail kita saat bulan Ramadan lalu, menjadi amal yang diterima oleh Allah swt.”

Halal Bi Halal ini dihadiri oleh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo serta segenap pengurus dan pengajar MHM. Dalam rangkaian acara yang dilaksanakan di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM) ini, juga dibacakan beberapa informasi terkait jumlah santri dan pengajar sementara hingga beberapa hari di awal tahun ajaran ini.

Menyoal Peran Generasi Muda

Sebuah peradaban bangsa merupakan hal yang paling penting dalam tatanan kehidupan manusia. Namun, peradaban yang sudah ada tidak akan bertahan secara konsisten tanpa adanya regenerasi secara signifikan yang akan melanjutkan perjuangan yang telah dibangun oleh para pendahulunya.

Dari sinilah peran generasi muda sebagai generasi penerus sangat dibutuhkan. Kecerdasan intelektual, usia yang masih muda, mobilitas tinggi, serta semangat yang membara merupakan salah satu contoh kekuatan besar yang dimiliki generasi muda sebagai aset penting peradaban suatu bangsa. Maka sudah jelas bahwa mereka menjadi bagian penting dari agama, bangsa, dan negara. Karena di tangan generasi mudalah tonggak perjuangan dan harapan bangsa untuk melanjutkan perjuangan di masa depan.  Syaikh Musthofa Al-Gholayaini berkata:

إِنَّ فِى يَدِ الشُّباَّنِ اَمْرَ اْلاُمَّةْ وَفِى اَقْدَامِهَا حَيَاتَهَا

“Sesungguhnya di tangan para pemudalah urusan umat, dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat”. Ini telah membuktikan bahwa para generasi muda menjadi tulang punggung dan harapan dari sebuah peradaban agama dan bangsa.

Dilihat dari konsep kenegaraan, generasi muda diibaratkan sebuah pilar/tiang dan negara itu ibarat bangunannya. Sebuah bangunan dengan pilar yang berasal dari bahan yang bermutu dan berkualitas tinggi akan tetap kokoh dan mampu bertahan walaupun badai, petir, bahkan bencana sekalipun yang menghantam. Begitu juga dengan para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Dengan modal ilmu dan akhlak yang mereka miliki menjadi hal yang paling penting untuk menjadikan negaranya maju dan tetap kokoh dari berbagai ancaman dan pengaruh pihak luar.

Dalam konteks Islam, peran dan fungsi generasi muda sangat urgen dalam mempertahankan eksistensi kejayaan agama Islam. Karena di tangan merekalah tongkat estafet Islam akan diperjuangkandan ditegakkan. Hal ini dikarenakan seorang pemuda memiliki potensi yang besar dalam mengemban amanah besar tersebut. Maka tidak ada alasan apapun untuk tidak segera menyelamatkan generasi penerus dari berbagai ancaman kerusakan di era globalisasi saat ini.

Sebagai realisasi nyata dari berbagai sudut pandang tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi generasi muda:

  1. Pendidkan dan Akhlaqul karimah

Generasi muda merupakan akar kekuatan sebuah agama maupun bangsa. Oleh sebab itu, perhatian khusus dalam menjaga aset penting yang menjadi penopang kekuatan tersebut mutlak diperlukan. Terutama dalam sektor pendidikan yang memiliki andil besar dalam mencetak dan mendidik karakter generasi muda yang  berakhlaqul karimah. Bahkan Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak, sesuai dengan hadis yang disampaikan oleh Sahabat Abu Hurairah RA:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. [1]

Ancaman bahaya lain yang menyerang generasi muda adalah ancaman pemikiran. Seperti pemahaman yang ekstrim dalam beragama, paham radikal, sekuler, liberal, dan seterusnya. Sehingga tidak heran kalau generasi muda yang masih memiliki pemahaman yang kurang mendalam namun memiliki jiwa semangat yang tinggi menjadi sasaran utama upaya rekrutmen kelompok-kelompok yang beraliran seberang tersebut.

Dan dalam ranah pendidikan itu sendiri, tidak terbatas sekedar konsep penularan pengetahuan (transfer of knowledge). Namun lebih menitik beratkan dalam konsep tarbiyyah dan upaya pembangunan karakter (character building). Memahami hal demikian, sudah seharusnya orang tua, pihak lembaga pendidkan, maupun pemerintah bersinergi dan bekerjasama dalam mengemban tanggungjawab untuk menjadi garda terdepan dalam mencetak dan memelihara akhlaqul karimah bagi para generasi muda. Boleh para generasi muda mengadopsi atau mengikuti perkembangan zaman, asalkan tetap memegang kuat  prinsip:

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْدُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

“Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”.

Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, sudah saatnya untuk menyingsingkan lengan baju untuk lebih cerdas memahami keadaan dan situasi yang dihadapinya. Generasi muda harus mempunyai kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual yang seimbang. Karena yang dibutuhkan tidak hanya cerdas dalam akademi, tapi kecerdasan yang muncul dari hati dan sifat religiuitaslah yang terpenting. Dan dengan pengamalan ilmu dan penerapannya pada obyek (maudlu’) yang tepat, diharapkan dapat merubah dan memajukan peradaban agama maupun bangsa ini menjadi lebik baik.

Sungguh ironi, terjadi ketidakseimbangan antara dunia pendidikan seperti pesantren ataupun yang lain yang selalu konsisten berusaha mencetak kader-kader bangsa yang berilmu dan bermoral dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang secara perlahan merusak para generasi muda bangsa. Hal tersebut yang membuat para generasi muda harus berpikir kritis dalam memilih jalan hidupnya.

  1. Menggali Potensi Sejak Dini

Usia muda merupakan usia dimana seseorang masih memiliki jiwa semangat yang tinggi, kecerdasan intelektual yang stabil. Dalam masa tersebut, mereka sepatutnya mengerahkan seluruh daya untuk menggali segala potensi yang dimilikinya sebelum urusan dan tanggung jawab bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Pentingnya memanfaatkan usia muda secara maksimal telah tersirat secara implisit dalam hadis Rasulullah SAW:

غْتَنِمْ خَمْساً قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Pergunakanlah perkara yang lima sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu” (HR. Hakim).[2]

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan betapa pentingnya masa muda untuk digunakan dalam segala hal yang positif. Maka selayaknya para generasi muda untuk benar-benar menyadari betapa pentingnya usia muda untuk menggali segala potensi dirinya dalam mencari ilmu dan pengalaman yang dapat memberi manfaat baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

  1. Pergaulan dan Globalisasi

Diakui ataupun tidak, derasnya arus globalisasi  dan segala bentuk kemajuannya telah berdampak negatif terhadap perkembangan cara berpikir dan gaya hidup generasi muda yang banyak teradopsi dari pemikiran orang-orang luar yang berusaha merusak generasi muda. Tentunya hal tersebut lambat laun akan semakin menyeret mereka menjauhi moral dan karakter positif yang telah tertanam sejak lama.

Lingkungan pergaulan dan pertemananpun sangat berpotensi membentuk pola kehidupan seseorang, konsep seperti ini sudah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ قَالَ «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ». رواه أبو داود

“Dari Sahabat Abi Hurairah bahwa sesungguhnya Nabi bersabda: seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Dawud).

Dalam Alqur’an dicontohkan sebuah kisah pemuda Ashabul Kahfi, bagaimana mereka tetap kokoh memegang prinsip keimanan di saat kaum mereka dilanda kerusakana dan kebobrokan moral. Ketika kemampuan untuk memperbaiki tidak lagi mereka miliki, Allah SWT memberikan pertolongan dengan menyelamatkan mereka dari ancaman kaumnya sehingga mereka tertidur di dalam gua selama kurang lebih tiga ratus tahun. Kemudian Allah SWT memuji mereka dalam firmannya:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahkan mereka petunjuk” (QS. Al-Kahfi: 13).

Redaksi  Al-Fityah ditafsiri dengan arti para pemuda, mereka adalah orang yang lebih mudah menerima kebenaran serta mengikuti petunjuk dibandingkan dengan orang yang telah lanjut usia yang terjerumus ke dalam agama yang batil. Karena itu yang paling banyak menerima seruan Allah dan RasulNya adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari suku Quraisy kebanyakan tetap kekal dengan agama nenek moyang mereka, tidak ada yang memeluk Islam kecuali sedikit. [3]

Maka melihat dari hal itu, generasi mudalah yang menjadi target sasaran musuh Islam. Genderang perang yang ditabuh yang dikemas dengan bentuk  perang dingin (the cold war) terus dikobarkan dari berbagai celah sudut. Baik melalui media internet, televisi, maupun media yang lain yang tidak mendidik. Lambat laun semuanya akan merusak moral dan kepribadian umat Islam dan generasi penerusnya.

Walhasil, peranan generasi muda dalam menopang eksistensi sebuah peradaban sudah tidak bisa pungkiri. Sebagai generasi yang akan melanjutkan segala perjuangan yang sudah ada sebelumnya, maka diperlukan sebuah jiwa militansi yang tinggi serta kesiapan dan pembekalan yang mumpuni dan berkualitas, baik dari segi intelektual maupun spiritual. Sebagaimana sebuah pepatah  Arab:

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِّ

“Pemuda hari ini adalah pemimpin-pemimpin hari esok”. [] waAllahu a’lam.

__________

[1] Shahih Al-Jami’ no. 2833, dan diriwayatkan oleh Imam malik Bin Anas dalam kitabnya, Al-Muwattho’.

[2] Al-Mustadrok ‘Ala Al-Shohihain, juz 4 hal 341.

[3] Tafsir Ibnu Katsir, juz 5 hal 127.

Malam Mingguan Membina Kepribadian

LirboyoNet, Kediri – Kata siapa malam Minggu hanya dinikmati anak muda ‘luar’?

Stigma malam Minggu memang cenderung negatif, terutama bagi mereka yang jalan-jalan dengan lawan jenis. Dengan mengendarai motor, mereka mencari tempat tertentu untuk sekedar bercengkerama.

Sesuatu yang lebih positif telah digiatkan oleh para anak muda ‘dalam’, yakni mereka yang berdiam di dalam Ponpes Lirboyo. Sabtu malam Ahad (06/02) kemarin, beberapa diantara mereka berkumpul di Laboratorium Bahasa Ponpes Lirboyo. Gedung ini berada di dalam komplek Aula Al Muktamar. “Malam Mingguan” mereka nikmati dengan mengikuti Kursus Bina Kepribadian, yang dikoordinir oleh Seksi Pramuka P2L. Mereka datang dengan berbagai latar belakang. Mulai mereka yang masih duduk di jenjang Ibtida’iyyah hingga Aliyah.

Di dalam ruangan itu, mereka telah ditunggu oleh sang pemateri, Bapak Saiful Asyhad, SH. Sesuai jadwal, kursus dimulai pada pukul 23.00 waktu Istiwa’. Dengan sigap, puluhan peserta segera memakai earphone yang tergantung di meja. “Dalam mengatur penampilan, kalian harus jeli memilih warna busana dan aksesoris yang akan kalian pakai,” terang beliau mengawali kursus. Para pria maksimal dapat menggunakan tiga kombinasi warna dalam pakaian mereka. Sementara bagi wanita dua warna lebih banyak.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Tidak hanya pakaian. Cara melangkah dan ekspresi wajah juga tidak boleh lupa untuk dicermati. “Ketika melangkah, jangan menghentak. Turunkan tumit dahulu, kemudian telapak kaki. Selain lebih halus, ini juga berpengaruh ketika kalian sudah berumur tua,” lanjut Pak Saiful. Jika cara melangkah kurang diperhatikan, efek yang akan dirasakan saat tua adalah pinggang yang mudah sakit, jalan menjadi pincang, dan lainnya.

Pengadaan kursus Bina Kepribadian ini berangkat dari kebutuhan dan kewajiban untuk berdakwah bagi para santri. Di dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi dunia dakwah, banyak hal di luar materi kitab kuning yang harus dipelajari. Bagaimana agar mudah diterima masyarakat, mengajak kebaikan (amr ma’ruf) dengan tanpa menggurui, adalah beberapa tema yang menjadi pekerjaan rumah bagi para santri.

Dengan kursus inilah, paling tidak, santri dapat menemukan cara-cara berkepribadian yang benar, baik dan indah untuk mereka terapkan ketika sudah bermasyarakat kelak. Sehingga, akhlakul karimah dan materi-materi agama yang mereka bawa akan mampu diserap dengan baik oleh masyarakat sekitar, lebih-lebih oleh seluruh elemen masyarakat Nusantara.][