Tag Archives: Surabaya

Ratusan Santri An-Nuriyah Surabaya Kaji Buku Fikih Kebangsaan

Surabaya – Sabtu, 08 September 2018, Sepanjang sejarahnya, Indonesia tidak pernah sepi dari tantangan. Karenanya, penguatan wawasan kebangsaan bagi generasi muda menjadi penting dilakukan. Seperti yang dilakukan pesantren ini dengan membedah buku Fikih Kebangsaan karya tim bahtsul masail Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo).

 

Bedah buku diselenggarakan di Yayasan Pondok Pesantren Putri An-Nuriyah (YPPP An-Nuriyah) Wonocolo Surabaya. Tiga ratus lebih peserta yang mayoritas mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya terlihat antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung Jumat (7/9) malam ini.

 

Hadir sebagai pembicara adalah Ustadz Ahmad Muntaha AM sebagai salah seorang tim penyusun buku. Juga Maya Shovitri, alumnus Universitas Bremen, Jerman dan KH Agus Fahmi selaku Pengasuh An Nuriyah sebagai pembanding.

 

“Dalam konteks sekarang, pengaruh kondisi geopolitik dunia dan upaya mengimpor konflik Timur Tengah ke Indonesia menjadi tantangan yang tidak bisa diremehkan,” kata Ustadz Ahmad Muntaha. Ini bukan ilusi, karenanya penguatan wawasan kebangsaan harus terus dilakukan, lanjutnya.

 

Alumni Uinsa Surabaya ini juga menegaskan, di alam demokrasi, kritik dan oposisi terhadap pemerintah memang merupakan hal lumrah, namun demikian harus dilakukan dengan nilai akhlakul karimah. “Imam Ahmad dulu juga pernah diprovokasi dan dihasut untuk melawan pemerintah, namun beliau tegas menolaknya,” jelas alumni Pesantren Lirboyo Kediri tersebut.

 

Sementara Maya Shovitri membagikan pengalaman studi selama enam tahun di Jerman. “Meski lama hidup di negeri yang berbeda kultur, kecintaan terhadap tanah air tidak boleh luntur,” kata Kasubdir Admission dan Mobiliti/Direktorat Hubungan Internasional Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.

 

Dirinya juga menegaskan, bahwa Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan negeri terbaik dan terindah yang layak dibanggakan.

 

Di sisi lain, KH Agus Fahmi menyinggung pentingnya menjaga tradisi dan budaya khas Nusantara. “Bahkan banyak ritual agama yang sebenarnya berangkat dari budaya masyarakat,” katanya.

 

Ia kemudian mencontohkan bagaimana kegiatan aqiqah di mana awalnya merupakan tradisi masyarakat jahiliyah yang kemudian dilestarikan menjadi ajaran agama. “Setelah sebelumnya diselaraskan dengan nilai-nilai Islam,” jelasnya.

 

Kegiatan berlangsung seru, khususnya kala memasuki sesi tanya jawab. Sejumlah pertanyaan kritis disampaikan peserta pada acara yang dimedoratori Alaika Muhammad Bagus tersebut.

 

sumber : NUonline

Pondok Lirboyo Mengikuti ISEF 2016

LirboyoNet, Surabaya – Untuk ketiga kalinya, Bank Indonesia kembali menggelar event ISEF (Indonesia Shari’a Economic Festival). Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus DW Martowardojo beserta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, pada 27 Oktober lalu resmi membuka event ini di Grand City, Surabaya.

Melalui penyelenggaraan ISEF ini, BI berharap ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dapat terus meningkat, baik melalui kajian-kajian yang mendukung maupun pemahaman dan penerimaan masyarakat yang tinggi.

Tahun 2016 ini ISEF dibagi menjadi dua bagian besar, Shari’a Forum dan Shari’a Fair. Shari’a Forum sendiri berlangsung pada 25-28 Oktober kemarin. Kegiatan ini mengangkat dan berdiskusi mengenai berbagai topik dan pengembangan ekonomi syariah. Termasuk pula bagaimana integrasi sisi komersial dan sosial dalam ekonomi syariah untuk meningkatkan stabilitas sistem keuangan.

Untuk Shari’a Fair, konsep yang diangkat adalah aspek-aspek ekonomi syariah yang berpotensi untuk dikembangkan. Shari’a Fair menampilkan rangkaian pameran produk-produk UMKM kreatif berbasis syariah, termasuk produk-produk dari pondok pesantren. Selain itu, ada pula talkshow, workshop, hiburan dan festival kuliner.

Ada 18 pondok pesantren Jawa Timur yang tahun ini mengikuti ISEF, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo. Banyak produk menarik yang ditawarkan stand-stand pondok pesantren, mulai dari kerajinan tangan, makanan olahan, sampai dengan karya tulis para santri. Pameran ini akan berlangsung hingga besok, 30 Oktober 2016.][

Peran Kiai Meneguhkan Kedaulatan RI

Jauh sebelum Kiai Mahrus diamanati menjadi anggota Musytasyar Pengurus Besar NU, hasil muktamar NU yang ke-27 di Situbondo pada tahun 1984 M, peran serta kiai mahrus dalam NU sudah dimulai, seperti waktu mengadakan kongres Nu se-Jawa dan Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 dalam menghadapi kedatangan NICA yang ingin merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kiai Mahrus beserta iiai yang lain diantaranya kiai-kiai dari Jawa barat, seperti; Kiai Abbas Buntet, Kiai Syatori Arjawinangun, Kiai Amin Babakan Ciwaringin, dan Kiai Suja’i Indramayu mengadakan forum musyawarah untuk menentukan sikap.

Rapat darurat ini dipimpin oleh kiai Wahab Hasbulloh dan menemukan titik temu pada 23 oktober di forum musyawaroh NU. Hadratus syaikh KH. Hasyim Asya’ri atas nama HB [pengurus besar] organisasi Nu mendeklarasikan sebuah seruan Jihad Fi-sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah Resolusi Jihad.

Pesantren dalam konteks buku sejarah Nasional Proporsi yang diberikan pada kurikulum sejarah pengajaran belumlah banyak berpihak pada sejarah pesantren. Apresiasi justru dari pihak sipil, sebagai contoh kecil datang dari Prof. Mansur Suryanegara (sejarawan) yang telah banyak mengulas perjuangan para santri dan kiai tempo dulu dalam memperjuangkan NKRI.

Kita ketahui bersama 10 november dijadikan sekaligus diperingati sebagai hari pahlawan Nasional. Dibalik penetapan itu telah banyak korban yang menjadi Syuhada adalah para Kiai  dalam membentuk barisan tentara Hizbullah (Laskar Santri) dan sabilillah (laskar Kiai) kedua laskar ini didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang dan mendapat kemiliteran di Cibarusah, Kab. Bekasi Jawa Barat.

Dari sini terdapat suatu keterkaitan dari teks utuh resolusi BAB MEMUTUSKAN, yang telah disepakati pada Muktamar NU ke, 16 Di Purwoketo ‘’Berperang menolak dan melawan penjajah itu Fardlu ‘Ain [yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang islam,laki-laki, perempian, anak-anak, bersenjata atau tidak] bagi orang yang serada dalam jarak lingkungan 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh.’’

Hizbullah dan Sabilillah adalah laskar rakyat paling kuat yang pernah hidup di bumi Indonesia, meskipun disisihkan dalam sejarah. Dalam hal ini, kekuatan santri yang tersatukan dalam wadah perjuangan laskar rakyat Hizbullah dan Sabilillah untuk para kiyai ikut andil dalam perjuangan fisik peristiwa 10 november 1945. Laskar ini telah mendapatkan motivasi dari para kiyai kemudian diberangkatkan ke Surabaya.

Para laskar ini berkumpul dan dipusatkan di Singosari, dengan bersenjatakan bambu runcing, katapel, dan senjata tajam. Kekuatan yang tak sebanding, tepat pada tanggal 10 november 1945, pagi-pagi sekali tentara inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran, dengan kekuatan persenjataan yang dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang berbagi bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi buta dengan meriam dari laut dan darat. Arek-arek suroboyo pun berkobar di seluruh kota tanpa terkecuali heroisme jihad dari kiai dan santri, dengan bantuan aktif dari penduduk. Ribuan penduduk yang tak berdosa menjadi korbannya.

[ads script=”1″ align=”center”]

Urgensi Penulisan Ulang Sejarah

Sebagai wujud untuk menciptakan Indonesia yang berdaulat, kiranya semua element masyarakat berpadu bahu membahu bersatu. Mustahil hal ini tercapai bila perjuangan dijalankan menurut kemauannya sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Bung Karno ”kuat karena bersatu, bersatu karena kuat”.

Dalam hal ini pesantren mengambilperan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia, seperti laskar Hizbullah yang didirikan pada 4 Desember 1944, inisiatif dari KH. Wahid Hasyim untuk melatih para pemuda pesantren sebagai tentara regular. Setahun sebelumnya tanggal 03 oktober 1943 atas usulan para ulama, PETA (pembela tanah air) didirikan. Niat dan tujuan para ulama untuk membentuk PETA adalah membangkitkan kembali sifat keprajuritan pemuda Indonesia untuk tetap konsisten memerangi, melawan, dan mengusir kaum penjajah dari muka bumi Indonesia.

Dari pada itu kita sebagai pemuda berkelanjutan (masa depan) sepatutnya untuk lebih peka lagi dalam mempelajari, mewacanakan, menganalisis akan peran kiai pesantren dalan berdiri tegaknya NKRI. Penulis meyakini walaupun belum meneliti secara langsung, hak sejarah pesantren dalam hal ini perjuangan kiai dan santri belum banyak diekspos secara transparan.

Untuk itu tugas kita (baca: santri) bersama untuk lebih mengenali akan perjuangan para kiai, paling tidak untuk ukuran sederhananya mengetahui bahwa kiyai-kiyai pesantren adalah seorang pejuang yang pada masanya tidak hanya berkutat pada kitab semata. Sinkronisasi antara kealiman dan keagamaannya dan mempunyai jiwa nasionalisme wujudkan Indonesia yang bermartabat. Muamir