Awal Kemunculan Ilmu Nahwu

awal kemunculan ilmu nahwu

Berikut adalah awal mula kemunculan ilmu nahwu, salah satu cabang ilmu dalam literatur keislaman yang wajib dikuasai bagi setiap muslim yang ingin mendalami ilmu agama. Sebab, tanpa ilmu nahmu pemahaman yang mendalam dan menyeluruh terhadap teks-teks Al-Qur’an, Hadist serta pendapat ulama dalam turats tidak akan bisa tercapa. Maka dari itu, mashur satu maqolah yang mengatakan:

الصَّرْفُ أُمُّ الْعُلُوْمِ وَالنَّحْوُ أَبُوْهَا

“Ilmu sharaf adalah ibunya ilmu sementara nahwu adalah bapaknya.”

Maksud dari maqolah tersebut adalah menegaskan betapa pentingnya ilmu nahwu dan saraf, ibarat saraf adalah ibu dari setiap ilmu sementara nahwu adalah bapaknya. Maka dari itu sedikit kami akan mengulas sejarah tentang awal mula kemunculan ilmu nahwu.

Sautu malam Abu al-Aswad ad-Du’ali bersama putrinya sedang bersantai di atas loteng rumah, sambil melihat langit-langit malam, memandang gemerlap cahaya bintang-bintang di antara gelapnya langit malam. Sang putri berkata:

يَا أَبَتِ مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ

Dengan membaca dlomah nun dan membaca kasroh hamzah, sehingga berarti “wahai ayah, apa yang lebih indah dari langit?”

Mendengar ucapan putrinya Abu al-Aswad menjawab:

“tentu saja ada anakku, (yang lebih indah dari langit adalah) bintang-bintangnya”

Abu al-Aswad mengira sang putri sedang menanyakan apakah ada yang lebih indah dari langit. Karena merasa respon sang ayah tidak nyambung, putri Abu al-Aswad mengklarifikasi perkataannya.

“wahai ayah! maksudku, aku sedang mengagumi keindahan langit serta isinya”

Karena maksud dan perkataan putrinya tidak sesuai, Abu al-Aswad mengoreksi:

wahai anakku, ucapkanlah  مَا أَحْسَنَ السَّمَاءَ “

Kalau memang maksud dari perkataan putrinya adalah kekaguman dengan langit maka jangan membaca dlomah lafad أحسن serta membaca kasroh lafadz السماء yang sehingga menjadi susunan idlofah. Akan tatapi yang benar adalah membaca fathah lafadz أحسن sebagai fi’il ta’ajub begitu juga membaca fathah lafadz السماء sebagai maf’ulnya, sehingga bisa berarti “wahai ayahku, sangat indah langit itu”.

Dengan kesalahan baca yang fatal itu, Abu al-Aswad pagi harinya mendatangi Khalifah Ali ibn Abu Tholib krw. Menceritakan apa yang ia alami bersama anaknya.

“anak-anak kita mengucapkan apa yang tidak kita mengerti”

“yang demikian sebab berbaurnya masyarakat arab dengan selain orang arab” komentar sang khalifah.

Kemudian Khalifah Ali krw. memerintahkan Abu al-Aswad membeli kertas. Selang beberapa hari Khalifah Ali krw. memerintahkan Abu al-Aswad untuk menuliskan perkataannya bahwa kalimat itu ada tiga: isim, fi’il dan huruf. Khalifah juga menjelaskan beberapa pembahasan terkait bab ta’ajub.

انحِ نَحْوَ هَذَا

“Tulislah yang sama dengan keterangan ini”

Khalifah juga memerintahkan supaya Abu al-Aswad menambahkan apa yang menurutnya perlu untuk ditambahkan. Kahlifah berkata:

وَاعْلَمْ يَا أَبَا الْأَسْوَادِ أَنَّ الْأَشْيَاءَ ثَلَاثَةٌ ظَاهِرٌ وَمُضْمَرٌ وَشَيْءٌ لَيْسَ بِظَاهِرٍ وَلَامُضْمَرٍ وَاِنَّمَا تَتَفَاضَلَ النَّاسُ فِيْ مَعْرِفَةِ مَا لَيْسَ بِظَاهِرٍ وَلَامُضْمَرٍ

“Ketahuilah aba al-aswad, bahwa sesuatu (kalimah) adakalanya yang nampak dan tidak nampak. Ada juga yang bukan nampat bukan pula tidak nampak. seseorang bisa unggul apabila mengetahui yang bukan nampak bukan pula tidak nampak.”

Selang beberapa waktu Abu al-Aswad manunjukkan hasil tulisannya kepada khalifah. Dalam tulisan pertamanya itu terdapat penjelasan tentang huruf-huruf nashob (amil yang menashobkan mubtada’) seperti ان, ليت, لعل dan كأن. Pada awalnya abu al-Aswad tidak menyebutkan لكن karena menurutnya huruf tersebut tidak termasuk dalam amil nashob, akan tetapi kemudian khalifah mengatakan bahwa لكن termasuk huruf nashob.

Dari perkataan sahabat ali tersebut kemudian cabang ilmu ini diberinama ilmu nahwu.

Baca Juga: Arab Menghijau Tanda Kiamat?
Subscribe: Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses