Arab Menghijau Tanda Kiamat?

  • Ali Irham
  • Jan 23, 2023

Baru-baru ini kita ditakut-takutin sama fenomena “aneh” di semenanjung arabia. Aneh, daerah arab yang terkenal dengan padang pasir dan fatamurgananya mendadak menghijau bahkan muncul sungai dadakan!

Mereka mengait2kan fenomena ini dengan hadis nabi yang menjelaskan tentang tanda-tanda kiamat;

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُوْدَ اَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوْجًا وَاَنْهَارًا

“Tidak datang hari kiamat sehingga tanah Arab menjadi subur Makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR. Muslim: 1681)

Hadis ini sahih diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Benar apa tidak klaim seperti itu? Dapatkah difahami hadist tersebut sebagaimana fenomena yang terjadi di Arab saat ini?

Simak penjelasan singkat kami!

Pertama-tama kita fahami dahulu pendapat para ulama terkait hadis di atas.

Berikut redaksi lengkapnya;

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهٌ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْمَالَ وَيَفِيْضُ، حَتَّى يَخْرُجُ الرَّجُلُ بِزَكَاةِ مَالِهِ فَلَا يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهَا مِنْهَ، وَحَتَّى تَعُوْدَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوْجًا وَأَنْهَارًا

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw., bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya, tetapi dia tidak mendapatkan seorang pun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur Makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR. Muslim: 1681)

Fokus pada kalimat terakhir “Dan sehingga tanah Arab menjadi subur Makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai “. Kata “Tanah Arab kembali subur” memberi pemahaman bahwa tanah Arab dahulu kala memang subur dan memiliki banyak sumber air.

Pemahaman ini diperkuat oleh pendapat Abd al-Masih Ibn Baqilah al-Ghazani, “sesepuh” dari orang Nasrani yang sudah berumur lebih dari empat ratus tahun.

Saat Khalid ibn Walid pergi ke daerah Irak untuk berperang, ditemani para sahabat di zaman khalifah Abu Bakar, bertemulah sang panglima dengan “sesepuh” Nasrani tadi. Kepada sahabat Khalid, Abd al-Masih menceritakan keadaan arab di zaman dahulu yang subur dan banyak sumber air. Dengan kehendak Allah Swt. kondisi arab yang subur menjadi kering dan gersang.

Menurut pakar tafsir hadis, maksud dari hadis di atas adalah menghilangnya kebiasaan penduduk tanah Arab yang merupakan suku-suku nomaden yang sering berpindah tempat untuk bertahan hidup. Bahkan tak jarang mereka terlibat konflik dengan suku lain yang berujung peperangan.

Keadaan demikian membuat mereka terpecah belah dan tidak bisa menjadi penduduk yang fokus untuk mengelola perairan dan mengembangkan pertanian serta perkebunan di tanah arab.

Kebiasaan demikian tentu sudah tidak terlihat pada zaman sekarang. Penduduk Arab sudah memiliki tempat tinggal yang tetap, bahkan mereka telah sukses mengembangkan pertanian dan perkebunan untuk dijadikan penghasilan tiap harinya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sudah lama Arab Saudi mengadopsi sistem pertanian Center Privot Irigation (CPI) atau sistem irigasi poros tengah. Dengan sistem pertanian yang banyak diterapkan di daerah gurun ini kerajaan Arab Saudi bisa menyulap 24.000 Km (40 kali lipat luas Jakarta) tanah gurun menjadi ladang pertanian.

Tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik saja, gandum, jagung, semangka merupakan beberapa komoditi ekspor kerajaan Arab Saudi dari hasil pertanian dengan sistem ini.

Simak keterangan dari Muhammad ibn ʿAli ibn Adam ibn Musa al-Athyubi Wallawi dalam dalam al-Bahr al-Muhit ats-Tsajaj Fi Syar al-Imam al-Muslim ibn az-Zajaj;

وَحَاصِلُهُ أَنَّ الْمُرَادَ إِقْبَالُ الْعَرَبِ عَلَى اسْتِثْمَارِ أَرَاضِيْهَا، وَإِحْيَائِهَا، بِإِجْرَاءِ الْأَنْهَارِ، وَغَرْسِ الْأَشْجَارِ، وَزَرْعِ الْحُبُوْبِ، وَتَرْكِهَا اِرْتِحَالَهَا وَتَنَقّلَاتِهَا مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانٍ؛ طَلَبًا لِلّكَلَأِ، عَلَى مَا هُوَ الْمُعْتَادُ لَهَا، فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْمُطَابِقُ لِلْوَاقِعِ، كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ الْيَوْمَ فِيْ الّمَمْلَكَةِ الْعَرَبِيّةِ السَّعُوْدِيَّةِ، وَغَيْرِهَا مِنَ الْبِلَادِ الْعَرَبِيَّةِ، فَفِيْهِ عَلَمٌ مِنْ أَعْلَامِ النُّبُوَّةِ حَيْثُ وَقَعَ مَا أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ -ﷺ-، كَمَا أَخْبَرَ، وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

“Walhasil yang dikehendaki adalah keseriusan orang Arab mengelola tanah dan mengembangkannya dengan mengalirkan irigasi, menanam tanaman dan biji-bijian. Tidak lagi menjadi penduduk yang pindah dari satu tempat ke tempat yang lain demi mencari padang rumput seperti kebiasaan mereka.  Inilah realita sekarang dan yang terlihat saat ini di kerajaan Arab Saudi dan kerajaan arab lain. Di sini terdapat salah satu tanda kenabian. Yakni, terbuktinya peristiwa sebagaimana yang pernah dikhabarkan oleh nabi”

Walhasil mengaitkan fenomena “aneh” yang terjadi di Arab saat ini kurang tepat dan berlebihan.

Tanda-tanda kiamat yang disebutkan Nabi sudah terjadi sejak lama, yaitu sejak orang-orang Arab menghilangkan kebiasan mereka salah satunya sebagai suku nomaden.

Akan tetapi yang perlu kita tancapkan dalam hati dan kita yakini adalah dengan bermunculannya fenomena-fenomena tersebut semakin menunjukkan kebenaran atas hadis Nabi Muhamad Saw. Dengan demikian semakin kuatlah iman kita.

Kemudian ada beberapa poin yang perlu kita fahami setiap membahas tanda-tanda kiamat;

Pertama; Tanda kiamat ada dua kubro dan sughro, sebagaimana telah kita ketahui tanda kiamat ada dua, kubro dan sughro. Dalam al-Jawahir al-Lu’luiyyah disebutkan tanda2 tersebut,

لِلسَّاعَةِ عَلَامَاتٌ كَثِيْرَةٌ صُغْرَى وَكُبْرَى أَمَّا الصُّغْرَى فَمِنْهَا قَبْضُ الْعِلْمِ بِمَوْتِ أَهْلِهِ وَكَثْرَةُ الْزَلَازِلِ ، وَالْفِتَنِ، وَالزِّنَا، وَشُرْبِ الْخَمْرِ وَالرِّبَا وَعُقُوْقِ الْوَالِدَيْنِ وَالتَّجَاهُرُ بِالْمَعَاصِي، وَإِضَاعَةُ الصَّلاَةِ وَالْأَمَانَةِ وَتَعْطِيْلُ الْحُدُوْدِ وَقِلَّةُ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَإِعْرَاضُ الْاكَابِرِ عَنِ الْأَذَانِ وَتَرْكُهُ لِلسَّفَلَةِ. وَأَمَّا الكُبْرَى :فَمِنْهَا ظُهُوْرُ الْمَهْدِىْ وَخُرُوْجُ الدَّجَّالِ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامِ، وَخُرُوْجَ يَأْجُوْجِ وَمَأْجُوْجِ وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا.

“Hari kiamat memiliki banyak tanda, sughro dan kubro. Adapun tanda sughro adalah hilangnya ilmu sebab meninggalnya pakar ilmu, banyaknya gempa, fitnah, zina, minum khomr, riba, durhaka kepada orang tua, menampakkan kemaksiatan, terbengkalainya salat, amanat, tidak terlaksanakannya had, jarangnya perintah kebaikan dan melarang keburukan, orang berkedudukan tidak lagi mau adzan dan malah diserahkan orang biasa. Sedangkan tanda kubro adalah kemunculan Imam al-Mahdi, keuarnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa As. Keluarnya Ya’juj Ma’juj, keluarnya matahari dari barat.”

Kedua; merupakan sebuah keniscayaan bagi umat nabi Muhammad Saw., umat yang hidup di zaman paling akhir, suatu saat nanti akan menemui hari kiamat.

Selama masa “penantian” zaman akhir tersebut tanda-tanda kedatangannya akan terus bermunculan.

Kemunculan peristiwa tanda-tanda kiamat ini sudah ada sejak dahulu. Bahkan, mungkin saat ini kita sedang mengalami tanda-tanda tersebut.

Mari kita simak penjelasan al-Madzabighi berikut;

فإن قيل : قوله الله الله : بعثت أنا والساعة كهاتين يدل على أن عنده منها علما، والآيات تقتضي أن الله تعالى منفرد بعلمها، فالجواب كما قال الحليمي: أن معناه: أنا النبي الأخير، فلا يليني نبي ،آخر وإنما تليني القيامة، وهي مع ذلك دانية؛ لأن أشراطها متتابعة بيني وبينها، غير أن ما بين أول أشراطها إلى آخرها غير معلوم، والحق كما قاله جمع أن الله سبحانه وتعالى لم يقبض نبينا عليه الصلاة والسلام حتى أطلعه على كل ما أبهمه عنه، إلا أنه أمره بكتم بعض والإعلام ببعض

“Jika ada pertanyaan; dawuh nabi; “Saya diutus dan hari kiamat seperti ini (memberikan isyarat jarak terjadinya hari kiamat)”, menunjukkan bahwa Nabi mengetahui tentang hari kiamat, sementara ayat al-Qur’an menunjukkan hanya Allah Swt. yang mengetahui tentang hari kiamat?. Jawabanya adalah sebagaimana yang disampaikan al-Halimi bahwa arti dari sabda Nabi tadi adalah; “Saya nabi terakhir, setelah saya tidak ada Nabi yang lain. Yang ada setelah saya adalah hari kiamat”. Terjadinya hari kiamat sudah dekat karena tanda-tandanya silih berganti. Akan tetapi jarak antara tanda yang pertama dan yang akhir tidaklah diketahui. Sementara menurut pendapat yang benar sebagaimana disampaikan golongan ulama adalah sesungguhnya Allah Swt. tidak mencabut nyawa Nabi Saw. Kecuali telah menampakkan segala hal yang samar, akan tetapi Allah Swt. memerintah untuk menyimpan sebagian dan menampakkan sebagian.”

Ketiga; Menurut pendapat yang kuat Rasulullah saw. mendapat segala pengetahuan dari Allah Swt. termasuk mengenai kapan hari kiamat terjadi. Meskipun demikian tidak semua pengetahuan tersebut akan disampaikan kepada umatnya, ada yang disampaikan ada yang tidak boleh disampaikan.

Waktu terjadinya hari kiamat adalah salah satu pengetahuan yang tidak boleh disampaikan. Maka dari itu setiap kali mendapat pertanyaan mengenai kapan hari kiamat terjadi Rasulullah Saw. hanya akan memberi jawaban tentang tanda-tanda hari kiamat.

Penyampaian tanda-tanda hari kiamat oleh Rasulullah Saw. bukanlah bertujuan untuk memastikan kapan terjadinya hari kiamat akan tetapi sebatas tanda, sebuah tanda tidak akan menetapkan wujudnya perkara.

Namun penyampaian tanda-tanda tersebut adalah untuk memperingatkan kepada umatnya untuk terus menyiapkan diri menghadapi datangnya hari kiamat yang bisa datang kapan saja, tentunya dengan memperbanyak ibadah dan amal-amal saleh sebagaimana dawuh nabi;

 اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”

Sekian penjelasan singkat kami. Semoga bermanfaat. Waalahu a’lam bi as shawab.

Baca Juga; Khutbah Jumat; Di Balik Kesulitan Pasti Ada Kemudahan, Refleksi menuju Satu Abad NU; Dua Kunci Membangun Peradaban

Follow; pondoklirboyo

Subscribe; Pondok Lirboyo

51

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.